
Author PoV
Dirga keluar dari ruang perawatan sang mama. Camila, Keenan dan Danisha duduk di kursi depan kamar.
" bagaimana keadaan mama om." tanya Camila, gadis itu berdiri menghampiri Dirga yang tampak lelah.
" mama baru saja siuman. Tapi dokter menyarankan agar mama istirahat dulu. Kondisinya masih lemah." Dirga menggenggam tangan Mila dan membawanya duduk di kursi.
" Kak Ken ga papa kalau mau pulang dulu. Kasian Kak Danisha pasti capek." Mila menatap kakak lelakinya yang duduk di sebelahnya.
" Mil, kalau kamu capek pulang bareng Ken saja. Ga papa. " Dirga menatap gadis yang baru dinikahinya beberapa jam lalu.
" aku disini saja nemenin om Dirga. "
" ya sudah kalau begitu aku pamit dulu. Kalau ada apa apa kabari aku. Dirga aku titip Mila. Semoga mamamu segera membaik. " Keenan bangkit dari duduk nya kemudian diikuti oleh Danisha.
" iya... Terimakasih. " jawab Dirga dengan seulas senyum untuk kakak iparnya.
" kami pulang dulu." pamit Keenan.
" Mil aku pulang dulu ya." pamit Danisha dan memeluk sepintas adik iparnya itu.
Sepeninggalan Ken dan Danisha, Kedua suami istri itu larut dengan pikiran mereka masing masing. Pintu ruangan terbuka, papa Dirga keluar dari dalam kamar.
" mama sudah tidur pa. " tanya Dirga pada papanya yang kini ikut duduk disamping nya.
" sudah. Mama mu hanya kelelahan. Harus banyak istirahat agar kondisi nya segera pulih. Tadi dokter sudah memberikan vitamin pada mama." penjelasan papanya membuat Dirga sedikit lega.
Dirga merasa sangat bersalah. Pasalnya selama beberapa minggu ini mamanya begitu sibuk mengurus semua persiapan pernikahan nya.
" maafkan Dirga pa. Karena Dirga mama jadi nge drop lagi. Coba saja Dirga tidak terlalu sibuk pada kerjaan dan mengurus sendiri semuanya pasti mama tak akan kecapekan."
" ini bukan salahmu. Mama mu sendiri yang menginginkan nya. Kamu tau sendiri kan bagaimana mama mu yang terlalu bersemangat melihat kamu menikah. " ucap papa menenangkan Dirga
" sebaiknya kamu pulang. Kasian Mila pasti capek. Kalian juga harus istirahat. Biar papa istirahat disini nemenin mama. "
" papa ga masalah sendirian disini. " tanya Dirga khawatir
" ga apa. Sudah sana kalian pulang saja. "
" ayo Mil. Kita pulang. " Dirga sebenarnya masih ingin menemani papa nya menjaga mama. Tapi melihat Camila yang nampak lelah, Dirga jadi tak tega. Akhirnya Dirga memilih membawa Camila pulang.
" pa kita pulang dulu. Besok Dirga ke sini lagi. Selamat malam pa. Telpon Dirga jika ada perkembangan kondisi mama. "
Papa Dirga mengangguk melihat putra nya.
" pa, Mila pulang dulu. " Mila mencium punggung tangan mertuanya sebelum berlalu mengikuti Dirga, lelaki yang telah sah menjadi suaminya.
------
" kenapa kita pulang kerumah om Dirga. " tanya Mila saat mobil yang dikendarai Dirga tidak melewati jalur menuju rumah Bunda Anyelir.
" ini sudah larut malam. Rumah mama lebih dekat ketimbang ke rumah Bunda. Kamu harus istirahat. Pasti capek kan."
Mila mengangguk. Memang benar dia merasa sangat lelah hari ini. Proses pernikahan yang dilaksankan hari ini dan insiden pingsan nya mama Dirga sungguh menguras tenaga nya.
Mobil berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah. Seorang security membuka pintu pagar. Dirga kembali menjalankan mobil nya masuk ke dalam garasi.
