Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 7


__ADS_3

Benar apa yang Dirga perkirakan, meeting dengan klien nya dari luar negeri selesai tepat di jam dua siang. Seteahnya dia bersama Ferdy mengantar kembali klien tersebut menuju hotel dimana tamu itu menginap.


Sebenarnya jika Dirga kedatangan klien dari luar kota, luar pulau atau bahkan


luar negeri seperti ini, pastilah malam hari nya dirga akan mengadakan jamuan


makan malam. Akan tetapi untuk kali ini , klien nya memang sudah mengatakan


padanya jauh-jauh hari jika kedatangan nya ke Indonesia selain untuk mengursi


project yang sedang mereka kerjakan juga ingin menemui keluarga nya yang berada


di Indonesia. Dan malam ini klien Dirga itu ingin beristirahat total karena besok pagi akan mengunjungi keluarganya yang berada di luar kota. Itulah kenapa Dirga tidak mengadakan jamuan makan malam seperti biasa hingga Dirga bisa memberi janji pada Je ingin mengajak putranya itu pergi jalan jalan malam ini.


Setelah dari Bandara, Ferdy langsung mengantar Dirga pulang ke rumah dan sekitar jam lima sore Dirga sudah memasuki gerbang rumahnya.


“ Nggak mampir dulu ?” tawar Dirga pada ferdy, asisten nya.


“ Nggak usah bos. Hari ini aku lelah sekali.”


“Baiklah kalau seperti itu. Hati hati di jalan. “


“ Thanks bos, salam untuk jagoan kecil kita juga untuk wanita tercantik di dunia...dek Mila.”


“ Sialan lu...” Dirga meninju pelan lengan Ferdy. Tidak rela rasanya tiap kali ferdy menggodanya dengan memuji muji Camila, istri nya. Memang Dirga akui Camila itu cantik, tapi dia tidak akan rela membagi


kecantikan Camila dengan lelaki lain, terutama Ferdy.


Tapi Ferdy yang selalu suka menjailinya terus saja menggoda bahkan memberikan sebutan wanita tercantik di dunia untuk Camila.


Dirga bergegas turun dari mobil ferdy, dan setelahnya mobil Ferdy pun melesat keluar dari gerbang rumah Dirga. Begitu melewati pintu rumahnya , Je sudah menyambut kedatangan nya.


“ Papa....!” teriak lantang Je melihat sang Papa dengan wajah berseri masuk ke dalam rumah.


Mbak Hana yang berada di belakang Je hanya mematung menatap interkasi Je dan Dirga.


Keduanya saling berpelukan layaknya bapak dan anak yang sudah lama tak bertemu. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam lamanya karena Dirga harus bekerja.


Tidak dapat dipungkiri bagaimana kedekatan Dirga dengan Je. Karena sedari Je kecil, balita itu sudah cukup akrab dengan sang papa daripada dengan sang mama.


“ Anak papa wangi bener ...” Dirga mengendus ceruk leher Je, lalu mencium pipi kanan dan berganti pipi kiri Je.


“ Papa...! Je geli...” protes balita itu yang justru membuat Dirga mencium gemas putra nya.


“ Je sudah mandi rupanya. “


“ Sudah. Je mandi dengan mbak hana”


Je memang menyebut suster nya dengan sebutan Mbak, Usia hana yang memang belum terlalu tua memungkinkan Je mengikuti papa dan mama nya dalam


memanggil hana. Ingin nya Camila, jika Je memanggil mbak hana dengan sebutan


suster. Tapi semakin kesini Je semakin sering meniru kebiasaan papa dan mama


nya termasuk caranya memanggil mbak hana.


Untung saja mbak hana tidak keberatan Je memanggilnya dengan sebutan Mbak. Karena mungin mbak hana sudah mengasuh Je sejak Je masih bayi. Sudah seperti anak sendiri.


“ Je disini dulu sama mbak hana, Papa mandi dulu, setelah itu kita pergi jalan jalan, mau tidak ?”


