Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 63 - Dokter Allan


__ADS_3

Camila Pov


" sabar Nath. Toh aku juga sudah bicara sama Danu. Aku tak mungkin bisa bersama dengan nya sekalipun Om Dirga lebih milih pisah sama aku. "


" terus Danu bilang apa."


" entah Nath aku tak tahu aku pusing memikirkan jalan hidupku. Seharusnya dulu aku tak pernah mau menerima Om Dirga jika tau begini jadinya. "


" Mil yang sabar ya. Semua pasti ada jalan keluarnya. Ntar aku bantu bicara sama Danu. "


" thanks you Nath.... "


Aku yang masih sibuk ber video call dengan Nath terjengkit kaget. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di kursi yang sama dengan yang aku duduki. Menoleh sekilas dan kudapati dokter Allan lah yang kini duduk di sebelahku.


"Untuk apa juga dosen killer itu duduk disini. Bukan kah masih ada tempat lain yang bisa dia tempati." aku membatin pada diriku sendiri.


" Eh Nath sudah dulu ya aku tutup telpon nya. Masih di kampus ini. Nanti kita sambung lagi. Oke. "  dengan lirih aku berkata pada Nath. Enggak enak juga ngobrol dengan Nath jika didengar dokter Allan.


" ops kamu masih di kampus? Okay okay..... Ya sudah salam buat bunda sama kakak Ken dan kak Danisha... Love you Mil.... "


" Love you too Nath....."


Nath sudah mematikan sambungan video call nya. Rencananya aku akan beranjak pergi tapi pertanyaan dokter Allan menahanku untuk tetap duduk di tempatku.


" Siapa? " tanya nya


Busyet dah buat apa juga dia kepo.


" maksud dokter. " tanya ku balik.


" yang telpon barusan."


"saudara saya." jawabku.


Dokter Allan terdiam sejenak. Aku sudah mau berdiri tapi kembali dokter Allan berkata.


" setiap orang memang punya masalah sendiri-sendiri dalam hidup. Tapi kita sebagai manusia harus pandai mensikapi semua masalah yang datang silih berganti. Percayalah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Jadi jangan sampai kita berlarut-larut memikirkan masalah yang tidak ada habisnya. "


Aku masih diam. Berusaha mencerna perkataan dokter Allan si dosen Killer.


" dan satu lagi. Hidup tetap harus berjalan. Fokus pada tujuan utama hidupmu untuk apa. Seberapa peliknya masalah yang kamu hadapi, menjadi dokter adalah tujuan utama mu bukan? . Fokus kuliah dan jangan sampai apa yang sudah menjadi cita-citamu hancur berantakan."


Jangan-jangan dokter Allan mendengarkan pembicaraanku dengan Nathalie.


" bukan nya aku tak pernah mengamatimu. Aku tau jika kamu lagi punya problem tapi tak sepatutnya kamu mengabaikan fokus mu menjadi seorang dokter. "


Aku terperangah mendengar ucapan dokter Allan. Belum juga aku berucap, dokter Allan sudah berdiri dari duduk nya.


" jangan lupa selesaikan tugasmu satu minggu lalu . Berikan kepadaku besok . "


" besok dokter? . " tanyaku


" iya besok. Kalau tidak..... Siap-siap saja kamu mengulang mata kuliahku. Ingat, besok. Saya sudah memberikan kamu dispensasi untuk merevisi tugasmu. Jadi jangan sampai kamu menyianyiakan waktu yang telah saya berikan. "


Setelah mengatakan itu dokter Allan pergi meninggalkanku. Aku merutuk dalam hati kenapa sampai tidak bisa fokus mengerjakan tugas tersebut bahkan si dosen Killer susah memberiku waktu untuk merevisi nya.


Alamat aku harus begadang nanti malam jika tidak ingin mendapat nilai jelek dan harus mengulang mata kuliah yang sama.


Astaga beratnya cobaan hidupku. Satu belum beres sudah muncul satu masalah lagi. Padahal aku sudah berusaha maksimal untuk tidak lagi terpuruk akan masalahku dengan Om Dirga.


-----------


Mataku sudah mirip seperti mata panda. Cekungan yang begitu kentara. Belum lagi pipiku yang semakin tirus saja. Ini semua gara-gara dokter Allan yang memberi deadline padaku untuk mengumpulkan tugasnya hari ini juga.