" ayo turunlah." titah Dirga pada Camila.
__ADS_1
Camila melepas seat belt sebelum akhirnya turun dari dalam mobil. Mereka berdua berjalan memasuki rumah. Pintu telah dibuka oleh mbak Lastri salah satu asisten rumah tangga di rumah ini. Biasanya Lastri akan diberi tahu oleh security jika majikan mereka datang. Jadi tanpa diminta pintu otomatis akan dibuka sebelum sang tuan rumah mengetuk nya.
" malam mas Dirga. Bagaimana kondisi ibu." tanya Lastri pada anak majikan nya ini.
" alhamdulillah mama sudah siuman mbak."
" syukurlah jika begitu. Mohon maaf tadi kami tidak ikut menyusul ke Rumah Sakit. Tadi parman sempat menelepon tuan. Kata tuan kami disuruh pulang saja ke rumah."
" iya mbak ga papa. Doanya saja untuk mama agar cepat sembuh dan bisa segera pulang ke rumah. "
" eh ada non Mila ayo silahkan masuk non. " Lastri mendapati jika ternyata Dirga tidak sendiri melainkan bersama istrinya.
" ehm.. Terimakasih mbak. "
" ayo " Dirga menarik tangan Camila masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju lantai dua.
Dirga membuka pintu kamarnya.
" masuklah. Ini kamarku. Malam ini kamu bisa tidur disini. "
" eh... Aku tidur di kamar tamu saja."
" sudah kamu tidur disini. Kamar tamu belum dibersihkan."
" tapi om....."
Dirga masuk ke dalam kamarnya. Menuju lemari pakaian nya. Dia mengambil satu kaos berlengan panjang dan celana training. Mungkin baju ini akan kebesaran dipakai Mila. Tapi tak apalah untuk sementara biar Mila bisa mengganti kebaya pengantin nya.
Mila masih berdiri diambang pintu kamar mengamati apa yang sedang dilakukan Dirga.
Dirga berbalik dan menyerahkan baju yang tadi dia ambil.
Mila menerima baju yang diserahkan Dirga. Dia tak menyangka jika Dirga memperhatikan nya sampai sedetail ini.
" makasih om." hanya itu yang mampu Mila ucapkan.
Dirga tersenyum." istirahatlah kamu pasti capek. Aku akan tidur di kamarnya Danu. Jika kamu butuh apa apa panggil saja aku di kamar sebelah. Good Night."
Sebelum Dirga berhasil melangkah keluar, Camila memanggilnya lagi.
" om...."
Dirga menoleh " iya... Kenapa? "
" ehm... Itu... Apa om Dirga ada syal yang bisa kupinjam."
Dirga mengernyit. " syal..?" dia mengulang ucapan Camila.
" Iya... Syal... Buat mengganti kerudungku."
" owh... Tunggu sebentar aku ambilkan."
Dirga kembali melangkah ke arah lemari pakaian nya. Dia mulai mencari dan akhirnya menemukan syal yang sering dia gunakan.
" ini... " diserahkan nya pada Camila.
" makasih om. "
" sama sama. "
__ADS_1
Dirga keluar dari kamarnya dan menutup pintu nya dengan perlahan. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya Danu.
Sementara itu Camila yang merasa gerah karena sedari tadi masih memakai kebaya pengantin nya lengkap dengan beberapa aksesoris, mulai melucuti satu persatu yang menempel di tubuhnya. Setelahnya dia masuk ke sebuah ruangan yang diyakini nya adalah sebuah kamar mandi.
Benar saja, Camila melihat kamar mandi Dirga yang begitu bersih dan rapi. Aroma maskulin langsung menusuk indera penciumannya saat dia mulai melangkah masuk ke dalam nya.
Bergegas Mila membersihkan dirinya dan mengganti pakaian nya dengan baju yang tadi Dirga pinjamkan. Baju yang dipakai Mila ini agak kedodoran. Karena ini adalah baju kepunyaan Dirga. Tak heran jika kebesaran di tubuh kecil Mila.
