
Pagi ini wajah Dirga sangat ceria dan berseri. Merasa kembali muda karena beristrikan Camila. Istrinya itu sangat pandai menyenangkan hatinya. Dulu sekali saat mereka baru menikah, Camila ini hanya gadis belia yang sangat labil. Manja dan sering ngambek padanya. Akan tetapi Dirga sadar
dan selalu berusaha sabar dalam menghadapi istri kecilnya. Jarak usia mereka
yang teraput cukup jauh tak menjadi penghalang utuk perjalanan rumah tangga
mereka.
Mungkin memnag Dirga lah yang dulu sangat menggilai seorang Camila wijaya, dan setelah mereka menikah, sikap Camila yang menunjukan ketidak sukaan nya pada Dirga tak membuat Dirga patah semangat. Dirga selau bisa mengambil hati Camila hingga pada akhirnya Camila bertekuk lutut kepadanya. Karena perjuangan panjang nya itulah yang menjadikan Dirga sangat menjaga
Camila. Berusaha untuk tidak menyakiti hati Camila. Dirga memang bukanlah lelaki
sempurna, ada kalanya dia merasa cemas takut seandainya Camila tertarik dengan
lelaki yang seusia istrinya itu. Apalagi keberadaan Camila yang selalu di tempat
umum dengan dikelilingi banyak pria tampan, Dirga sangat takut jika Camila berpaling
darinya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka , bayangan tubuh camila yang masuk ke dalam kamar terpampang di cermin di hadapan Dirga. Camila mendekati suaminya yang sedang mengancingkan kemeja kerja. Tangan Camila terulur menggapai kancing kemeja Dirga, mengambil alih aktifitas suaminya itu. Setelah semua terkancing dengan sempurna, dibenarkan kerah kemeja dirga dan memasangkan dasi yang sudah ia siapkan , serasi dengan kemeja nya.
Dirga hanya mengamati semua yang dilakukan istrinya. Inilah yang dia suka dari Camila, perhatian kepadanya. Selagi Camila masih ada waktu dan bisa melakukan tugasnya , maka Camila tidak akan melupakan tanggung jawab serta
tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu untuk anaknya.
“ Selesai... duh kenapa Papa Dirga tambah ganteng. “ celetuk Mila.
Dirga tergelak lalu menangkup kedua pipi Mila. Mencium nya gemas.
“ Baru tahu kalau Papa Dirga ini memang ganteng dari dulu. “
Setelah mengatakan itu, Dirga kemabali mencium bibir istrinya. Camila menyambutnya dengan suka cita.
Jika saja tidak ada Je yang tiba tiba masuk ke dalam kamar dan meneriakkannama mereka berdua, entah kapan berakhirnya ciuman mereka.
“ Papa....Mama.....”
Je sudah merangkul kaki Camila, membuat Camila terkesiap dan sedikit mendorong dada Dirga. Diusapnya dengan punggung tangan, bekas ciuman nya dengan sang suami. Lalu dia berjongkok mensejajarkan diri dengan putranya.
Dirga juga melaukan hal yang sama. Berjongkok di samping tubuh kecil Je. Mencium pipi Je gemas.
“ Papa ... geli....” Je begidik karena pipinya tersentuh jambang halus sang papa.
“ Wanginya anak papa. Siapa yang mandiin tadi. “
“ mama.”
“ Oh ya, bukan mbak hana “
“ Bukan “
“ Aku ya pa yang mandidin Je tadi. Hanya saja mbak hana yang makein bajunya Je. “
Dirga mengangkat tubuh mungil Je , “ Ayo kita sarapan. “
Dirga keluar kamar dengan Je dalam gendongan nya sementara Camila mengikutinya dari belakang.
****
Hari ini Camila ada jadwal shift pagi, sedangkan mama hari ini harus pulang ke rumah karena ada acara bersama papa. Berhubung Dirga tidak ada jadwal meeting , hari ini dia membawa Je ke kantor. Tentunya bersama Mbak Hana, babysitter Je.