Padahal aku baru mengerjakan nya 60% dan dalam waktu semalam aku harus menyelesaikan yang 40%. Bahkan baru tadi subuh aku bisa tidur. Dan sekarang baru jam enam pagi aku sudah harus bersiap-siap kembali pada rutinitas.


Jadwal kuliah pertama jam delapan. Jadi jam tujuh sudah harus berangkat dari rumah jika tidak ingin terjebak macet.


" Sayang.  Muka nya pucat begitu. Dan itu kenapa matamu bengkak."


Bunda meneliti wajahku saat aku turun untuk sarapan.


" kurang tidur Bunda." jawabku


Bunda mengamati ku lagi.


" Mila baru tidur subuh tadi."


" banyak tugas?" tanya Bunda yang begitu perhatian kepadaku.


Aku mengangguk. Bunda tampak merasa iba melihatku.


" sepertinya kamu juga kurusan. Makan yang banyak. Minum vitamin biar tubuh kembali fit. "

__ADS_1


Aku kembali mengangguk. " iya Bunda. Makasih "


--------


Saat kelas pertama usai belum ada jam sepuluh pagi dan mataku seakan tak dapat diajak kompromi lagi. Berkali kali aku menguap. Rasanya ingin tidur saja. Tapi mengingat setengah jam lagi akan ada kelas berusaha kubuka mata dengan susah payah.


" habis begadang" tanya nadia.


Aku yang sedang menelungkupkan kepalaku diatas meja hanya bergumam.


" lu ngapain begadang Mil." tanya Nadia lagi.


" nylesein tugasnya dokter Allan. Hari ini aku nyerahin tugas revisian seminggu lalu." jawaku malas.


" lha elu tumben banget tugas dari seminggu lalu baru lo kejar semalam."


" lagi ga mood ngerjain nad.... "


" seorang Camila Wijaya mahasiswa rajin yang tidak pernah absen ngerjain tugas bisa ga mood juga rupanya. "


" nad aku ngantuk. Boleh tidak merem bentar aja. Entar bangunin kalau dosen sudah datang. "


Nadia ini memang sahabatku yang paling baik diantara yang lain. Dan hanya dengan Nadia aku bisa akrab seperti ini.


-------


Sudah lewat tengah hari tapi dosen yang aku tunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


" belum datang juga ya dokter Allan nya  " tanya Nadia.


" belum. Tadi aku sudah keruangan dosen .tapi dokter Allan tidak ada. Aduh gimana dong Nad. Sudah kurelakan begadang sampai subuh juga. Aku juga mana mau mengulang mata kuliah si dosen killer itu. "


Mendengar perkataanku Nadia justru tertawa terpingkal pingkal.


" Nasibmu ya Mil. Selalu saja jelek jika berhubungan dengan dokter Allan."


" entahlah. "


" eh Mil kenapa nggak lo whatsapp aja dokter Allan nya."


" Whatsapp ? Mana aku punya nomernya dokter Allan. "


" lu itu ish....di grup kan ada. Tinggal kamu cari nomernya. Makanya nomer dosen itu di save biar enak kalau kita ada perlu."


Benar juga apa yang Nadia bilang. Kuambil ponselku membuka grup whatsapp dan mengamati satu persatu anggota grup hingga mataku tertuju pada sebuah nama.


Dan nasib baik sedang berpihak kepadaku pasalnya kulihat dokter Allan sedang online.


" Nad... nad....orangnya online." Aku menoel lengan Nadia


" hah online. Siapa ? "


" ya dokter Allan lah. " kataku


" ya sudah buruan kirim chat. Tanyain ke kampus jam berapa."


" oke oke sebentar. "


Kiambil nafas dalam dan mulai mengetik sesuatu.


selamat siang dokter Allan.


Saya Camila, kalau boleh tau dokter Allan ke kampus jam berapa ya.


Saya mau memberikan tugas yang dokter minta kemarin."


Oke klik send.


Harap-harap cemas menanti balasan dari dokter Allan, karena chat yang baru kikirim suda ada centang dua berwarna biru.


Tak perlu menunggu waktu lama saat kulihat balasan chat dari dokter Allan.


Maaf, hari ini saya tidak bisa hadir di kampus. Ada emergency di Rumah Sakit.


