
Kedua orangtua Daffi terus saja merecoki meminta padanya untuk segera kembali ke rumah. Bahkan Ayah dan Bunda nya tak peduli dengan alasan Daffi jika sedang banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
Menurut info sang Bunda, mereka telah melamar seorang perempuan untuk menjadi istri Daffi. Bahkan Daffi sangat malas hanya untuk sekedar bertanya bagaimana rupa calon istri nya. Biarlah semua diurus oleh Ayah dan Bunda nya, dan Daffi hanya akan menurut pada mereka.
" Matt, kau harus mengatur jadwal cutiku minggu depan," pinta Daffi pada Matt.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang kerja Daffi, setelah sebelum nya mereka mengadakan meeting dengan para klien perusahaan. Sejak keberadaan Daffi di perusahaan ini, sudah terlihat sekali perkembangan nya. Dan Malvin patut memberikan acungan jempol untuk adik iparnya ini.
" Berapa lama kau akan mengambil cuti." Matt memastikan. Bagaimana pun juga Daffi adalah pemimpin perusahaan dan Matt harus benar-benar mengatur semua jadwal Daffi agar tidak berantakan.
Matt, selain menjadi partner kerja sekaligus merangkap sebagai private asisten Daffi. Segala hal yang berhubungan dengan Daafi, Matt lah yang selalu mengatur jadwalnya.
" Aku tidak akan lama berada di Indonesia. Tiga hari cukup."
" Apa? Hanya tiga hari ? Kau bercanda Daf ? "
" Apanya yang bercanda. Aku serius. Memang kenapa ? Ada yang salah ? "
" Kau benar mau cuti karena akan menikah ? "
" Ya. Dan bukan kah aku sudah mengutarakan nya padamu, Matt. "
" Aku tahu. Tapi aku heran. Kau akan menikah tapi kenapa hanya mengambil cuti tiga hari. Apa itu cukup? "
" Memang kenapa? Apanya yang tidak cukup. Bahkan untuk keperluan menikah aku hanya butuh waktu satu hari saja kan? "
" Huft, terserah kau saja Daf. Tapi pasti ya hanya tiga hari. "
" Ya."
" Daff, kau yakin telah menghempaskan perasaanmu untuk Nathalie. " Matt menelisik wajah Daffi. Pasalnya dia tahu bagaimana Daffi begitu mencintai Nathalie. Dan rasanya Matt tak yakin jika Daffi telah melupakan Nathalie.
__ADS_1
" Matt, jangan membahas masalah itu lagi bisa? Kau harusnya tahu, aku susah buat move on dari Nath."
" Jadi, pernikahan itu hanya sebuah pelarianmu saja."
" Ya seperti itulah. Aku tidak boleh mengharapkan Nath. Buat apa jika hanya akan membuatku kecewa untuk kesekian kalinya. "
" Aku tahu itu Daff. Kuharap dengan pernikahan ini, mampu membawa kehidupan baru untuk mu."
" Thanks Matt. "
" Okelah Daff, jika begitu, aku akan mengatur jadwalmu. Akan kureshedule semua janji pertemuan dengan klien kita di hari itu. "
" Thanks Matt. Selama aku tak ada, tolong handel semua pekerjaan. Aku yakin kau pasti mampu melakukan nya. "
" Kalau masalah itu kau tak perlu khawatir. "
Daffi tersenyum. Matt memang segalanya bagi nya. Tanpa Matt, Daffi tak mungkin bisa seperti ini. Matt yang telah membantunya hingga perusahaan semakin berkembang di bawah kepemimpinan nya.
Setelah kepergian Matt, Daffi kembali berfikir. Entah kenapa rasanya sangat sulit untuk memantapkan hati . Selalu ada keraguan disetiap langkah nya.
Daffi memejamkan matanya. Kilasan kejadian di masa lampau sungguh tak bisa dia enyahkan. Nathalie, perempuan pertama yang telah dia hancurkan masa depan nya. Meskipun bukanlah salah Daffi seutuhnya. Tapi tetap saja perbuatan dia yang terlampau jauh pada Nathalie selalu menghantui hidupnya. Dan parahnya, Nath tak
pernah mau menerima pertanggung jawaban darinya.
Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Itu cukup lama bagi Daffi untuk bisa mengambil hati seorang Nathalie. Tapi ternyata semua penantian dan kesabaran nya sia-sia sudah.
***
Hari itu tiba, untuk pertama kalinya Daffi bertatap muka dengan seorang perempuan berjilbab yang baru saja sah menjadi istrinya. Waktu begitu cepat berlalu dan Daffi tak ada pilihan lagi selain menikahi Putri.
Putri Winata, seorang perempuan muda anak dari sahabat Ayah dan Bunda nya. Melalui sebuah perjodohan
__ADS_1
singkat hingga terjadinya sebuah pernikahan yang tidak didasari oleh adanya cinta diantara keduanya.
Bahkan mereka berdua baru saja saling bertemu sesaat setelah acara akad nikah berlangsung. Dan saat ini mereka berdua saling berhadapan untuk menyempatkan cincin pernikahan.
Daffi menghela nafas, semua prosesi berjalan lancar. Kali ini kakak perempuan Daffi yang bernama Aira sudah memeluk tubuh tegap nya.
" Daffi, akhirnya kamu menikah juga. Selamat ya." Aira yang kali ini tampak cantik dengan kebaya abu-abunya, menatap Daffi penuh kelegaan.
Setelahnya Aira ganti memeluk perempuan muda yang tampak cantik dan anggun. Dialah istri Daffi. Aira pun melakukan hal yang sama, memberikan ucapan selamat pada adik iparnya.
Seluruh keluarga sudah bergantian memberikan ucapan selamat pada Daffi dan Putri. Ayah dan Bunda Daffi tampak berbahagia karena setelah sekian lama pada akhirnya anak lelaki nya mau menikah juga. Meski sedikit terlambat tapi tak masalah. Daffi yang sudah berusia tiga puluh lima tahun diterima dengan baik oleh Putri menjadi
suaminya meskipun usia putri masih dua puluh lima tahun. Jarak usia keduanya yang terbilang cukup jauh yaitu sepuluh tahun.
Malam harinya, resepsi pernikahan Daffi digelar di ballroom sebuah hotel. Acara yang sederhana dan tidak terkesan mewah. Karena memang lokasi kediaman kedua orang tua Daffi berada di daerah pinggiran, bukan perkotaan.
Dilirik perempuan yang berdiri bersisihan dengan nya. Dengan baju pengantin berwarna putih, perempuan itu tampak anggun memang. Tapi entahlah, Daffi tak merasakan getaran apapun saat menatap perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu. Hatinya tak tersentuh sedikitpun melihat kecantikan seorang Putri Winata.
Beberapa tamu undangan tak ada habisnya, mengantri untuk dapat bersalaman dengan kedua mempelai. Sebenarnya Daffi sudah merasa lelah berdiri sedari tadi. Kebanyakan tamu undangan yang hadir adalah rekan kerja kedua orang tua mereka.
Daffi kembali melirik sang mempelai wanita, wajahnya masih tampak berseri. Tidak seperti dirinya
yang kini sudah mulai masam. Sudah capek memaksakan senyuman untuk para tamu undangan.
Seorang pria dengan kemeja batik naik ke atas pelaminan, menatap Daffi dalam, lalu sebuah senyuman tersungging di bibir pria itu. Daffi mengerutkan kening, tapi dia tidak mengenali pria yang ada di hadapan nya ini.
Berbeda dengan Putri, gadis itu tampak salah tingkah. Apalagi saat pria itu mengulurkan tangan untuk memberinya selamat. Dengan canggung putri hanya menganggukan kepala.
Hal itu juga tak luput dari perhatian Daffi. Dan yang ada di pikiran Daffi saat ini adalah pasti antara mereka berdua ada hubungan. Daffi mampu melihat gelagat keduanya yang tampak canggung dan tak biasa.
Mungkinkah pria itu kekasih Putri?
__ADS_1
Masa bodoh lah, Daffi tak peduli. Begitu dilihatnya tamu undangan yang semakin berkurang, Daffi bergegas turun dari atas pelaminan. Tanpa menghiraukan keberadaan Putri yang terbengong menatap punggung nya yang semakin menjauh tertelan kerumunan tamu undangan.