Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 46 - Merasa kehilangan


__ADS_3

Camila Pov


" ehem... Anak Bunda ini sepertinya sedang galau." ucapan Bunda membuatku mendongak.


Aku yang sedang bertopang dagu di atas meja pantry mendesah lirih. Menatap bunda yang sedang sibuk mengulen adonan kue kering.


" lagi enggak enak badan aja bun..." kembali kutelungkupkan kepalaku pada kedua lengan diatas meja.


" enggak enak badan apa enggak enak hati."


Aku memilih memejamkan mata tak menghiraukan bunda. Aku tau bunda sedang menggodaku. Pasalnya ada beberapa hari ini mood ku sedang dalam kondisi tidak baik.


" kalau kangen telpon aja. Lumayan kan bisa sedikit terobati. " ucapan Bunda kali ini kembali membuatku mendongak menatap Bunda tak suka.


" siapa juga yang kangen." aku mengerucutkan bibirku.


Bunda terkekeh. Aku turun dari atas kursi dan berjalan gontai meninggalkan dapur.


Masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuh ku yang tak bersemangat ini diatas kasur. Aku sendiri juga tak tahu apa yang membuat hatiku memburuk beberapa hari ini. Apa mungkin karena kepikiran Om Dirga. Sudah satu minggu lelaki itu tak ada kabarnya.


Terbiasa dengan kehadiran nya yang hampir setiap hari, sekarang tiba-tiba aku merasa kesepian. Sebenarnya kemana pergi nya Om Dirga. Ah kenapa aku jadi kepikiran terus pada nya.


Teringat kata kata bunda tadi, apa iya aku kangen padanya. Tapi mana mungkin? Bahkan aku tak pernah merasa jika kehadiran nya di hidupku sangat berarti. Lantas kenapa sekarang aku semenyedihkan ini.


Kulirik ponsel yang tergeletak diatas kasur. Kuambil dan kubuka whatsapp berharap ada chat atau apapun dari Om Dirga. Tapi hasilnya nihil. Tak ada satupun telpon atau pesan dari nya.


Aku ingat betul terakhir kali aku bertemu dengan nya saat aku menemani kak Danisha di mall. Dan aku bertemu Om Dirga bersama seorang wanita yang kalau aku tak salah ingat dia mengenalkan nya padaku sebagai rekan kerja.


Rekan kerja? Benarkah wanita itu hanya rekan kerja nya saja. wanita yang bersama Om Dirga waktu itu sangat cantik, tubuhnya tinggi semampai, dan terlihat begitu seksi untuk ukuran wanita dewasa. Menurutku tak ada pria yang tak tergoda dengan perempuan seperti itu.


Ah kenapa aku jadi frustrasi seperti ini. Kuacak rambutku yang memang kali ini tak tertutup hijab. Jika dirumah hanya bersama bunda aku jarang memakai hijab memang.


Menatap ponsel yang masih berada di genggaman tanganku. Aku bingung antara menelepon Om Dirga atau enggak. Tapi hati kecilku seperti terdorong untuk menghubungi nya meskipun hanya say hello. Aku ingin mendengar suaranya biar hatiku lega. Tapi jika aku menelpon nya apakah dia mau menjawab.


Sekali lagi aku menimbang nimbang dengan penuh keraguan. Tapi sepertinya egoku melarang untuk menghubungi nya.


Kubuka kembali aplikasi whatsapp mencari kontak Om Dirga. Mulutku menganga tapi segera kututup dengan telapak tangan. Om Dirga sedang online ternyata. Kuberanikan diri mengetik sesuatu padanya.


" Om" hanya satu kata lalu ku sentuh tombol send.


Hatiku kebat kebit tak menentu. Tiba-tiba saja aku deg deg an. Centang dua berwarna biru. Aku salah tingkah membenarkan duduk ku.


" aduh sudah ke read...." gumamku seorang diri.


Ting


Muncul balasan dari Om Dirga. Kubaca chat darinya.


Om sarap : kenapa sayang? Kangen aku hmm.. πŸ˜‰"


Kubanting ponsel di atas ranjang. Tuh kan dia jadi ke ge-er an. Menyesal kan kenapa tadi aku harus nge-chat dia duluan.


Kembali kuambil ponselku yang kini bergetar. sekarang justru om Dirga malah menelponku. Ingin kuangkat tapi aku malu. Aku hanya memandang ponsel dengan perasaan campur aduk hingga panggilan itu terputus.


