
Camila POv
Sudah beberapa hari ini om Dirga akan sering datang ke rumah Bunda. Kadang kala tiap pulang kerja dia akan datang ke rumah, ikut makan malam bersama setelahnya dia pergi lagi. Yang aku tau dia pergi ke club. Maklumlah profesi sampingan om Dirga itu adalah seorang disc jokey.
Pagi hari tiba-tiba dia sudah muncul lagi di rumah Bunda ikut sarapan. Hampir setiap hari selalu seperti itu. Akupun juga tak mau ambil pusing selagi om Dirga juga tidak merecoki hidupku.
Kadangkala Bunda juga menasehatiku karena mungkin melihatku yang terlalu acuh padanya. Tapi mau bagaimana lagi. Memang ini sudah menjadi kesepakatan kita berdua. Untung saja Bunda tidak pernah bertanya banyak padaku kenapa aku dan om Dirga hidup terpisah.
Pulang kuliah sudah sangat sore, hari ini Jadwal ku sangatlah padat. Tiba di depan rumah tampak mobil om Dirga sudah terparkir disana. Aku masuk ke dalam mendapati om Dirga yang tertidur di atas sofa ruang keluarga. Kuamati wajah lelapnya. Aku terjengkit kaget, Bunda menoel lengan ku.
" suruh tidur di atas sana. Kasian nak Dirga nya kelihatan capek begitu."
" biarkan saja Bun. Orang lagi tidur gitu jangan diganggu."
" tapi kasian tidur di sofa. Pasti badan nya sakit semua itu nanti. Sebenarnya tadi Bunda sudah bilang istirahat diatas saja di kamar Mila. nak Dirga nya ga mau. Katanya mau nunggu Mila pulang. Ya sudah bunda tinggal masak. Eh Pas Bunda lihat lagi ternyata sudah tertidur. "
" biarkan aja lah bun. Mila ke atas dulu mau mandi. "
Aku berlalu meninggalkan bunda naik ke lantai atas menuju kamarku. Badan terasa sangat lengket oleh keringat dan mandi adalah solusi satu satunya agar tubuhku kembali segar.
*******
Hari menjelang magrib, aku turun ke lantai bawah seperti biasa akan membantu bunda menyiapkan makan malam. Mataku tertuju pada om Dirga yang masih tertidur pulas di atas sofa. Aku berlalu menuju dapur.
" Bunda mau masak apa?" kulihat Bunda yang sedang memotong sayuran.
" cap cay seafood." Bunda menoleh sekilas sebelum melanjutkan aktifitas nya.
Kuambil mug yang ada di lemari atas dan menuangnya dengan air hangat. Memasukkan ke dalam nya satu teh celup, sesendok gula dan satu sendok madu. Asap panas mengepul dari atas cangkir.
Kubawa teh hangat menuju ruang keluarga. Duduk dipinggiran sofa, menimbang-nimbang apakah aku harus membangunkan om Dirga sekarang. Tapi ini sudah menjelang malam. Dan om Dirga memang harus segera bangun.
Kugoyang lengan nya perlahan. " om... Bangun."
Tidak ada reaksi. Aku mendengus. Sekali lagi kugoyang lengan nya sedikit keras. Om Dirga tergagap dan mulai membuka mata. Sedikit mengerjab dan tersenyum padaku.
" kamu sudah pulang." tanya nya dan aku mengangguk.
" jam berapa ini." Om Dirga bangun dari berbaring nya. Menyandarkan punggung dan memijit pangkal hidung nya.
" hampir jam enam." jawabku masih memperhatikan dia yang sepertinya sedang mengumpulkan nyawa.
" sudah malam rupanya. Maaf aku tertidur."
" lebih baik om Dirga mandi dulu sana. Biar seger badan nya."
" iya... Kalau gitu aku mandi dulu."
Om Dirga beranjak bangun dari duduk nya. Kucekal lengan nya. Dia menoleh.
" diminum dulu teh nya." aku menunjuk mug yang berada di atas meja. Om Dirga mengernyit tapi tak ayal juga dia kembali duduk dan meraih mug yang ada di atas meja. Menyesap nya pelan hingga separuh isinya.