Je mengangguk antusias . “ Iya Je mau. “


“ Anak pintar. Ya sudah papa ke kamar dulu ya. “


“ Iya. “


Dirga berdiri menatap mbak hana, “ Mbak, temani Je dulu menonoton televisi. Aku mau mandi . “


“ Baik Pak, “


Dirga mengusap kepala putra nya, lalu beranjak menuju kamarnya.


Tak butuh waktu lama bagi dirga untuk membersihkan dirinya. Tak sampai satu jam Dirga dudah keluar dari kamarnya dengan penampilan santai. Wajahnya terlihat segar. Dengan kaos polo berwarna hitam serta celana jins biru dirga tampak tampan dan terlihat lebih muda dari usianya.


“ Je ... “ panggilnya,


Je yang sedang duduk disofa menonton film kartun kesukaan nya mendongak menatap sang papa. Senyum nya mengembang.

__ADS_1


“ Papa...”


“ Ayo kita berangkat. “


Je mengangguk.


“ Mbak Hana, saya bawa je dulu ya, kita mau pergi jalan jalan. “


“ Baik Pak. Apa ada yang harus saya siapkan untuk Je. “


“ Eum.. ga usah mbak, nanti Je saya bawa makan diluar saja.“


Dirga berjongkok di depan sofa , megngangkat tubub Je .


“ Lets go boy, kita berangkat.”


Je sudah tertawa kegirangan, Momen yang ditunggunya sejak pagi dimana papa Dirga yang sudah berjanji akan membawanya pergi berjalan jalan.


*****


“ Berada di kawasan sebuah mall terbesar di kota ini, Dirga menggandeng tangan je. Balita itu minta diturunkan dari gendongan sang papa. Suasana mall yang cukup ramai membuat Je kegirangan sehingga balita itu ingin berjalan sendiri . Terkadang dengan sedikit berlarian lepas dari genggaman


tangan sang papa. Dan dirga akan menyusul putra nya dengan berlari kecil melewati kerumunan orang orang yang berada di mall tersebut.


Tibalah saat Dirga membawa je ke sebuah playland. Biasanya setiap weekend jika Camila sedang tidak ada tugas jaga, maka mereka pasti akan selalu menyempatkan waktu membawa Je bermain ke tempat ini lalu setelahnya akan membawa Je ke kedai es krim yang menjadi favorit putra itu. Benar benar keluarga kecil bahagia. Membuat siapa saja yang melihat merasa iri dengan kebersamaan mereka.


Akan tetapi disaat camila tidak dapat meninggalkan tugasnya maka sesekali dirgalkah yang akan membawa Je, pergi berdua berjalan jalan atau hanya sekedar makan. Terkadang mbak hana akan menemani mereka.


Dirga masih mengawasi pergerakan putra nya yang begitu aktif bermain. Sesekali dirga megabadikan momen itu dengan beberapa kali jepretan ponselnya atau bahkan merekam video lucu tingkah laku putra nya. Lalu dirga akan mengirimkan nya pada sang istri tercinta, Camila wijaya.


Meskipun Camila tak bisa menemani mereka, tapi Dirga tidak pernah keberatan begitupun Je juga tak akan rewel mencari mamanya. Meski terkadang mulut kecilnya akan protes karena tidak adanya sang mama, tapi nyatanya balita itu tetap menikmati momen momen dimana dia bisa bermain dengan leluasa di luar rumah . Tentunya dapat bertemu dengan kawan kawan baru .


Itulah kenapa dirga sempat mengusulkan pada Camila untuk memasukan je di sebuah taman belajar anak anak. Dan penolakan camila tak membuat dirga kecewa. Dirga yakin camila punya pemikiran sendiri dan cara tersendiri dalam mendidik anak mereka. Dirga menghargai itu semua, keputusanyang telah diambil oleh istrinya.


“ Je....” panggil papa Dirga


Je yang sedang bermain perosotan bersama seorang anak perempuan menoleh menghadap papa dirga yang kini sudah berdiri menunggunya.


