Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 26


__ADS_3

" Pa ...." suara Camila yang memanggil namanya, membuat Dirga membalikkan badan nya.


Senyum lebar tak mampu ia sembunyikan, direntangkan kedua lengan nya, bersiap menyambut pelukan hangat sang istri.


Camila tak mempedulikan orang orang di sekeliling nya yang mungkin saja memperhatikan mereka. Yang ia inginkan saat ini adalah memeluk Dirga dan menyalurkan semua rasa rindu yang ia tahan selama ini.


Camila mendekat dan melabuhkan dirinya dalam pelukan hangat suaminya.


" Ya Tuhan, Pa! Rindu nya aku."


Dirga memeluk erat tubuh istrinya. " aku juga sangat merindukan mu sayang." Dicium pucuk kepala istri nya.


Camila dengan pipi merona karena baru tersadar jika apa yang ia lakukan dengan Dirga tidak baik dilakukan di tempat umum seperti ini. Dilepaskan pelukan nya dari tubuh sang suami.


Dirga seolah tak rela melepaskan tubuh Camila.


" Pa... Dilihatin orang. Malu." Camila menatap sekeliling lalu mencubit perut Dirga yang masih saja berusaha memeluk nya.


" Pa... Nanti lagi pelukan nya."


" Sayang... Rasa rinduku belum terobati."


" Iya, aku pun sama. Tapi ini di tempat umum papa...."


" Baiklah. "


Camila menatap suaminya masih dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Menatap lama - lama wajah Dirga yang ia rindukan.


" Pa, bagaimana mungkin papa bisa ada disini. "


" Karena aku sudah sangat merindukan mu. "


" Terus Je.... "


" Sayang tenang saja. Je aman bersama Daffi."


" Kak Daffi?"


" Ya, aku dijemput Daffi tadi. Dan Je sekarang masih tertidur di mobil Daffi. Ada di depan. Di parkiran. "


"  Benarkah? " tanya Camila hampir tak percaya.


Dirga meenganguk. Wajah Camila sudah berkaca - kaca sungguh rasanya dia ingin sekali memeluk anak nya.

__ADS_1


" Papa kapan sampai? "


" Sekitar dua jam yang lalu. "


" Kenapa tidak memberitahu ku jika papa dan Je datang menyusul ku."


" Surprise"


" Jahat sekali...."


Dirga terkekeh. Hanya dengan melihat wajah istri nya saja rasa rindu yang ia tahan selama ini hilang sudah, menguap entah kemana.


" Pa, tunggu aku ya. Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan."


Camila mengangkat tangan kanan nya melihat Jam yang melingkari pergelangan tangan kanan nya.


" Pa, jam kerja ku usai sebentar lagi. Papa nggak apa kan nunggu sebentar."


" Buatmu apa yang enggak sih. Menunggumu dua minggu lamanya saja aku mampu. Apalagi hanya beberapa menit...."


Tangan Dirga terulur mengelus lembut pipi Camila.


" Ya sudah papa tunggu dulu saja di eum.... "


Ya, di depan Rumah Sakit memang terdapat coffe Shop, mini resto, serta minimarket. Jadi Dirga tak kesulitan jika hanya ingin menunggu Camila.


" Pak Dirga....! "


Sapa seseorang, tidak hanya membuat Dirga menoleh, Camila pun melakukan hal yang sama.


Ada dokter Allan juga dokter Rasya yang kini berjalan mendekati mereka.


" Dokter Allan...." Dirga ganti menyapa dokter yang dulu pernah merawat nya saat ia kecelakaan. Siapa lagi jika bukan dokter Allan Toh. Dokter keturunan Singapura yang telah menetap di Indonesia selama beberapa tahun lama nya.


Mereka berdua saling berjabat tangan. Lalu Dirga menoleh menatap seorang lelaki yang juga berdiri di samping dokter Allan. Dirga pun sudah tahu dengan dokter itu karena mereka sempat berkenalan dua minggu lalu.


" Hai dokter Rasya.... Apa kabar?" Dirga mengulurkan tangan nya yang disambut oleh Rasya. Hanya saja muka Rasya sudah masam.


" Pak Dirga kesini mau menjemput dokter Camila?" tanya dokter Allan.


Dirga mengangguk. " Iya dokter."


