
Camila Pov
Akumelirik lelaki yang ada di sebelahku duduk di balik kemudi. Kutolehkan kepala ke belakang, Bunda tampak sedang menelepon Budhe Jasmine. Memberi kabar jika kami sudah berangkat.
Akhirnya aku dan Bunda memutuskan menerima tawaran om Dirga. Pergi kerumah Budhe Jasmine dengan diantar olehnya. Padahal jarak rumah kami dengan rumah Budhe cukup jauh. Memakan waktu hampir empat jam perjalanan. Dan om Dirga harus menjadi sopir untuk ku dan Bunda dalam waktu selama itu.
Dering Ponsel mengalihkan perhatian ku dari om Dirga.
" Hallo Mil.... Kamu dimana " suara kak Danisha diseberang sana.
" hai kak... Mila nemenin bunda nih. Kita mau ke tempat budhe. Kak Danisha ada sama kak Ken ga. " jawabku
" iya ini lagi sama kak Ken. Tadi kan bunda nelpon kak Ken makanya aku telpon kamu Mil buat mastiin aja. Kalian mau berangkatnya kapan? "
" oh ini kita sudah berangkat kok kak. Barusan keluar dari gerbang perumahan. "
" jadi naik travel Mil... "
" eh.. Engg... Enggak kak. "
" terus... Naik apaan. "
" dianterin sama si om. " aku sedikit berbisik.
" si Om.... Om siapa? " tanya kak Danisha
" itu kak... Ya om itu... Nanti ah Mila wa. Ga enak ngebicarain orang yang jelas jelas ada disampingku. " ucapku lirih karena ga enak jika sampai didengar oleh om Dirga.
" ah aku tau. Kalian dianter om sarap itu ya... " kudengar kak Danisha terkikik geli menggodaku.
" Kak... Kak Danisha... Udah dulu ya. Kututup telpon nya nih ya bye kak.."
" okay Mil hati hati di jalan salam buat Bunda dan om Dirga maaf ga bisa nemenin kalian. Bye"
" Siapa.?" tanya Kak Dirga
" Kak Danisha. Istri kak Ken."
" owh...."
-------
__ADS_1
Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Karena kebetulan besok adalah weekend jadi jalanan sedikit macet. Banyak yang melakukan perjalanan mudik ke luar kota.
Kulihat raut wajah om Dirga yang tampak lelah.
" om.. kalau capek lebih baik istirahat saja dulu. Jangan dipaksakan."
" iya nak Dirga. Lebih baik berhenti saja dulu. Kita istirahat." Bunda menimpali.
" baik tante."
Mobil om Dirga memasuki pelataran sebuah pom bensin. Kami bertiga keluar, Bunda sudah izin untuk pergi ke toilet sementara aku mengikuti Om Dirga duduk di salah satu coffe Shop yang berada di samping toilet.
" kamu mau minum apa Mil."
" apa aja. Kalau ada minuman hangat ."
Om Dirga memesan secangkir kopi panas untuknya dan dua gelas teh hangat untuk ku dan Bunda. Saat Bunda keluar dari toilet, om Dirga meminta izin untuk ganti ke toilet.
Kulihat wajah om Dirga tampak segar sekarang. Setelah menghabiskan kopi nya om Dirga mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan.
-------
Bunda sengaja meminta om Dirga untuk langsung menuju Rumah Sakit dimana Budhe dirawat. Bunda tak tega jika Budhe tak ada yang menemaninya di Rumah Sakit.
Pada awalnya Bunda memintaku dan om Dirga untuk menginap di rumah Budhe malam ini.
Tapi om Dirga menolak. Dia lebih memilih untuk tidur di hotel yang dekat dengan Rumah Sakit.
" Mil kalau kamu mau, malam ini kamu bisa ikut aku menginap di hotel saja. Baru besok kamu pulang kerumah Budhe." tawar om Dirga padaku.
" Mila disini saja nemenin Bunda ." jawab ku.
Aku memilih untuk ikut bunda tidur di rumah sakit. Tidak mungkin juga jika aku tidur sendirian di rumah Budhe. Mana aku berani tinggal sendirian secara di rumah Budhe tak ada siapa-siapa. Selama ini memang Budhe tinggal seorang diri.
Ikut om Dirga tidur di hotel juga bukan pilihan yang baik menurutku. Jadi satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mengikuti kemanapun Bunda berada.
" ya sudah kalau begitu aku tinggal dulu ya. Oh ya Bunda mana ya."
" Bunda masih di ruang perawat nanya dimana kamar Budhe dirawat. Eh itu Bunda..." aku menunjuk Bunda yang kini berjalan menghampiri kami.
" kata perawat Budhemu dirawat di ruang bougenvile." kata Bunda.
__ADS_1
" ya sudah kalau begitu kita langsung kesana saja ya Bun. "
" ehm Tante. Dirga pamit dulu ya. Besok Dirga kesini lagi. "
" loh Dirga jadi nginap di hotel. " tanya bunda
" jadi tante. nginap di hotel yang dekat-dekat sini aja tante. "
" oh begitu. Ga mau nginap di rumah Budhe saja. "
" ga usah tante. Ga enak juga nanti sama tetangga nya Budhe kalau lihat Dirga nginap disana. Ga papa Dirga nginap di hotel saja. Apa tante sama Mila juga mau ikut Dirga sekalian nginap di hotel. Mungkin kita bisa istirahat sebentar untuk malam ini. "
" aduh ga usah nak Dirga. Biar tante disini saja. "
" Mila juga disini saja. Om Dirga gapapa kalau mau nginap di hotel. Di dekat sini ada hotel yang lumayan terkenal. Nanti om Dirga tinggal keluar rumah sakit ini ambil jalur ke arah timur. Lurus saja setelah perempatan kedua nanti sebelah kanan jalan kelihatan tuh hotelnya. "
" yakin kamu ga mau ikut. " tawar om Dirga lagi.
" aduh om udah buruan sana... " kudorong tubuhnya yang masih tak bergeming.
" Mila ga boleh seperti itu. Ga sopan sudah dianterin bukan nya berterimakasih kok malah diusir nak Dirganya. " Bunda mengomeliku.
" iya Bunda. Maaf. "
" ya sudah kalau begitu saya pergi dulu tante. " pamit om Dirga.
Sebelum meninggalkan kami om Dirga masih sempat mengusap kepalaku, tersenyum dan berkata lirih di telingaku " aku tinggal dulu ya. Baik-baik disini. "
Tuh kan aku jadi baper. Aku masih menatap punggungnya yang mulai menjauh.
Bunda menjawil lenganku.
" nak Dirga baik ya. " puji bunda
" apaan sih bun. Buruan ah ke kamar Budhe."
Aku menggandeng tangan Bunda pergi meninggalkan lobi.
__ADS_1