
Camila POV
Antara sedih dan bahagia. Aku sangat sulit mendiskripsikan nya. Sebagai seorang perempuan harus nya saat ini aku merasa bahagia karena rejeki datang tak terduga. Tapi di lain sisi tiba-tiba aku merasakan sedih yang luar biasa.
Sebenarnya kehadiran seorang bayi bukanlah menjadi sebuah penghalang bagiku untuk meraih cita-cita. Aku tahu dan aku menyadari itu. Bahkan aku tak pernah menyalahkan adanya janin di rahimku. Aku bahagia ada kehidupan lain di dalam sana.
Kuelus perutku yang masih rata. Berdasarkan perhitungan dokter, usia kehamilanku saat ini jalan delapan minggu itu artinya sudah dua bulan janin ini hidup di dalam rahimku. Dialah buah cintaku dan om Dirga.
Mengingat Om Dirga, akhir-akhir ini aku merasa tidak suka jika melihat nya. Rasanya ingin marah saja. Karena apa? Karena dia tidak menepati janjinya. Padahal sedari awal kita berdua sudah sepakat untuk menunda kehamilan hingga aku lulus kuliah.
Dengan kondisiku yang sekarang ini terpaksa pengerjaan skripsiku terbengkalai. Karena kondisi tubuh yang masih sering nge drop. Jika seperti ini bagaimana dengan study ku? Hal itulah kadang yang menjadi pemicu kemarahanku. Mengingat Perjalanan menjadi seorang dokter yang masih panjang. Selepas ini aku masih harus menjalani intership hingga bisa benar-benar menjadi seorang dokter. Oleh sebab itu kenapa selama ini aku selalu berusaha sekuat tenaga agar tak sampai melewati batas maksimum masa study sekolah kedokteran.
" Sayang, ayo makan dulu. Bunda sudah memasak bubur ayam kesukaan mu." Om Dirga masuk ke dalam kamar dengan nampan di tangan nya.
Hari ini setelah pulang dari dokter, aku meminta om Dirga mengantarku pulang ke rumah Bunda. Dan tentu saja om Dirga menuruti nya.
Setelah duduk di kasur om dirga meletak kan nampan dihadapan ku. Mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapiku. Satu hari ini aku lebih sering muntah setelah makan. Badanku sudah lemas.
Baru dua suapan yang berhasil melewati tenggorokan ku rasanya sudah mual. Segera kuminum teh hangat yang ada di atas nampan, meminum nya dua teguk.
Kupejamkan mataku, semoga aku tidak muntah.
" Ayo makan lagi. Baru dua sendok yang sayang makan."
Aku menggeleng lemah.
" Mual lagi?" tanya om dirga.
" Iya."
" Sebentar aku ambilkan obat nya."
__ADS_1
Om dirga meletak kan mangkuk bubur. Lalu mengambil obat juga vitamin yang ada di dalam tasku. Mengambil nya dan menyerahkan nya padaku.
Segera aku meminumnya berharap bisa meredakan rasa mual.
" Istirahat lagi saja." pinta om Dirga. Diangkat nya nampan dan dipindah ke atas nakas.
Aku berbaring dan menarik selimut. Berusaha memejamkan mata. Rasanya sungguh tersiksa. Semoga saja rasa mual yang kurasakan ini segera mereda. Info dari dokter, rasa mual dan muntah itu akan hilang dengan sendirinya ketika kehamilan masuk di trimseter kedua. Tapi kembali lagi, kondisi wanita hamil satu dan yang lain nya itu berbeda-beda.
------
Tiba-tiba saja aku terbangun ditengah lelapnya tidurku malam ini. Kutolehkan kepala ke samping. Om dirga tidur terlentang di sampingku. Kuedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar.
Kamarku ini sudah beberapa minggu tidak kutempati karena aku lebih sering tinggal di rumah mama. Jika tadi rasanya aku kangen banget ingin pulang ke rumah ini. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja sekarang aku ingin sekali pulang kembali ke rumah mama. InginĀ tidur di kamar om dirga. Perasaan kangen ingin memeluk bantal dan guling yang terbiasa kupakai tak dapat kuelak kan lagi.