Mataku melotot membaca nya. Bagaimana bisa dia bilang tidak ke kampus. Lantas tugasku bagaimana?


Tidak bisa dibiarkan dosen killer itu seenaknya denganku.


Maaf dokter Allan, tugas saya bagaimana?


Saya sudah menyelesaikan nya.


Klik send. Kugoyang goyang ponselku. Nadia hanya melihatku tanpa berkata apapun.

__ADS_1


Jika mau, kamu bisa menemui saya di Rumah Sakit.


" Apa?" teriak ku reflek.


Nadia pun kaget melihat reaksiku.


" kenapa sih Mil."


" gimana bisa dokter Allan bilang tidak bisa ke kampus karena ada emergency."


" lha terus...."


" aku disuruh datang ke Rumah Sakit menemui nya."


Ponselku kembali bergetar. Notif whatsapp kembali terlihat di layar ponsel. Dokter Allan lagi.


Saya ada di RS. XXXX


Sudah tau kan alamatnya dimana?


Kuhembuskan nafasku kasar.


Sudah tau dokter.


Kalau begitu saya kesana sekarang.


" Nad, anterin aku dong. Plis...." aku memasang wajah memelas mungkin.


" kemana?"


" ke Rumah Sakit nemuin dokter Allan."


Sepertinya Nadia tak tega juga membiarkan ku berangkat sendiri.


" oke gue temenin."


" thanks you Nad."


Aku tersenyum girang.


-------


Berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit bersama Nadia, aku mengikuti petunjuk dari suster jaga yang tadi sempat aku tanya jika aku ingin menemui dokter Allan.


Menurut informasi suster, dokter Allan sedang berada di ruang CT scan. Dan sekarang aku sedang kebingungan mencari ruangan tersebut. Menoleh ke kanan dan ke kiri, mendongak ke atas melihat papan petunjuk yang tertempel di setiap sudut dan koridor Rumah Sakit.


" Camila.....!!!"


Seseorang yang memanggil namaku itu sudah pasti dokter Allan karena aku hafal betul dengan kata kata yang keluar dari mulut dokter sekaligus dosen killer itu sangat khas. Memang dokter Allan itu agak susah melafalkan setiap kata berbahasa Indonesia. Karena mungkin dia yang bukan orang Indonesia hingga lidah kebarat baratan masih kentara.


Aku menatap lurus kedepan, dan benar saja ada dokter Allan yang berdiri tak jauh dari ku. Bersama seorang suster yang sedang mendorong kursi roda pasien.


Tiba-tiba saja jantungku berdegub kencang. Mataku terbuka sempurna dan aku yakin jika tak salah lihat. Lelaki berbaju pasien rumah sakit itu adalah Om Dirga. Perban melingkar di dahinya. Aku hanya terpaku tak bisa berkata apapun juga.


Begitupun dengan Om Dirga. Lelaki itu hanya menatapku dalam diam.


" Camila....." kembali dokter Allan mengucap namaku begitu kami sudah saling berhadapan.


" iya dokter.."


" tunggu saya di ruangan. Sebentar saya antarkan pasien saya ke kamar."


" baik dokter."


" oh ya ruangan saya ada di sebelah sana belok kanan. Saya tinggal dulu ya."


" oke baiklah dokter."


Dokter Allan tersenyum. Dan sepertinya baru kali ini dia tersenyum kepadaku.


" ayo suster.... " dokter Allan kembali berjalan meninggalkanku dengan suster yang mendorong kursi roda Om Dirga.


" itu tadi beneran Om Dirga kah?" aku membatin.


Kubalikkan badanku melihat mereka bertiga yang sudah menjauh.


"apa Om Dirga sakit." kembali aku bertanya tanya.


Nadia menoel lenganku membuatku mengerjab.


" duh segitunya ngliatin dokter Allan. Emang lebih ganteng kalo dokter Allan pake seragam dokter gitu..... Xixixi." Nadia terkikik


" Apaan sih. Yuk ah...."

__ADS_1


Yang Nadia tidak tahu, aku bukan nya memperhatikan dokter Allan. Melainkan om Dirga. Berbagai pertanyaan muncul di benak ku .


Aku menarik lengan Nadia membawanya ke ruangan dokter Allan yang tadi dia tunjukkan.


__ADS_2