Allan tersenyum. " Pak Dirga ini benar - benar suami yang hebat dan sayang keluarga. Sampai - sampai menjemput dokter Camila kesini."

__ADS_1


Dirga tersenyum.


" Eum... Dokter Allan, kita sudah lama seperti nya tidak mengobrol. Jika dokter ada waktu, bagaimana kalau kita... Ya ngobrol - ngobrol sebentar sambil minum kopi. Saya lihat tadi di depan ada coffe shop. " tawar Dirga.


Allan mengangguk setuju. Karena saat ini dia sudah tidak ada lagi hal yang harus dikerjakan. Tadi, dia dan Rasya baru saja berpamitan dengan rekan - rekan yang lain nya, karena besok dia, Rasya juga Camila sudah harus meninggalkan Rumah Sakit ini dan kembali ke Surabaya.


" Baiklah, mari kita ngopi - ngopi sebentar."


" Pa, aku harus menyelesikan kerjaan ku dulu. Papa pergi saja dengan dokter Allan. Nanti aku telpon jika sudah selesai."


" Baiklah sayang. Aku hanya ke coffe shop depan. Telpon saja jika sudah siap pulang. "


Camila tersenyum melepaskan pegangan tangan nya di lengan Dirga. Sementara Dirga mengelus lengan istrinya sebelum Camila meninggalkan nya.


" Dokter Allan, dokter Rasya saya permisi dulu. " pamit Camila sebelum meninggalkan mereka.


" Silahkan. "


Rasya mengekori kepergian Camila dengan lirikan matanya. Entahlah melihat bagaimana kedekatan Camila bersama suaminya, membuat Rasya tidak suka. Dia cemburu, mungkin saja.


Rasya tersentak, Allan menarik lengan nya kuat.


" Ayo, kita ngopi sebentar dengan Pak Dirga." Ajakan Allan tidak membuat Rasya tertarik.


" Kamu saja. Aku...."


" Sebentar saja. Lagi pula hanya di coffe shop depan. Tidak kemana mana."


" Tapi aku...."


" Sudah Ayo!" Allan menyeret paksa Rasya agar mengikuti nya bersama Dirga.


Bagaiamana mungkin Rasya harus ikut bersama suami Camila. Sungguh, melihat suami Camila saja sudah membuat Rasya tidak suka. Entahlah, padahal terlihat sekali jika lelaki bernama Dirga itu sangat baik dan ramah sepertinya. Tapi tetap saja jika membayangkan bagaimana Camila dan Dirga yang tampak mesra, membuat Rasya iri juga cemburu. Harusnya dia yang berada di sisi Camila bukan Dirga. Argh... Sial.... Kenapa tidak dari dulu - dulu saja dia mengenal Camila. Kenapa harus sekarang disaat Camila sudah memiliki suami.


Rasya, sebenarnya dia itu bukan seorang pria yang kekurangan stock wanita. Hanya saja setelah pertemuan nya dengan Camila, perhatian Rasya hanya tertuju pada Camila.


Daya tarik Camila bagaikan magnet yang menyedot semua perhatian Rasya. Hingga para wanita yang sempat dekat dengan nya terhempas begitu saja. Terkalahkan oleh pesona seorang Camila Wijaya.


Rasya berjalan dengan lesu mengekori Allan dan Dirga yang berjalan di depan nya. Sebenarnya dia enggan untuk ikut mereka. Hanya saja Allan terlalu memaksa hingga dia tak bisa menolak.


Baiklah, mungkin dengaan sedikit mengobrol dengan Dirga, Rasya bisa tahu tentang sedikit cerita kehidupan sepasang suami istri itu. Ah, Rasya terlalu ingin tahu lebih dari ini. Dia sungguh penasaran dan begitu terobsesi pada istri lelaki dihadapan nya ini.


Sampai kapan Rasya bisa menahan hati nya agar tidak terlalu kentara jika ia sedang mengejar - ngejar Camila. Akan kah Dirga tahu jika dia mengejar ngejar istri lelaki itu. Seandainya Dirga tahu, kira - kira apa yang akan dilakukan pria itu padanya.

__ADS_1


Biarlah semua berjalan mengalir apa adanya. Dan Rasya sudah siap menanggung segala resiko nya. Konsekuensi karena dia menyukai istri orang .


__ADS_2