Aku bangun dari berbaringku. Menatap om Dirga yang tak terganggu sedikitpun dengan pergerakan ku. Dengan ragu kugoyang lengan nya berniat membangunkan nya.
" Om..... Om Dirga bangun..."
Om dirga hanya bergerak sedikit tapi matanya masih terpejam.
Tanganku terulur menyentuh pipi nya. Bulu-bulu halus yang memenuhi rahang nya terasa halus. Kuelus perlahan pipi nya dan kudekatkan wajahku di depan wajahnya.
" Om...... Bangun...."
Aku tersenyum, caraku membangunkan nya berhasil karena kini om dirga mulai mengerjabkan matanya.
Sepertinya terkejut melihat wajahku yang sudah sedekat ini dengan wajahnya.
Tiba-tiba saja tanganku yang masih bertengger di pipinya ditangkap. Dibawa nya ke depan bibirnya lalu mengecupnya.
Sedetik kemudian ditarik nya tubuhku hingga terjatuh di atas dadanya. Pandangan mata kami bertemu. Tangan nya sudah menarik tengkuk ku dan bibirnya memagut bibirku secepat yang dia bisa lakukan.
__ADS_1
Akhirnya dilepaskan nya ciuman kami setelah aku kehabisan nafas. Jari jempol Om Dirga sudah mengusap bibirku yang basah karena ciumannya dan itu berhasil membuat tubuhku meremang.
Aku tahu Om Dirga sedang menginginkan sesuatu jika sudah begini. Tapi aku pun juga sama. Menginginkan sesuatu darinya.
-------
Dan disinilah aku berada sekarang. Ada di dalam mobil Om dirga sedang menempuh perjalanan dari rumah bunda menuju rumah mama. Tak kuhiraukan om dirga dengan muka bantal nya yang tampak cemberut dan tidak suka. Yang penting keinginanku terkabulkan.
Yup, aku menginginkan pulang ke rumah mama dan tidur di kamar om dirga yang juga resmi menjadi kamarku. Aku sudah rindu tidur di kasur empuk ku dan memeluk bantal guling yang sebulan ini jadi favoritku.
Bahkan tadi pun bunda sempat terheran saat aku mengetuk pintu kamarnya dan berpamitan ingin pulang ke rumah mama. Tapi tak ayal juga bunda berbisik pada om dirga. ", turutin saja. Keinginan si bayi."
Aku terkikik sendiri merasa menang. Entahlah rasanya tak dapat kudiskripsikan. Benarkah ini bawaan bayi? Akupun bertanya-tanya dalam hati.
Sesampainya dirumah mama aku segera naik ke lantai dua tanpa menghiraukan om dirga yang berjalan di belakangku dengan muka ditekuk.
Membuka pintu kamar dan dengan wajah berbinar, segera kurebahkan diriku di atas kasur. Mengambil guling dan memeluk nya erat seolah sudah lama tidak bertemu.
" sayang... Lain kali jangan diulang lagi hal seperti ini."
Mataku memicing menatap om dirga. Apa dia tidak ikhlas membawaku kesini.
Kulihat dia menghela nafas. " bukan nya aku tidak suka membawa sayang pulang kerumah ini. Hanya saja... Ini sudah jam dua pagi. "
Kulihat om dirga masih cemberut, menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Jika kupikir pikir lagi memang aku sedikit keterlaluan. Memaksa nya pulang ke rumah mama tak kenal waktu. Bahkan saat tadi om dirga merayuku bahwa akan membawaku pulang besok pagi, aku tidak setuju. Padahal kurang 4 jam lagi sudah jam enam pagi tapi entah kenapa aku tak mau menunggu.
Aku tersenyum, kudekatkan tubuhku merapat padanya. Kulingkarkan tanganku di pinggang nya.
" maaf..." hanya satu kata yang kuucapkan tapi aku yakin meski hanya satu kata tapi mampu meluluhkan kemarahan om dirga.
Dan benar saja, om dirga sudah mengganti posisi tidurnya. tidur miring menghadapku. Tangan nya terulur menyingkirkan helain rambut yang menutupi sebagian wajahku.
__ADS_1
" jangan meminta maaf. Aku akan melakukan apapun untuk mu juga baby kita. I love you. "
" love you too." ucapku.