" Terimakasih sayang." dia mengerling genit ke arahku membuatku melotot.
" sama sama" aku beranjak berdiri meninggalkan nya.
Tiba diambang pintu ruang makan aku berbalik. " kalau om Dirga tak bawa baju nanti kupinjamkan bajunya kak Ken."
" owh... Aku ada baju ganti kok di mobil."
" okelah kalau begitu." aku berlalu menuju dapur berdiri di samping bunda yang sedang mengaduk sayur di atas kompor.
__ADS_1
" sweet nya anak bunda. " Bunda terkekeh.
" apaan sih bun. " tuh kan aku jadi malu. Ngapain juga bunda pake acara ngegodain aku segala.
" bunda seneng banget kalau lihat anak-anak Bunda akur begitu. Lagian kasian loh nak Dirga itu. Dicuekin mulu sama kamu. "
" eh siapa juga yang nyuekin." aku membela diri. Bunda mencebik.
******
" lagi banyak tugas nggak? ." om Dirga bertanya padaku.
Aku yang sedang membereskan meja makan dari sisa makan malam kami mendongak menatapnya yang duduk di salah satu kursi makan. Bunda sudah pergi ke Resto selepas makan malam karena malam ini Kak Ken dan Ka Danisha sedang tak ada dirumah.
" ehm nggak juga sih. " jawab ku. Karena memang tugasku sudah selesai kukerjakan semua.
" ikut aku."
" kemana? ."
" ke club."
" eh ngapain ke club." terang saja aku kaget. Buat apa coba om Dirga ngajakin aku ke club. Kan nggak lucu jika aku berada disana. Pasti aku jadi bahan perhatian.
" ada yang mau ketemu kamu. "
" siapa? "
" Daffi "
" Kak Daffi.? Tumben. Biasanya juga kalau ada perlu sama aku kak Daffi pasti nelpon ngajak ketemuan. "
" memang apa bedanya dulu dan sekarang "
" kalau dulu Mila masih single. Kalau sekarang Mila sudah ada suami. Jadi..... Karna Daffi itu anak baik mau ketemu kamu ijin nya ke aku. "
" ish.... Ribet banget sih. "
" buruan ganti baju. Keburu malam entar."
" sabar napa om. Ini juga lagi beberes."
Om Dirga bangkit mengambil alih piring yang ada di tanganku." sini aku bantuin. "
" eh nggak usah. Sudah sana om Dirga duduk aja disitu. " kuambil kembali piring yang dipegangnya, kubawa ke wastafel.
Om Dirga mengikutiku dan berdiri di samping ku. Mengambil alih spons pencuci piring yang sudah kutuang sabun cuci.
" biar aku yang nyuci. Kamu yang bilas " ucapnya. Dan aku lebih memilih untuk menuruti nya. Jika dikerjakan berdua pasti cepet kelar nya.
*****
Night club yang setiap harinya tak pernah sepi pengunjung, kadang membuatku heran. Apa sebenarnya kelebihan dari sebuah tempat hiburan malam seperti ini.
" ayo turun." aku tak bergeming dari duduk ku. Mungkin om Dirga tau jika aku enggan diajak masuk ke dalam.
" kita akan lewat pintu belakang. Kamu tenang saja jika itu yang kamu khawatirkan."
Terpaksa aku membuka seat belt dan keluar dari mobil om Dirga. Mengikutinya yang berjalan di depanku. Benar saja apa katanya tadi, aku diajak melewati pintu belakang. Masih bisa kudengar suara bising dari musik yang menghentak hentak memecahkan telinga. Kututup kedua telingaku dengan telapak tangan. Terus berjalan mengikuti om Dirga sampai di sebuah ruangan yang aku tau adalah ruang kerjanya. Aku pernah sekali masuk kedalam nya.
" masuklah. Tunggu saja di dalam dan jangan kemana mana. Aku cari Daffi dulu."
__ADS_1
Aku mengangguk dan masuk ke dalamnya. Pintu kembali ditutup dari luar oleh om Dirga. Duduk di salah satu sofa mengedarkan pandangan keseluruhan penjuru ruangan. Berada seorang diri di tempat sepi seperti ini membuatku sedikit takut.