Ting......


Kembali suara notif ponselku berbunyi. Ada pesan masuk via whatsapp.


Om sarap : kenapa tak angkat telponku? Katanya kangen? Awas loh ga bisa tidur nahan kangen sama suami tampanmu ini.

__ADS_1


Astaga, kenapa Om Dirga justru membuatku semakin malu. Sampai ketahuan jika aku galau karena nya.


Kubalas chat dari nya.


Me : siapa juga yang kangen? Kebetulan aja liat Om Dirga online. Ga ada salahnya kan kusapa


Om sarap : I know...... Sabar ya sayang.... Kangen nya ditahan dulu. Bentar lagi bang toyib pulang.... πŸ˜„


Me : apaan sih..... 😝


Om sarap : jaga diri baik baik ya..... Jaga cintamu hanya untuk ku.


Me : 😭😭😭😭


Segera kututup whatsapp ku dan mengakhiri chat dengan Om Dirga. Bisa stres aku lama lama chatting sama dia. Bagaimana tidak jika aku sudah segalau ini tapi dianya malah sesantai itu.


Dengan menahan kekesalan aku kembali turun ke bawah. Masuk ke dalam pantry kembali menemani Bunda yang kini sudah mulai mengeluarkan loyang dari dalam oven. Aroma butter yang begitu wangi sedikit membuat mood ku kembali membaik.


Bunda menoleh kala mendapatiku sudah duduk cantik di atas kursi pantry.


" sudah nelpon nya?" tanya Bunda.


Aku mengernyit tak mengerti. Jadi Bunda berpikir jika aku tadi ingin menelepon Om Dirga.


" gimana nak Dirga disana. Baik-baik saja kan? Kapan pulang dari Riau? Duh kasian anak Bunda kalau ditinggal terlalu lama."


" Riau " ulangku.


Bunda menatapku tajam. " jangan bilang kalau kamu ga tau jika nak Dirga ada di Riau sekarang."


Mulutku menganga lalu kukatupkan kembali. Kepalaku menggeleng lemah.


" apa? Jadi kamu beneran ga tau kalau nak Dirga sekarang lagi ada di Riau!!"


" iya Bunda. Mila memang ga tau. Bentar Bun.... Kok Bunda bisa tau kalau Om Dirga ada Riau." aku menatap Bunda penuh selidik.


" memang Nak Dirga ga pamit ke Mila? Padahal nak Dirga pamit loh ke Bunda. Ga mungkin juga kalau nak Dirga enggak ngasih tau kamu. "


" Bunda.... Suer deh Mila beneran ga tau. "aku mengangkat tanganku sembari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.


" ga ada nelpon Mila juga? "


Kembali aku menggeleng.


" malam itu nak Dirga kesini. Katanya mau pamit sama Mila. Eh ternyata kamu nya sudah tidur. Ya sudah Bunda diam aja karna bunda pikir nak Dirga sudah telpon sendiri ke Mila."


Bunda memasukan kembali loyang yang sudah tercetak kue kacang ke dalam oven. Setelahnya Bunda mendekat dan berdiri di depanku.


" pantesan anak Bunda yang cantik ini galau mulu.... Ga di telpon rupanya. " Tangan bunda menoel ujung hidungku sebelum berlalu pergi meninggalkan aku seorang diri.


Β  Β  Β  Β  ******


Ini bahkan sudah satu bulan sejak kepergian Om Dirga yang katanya sedang berada di Riau. Dan selama ini pula kami hanya beberapa kali saling mengobrol atau sekedar chat via whatsapp. Tak jarang aku duluan yang dengan terpaksa mengirim chat padanya barulah Om Dirga mau menelponku. Itupun dia lebih seringnya menggodaku hingga berujung membuatku kesal dan dengan terpaksa aku akan cepat-cepat memutus sambungan telpon karena tak kuat lagi menahan malu akibat gurauan nya.


Bukan karena terlalu agresif hingga selalu memutuskan untuk menghubungi nya. Jika menunggu Om Dirga dulu yang menghubungi bisa-bisa sampai lebaran monyetpun dia tak kunjung ada kabarnya.


Entah kenapa dia menjadi seperti ini kepadaku. Terkadang pikiran buruk selalu menghantuiku. Bisa jadi disana Om Dirga terlalu sibuk dengan wanita nya yang.... Ah siapa itu namanya. Ehm.... Kalau tak salah aku pernah dikenalkan padanya dengan sebutan Vira.


