Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 65


__ADS_3

Hari sudah lewat tengah malam saat Mila merasakan sakit di perutnya. Rasanya seperti mimpi, tapi kemudian Mila membuka mata. Dan ini nyata adanya, bukanlah mimpi semata. Perutnya terasa sangat sakit. Rasa mulas serta keram di perut tak bisa Mila tahan lagi.


Dia terpaksa membangunkan Papa Dirga yang tertidur pulas di sampingnya.


" Pa ...! Bangunlah ." Mila mengguncag lengan suaminya.


Tergagap Dirga membuka mata, mendapati istri nya yang sedang duduk di sampingnya.


" Pa, bangun, " kembali Mila berusaha membuat suaminya agar segera bangun.


Dirga benar- benar membuka matanya. Terheran mendapati sang istri yang duduk menatapnya dengan wajah yang berbeda.


" Sayang, ada apa ?"


" Pa, perutku sakit sekali. "


Dirga terlonjak kaget, lalu segera bangun dari berbaringnya.


" apanya yang sakit. "


Mila memegangi perutnya , meringis menahan nyeri yang datang lagi.


" perutku sakit sekali. "


" Sayang , kita ke Rumah Sakit sekarang. Aku takut terjadi sesuatu dengan kehamilanmu."


" Aku ganti baju dulu, " ucap Mila lalu turun dari atas ranjang.


Berjalan tertatih menuju lemari bajunya. Mengambil baju apa saja yang dapat dia raih. Lalu membawanya ke dalam kamar mandi.


Dirga masih berusaha mengembalikan separoh nyawanya. Dia memang sedikit terkejut tadi karena istrinya membangunkan nya secara tiba-tiba.


Di dalam kamar mandi, Mila yang berniat buang air kecil dikejutkan dengan keluar nya darah di sela pahanya.


Dia tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Panik. itulah yang Mila rasakan saat ini. Sungguh dia takut jika terjadi sesuatu pada kehamilan nya.


Bergegas ia mengganti bajunya. Lalu mengambil pembalut yang tersedia di dalam lemari kecil di bawah wastafel. Memasang pembalut pada celana dalam nya. 


Keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah panik.


" Pa, kita harus ke rumah sakit sekarang. "


" Iya sayang."


" Aku pendarahan."

__ADS_1


" Apa ?"


" Buruan , Pa."


" Iya iya."


Dirga segera membantu istrinya keluar kamar menuju mobil nya. Bahkan Dirga tak sempat mengganti baju nya.


Dirga pun ikut panik melihat wajah istrinya yang mulai pucat. Camila merasa kesakitan.


Dengan kecepatan diatas rata-rata Dirga membawa mobil nya. Beruntungnya di tengah malam seperti ini jalanan sedikit lengang.


Hingga tiba di Rumah Sakit, Dirga segera mencari bantuan pada perawat yang tengah berjaga. Sungguh dia merasa khawatir dengan kondisi Camila.


Bahkan saat berangkat tadi ,  tidak pamit pada penghuni rumah . Karena dia dan Mila sangat terburu-buru.


Dirga duduk di ruang tunggu IGD. Menunggu istri nya yang sedang mendapat perawatan.


Tak berselang lama, dokter dan suster keluar dengan mendorong Mila yang berada di atas brankar.


" Dokter istri saya kenapa ?"


" Istri Bapak mengalami pendarahan. Dan kita harus segera melakukan tindakan. "


Dirga semakin panik. Istri nya di bawa ke ruang khusus Ibu dan Anak.


Tapi sepertinya , Dirga harus bersabar mendapat cobaan ini. Beberapa menit berlalu, seorang suster keluar memanggil Dirga dan menginfokan padanya agar menemui dokter di ruangan nya.


" Bagaimana istri saya dokter ?" tanya Dirga panik . Kini dia sedang berhadapan dengan dokter kandungan yang sengaja di panggil dalam kondisi ada pasien yang darurat. 


" Maafkan kami Pak. Sepertinya nyonya Camila mengalami keguguran. "


" Apa dokter ?"


Dokter itu mengangguk. " Nyonya Camila mengalami pendarahan, dan janin nya tidak dapat kami selamatkan. "


Dirga meraup wajahnya frustasi. Usia kehamilan Camila beum genap tiga bulan. 


