Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 43


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Camila sungguh menikmati peran nya sebagai seorang istri dan seorang ibu untuk Je. Dia menikmati hari hari nya dengan bermain bersama Je, dengan memasak, belajar membuat kue. Sungguh luar biasa hidup nya sekarang. Semua berjalan normal tanpa ada halangan, rintangan dan semua dijalani terasa nyaman.


Sementara malam hari nya, Dirga yang akan mengantarkan Camila pergi kuliah, ditunggui hingga istri nya selesai tanpa berani meninggalkan nya sama sekali. Pengalaman buruk Rasya begitu membekas di kedua nya. Dan kedua nya tak akan lagi mengulangi hal yang sama. Dirga, lelaki itu masih saja was was jika tiba tiba Rasya datang dan berbuat hal yang diluar perkiraan. Hanya karena Rasya, hidup mereka menjadi amburadul tak karuan.


Hari ini jadwalnya Camila akan memasukan Je ke sekolah. Balita itu sudah riang gembira. Mendapati yang dia akan sekolah dan mendapat banyak teman. Je sangat antusias.


"Mama. Je sekolah."


" Iya."


Turun dari dalam mobil, Camila menggendong Je dan masuk ke dalam sekolah. Memperkenalkan diri pada guru guru yang ada. Memang kebetulan ini adalah bertepatan dengan  pergantian tahun ajaran baru. Dan Je dengan percaya diri serta tak ada rasa takut sedikitpun, balita itu begitu antusias dengan aktifitas baru nya.


Sepulang sekolah Camila Dan je datang ke kantor papa Dirga. Memberikan kejutan pada papa nya dan betapa bahagia nya sang papa mendapati anak dan istri nya tiba tiba saja sudah berada di kantornya.


Ferdy, sejak dek Mila tak lagi bekerja, lelaki itu pun juga ikut merasa lega. Pasalnya dia tidak lagi mendapati bos Dirga yang marah marah tidak jelas. Biasanya tiap pagi suasana hati bos Dirga sudah masam dan berujung marah marah seharian. Akan tetapi sekarang Ferdy tak lagi mendapati bos nya yang suka marah - marah. Suasana hati bos nya sudah kembali membaik.


Dan sekarang yang sering Ferdy lihat adalah kebalikannya. Bos Dirga tampak sumrimgah, selalu berseri seri , selalu berbahagia dan itu semua tak luput dari perhatian Ferdy.


Bahkan kini Je sudah bergelayut manja padanya minta ditemani bermain. Keluarga yang harmonis. Semoga Rasya Rasya itu tak ada lagi dalam kehidupan rumah tangga nya bos Dirga dan dek Mila. Begitulah doa Ferdy di dalam hati nya.


" Pa, aku pulang dulu." Camila melingkar kan tangan nya di bahu suaminya.


" Kenapa terburu buru?"


" ini sudah siang. Je harus tidur siang."


" biasanya Je juga tidur siang disini?"


" Iya itu dulu. Kalau sekarang kasihan Je, Pa. Biarkan aku bawa Je pulang. Ya sudah aku pulang dulu." dikecup pipi sang suami lalu keluar ruangan mencari keberadaan Je yang bersama Ferdy.


" Je, ayo pulang. "


Je seperti ogah - ogahan jika diajak pulang. Dia sudah terlanjur senang bermain dengan Ferdy.


" Besok kita main ke sini lagi. Sekarang kita pulang. Ayo."


Dengan mengerucutkan bibirnya, Je menghampiri sang papa yang berdiri di ambang pintu ruangan.


" Papa, Je pulang."


" Hati - hati di jalan." diciumi pipi Je dengan sayang.


" Sayang, hati - hati bawa mobil nya. "


Camila mengangguk. Lalu kedua nya meninggalkan ruang kerja papa Dirga.


****


Sesampai di rumah Je sudah sangat mengantuk dan balita itu sangat rewel. Mbak Hana segera mengambil alih Je dari dalam gendongan Camila.