Mila mengitari ranjang mengamati seluruh penjuru ruangan kamar Dirga. Ini pertama kalinya dia masuk ke dalam kamar lelaki yang menurutnya masih sangat asing. Duduk di atas ranjang dan mulai merebahkan dirinya. Meski tubuhnya sangat capek tapi matanya masih enggan terpejam.
Ingin keluar kamar tapi dia juga tak berani. Selain ini sudah tengah malam, rumah ini juga terasa asing baginya. Ini adalah kedua kalinya Mila datang ke rumah Dirga. Mila masih mencoba untuk memejamkan mata, merileks kan pikiran hingga perlahan kantuk telah membawanya ke alam mimpi.
Dirga yang berada didalam kamar Danu juga enggan untuk memejamkan mata. Pikiran nya melayang kemana mana. Selain memikirkan kondisi mama yang masih terbaring lemah di rumah sakit, juga karena dia kepikiran akan gadis cantik yang berada di kamar sebelahnya.
" Apa Mila sudah tidur?" tanya nya dalam hati.
Dirga keluar dari kamar Danu, melihat pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. " Mungkin Mila sudah tidur" batin nya.
Dirga memutuskan turun ke lantai satu dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Membuka laptop dan mulai fokus berkutat dengan pekerjaan yang sempat tertunda. Hingga tak terasa hari menjelang subuh saat Dirga memutuskan untuk kembali ke dalam kamar Danu. Merebahkan dirinya yang serasa remuk. Tidur adalah pilihan tepat untuk nya.
--------
Suara dering Ponsel diatas nakas tak mau juga berhenti. Padahal sang empunya sama sekali tidak menghiraukan nya. Dirga mengucek matanya yang masih terasa berat.
" siapa sih pagi pagi gangguin." gumamnya sambil meraba nakas disamping tempat tidur mencari dimana Ponsel nya berada.
" ya hallo.... Dirga speaking" tanpa berniat melihat siapa si penelpon Dirga menempelkan Ponsel di telinganya.
" morning bos."
" astaga FERDYYY.....!!! Ngapain sih pagi pagi gangguin orang tidur."
" sorry sorry bos. Beneran deh aku ga tau kalau bos masih tidur jam segini. Tumben bener. Lagian si bos ini kenapa mendadak ijin ga ngantor dua hari. Emang bos lagi dimana sih. "
" memang ini jam berapa . " tanya Dirga masih dengan memejamkan mata.
" ini hampir jam sepuluh bos. "
" lagian ngapain kamu nelpon " tanya Dirga kesal karena tidurnya terganggu.
" lah itu dia bos. Ini si bos tiba tiba aja ga ngantor. Padahal ini ada satu berkas kontrak kerja yang belum bos Dirga sign. Ntar siang mau ku bawa di meeting proyek bos. Kalau bos belum tandatangani, proyek ga akan bisa jalan."
" meetingnya ga bisa ditunda? "
" ga bisa bos. Kita sudah pernah menjadwal ulang untuk proyek ini. Kalau ditunda lagi ga enak sama pimpro nya. Di kiranya kita main main menjalankan proyek ini. Betewe bos lagi dimana sih. "
" di rumah. " jawab Dirga singkat.
" di rumah? Bos sakit. Kok tumben mendadak ga ngantor gitu. Sudah dua hari pula. "
" mama masuk rumah sakit. "
" owh... Maaf bos. Saya ga tau. Aduh tante sakit lagi bos... Ya udah gini saja. Saya ke rumah bos sekarang. Bawa berkasnya nanti bos tandatangani ya. "
" iya... Bawa kerumah saja. Aku ga mungkin juga ke kantor hari ini."
" baik bos. Saya meluncur sekarang juga. Bye bos... "
Dirga meletakkan kembali Ponsel di atas nakas. Sebenarnya dia masih sangat mengantuk mengingat baru tadi subuh dia bisa tertidur. Tapi karena ferdy mengatakan jika akan menemuinya dengan terpaksa Dirga bangkit dari atas ranjang. Berjalan gontai menuju kamar mandi. Mungkin dengan mandi tubuhnya akan kembali segar.
__ADS_1