" Kami harus melakukan perawatan lebih lanjut pada Nyonya Camila . Dan Kami membutuhkan persetujuan dari anda, suaminya. "


" Lakukan apa saja yang terbaik untuk istri saya. Dan jika memang istri saya harus mengalami keguguran, Saya akan berusaha ikhlas untuk menerimanya."


Sekalipun Dirga merasa sedih, tapi dia harus ikhlas dengan apa yang terjadi. Dan semoga saja Camila juga bisa menerima apapun dengan hati lapang dan kesabaran.


Dirga masih menunggu diluar ruangan. Pikiran nya tidak tenang. Dalam hati dia berdoa semoga tidak terjadi sesuatu pada Camila , istrinya.

__ADS_1


Setelah dua jam berlalu, bahkan ini sudah menjelang pagi. Dokter memberitahunya , jika kondisi Camila baik-baik saja. Dan sekarang masih dalam pengaruh obat penenang. 


Dirga harus ikhlas dan bersabar dengan cobaan yang menimpanya. Camila keguguran, dan dia kehilangan calon anak nya. Mengenai penyebab keguguran , Dirga juga belum tahu secara pasti.


Sembari menanti istri nya siuman, Dirga merogoh ponsel di saku celana nya. menelpon ke rumahnya. Setidak nya dia harus memberi kabar pada orang rumah bahwa dia dan Camila sedang berada di Rumah Sakit , agar mereka tidak mencari. Terutama Je yang setiap bangun tidur akan masuk ke dalam kamar dan mencari papa atau mama nya.


Dirga merasa lega, Camila sudah siuman. Segera dia dekati istrinya yang tergolek lemas di atas ranjang.


" Sayang , kamu sudah bangun."


" Pa, anak kita ?"


Dirga mengangguk. 


" Sayang, aku sudah ikhlas dengan semua yang telah terjadi. "


" Pa, maafkan aku ya. Aku tidak bisa menjaga calon bayi kita. "


" Jangan berbicara seperti itu. Ini bukan kesalahanmu. Semua sudah ditakdirkan. "


" Tapi, pa ...."


" Hust ... tidak boleh menyesali apa yang sudah terjadi. Kita harus sabar dan ikhlas. Insyaallah nanti kita akan mendapat kan ganti nya lagi."


" Pa, kenapa kamu sangat baik sekali ?"


Mila sudah berkaca-kaca. Sungguh dia merasa beruntung memiliki suami sebaik Papa Dirga. Selalu bersabar dalam menghadapi segala hal. Padahal Mila sendiri belum bisa menerima semua ini. Saat dia mengetahui mengalami pendarahan, Mila sangat shock. Terlebih saat suster mengatakan padanya jika kandungan nya tak bisa diselamatkan, detik itu juga hidupnya hancur. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga dengan baik calon bayi nya.


Tapi suaminya ini, dengan lapang dada sanggup menerima apapun yang terjadi.


" Sayang, bagiku yang terpenting adalah kesehatan dan kebaikan mu. Kita masih bisa mencoba untuk membuat anak lagi. Jika Tuhan mengijinkan , pasti kita akan diberikan kepercayaan untuk memiliki anak."


Dirga menggenggam erat tangan istrinya. Mencoba memberi kekuatan pada istri nya yang terlihat sangat shock dan tertekan karena kehilangan calon bayi mereka. Mila adalah seorang ibu . Sudah pasti dia akan sangat merasa kehilangan.


Tapi dia bisa apa selain mengikhlaskan semua nya. Lagipula dia dan Mila masih bisa mencoba lagi nanti nya.


Setelah dirasa Mila sedikit tenang, Dirga mencoba kembali menghibur istrinya. Membuat istrinya agar bisa menerima apapun cobaan yang menimpa keluarga mereka.


" Pa, padahal Je sudah senang sekali saat aku memberitahu jika sebentar lagi akan mempunyai adik, " ucap Mila tiba-tiba.


Dirga menghela nafasnya, " Je pasti mengerti sayang. pelan-pelan kita akan memberi pengertian pada Je . Aku yakin Je pasti akan mengerti."


" Semoga saja ya Pa. Sungguh aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaganya dengan baik. "


" Sayang, berapa kali harus aku katakan. Ini bukan kesalahanmu. jadi berhenti menyalahkan diri sendiri. "

__ADS_1


" Maafkan aku, Pa. "


Dirga mengecup dalam kening istrinya. Sungguh sulit memang memberi pengertian pada Mila.


__ADS_2