
Camila POV
Aku duduk di kursi yang ada di teras belakang. Memandang kebun sayur kepunyaan Bunda. Jika di taman depan Bunda lebih banyak menanam aneka macam bunga, sementara di taman belakang ini bunda memanfaatkan lahan yang ada untuk bercocok tanam aneka sayur dan beberapa pohon buah seperti mangga, Rambutan, jambu air, kelengkeng serta buah naga.
Kulihat dari ekor mataku om Dirga kini juga duduk di kursi sebelahku yang hanya dibatasi oleh sebuah meja kecil.
" Jadi... ? Apa yang ingin om Dirga bicarakan." tanya ku tanpa menoleh kepadanya.
Om Dirga masih terdiam. Terdengar dia menghembuskan nafas kasar.
Aku menoleh kearahnya. Tatapan om Dirga lurus ke depan.
" maaf jika kedatangan ku mengagetkanmu." ucapnya lirih.
" jelas saja aku kaget om. Tiba-tiba saja om Dirga datang bersama mama dan papa om. Dan apa tadi yang bunda ku bilang, om Dirga melamarku dan ingin menikahi ku. Astaga om.... Aku ini masih kecil. Baru juga masuk universitas. Belum ada rencana buat menikah. Kepikiran menikah aja enggak pernah. " ucapku panjang lebar. Jelas saja aku sedikit emosi. Bagaimana tidak, jika tiba-tiba ada seorang lelaki yang datang melamar dan mengajak nikah. Dan parahnya lagi ini om nya Danu loh yang ngelamar aku. Jika kutebak selisih usia kami berdua itu ada sepuluh tahunan. Bahkan kami pun tidak ada hubungan apa-apa. Pacar juga bukan. Bagaimana aku tidak emosi. Apa dipikirnya menikah itu bisa dibuat main-main . Benar benar konyol dan tidak lucu.
" setahun terakhir ini mamaku sering sakit sakitan. Jika sedang banyak pikiran kondisi mama pasti langsung ngedrop. Jadi..... Sebisa mungkin aku menjaga mama dengan sebaik baiknya. Selalu menghindari hal hal yang membuat mama kepikiran. Aku hanya ingin melihat mama sehat dan bahagia. Tak ada lagi yang kuharapkan selain hal itu untuk saat ini. " om Dirga berbicara panjang lebar dan aku hanya mendengarkan. Apa yang dikatakan om Dirga itu benar adanya dan aku pernah melihat sendiri saat mama nya sakit. Kak Daffi juga pernah bercerita padaku tentang hal itu.
Lantas apa hubungan nya mama om Dirga yang sakit dengan lamaran nya hari ini. Aku membuka mulut hendak bertanya tapi kuurungkan karena om Dirga kini tengah menatapku lekat. Membuatku gugup ditatap seintens itu. Kata kata yang ingin kulontarkan juga hilang begitu saja. Kukatupkan mulutku rapat-rapat tak jadi bertanya padanya.
" mamaku ingin aku segera menikah. Dan itu________ dengan kamu Camila Wijaya."
Mataku membulat tak percaya dengan ucapan om Dirga barusan.
" oleh sebab itu, aku membawa mama dan papa untuk melamarmu." lanjutnya.
Aku terkejut. Sekali lagi Kutatap wajah om Dirga yang tampak serius.
__ADS_1
" Kenapa harus aku. Jika om Dirga ingin menikah ya menikah saja. Jangan melibatkanku."
" seperti tadi yang aku bilang. Mama ingin nya aku menikah dengan mu. "
"om Dirga. Apa alasan mamanya om ingin aku yang menikah denganmu. Tidak mungkin kan jika tidak ada alasan nya. Oh atau jangan-jangan ini memang akal akalan om saja."
" akal akalan?" dia mengernyit.
" iya. Bisa jadi kan ini hanya alasan om Dirga aja."
Om Dirga mengusap wajahnya. Menghembuskan nafas kasar. Memutar tubuhnya menghadapku.
" kamu ingat saat pertama kali datang ke rumah. Saat itu mama sedang sakit. "
Aku mengangguk.
" kenapa mama om bisa mengira begitu. Tidak mungkin kan jika om Dirga tak pernah mengenalkan pacar om pada beliau. "
" kamu lah satu-satunya wanita yang pernah kubawa untuk menemui mama."