" Adik ngantuk, Bu. "


" Iya. Tadi habis dari sekolah langsung ke kantor papa nya. Main sama Ferdy tidak mau diajak pulang. Di dalam mobil sudah tepar."


" Ya sudah saya bawa ke dalam ya Bu.


" Iya mbak. Terimakasih. "


Camila masuk ke dalam kamar nya. Meletakkan tas di atas kasur. Hanya menemani Je saja rasanya sudah sangat lelah.


Memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mandi adalah solusi yang cukup baik.

__ADS_1


Tubuhnya sudah segar, Camila naik ke atas ranjang. Ingin tidur siang. Ternyata menikmati hidup seperti itu juga tidak lah buruk. Meskipun begitu, Camila mempunyai suatu keinginan untuk membuka sebuah klinik pengobatan. Dia akan mencari partner yang mau bekerjasama dengan nya.


Camila turun dari atas ranjang mengambil laptop nya dan mulai menyalakan nya. Mencari cari bahan referensi seandainya dia akan membuka sebuah klinik, kira kira apa saja yang harus ia butuh kan. Dan disaat dia searching tiba tiba saja muncul profil dokter Rasya.


Camila membekap mulutnya. Astaga, dokter Rasya lagi. Setelah berbulan bulan dia tidak bertemu dengan dokter itu, dan sekarang tiba tiba saja dia menemukan profil dokter Rasya muncul di layar laptop nya. Dengan ragu Camila mulai meng klik dan membaca satu persatu profil dari dokter keturunan Singapura. Sebenarnya dokter Rasya ini bukan lah dokter biasa- biasa saja. Petualangan nya melanglang buana kesana kemari tak dapat diragukan lagi. Tapi bagaimana mungkin orang seperti dokter Rasya memiliki kelainan jiwa yang tidak semua orang mengetahuinya. Camila harus bersyukur setidak nya dia bisa lepas dari jerat dokter Rasya. Jika tidak entahlah apa yang akan terjadi padanya.


Lelaki berpendidikan yang tidak punya akal hingga mengejar ngejar istri orang pun ia lakukan.


Kira - kira apa kabar nya dokter Rasya sekarang. Dia tidak pernah lagi bertemu setelah terakhir pertemuan mereka saat di Mall waktu itu.


Ah masa bodoh, kenapa dia jadi berpikir pada dokter Rasya. Bukan nya tujuan nya tadi adalah mencari referensi bahan bahan yang bisa ia gunakan untuk membuka klinik pengobatan. Meski pun hanya klinik kecil kecil an tak jadi masalah.


Itung itung sebagai tambahan aktifitas Camila, apalagi sekarang putra nya sudah mulai bersekolah sudah dapat dipastikan jika putra nya akan jarang berada di rumah


Nanti sebaiknya Camila membicarakan mengenai hal ini pada suaminya. Jika untuk memberinya modal sepertinya papa Dirga tak akan keberatan.


Emang sih modalnya tidak bisa dibilang sedikit tapi jika untuk kebaikan Camila yakin suaminya pasti akan menyetujui ya.


***


" Pa, yakin mau memodaliku?"


Wajah Camila sudah penuh harap.


" Kalau sayang yakin dengan keputusan untuk membuka klinik pengobatan, aku hanya bisa mendukung."


" Terimakasih banyak Pa." Camila memeluk suaminya. Sungguh dia merasa sangat bahagia.


Meskipun perjalanan yang akan ia tempuh akan panjang, tapi Camila tak akan menyerah. Yang harus ia lakukan di tahap awal adalah mencari partner. Karena tidak mungkin Mila akan menjalankan nya sendirian.


Dan mengenai partner dia sudah mendapatakan, salah satu teman nya kuliah ada yang mau bekerjasama dengan nya.


Setelahnya Camila tinggal mencari tempat yang strategis untuk pendirian klinik tersebut.


" Mbak hana, maaf ya aku harus menyerahkan kembali Je pada mbak hana. Aku janji begitu semua urusan ku beres, insyaallah Je akan kembali bersamaku."


