
DIRGA POV
Camila Wijaya, gadis itu benar-benar membuatku putus asa. Sudah
berusaha untuk mengenyahkan dari pikiran tapi tak bisa. Kusandarkan punggungku
di kursi kerjaku. Memejamkan mata untuk sejenak, sekelebat bayangan Danu
terlintas di benak ku. Danu dan Mila dua orang yang membuatku merasa dilema.
Beberapa bulan mengenal sosok Camila Wijaya, beberapa kali mengekori dimanapun
gadis itu berada, meski harus mendapat ucapan ketus ataupun penolakan tapi tak
membuatku menyerah begitu saja.
Pesona seorang gadis SMA yang melekat di memori ku tak bisa
dengan mudah kuacuhkan. Dialah gadis yang telah mencuri hatiku. Dan aku tak kan
bisa membohongi diriku sendiri. Jatuh cinta itu perkara mudah hanya menempatkan
nya saja yang begitu susah. Menempatkan di tempat yang sangat tepat. Membuatku
berpikir berkali kali lipat.
Danuarta, keponakanku itu juga begitu menaruh harapan besar pada
Camila. Lalu bagaimana denganku? Dengan semua usahaku yang tanpa kusadari telah
terlampau jauh kedepan. Mencuri perhatian nya, menempatkan dirinya di hatiku
yang terdalam.
Dering ponsel menyadarkan ku dari lamunan. Kulirik ponsel di
atas meja yang berkedip.
"papa" gumamku. Segera kugeser tombol hijau. Entah
hatiku menjadi cemas tiap kali papa menelponku. Sejak kepergian Danu ke London,
kondisi mama semakin memburuk padahal ini sudah lebih dari satu bulan berlalu.
" Hallo pa"
" Dirga, mama nge drop lagi. Sekarang papa sedang di rumah
sakit. Kamu cepet kesini. Mama nyariin kamu."
__ADS_1
" Astaga.. Mama bagaimana kondisi nya pa. Dirga akan segera
kesana sekarang."
" Mamamu belum stabil kondisi nya."
" Papa tunggu disana. Dirga berangkat. Bye pa. "
Dengan tergesa kuraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja.
Keluar dari ruangan dengan tergesa.
" Ferdy, batalkan jadwal meeting ku siang ini. Aku harus ke rumah sakit sekarang. "
Tanpa mendengar jawaban Ferdy , aku sudah berlari meninggalkan nya.
--------
Melihat seorang wanita yang telah melahirkan ku ke dunia tampak
begitu pucat dengan mata terpejam membuat cairan bening menetes di kedua sudut
mataku. Sungguh aku tak tega melihatnya harus berjuang melawan sakitnya. Mama
yang begitu aku cintai dan aku belum bisa membuatnya bahagia. Sekarang aku
Jika boleh ingin rasanya aku menggantikan terbaring disini.
Wanita yang dulu selalu ceria, selalu memancarkan binar bahagia sekarang tak
kudapati. Sejak perceraian kak Bumi, seolah masalah silih berganti hingga
membuat mama seperti ini.
Aku terjengkit kaget saat merasa tepukan di pundak ku.
Kutolehkan kepala ternyata papa lah yang kini berdiri di sampingku. Tampak
wajah lelah papa. Aku tahu pasti papa sangat sedih melihat kondisi mama yang
seperti ini.
" Pa... bagaimana dengan mama." tanya ku pada papa.
" Mama mu harus banyak istirahat. Ehm.. Dirga, beberapa
hari ini mama mu ngotot ingin tinggal di London nemenin Danu. Tapi papa tolak.
Dan seperti inilah sekarang mama mu banyak pikiran, stres hingga kondisi nya
__ADS_1
drop seperti ini. "
Aku sungguh sangat menyayangi mama dan tak tega melihat nya
kesakitan seperti ini. Apapun yang diinginkan mama pasti akan kuturuti.
Tak bisa dipungkiri jika mama sangat mengkhawatirkan Danu. Tak
perlu kujelaskan bagaimana dan seperti apa Danu. Tapi anak itu memang tidak
bisa dibiarkan tanpa pengawasan. Kupikir dengan membiarkan nya kuliah di
London, Danu akan bisa mulai belajar mandiri. Tapi sayangnya hal itu justru
malah membuat mama kepikiran terus.
" Maafkan Dirga ma. Bukan maksud Dirga membuat mama sedih."
" Dirga, ini bukan salah mu. Mama mu saja yang teralu berlebihan mengkhawatirkan Danu."
" Mamamu selalu khawatir dengan Danu. Disana Danu tak punya
siapa-siapa, ga ada keluarga, ga ada yang ngurusin dia. Seperti itulah yang
selalu dipikirkan mamamu. " papa melanjutkan ucapannya.
Ya, aku memang harus mengambil sebuah keputusan demi semua. Demi
keluarga. Demi mama terutama. Agar mama tak selalu memikirkan dan
mengkhawatirkan Danu.
--------
" Hallo Ferdy, kamu atur segalanya. Aku yakin kamu
bisa menjalankan semua nya. Kuserahkan semua urusan perusahaan kepadamu."
".............."
" Ah itu aku belum tau kapan akan kembali. Yang pasti aku akan tetap membantu mu."
"........."
" Ya terimakasih Ferdy. Aku percaya padamu. "
"........ "
" Hmm... Oke bye. "
__ADS_1