“ Je, ayo....! ” perintah dirga agar je mendekat pada nya


Dirag tetap harus membatasi ruang gerak sang putra, tidak akan membiarkan Je kecapekan dengan aktifitas bermain putranya, karena jika Je kecapekan maka malam harinya Je akan susah tidur. Dan itu akan membuat nya khawatir juga cemas. Hingga semalam  baik dirga juga camila akan senantiasa siaga untuk Je jika sewaktu


waktu bocah itu rewel.


“ Bentar lagi pa...” rengek Je, Balita itu sepertinya masih asyik dengan aktifitasnya masih betah dengan mainan nya dan masih ingin berlama lama dengan teman barunya.


“ No... sekarang kita harus pulang, kapan kapan kita bermain lagi disini , bersama mama . Okay.... "


Je sudah mengerucutkan bibirnya saat sang papa memaksa untuk menggendong tubuh mungilnya. Bukan nya dirga tak tahu jika putranya ngambek, hanya saja je memang harus dipaksa dan dirga tidak akan memberi toleransi pada putranya. Semua dia lakikan demi kebaikan Je juga.


“ Kita makan ice cream... “ rayu dirga


Mendengar kata ice cream, muka je berbinar bahagia, yang tadi nya muram sekarang telah berubah ceria.


“ Mau tidak..”


“ mau mau..”


“ Baikklah kita beli ice cream. “


“ yey ....”


Mereka berdua menunju kedai ice cream langganan Je. Satu cup ice cream coklat dan stoberi sudah ditangan je dengan mulut belepotan dan tangan juga tak kalah cemonganya, balita itu masih sibuk menikmati ice creamnya.


“Pelan pelan maka nya, papa tidak akan meminta. “


“ Iya....”


Sembari dirga menungu sang putra menghabiskan ice cream nya


, dia mengecek ponsel yang disana terdapat notif dari camila. Pesan dari istrinya itu dikirim sekitar setengah jam lalu saat dirga mengirim beberapa foto je yang tengak asyik bermain di palyland.


Dirga tersenyum, membaca komentar sang istri.


“ hot daddy....muach...emot cium “


Begitulah kata pendek yang di ketik istrinya tapi mampu membuat dirga kembali bersemangat. Dirga tahu, camila bisa membalas pesan nya ditengah sibuknya jadwal sang istri . Hari ini sedari pagi camila sibuk dengan dunia kerja juga kegiatan kualihnya.

__ADS_1


Cita cita mulia Camila yang ingin menjadi seorang dokter anak sangat didukung oleh dirga, bahkan dia juga yang mendorong camila agar segera mengambil spesialis selagi camila masih muda dan anak mereka juga belum terlampau besar. Jadilah saat ini camila tengah mengahdapi aktifitas yang


sibuk sibuknya.


Dirga tak berniat membalas lagi pesan istrinya dan tatapan nya kembali teralih pada Je yang kini semakin tak karuan rupa putranya. Ice cream di dalam tangan Je tinggal sedikit.


“ Ayo Je segera habiskan, setelah itu kita cuci tangan”


“ oke pa...” Je tersenyum lebar menampilkan deretan gigi susu nya yang berjejer rapi.


****


Di Rumah sakit,


Camiala bergegas memasukan beberapa barang barangnya ke dalam tas. Hari sudah beranjak sore saat Camila mendongak menatap jam yang tertempel di dinding ruang praktek nya, tertera angka lima disana. Sudah jam lima saja rupanya. Pikir Camila dalam hati. Sebenarnya masa tugasnya hari ini sampai jam tiga sore, akan tetapi karena ada operasi mendadak dimana ada pasien kecelakan yang harus ditangani saat itu juga, dengan terpaksa Camila mendampingi dokter bedah untuk melakukan tindakan operasi pada pasien itu tadi. Dan baru jam empat sore mereka keluar dari ruang operasi.