" Tidak apa apa Bu. Lagi pula penjagaan Je itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Sudah menjadi tugas saya."


" Terimakasih atas pengertian nya Mbak. "


" Sama sama Bu. "


Ya pagi ini Camila kembali mengantar  mbak hana juga Je ke sekolah. Setelah nya Camila meninggalkan kedua nya. Dia harus survey lokasi dan kali ini dia sudah ada janji dengan seorang broker propertty.


Camila sangat antusias menjalankan semua nya. Karena semangat nya yang benar benar seratus persen, Camila harus melakukan semua nya serba perfect. Jika bisa jangan sampai ada yang cela sedikitpun. Ini proyek pertamanya. Dan sebisa mungkin Camila melakukan dengan penuh totalitas.


Siang ini Camila masih berada di lokasi proyek saat ponsel nya berbunyi. Nomor tak dikenal. Sedikit ragu, akhirnya Camila pun mengangkat nya.


Betapa dia sangat shock mendapati kabar yang baru saja dia dengar. Anak nya kecelakaan dan sekarang masuk rumah sakit. Bagaimana bisa? Camila sungguh tak habis pikir dengan berita yang baru saja ia dengarkan. Ingin sekali ia tak mempercayai nya, tapi si penelpon mengatakan jika kondisi Je kritis. Dengan tangis yang masih pecah, Camila segera meninggalkan lokasi dan menuju dimana Rumah Sakit tempat Je di rawat.


Dengan kecepatan extra Camila memacu mobil nya, dan ternyata Je dirawat di Rumah sakit dimana dulu dia bekerja. Dengan tergesa Camila masuk ke dalam lobi hingga melupakan suaminya apakah sudah diberitahu atau  belum.


Sambil berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit Camila menelpon suaminya. Isak tangis tak mampu ia bendumhlg lagi dan ternyata sang suami pun sudah mendapat kan kabar yang sama dan saat ini sedang perjalanan menuju Rumah Sakit.


Je masih berada di ruang ICU, tampak mbak hana yang sedang menunggu di luar ruangan. Mendapati Camila datang, mbak hana segera berdiri menyambut majikan nya.


" Bu...."


" Mbak.....kenapa bisa?" Camila memeluk tubuh mbak hana.


" Bu, maaf kan saya karena saya telah lalai menjaga adek."

__ADS_1


Camila menggeleng lemah.


" Apa yang sebenarnya terjadi mbak."


" Je tiba tiba saja menyebrang jalan di depan sekolah Bu. Saya lalai karena tidak bisa mengejarnya ."


Tangis mbak hana pecah. Wanita itu sangat merasa bersalah. Kejadian berlalu begitu cepat. Dan Mbak Hana sudah langsung melihat Je yang terkapar tak sadarkan diri.


Dirga tergopoh gopoh menghampiri istrinya.


" Sayang..... "


" Pa.... "


Direngkuhnya tubuh Camila ke dalam pelukan nya. Memberi kekuatan pada istri nya bahwa Je di dalam akan baik baik saja.


Mereka menunggu Je ditangani dengan perasaan cemas. Camila tak henti henti nya menangis. Sementara Dirga, air mata nya juga terus saja mengalir di pipi.


Pintu ICU terbuka muncul dokter dengan mulut tertutup masker menghampiri keduanya.


" kondisi anak anda sedang kritis. Tapi kami sudah berjuang semampu nya untuk menyalamatkan anak anda."


Tangis Camila pecah, Dirga merangkul tubuh istri nya yang sudah sangat lemah. Dokter berlalu meninggalkan keluarga pasien.


Melepas masker yang menutupi mulutnya. Ya, dokter Rasya yang telah menangani perawatan Je. Sungguh kasian Je, balita sekecil itu harus mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Tubuhnya penuh luka dimana mana. Rasya masuk ke dalam ruangan nya. Setelah sebelum nya mencuci tangan nya.