" apa? Yang benar saja. Jangan bohong. Om Dirga ini lelaki dewasa. Tidak mungkin tidak pernah membawa perempuan ke hadapan mama dan papa om."
" dengarkan dulu. Jangan menyela. Apa yang kukatakan padamu itu benar adanya. Aku memang tidak pernah menjalin hubungan serius dengan perempuan. Jadi jangan heran jika mama tak pernah melihatku membawa perempuan ke rumah. "
" owh.... Jadi ceritanya om Dirga itu playboy kelas kakap yang hanya berhubungan dengan wanita sekedar untuk bersenang senang. Jadi sering gonta ganti pacar hingga diusia yang sematang ini belum juga berniat untuk serius dengan satu perempuan. Ah susah memang memahami pemikiran orang dewasa seperti om. "
" terserah apa pemikiranmu tentangku. Yang pasti saat ini mama benar benar mendesak ku untuk segera menikahimu. "
__ADS_1
" aku tidak mau. Om Dirga cari saja perempuan lain yang bersedia om nikahi. "
" jika saja mama hanya memintaku menikah dan tidak ada embel embel harus denganmu, sudah pasti aku tidak akan memintamu atau justru memaksamu agar mau kunikahi. Di luar sana banyak perempuan yang antri mau aku nikahi dengan sukarela. Tapi kembali lagi. Ini demi mamaku. Aku tidak akan sanggup jika melihat mamaku sakit. Jadi aku mohon padamu Menikah lah denganku. "
Om Dirga menatapku lekat. Jujur aku bingung harus ngomong apa.
" apapun akan kulakukan asal kamu mau menikah denganku. " lanjutnya.
Melihat raut wajahnya yang penuh harap, aku jadi tak tega. Apalagi teringat akan mama om Dirga dengan wajah berbinar tampak sekali kebahagian di matanya. Apakah sanggup jika aku memupus harapan nya? Atau yang lebih parah mengecewakan nya? Bagaimana kalau mama om Dirga kembali sakit jika aku menolak anak nya.
Aku bingung, sangat bingung. Jujur aku belum ingin menikah. Aku belum ingin mengurus keluarga. Aku belum ingin punya anak, aku...... Argh...... Kututup wajahku dengan kedua tangan. Rasanya sungguh sulit. Berada di posisi yang serba salah dan tidak menguntungkan sama sekali. Ya benar, coba apa untungnya jika aku menikah dengan om Dirga. Ga ada kan? Tapi tak ada salahnya jika aku bertanya padanya.
" apa untungnya buatku jika aku mau menikah dengan om." kuturunkan tanganku dan kembali melipatnya di atas pangkuan ku. Aku menoleh ke arah nya. " ga ada kan.?" lanjutku
" jika aku menikah, masa depanku hancur. Kuliahku? Entah bagaimana dengan semua cita citaku. Aku ingin menjadi seorang dokter om. Itu keinginan sejak kecil. Bagaimana kalau setelah menikah aku tak dapat mewujudkan semua impianku. Apa om mau tanggung jawab. " kugelengkan kepalaku." tidak... Tidak.... Aku tidak ingin masa depan ku hancur hanya karena sebuah pernikahan. Maafkan aku om. Aku tidak bisa. "
Om Dirga diam menatapku. Mengambil satu tanganku dan menggenggamnya.
" Mila.... jika itu yang kamu takutkan, aku berjanji aku tidak akanĀ mengganggu kuliahmu. Kamu masih bisa melanjutkan studi mu hingga kelak kamu lulus dan menjadi seorang dokter. Dan aku yang akan membiayai semua kuliahmu jika kamu bertanya apa keuntungan menikah denganku. "
" satu lagi yang harus kamu tahu. Aku hanya ingin melihat mamaku bahagia dengan aku menikah denganmu. Setelahnya kamu masih bisa menjalani harimu seperti sedia kala. Seperti sebelum kamu menikah. "
Aku masih terdiam mencerna semua ucapan om Dirga. Apakah bisa seperti itu. Teringat akan kak Ken dan kak Danisha. Meski mereka sudah menikah tapi kak Ken masih bisa menjaga kak Danisha dengan baik. Bahkan kak Danisha pun juga masih bisa melanjutkan kuliahnya tanpa hambatan. Apa om Dirga juga bisa seperti Kak Ken.
" Jadi, Bagaimana?"
Pertanyaan om Dirga membuyarkan lamunanku.
__ADS_1