
Dirga PoV
Kuperhatikan Camila yang tertidur pulas di atas sofa. Jam yang bertengger diatas meja sudah menunjukan pukul 23.45 hampir tengah malam rupanya. Pantas saja Mila sudah terlelap tidur. Kureganggkan otot tubuhku karena hampir dua jam lamanya aku duduk didepan laptop. Sambil menguap aku bangkit dari duduk dan berjalan menuju sofa. Berjongkok di sisi Camila. Dia tertidur sangat lelap dan aku tak tega untuk membangunkan nya.
Sepertinya bermalam disini adalah pilihan yang terbaik. Di club ini ada dua private room. Ruang kerjaku ini dan ruangan Danu yang sekarang beralih tangan pada Daffi. Di dalam ruang kerjaku ini juga terdapat satu kamar tidur yang biasa kugunakan jika aku ingin bermalam disini. Tiap weekend aku dan Daffi lebih sering tidak pulang ke rumah melainkan tidur di club ini. Kadangkala Raymond dan boy juga ikut tidur di sini. Mereka berdua adalah bartender terbaik yang kumiliki. Jadilah ruang kerjaku ini menjadi rumah kedua buatku. Ah ralat sekarang menjadi rumah ketiga karena rumah keduaku sekarang adalah di rumah bunda anyelir.
Kuangkat tubuh Mila dan membopongnya menuju kamar. Dia hanya menggeliat sebentar tanpa membuka mata dan itu cukup membuatku tersenyum. Mungkin terlalu capek hingga saat kupindahkan dia tak terganggu sedikitpun. Kuperhatikan intens wajah polos nya, aku tak menyesal telah menikahi nya. Meskipun saat ini mungkin saja Mila belum mencintaiku tapi aku yakin suatu saat dia pasti menyadari jika aku memang tulus menyayanginya.
Aku keluar dari ruang kerjaku mencari Daffi yang ternyata sedang duduk di depan meja bartender. Kutepuk punggungnya dan dia menoleh.
" Mila mana." tanya nya
" tidur."
Daffi mengernyit. " lo apain sampe jam segini udah tertidur."
Aku terkekeh mendengar candaan Daffi. Bohong jika aku tak menginginkan Mila yang nyata nya sudah sah bagiku. Tapi aku ini lelaki gentelman yang tak mau memaksakan kehendak jika itu hanya akan menyakiti wanita yang sangat aku cintai.
" Daf... Sebenarnya apa sih masalah lu sama Nathalie." Daffi terhenyak menghindar dari pandangan mataku. Aku tau jika ada sesuatu yang tidak beres antara Daffi dan Nathalie. Itu semua bisa kulihat dari gelagat Daffi yang tampak aneh.
Kugeser kursi sebelah Daffi. Aku duduk disamping nya.
" boy, tequila plis...." pintaku pada salah satu bartender club ini.
" yes bos... Wait"
" thanks you boy."
__ADS_1
Kutepuk lengan Daffi, dia menghadapku dan membuang nafas kasar.
" cerita aja ke gue.... Siapa tau gue bisa cari solusi buat masalah lu." sebenarnya aku tak ingin memaksa Daffi, tapi sebagai teman yang baik tak ada salahnya kan aku membantunya.
" Dir..... Gue......" Daffi menggantung kalimatnya. Boy datang dengan segelas tequila pesananku.
" silahkan bos. "
" thanks "
Daffi mencodongkan wajahnya ke arahku. Dia berbisik di telingaku. Mulutku menganga jujur aku terkejut mendengar ucapan Daffi. Meski suasana disini sangat bising tapi aku masih bisa dengan jelas mendengar apa yang Daffi sampaikan barusan.
Daffi kembali menegakan tubuhnya, kami masih saling bertatapan.
" kamu serius ? Aku tak salah dengar kan!! ." berusaha memastikan padanya jika apa yang kudengar benar adanya.
Aku menggeleng.
" lalu..... Apa yang mau lu lakuin sekarang. " tanyaku.
" justru itu yang membuat gue bingung. Nath.... Ya lu tau sendiri dia berusaha menjauhi gue. Nomor gue di blokir. Maka itu aku minta tolong Camila tadi. Seenggaknya gue bisa minta tolong Camila buat bicara pada Nath."
" Apa Mila tau tentang hal ini. " tanyaku dan Daffi menggeleng.
" tidak ada yang tau kecuali elu. Dan gue mohon elu jangan cerita apa apa ke Mila. Kecuali jika Nath sendirilah yang bakal cerita ke dia. "
" kenapa lu ga terus terang aja sama Mila. "
__ADS_1
" entahlah.... Gue rasa belum saatnya. Gue takut Mila marah dan benci sama gue. "
" kurasa Mila tak seperti itu lah. "
" hello.... Dirga My Man... Lu tau kan gue ini telah berbuat kesalahan yang sangat fatal. Dan Nath itu sodara Mila. Sudah barang tentu Mila bakalan murka sama gue. " Daffi meraup wajahnya. Terlihat sekali jika dia sedang stres.
Aku mendengus. Berusaha ikut berfikir. Kusesap tequila yang tadi diberikan oleh boy.
" lu bener sih Daf, memang bicara sama Nath dulu adalah solusi terbaik. Gue akan bantu lu deh, setidaknya buat komunikasi sama Mila. "
" thanks you Dir. Lo memang sahabat terbaik gue."
Aku turun dari atas kursi. Menepuk punggung Daffi " gue ke dalam dulu. Kasian Mila sendirian. "
Baru satu langkah aku berbalik" oiya Daf, malam ini gue rasa bakal nginep disini. Kasian jika harus ngebangunin Mila. "
" okay.... Have fun bro.... " Daffi terkekeh.
Aku melangkah melewati kerumunan beberapa orang yang memenuhi club. Sudah lebih dari tengah malam justru semakin rame. Aku berusaha dengan sebaik mungkin mengelola tempat ini.
Dari hal sekecil apapun harus kuperhatikan karena bagaimanapun juga tempat hiburan malam seperti ini sangatlah rawan. Jika tidak karena kak Bumi aku pun juga tak akan terjun ke dunia seperti ini. Sempat aku mengusulkan padanya agar club ini dijual saja tapi kak Bumi tak mengizinkan karena berawal dari club inilah kak Bumi memulai usahanya. Jadi sedikit banyak tempat ini memiliki sejarah terpenting di hidup kak Bumi.
Aku melangkah masuk ke dalam ruang kerjaku. Rasanya sungguh penat, memilih masuk ke dalam kamar dan mendapati Camila yang masih tak terganggu dalam tidurnya.
Aku naik ke atas ranjang menyingkap selimut dan merebahkan tubuhku di samping Camila. Membungkus diriku dengan selimut yang sama yang dipakai Camila. Rasa kantuk yang tiba tiba menyerang tak membutuhkan waktu lama hingga aku tertidur.
Sedikit terusik dengan pergerakan seseorang di sebelahku. Kucoba membuka mata, menoleh kesamping dan satu senyuman tak mampu kusembunyikan. Mila berusaha mencari posisi yang ternyaman, kepalanya menyeruak di cerukan leherku. Satu tangannya melingkar di atas perutku. Kubiarkan saja dia dengan posisi nya saat ini dan akupun tak keberatan dipeluk olehnya . Kembali kututup mataku dan meneruskan tidurku yang sempat terganggu.
__ADS_1