Lelah, satu kata yang menggambarkan kondisi cmaila saat ini , meski begitu dia harus tetap semangat menjalani hidup ini . masih harus pergi kuliah malam ini , membuat Camila menghela nafasnya. Tidak ada waktu baginya untuk pulang terlebih dahulu, waktu nya sudah sangat mepet dan Camila hanya memutuskan untuk mengganti baju nya. Dia selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya juga di dalam ruang prakteknya untuk berjaga jaga jika dia dalam kondisi darurat seperti sekarang ini .


Setelah dirasa tidak ada barang barang bawaan nya yang tertinggal, Camila membawa tasnya keluar dari ruang prateknya. Begitu pintu ia buka, saat itulah dia terkejut hingga tubuhnya sedikit mundur kebelakang. Satu tangan nya mengelus dada yang tiba tiba berdetak dengan sangat kencangnya karena terkejut.


“ Astaga...! ucap Camila


Seorang pria seusianya justru tersenyum lebar dengan masih berdiri di depan ruang praktek Camila.


“ hai dokter...” sapa pria itu pada Camila.


Camila mengehla nafas dalam lalu ia hembuskan perlahan.


“ Iya ada yang bisa saya bantu.” jawab Camila dengan sedikit senyuman.


“ Dokter masih ingat saya. “


Tentu saja Camila ingat, lelaki ini yang kemarin menabraknya hingga ponselnya jatuh retak dan rusak.


Camila mengangguk , “ ya saya ingat. “


“ Ah senang sekali jika dokter masih mengingat saya. “


“ Adakah yang saya bisa bantu dokter Rasya. “


Kening pria itu mengerut. “ Anda tau jika saya dokter disini ?”


Camila menggeleng, “ sebenarnya saya tidak tahu hanya menebak saja. ”


“ Owh, ” hany kata itu yang terlontar dari mulut pria bernama Rasya.


“ Eum... Apakah anda sudah selesai praktik, " tanya Rasya dengan penuh harap.


“ Iya, saya sudah selesai praktik sejak jam tiga tadi. Ada apa ya dokter Rasya? Apakah dokter Rasya ada perlu sama saya?"


“ Apa dokter Camila ada waktu sebentar, ” Tanya Rasya.


Camila menggelengkan kepala. “ Mohon maaf tapi saya harus segera pergi sekarang. “


“ Kenapa terburu buru sekali, Dokter . “


“ Iya, saya masih ada urusan. Jadi saya harus pergi sekarang, maaf. “


“ Padahal saya hanya ingin mengajak dokter makan sebelum pulang. “


“ Tapi saya benar benar tidak bisa, maafkan saya, “


Camila tidak mengerti kenapa dokter yang baru dilihatnya dua kali berada di Rumah sakit ini , merasa sok akrab dengan nya. Bukan nya Camila sombong, hanya saja memang dia harus segera pergi ke kampus dan menyelesaikan tugasnya .


Hari ini sungguh berat Camila lalui , ditambah dengan tingkah absurd lelaki di hadapan nya ini membuatnya sangat kesal. Camila teringat akan Je dan suaminya, sedang apa mereka sekarang.


“ Permisi, saya duluan ya ... “ pamit Camila segera berlalu meninggalkan pria itu.


“ dokter.... dokter Camila .... “ panggil pria itu lagi membuat Camila harus menghentikan langkah nya.


“ Ah, maaf saya , eum... bagaimana jika besok. Apakah anda ada waktu untuk saya. “


Dengan memaksakan senyum Mila menjawab, “ Saya belum tahu, kita lihat saja besok ya. Permisi. “


Sebelum pria itu menahan nya lagi, bergegas Camila berlalu menuju jalan keluar Rumah Sakit dan menghampiri mobil nya di parkiran.


Tanpa Mila sadari, Rasya masih saja membuntutinya. Bahkan saat Camila sudah masuk ke dalam mobilnya, Rasya pun melakukan hal yang sama. Masuk ke dalam mobil dan berniat mengikuti kemanapun camila pergi.

__ADS_1


__ADS_2