Tatapan karyawan yang begitu memuja seorang Hot Daddy, dengan setelan kerja lengkap dengan Jas, Dirga tak segan masuk ke dalam kantornya dengan menggendong Je. Sampai di lobi Dirga menurunkan Je, hingga balita itu berjalan sendiri di lobi kantor. Kaki kecilnya dengan sedikit berlari di dalam
lobi menjadi pusat perhatian beberapa karyawan Dirga. Mereka sudah terbiasa
dengan pemandangan seperti ini karena memang Dirga sudah sering membawa Je ke
kantor bahkan sejak Je masih bayi. Apalagi wajah Je yang tampan juga imut membuat siapa saja yang melihat selalu merasa gemas.
Menjadi pusat perhatian di pagi hari , Je sudah melambai lambai ke arah sang Papa yang tertinggal jauh di belakang nya. Je sudah hapal dimana ruangan Papa Dirga karena kini langkah kecilnya sudah mendekati lift.
“ Je tunggu papa. Jangan berlarian. “ teriak Dirga.
Mbak Hana yang masih setia mengawasi Je sedikit khawatir jika Je akan terjatuh karena tingkah nya yang suka berlarian kesana kemari.
Hap
Dirga berhasil menangkap tubuh Je dan kembali ia menggendong Je. Masuk ke dalam lift diikuti pula oleh Mbak Hana.
“ Mbak..semua perlengkapan Je sudah dibawa kan ? “ kembali Dirga memastikan . Jangan sampai ada barang Je yang tertinggal di rumah jika tidak ingin balita itu akan rewel.
__ADS_1
Pernah dulu mbak hana lupa tidak membawa mainan lego kegemaran Je, alhasil saat berada di kantor papa Dirga, Je
terus saja rewel meminta mainannya. Jika sudah memainkan lego dan mainan
pesawat nya maka Je akan sanggup melupakan segalanya.
Ting
Pintu lift terbuka, Je kembali merosot turun dari gendongan Papa Dirga. Berlari menuju meja kerja Ferdy.
“ Om....eldy....” panggilnya dengan suara cempreng dan bahasa yang masih cadel.
Ferdy mendongak menatap Je, senyumnya mengembang. Ferdy suka sekali jika ada Je dikantor. Itu artinya Dirga akan menjadi lelaki yang manis untuk satu hari ini.
Tidak akan suka berteriak teriak kepadanya dan juga tidak akan berani marah marah . Ferdy sudah hapal betul dengan komitmen Dirga, jika bos nya itu tidak akan berkata
dengan nada keras jika sedang bersama Je.
“ Hallo jagoan ... Om kangen sekali sama Je. “
“ Je juga ....”
Dirga hanya menggelengkan kepala melihat kedekatan Ferdy dengan Je.
“ Mbak Hana ... apa kabar ?” sapa Ferdy dengan mengerling genit pada babysitter Je yang berdiri di belakang tubuh Dirga.
“ Ehem...Ferdy ...! jangan berani menggoda Mbak Hana. “
“ Bos... pelit amat...”
Ferdy sudah mengangkat tubuh Je ke dalam gendongan nya. Entah kenapa Ferdy begitu menyukai lelaki kecil yang kini sudah memeluk lehernya erat.
Dirga masuk ke dalam ruangan kerjanya, Ferdy menyusul dengan Je masih digendongan nya. Di belakang nya ada mbak hana yang juga mengikuti mereka.
Ferdy menurunkan Je di atas karpet. “ Je main disini dulu ya.. om ada kerjaan dengan Papa sebentar. “
“ Iya. “ Je mengangguk paham.
Duduk di atas karpet dengan ditemani mbak hana. Selanjutnya balita itu sudah sibuk dengan dunia nya sendiri.
Sementara Ferdy, lelaki itu sedang membacakan apa saja angenda Dirga hari ini serta apa saja pekerjaan yang harus Dirga selesaikan.
*****
Camila pagi ini ada jadwal shift pagi di Rumah Sakit. Setelah memarkir mobilnya di area khusus dokter , Wanita itu keluar dari dalam mobil . Tak lupa dengan tas kerja yang tersampir di bahu nya dan ponsel pintar yang ada di genggaman tangan nya. Hari ini Jaghad sedang ikut Papa Dirga ke kantor.
jika Je akan rewel di kantor papa Dirga. Maklumlah balita seusia Je ini masih belum bisa mengontrol emosi, Sering rewel jika ada hal yang tidak mengena di hati.
