Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 12 - Keputusan Dirga


__ADS_3

DIRGA POV


Camila Wijaya, gadis itu benar-benar membuatku putus asa. Sudah


berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran tapi tak bisa. Kusandarkan punggungku


di kursi kerjaku. Memejamkan mata untuk sejenak, sekelebat bayangan Danu


terlintas di benak ku. Danu dan Mila dua orang yang membuatku merasa dilema.


Beberapa bulan mengenal sosok Camila Wijaya, beberapa kali mengekori dimanapun


gadis itu berada, meski harus mendapat ucapan ketus ataupun penolakan tapi tak


membuatku menyerah begitu saja.


Pesona seorang gadis SMA yang melekat di memori ku tak bisa


dengan mudah kuacuhkan. Dialah gadis yang telah mencuri hatiku. Dan aku tak kan


bisa membohongi diriku sendiri. Jatuh cinta itu perkara mudah hanya menempatkan


nya saja yang begitu susah. Menempatkan di tempat yang sangat tepat. Membuatku


berpikir berkali kali lipat.


Danuarta, keponakanku itu juga begitu menaruh harapan besar pada


Camila. Lalu bagaimana denganku? Dengan semua usahaku yang tanpa kusadari telah


terlampau jauh kedepan. Mencuri perhatian nya, menempatkan dirinya di hatiku


yang terdalam.


Dering ponsel menyadarkan ku dari lamunan. Kulirik ponsel di


atas meja yang berkedip.


"papa" gumamku. Segera kugeser tombol hijau. Entah


hatiku menjadi cemas tiap kali papa menelponku. Sejak kepergian Danu ke London,


kondisi mama semakin memburuk padahal ini sudah lebih dari satu bulan berlalu.


" Hallo pa"


" Dirga, mama nge drop lagi. Sekarang papa sedang di rumah


sakit. Kamu cepet kesini. Mama nyariin kamu."

__ADS_1


" Astaga.. Mama bagaimana kondisi nya pa. Dirga akan segera


kesana sekarang."


" Mamamu belum stabil kondisi nya."


" Papa tunggu disana. Dirga berangkat. Bye pa. "


Dengan tergesa kuraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja.


Keluar dari ruangan dengan tergesa.


" Ferdy, batalkan jadwal meeting ku siang ini. Aku harus ke rumah sakit sekarang. "


Tanpa mendengar jawaban Ferdy , aku sudah berlari meninggalkan nya.


--------


Melihat seorang wanita yang telah melahirkan ku ke dunia tampak


begitu pucat dengan mata terpejam membuat cairan bening menetes di kedua sudut


mataku. Sungguh aku tak tega melihatnya harus berjuang melawan sakitnya. Mama


yang begitu aku cintai dan aku belum bisa membuatnya bahagia. Sekarang aku


Jika boleh ingin rasanya aku menggantikan terbaring disini.


Wanita yang dulu selalu ceria, selalu memancarkan binar bahagia sekarang tak


kudapati. Sejak perceraian kak Bumi, seolah masalah silih berganti hingga


membuat mama seperti ini.


Aku terjengkit kaget saat merasa tepukan di pundak ku.


Kutolehkan kepala ternyata papa lah yang kini berdiri di sampingku. Tampak


wajah lelah papa. Aku tahu pasti papa sangat sedih melihat kondisi mama yang


seperti ini.


" Pa... bagaimana dengan mama." tanya ku pada papa.


" Mama mu harus banyak istirahat. Ehm.. Dirga, beberapa


hari ini mama mu ngotot ingin tinggal di London nemenin Danu. Tapi papa tolak.


Dan seperti inilah sekarang mama mu banyak pikiran, stres hingga kondisi nya

__ADS_1


drop seperti ini. "


Aku sungguh sangat menyayangi mama dan tak tega melihat nya


kesakitan seperti ini. Apapun yang diinginkan mama pasti akan kuturuti.


Tak bisa dipungkiri jika mama sangat mengkhawatirkan Danu. Tak


perlu kujelaskan bagaimana dan seperti apa Danu. Tapi anak itu memang tidak


bisa dibiarkan tanpa pengawasan. Kupikir dengan membiarkan nya kuliah di


London, Danu akan bisa mulai belajar mandiri. Tapi sayangnya hal itu justru


malah membuat mama kepikiran terus.


" Maafkan Dirga ma. Bukan maksud Dirga membuat mama sedih."


" Dirga, ini bukan salah mu. Mama mu saja yang teralu berlebihan mengkhawatirkan Danu."


" Mamamu selalu khawatir dengan Danu. Disana Danu tak punya


siapa-siapa, ga ada keluarga, ga ada yang ngurusin dia. Seperti itulah yang


selalu dipikirkan mamamu. " papa melanjutkan ucapannya.


Ya, aku memang harus mengambil sebuah keputusan demi semua. Demi


keluarga. Demi mama terutama. Agar mama tak selalu memikirkan dan


mengkhawatirkan Danu.


--------


" Hallo Ferdy, kamu atur segalanya. Aku yakin kamu


bisa menjalankan semua nya. Kuserahkan semua urusan perusahaan kepadamu."


".............."


" Ah itu aku belum tau kapan akan kembali. Yang pasti aku akan tetap membantu mu."


"........."


" Ya terimakasih Ferdy. Aku percaya padamu. "


"........ "


" Hmm... Oke bye. "

__ADS_1


__ADS_2