Lelaki itu merenung. Melihat kesedihan yang terlihat dari muka Camila dan Dirga membuat hati Rasya tersentuh. Cobaan apa lagi yang harus mereka alami kali ini. Melihat bagaimana Camila menangis sementara Dirga dengan penuh kasih sayang memeluk sang istri memberinya kekuatan. Sungguh membuat hati Rasya tersentuh. Bagaimana bisa dulu dia mengusik hidup keduanya. Menginginkan Camila untuk dia jadikan istri. Bahkan Rasya tak pernah merasakan bagaimana perasaan Dirga saat dia meminta untuk berbagai istri dengan nya.


Sungguh Rasya merasa sangat bersalah. Melihat betapa mereka yang saling menyayangi membuat Rasya kembali meraup wajahnya. Dulu hampir saja dia mengahancchrkan kebahagian Camila juga Dirga. Hanya karena keegoisan nya.


Rasya kembali keluar dari ruangan nya menuju dimana ruang perawatan Je. Dari kejauhan dokter Rasya dapat melihat seorang wanita muda yang dia tahu adalah babay sitter Je menangis sesenggukan. Masih dengan duduk di kursi tunggu seorang diri.


Rasya menghanpiri Mbka Hana lalu mengulurkan sapu tangan nya.


Mbak Hana yang terkejut langsung menatap dokter Rasya. Tidak mengerti dengan apa yang dokter itu lakukan.


" Je di dalam sana sedang bettatuh nyawa. Kita doakan saja semoga Je segera melewati masa kritis nya." ucap Dokter Rasya.


Tangis Mbka hana tak juga kunjung berhenti. Dia merasa sangat bersalah karena telah mencelakai Je. Seandainya dia lebih sigab menangkap tubuh Je. Pasti Je tak sampai tertabrak tadi.


" Semua karena saya. Saya yang salah. Karena kelalaian saya aje harus mengalami ini semua." dengan sesenggukan Mbka hana berkata.


" Kamu adalah baby sitter aje yang baik. Tidak ada yang mau kejadian seperti ini terjadi. Haanyaa saja memang disaat waktu yang tidak tepat saja kamu tidak bisa menolong nya. "


" Iya dokter. Seandainya Saya lebih sigab mungkin Je bisa diselamatkan."


" Hidup dan mati itu ada di tangan Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani nya saja. Sekarang yang terpenting kita berdoa agar Je cepat siuman. "


" Iya dokter Terimakasih. "


Sungguh mbak Hana tidak tahu kenapa dokter ini justru menyemangatinya memberikan kekuatan bahawa Je di dalam sana pasti baik baik saja.


" Kamu tidak mau masuk ke dalam? "


Mbak Hana menggeleng lemah. Dia tidak kuasa melihat bagaimana tubuh penuh luka di sekujur tubuh Je. Tadi saja saat membawa ke rumah sakit, Mbak hana banyak banyak beristghfar karena tidak tega melihat tubuh je yang penuh luka.


Dokter Rasya beranjak berdiri membuka ruang perawatan Je. Balita kecil itu tergolek lemah masih belum sadarkan diri. Camila dan Dirga saling berangkulan saling memberikan kekuatan.


Rasya mendekat ranjang Je.


" Dokter Camila, semoga saja Je segera siuman. Luka nya yang cukup parah di bagian kepala."

__ADS_1


" Iya dokter Rasya. Terimakasih."


Sungguh melihat kesedihan di hlkeduanyaa membuat Rasya trenyuh. Sebegitu sedihnya jika anak mereka mengalami musibah. Apakah kelak jika ia punya anak akan mengalami hal yang sama. Sama seperti Dirga dan Camila yang slaonh menyayangi saling memberikan kekuatan. Sekalipun cobaan menerpa tapi keduanya tampak tabah dan sabar. Rasya patut memberikan acungan jempol pada pasangan keduanya. Dia sangat salut dwngna kekuatan cinta keduanya. Dan kini Rasya merasa malu karena pernah menjadi orang ketiga diantara mereka.


__ADS_2