Mila menempelkan ponsel nya di telinga, dia sedang mencoba menelpon Papa Dirga. Di dering ketiga barulah panggilan nya di terima.
“ Hallo mama ila ....” sapa menggoda Papa Dirga.
“ Pa... sudah sampai kantor ?”
“ Sudah. “
“ Je dimana ?”
“ Lagi main lego sama mbak hana.”
“ Je tidak rewel kan”
“ Enggak . Sayang tenang saja. “
“ Syukurlah kalau begitu, “ ucap Camila lega karena mendengar info dari papa Dirga jika Je tidka rewel.
“ Sayang sedang dimana ?”
“ Baru sampai di Rumah Sakit. “
“ Ya sudah, sayang baik baik ya.... selamat bekerja. We Love you. “
“ Love you too Pa... “
Pipi Camila sudah bersemu merah pagi pagi mendapat gombalan dari Papa Dirga. Ini bukan pertama kalinya Papa Dirga berlaku seperti ini. Tapi sepanjang sejarah pernikahan mereka, Dirga akan selalu memperlakukan Camila dengan manis seperti itu. Dan Camila, wanita itu selalu saja terpesona dengan
semua hal yang dilakukan Dirga kepadanya.
“ Auw...” Pekik Camila. Ponsel yang berada di genggaman tangan nya terlepas. Terlempar begitu saja di atas tanah. Camila shock melihat benda pipih kesayangan nya itu terbelah menjadi dua akibat kerasnya benturan .
“ Ponselku...” gumam Camila.
Tanpa mempedulikan orang yang tadi menabraknya, Camila segera berjongkok memungut ponselnya. Di kibas kibaskan ponsel yang sudah terkena noda tanah. Bagi Camila ponsel adalah segalanya disaat dia sedang berada di luar rumah seperti ini. Dengan ponsel itu dia bisa memantau Je kapan saja dan dimana saja. Dengan ponsel itu Camila bsia mendengarkan gombalan receh papa Dirga setiap saat setiap waktu disaat merea sedang tidak bersama.
__ADS_1
Masih dengan berjongkok, Camila menyatukan kedua ponsel nya yang terbelah. Memang ada sedikit retak pada layarnya , akan tetapi Camila yakin jika ponsel tersebut masih bisa berfungsi. Setelah menekan tombol power, benar saja ponsel nya kembali menyala. Camila menghela nafas lega karena ponselnya kembali menyala, terpampanglah foto papa Dirga bersama Je di layar utamanya.
“ Maafkan saya...tadi saya tidak sengaja menabrak Anda. “
Suara seorang lelaki membuat Camila mendongak. Lelaki dengan tubuh jangkung berdiri di depan nya. Camila segera berdiri menegakkan badan nya. Menatap lelaki itu , dan dia tidak mengenali siapa lelaki dengan jas dokter itu.
“ Tidak masalah. Ponsel saya juga masih bisa menyala. “
“ Syukurlah...”
Tangan lelaki itu terulur , “ Saya Rasya. Dokter baru di Rumah sakit ini . “
Dengan ragu Camila menerima uluran tangan lelaki yang dia perkirakan seusia dengan nya. “ Camila.”
Ucap Mila kemudian memperkenalkan dirinya.
“ Anda dokter disini ?” tanya Rasya meneliti Camila.
Camila mengangguk, “ Ya, saya salah satu dokter umum disini.”
“ Ah Senang dapat berkenalan dengan anda dokter Camila. “
Camila mengangguk sembari tersenyum. “ Maaf saya harus pergi. “ pamit Camila kemudian.
“ Silahkan,” Rasya merentangkan tangan kanan nya, mempersilahkan Camila untuk meninggalkan nya.
Dengan tergesa Camila berjalan memasuki ruang prakteknya. Pagi ini Camila mendapat tugas jaga di poli umum. Mengetahui banyak nya antrian pasien membuat Camila menghela nafasnya dalam. Sepertnya hari ini dia akan menghabiskan hari yang panjang untuk bertemu dengan para pasien yang telah
mengantri untuk menunggu kedatangan nya.