Mengingat nya hanya membuatku geram dan sakit hati. Membayangkan disana Om Dirga sedang berduaan dengan Vira, bercanda dan selalu bersama sangat membuatku frustrasi.

__ADS_1


Apakah aku sedang cemburu? Persis seperti apa yang selalu Om Dirga ketawain dariku jika aku sudah keceplosan menyebut nyebut nama Vira.


Lantas kenapa aku bisa cemburu? Rasanya tak mungkin lah. Tapi kenapa juga aku selalu merasa sakit hati dan uring uringan jika terus mengingat Om Dirga bersama Vira.


Dan jujur sejak tidak ada Om Dirga, aku benar-benar susah mengontrol emosi. Mood ku lebih sering memburuk bahkan hanya karna hal sepele sekalipun.


Bunda pun sepertinya juga merasakan perubahan sikapku. Aku jadi lebih sering malas melakukan aktifitas apapun. Hobiku hanya tidur, nonton tv dan melamun. Seperti tak ada semangat hidup.


Apakah sebegitu parahnya aku sekarang. DanΒ  apakah begitu besar pengaruh om Dirga pada diriku sekarang. Jujur aku tak tahu kenapa bisa seperti itu.


Mungkin inilah namanya merasa kehilangan saat ditinggalkan.


Ponselku yang ada di dalam tas bergetar, membuyarkan semua lamunanku. Aku mengerjab menoleh kesamping kiri dan kanan. Baru menyadari jika sekarang aku sedang berada di pelataran kampus. Duduk di bawah pohon besar yang berada di area taman. Bahkan yang niat awalnya aku tadi ingin membaca buku pun tak kesampaian karena kini buku yang ada di genggaman tanganku hanya kubuka saja tanpa sedikitpun kubaca.


Kembali Ponselku bergetar, untuk kesekian kalinya aku tergagap. Segera kubuka tasku dan merogoh benda pipih yang ada didalam nya.


" mama" gumamku.


Segera kugeser gambar telpon berwarna hijau.


" assalamualaikum ma." aku mengucap salam pada mama nya Om Dirga yang tak lain adalah ibu mertuaku.


" waalaikum salam anak mama yang cantik." suara renyah mama diujung sana membuatku tersenyum.


" Mila..." panggilnya


" ya ma."


" kenapa Mila jarang datang ke rumah. Mama kangen banget sama Mila."


" maafkan Mila ma. Akhir akhir ini Mila padat sekali jadwalnya mengingat dua minggu lagi Mila akan ujian."


" oalah.... Mila kerumah mama dong. Mama kangeennnn banget sama Mila. Ehm besok kan sabtu. Mila pasti libur kan. "


" iya ma. Sabtu minggu Mila libur."


" ya udah kalau begitu Mila kesini ya.... "


" sekarang ma? " tanyaku.


" iya.. Mila dimana sekarang. "


" masih di kampus ma. "


" pulang nya jam berapa? " tanya mama lagi.


" Mila sudah tidak ada kelas lagi sih ma. Ini lagi nunggu kak Danisha soalnya Mila pengen nebeng pulang.. " aku nyengir.


" kebetulan sekali. Ini mama baru saja periksa ke dokter. Sekarang lagi perjalanan pulang. Mila tunggu di kampus saja. Biar mama jemput Mila sekarang. "


" ehm tapi ma..... "


" sudah pokok nya Mila tunggu disana dan jangan kemana mana. Sepuluh menit lagi mama sampe. Bye sayang.... "


Tut.. Tut...


Belum sempat aku menjawab lagi sambungan telpon sudah terputus. Aku hanya bisa pasrah menunggu jemputan mama. Lagipula aku memang sudah lama tak berkunjung ke rumah mertuaku itu. Tak ada salahnya lah jika aku kesana.


Kucari kontak kak danisha. Kukirim pesan whatsaap padanya. Kukatakan jika aku pergi ke rumah mama dan aku memintanya agar kak Danisha langsung pulang saja selepas kelas. Tak lupa akupun juga mengirim pesan pada Bunda. Aku izin pulang terlambat karena mau mampir sebentar ke rumah mama.

__ADS_1


Kumasukan kembali ponselku ke dalam tas. Buku yang tadi tak jadi kubaca juga kumasukan ke dalam tas. Setelahnya aku bergegas meninggalkan area taman dan berjalan menyusuri pelataran kampus sambil menunggu mama menjemputku.


__ADS_2