Ceklek pintu terbuka aku terjengkit kaget. Wajah tampan kak Daffi muncul diambang pintu. Lega rasanya mendapati ternyata Kak Daffi lah pelakunya.
" Hai Mil.... Kangen gue sama elu." Kak Daffi menghampiri ku. Sofa yang sedang kududuki melesak karena tubuh besar kak Daffi yang tiba-tiba sudah ada disampingku.
Om Dirga masuk ke dalam, berdecak sebal melihat kak Daffi yang duduk berdua denganku.
" eh itu ngapain elu duduk deketan sama Mila." om Dirga bersedekap menunjuk kami dengan dagunya. Kak Daffi terkekeh.
" idih cemburu..." gurau kak Daffi.
Om Dirga berjalan menuju meja kerjanya dan mulai membuka laptop.
" Mil, ada yang mau gue omongin ke elu. " aku menoleh melihat wajah serius kak Daffi.
" ini mengenai Nathalie." lanjutnya.
" Nathalie. Kenapa dengan dia Kak. "
" ehm... Jadi gini..... Argh susah gue ngomongnya. Gini gini.... Gue mau minta nomor telpon nya Nathalie. Boleh? "
" nomor telpon Nath? Memang kak Daffi ga punya." tanyaku dan Kak Daffi hanya menggeleng lemah.
" nomor dia yang lama sudah tak bisa kuhubungi. "
" masak sih kak.... sebenarnya ada apa dengan Nath? . "
" huft.... Gue pasti akan cerita ke elu. Tapi tidak sekarang. Gue perlu bicara dulu sama Nathalie. Dan.... Sejak terakhir pertemuan gue dengan nya, gue masih bisa ngehubungin dia. Tapi sejak seminggu yang lalu gue lost Contact. Nomornya ga bisa gue hubungi dan WhatsApp gue diblokir. Padahal ada hal penting yang harus gue bicarain dengan nya. "
Aku baru teringat jika sejak hari pernikahanku dua minggu lalu, aku tidak pernah mendengar kabar tentang Nathalie. Bahkan aku juga tak pernah berkirim kabar dengan nya. Kenapa aku bisa melupakan nya. Padahal selama ini aku dan Nath akan sering chating via WhatsApp.
" hello Mil... Mila..." Kak Daffi menggoyangkan telapak tangan nya di depan wajahku membuatku tergagap.
" are you okay..."
" ya aku hanya sedikit kepikiran Nath."
" Mil, bantu gue dong."
" jujur ya kak, ehm sejak Nath balik ke Australia, aku sudah tak pernah menghubungi nya lagi. Tapi nanti deh aku coba."
" Thanks you Mil. Hanya elu yang bisa bantu gue. "
Aku mengangguk.
" Bro.... " panggil kak Daffi membuat om Dirga mendongak. Lelaki itu sedari tadi sibuk menekuri laptop nya tanpa menghiraukan keberadaanku dan Kak Daffi.
" lo ga mau perform bareng gue. "
" gue disini aja. Kasian istri cantik ku itu ditinggal disini sendirian. "
" ecie.... Romantis nya... Bikin gue ngiri aja." Kak Daffi bangkit dari duduk nya
" ya udah gue keluar dulu." pamit nya sebelum berlalu keluar dari ruang kerja om Dirga.
Om Dirga sudah kembali sibuk dengan laptopnya. Aku tak tau lagi harus ngapain sekarang. Aku menguap. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir jam sepuluh malam. Tumben juga aku sudah mengantuk. Padahal jika di rumah dan sedang mengerjakan tugas bisa sampai lewat tengah malam. Kembali aku menguap, menoleh ke arah om Dirga yang masih tampak tenang dengan aktifitas nya.
Menepuk pelan sofa yang sedang kududuki, sepertinya tidur disini tak ada salahnya sambil menunggu om Dirga selesai dengan pekerjaan nya.
Kurebahkan tubuhku bersandar pada lengan sofa. Ah nyaman nya, aku menguap untuk yang kesekian kali tak perlu menunggu waktu yang lama aku sudah terbuai ke alam mimpi.
__ADS_1