***
Di kantor Dirga,
Je telah tertidur dengan pulas di sofa ruang kerja Dirga. Mbak Hana tengah sibuk membereskan mainan Je yang berserakan di karpet. Jam menunjukan pukul sebelas siang. Dirga yang masih berkutat dengan beberapa
berkas di meja nya menoleh sekilas menatap putra nya yang terlelap. Setengah hari ini Je terus saja merecokinya dengan tak henti mengajak nya bermain. Tak akan pernah bisa menolak keinginan putra nya, Dirga pun menurut semua kemauan putranya itu.
Sementara Mbak hana hanya sebagai pengamat interaksi keduanya.
Je termasuk anak yang aktif, tetapi bukan hiperaktif. Tingkah lakunya masih sesuai dengan anak seusianya. Memang di usia menginjak empat tahun Je terlalu banyak ingin tahu segala hal yang ada di dekatnya. Dan begitu melihat papa Dirga yang ada dalam jangkauan nya , Je tak peduli . Baginya Papa Dirga adalah teman nya yang bisa dia ajak bermain kapan saja. Hingga dia
kelelahan barulah Je meminta susu nya , berakhirlah dia yang tertidur pulas di
atas sofa.
“ Mbak...!” panggil Dirga pada pengasuh putra nya itu
Wanita muda berusia tiga pulu lima tahun itu mendongak,” Iya Pak, “
“ Selagi Je masih tidur, Mbak hana tinggal saja ke kantin. Ini sudah jam sebelas, mendekati makan siang. “
“ Tapi Pak...”
“ Tidak apa. Pergi saja dulu. Biar Je saya yang jaga. Jadi nanti begitu Je bangun, saya bisa mengantar Mbak Hana dan Je pulang. “
“ Apa tidak sebaik nya saya makan di rumah saja. “
“ Tapi saya tidak tahu kapan Je bangun, Sudah nggak apa. Ini sudah masuk jam makan siang. “
“ Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu pak. “
Mbak Hana menyimpan mainan Je yang baru saja dia bereskan ke dalam box penyimpanan mainan . Setelahnya wanita itu keluar ruangan.
Setelah kepergian Hana, Dirga meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Mendial nomor ponsel Camila, Akan tetapi dua kali panggilan nya tak juga di jawab oleh istrinya. Mungkin saja Camila sedang sibuk, begiu pikir Dirga.
Dia selalu berusaha mengerti kesibukan istrinya. Oleh karena nya dirga tak pernah protes jika dia seringkali kesusahan saat menelpon istrinya. Jika Pasien Camila sudah habis atau pada saat Camila sudah ada waktu
senggang, pasti istrinya itu akan balik menelpon nya.
Karena panggilan nya tak kunjung di jawab oleh istrinya, Dirga berinisiatif mengirim chat pada Camila.
“ Sanyang, jangan lupa makan. Jaga kesehatan dan jaga diri baik baik. Aku dan Je akan selalu menyayangimu. I Love You. “
Setelahnya ditekan tombol send hingga pesan singkatnya menunjukkan dua garis berwara abu abu. Pesan yang ia kirimkan bekum terbaca oleh Camila. Selanjutnya Dirga mengarahakan Camera ponselnya ke arah dimana Je sedang tidur. Lalu memfoto anak lelakinya itu. Dia Kirimkan juga foto Je yang
sedang tertidur lelap pada Camila. Dirga berharap dengan melihat foto Je mampu
mengobati kerinduan Camila akan kehadiran anak lelaki mereka.
Dirga tersenyum melihat Je yang tak terganggu sedikitpun padahal anak itu tidur di sofa, bisa dikatakan bukan tempat yang nyaman untuk tidur. Tapi Je seolah tak peduli.
Dirga bangkit dari kursi kerjanya, merentangkan kedua tangan
__ADS_1
nya untuk melepaskan otot tubuhnya yang terasa kaku. Selanjutnya dia berjalan menghampiri sang putra. Lelaki itu berjongkok di sisi sofa, mengusap lembut
rambut Je dan mendaratkan satu kecupan di kening putra nya.