
Rasya pikir yang masuk ke dalam ruangan nya adalah Mila tapi ternyata dugaan nya salah. Allan si dokter tidak tau aturan. Masuk begitu saja ke dalam ruangan tanpa mau mengetuk pintu nya terlebih dulu.
Dokter bermata sipit itu kini sudah duduk di kursi menatap Rasya tajam.
" Kau kenapa menatapku seperti itu, Allan?"
Allan tersenyum sinis. " Apa yang sudah kau lakukan pada Camila?"
Tanya Allan dengan tatapan tajam.
Ya, tadi Allan tak sengaja melihat Camila lagi saat perempuan itu baru keluar dari ruangan Rasya. Seolah ada sesuatu yang baru saja terjadi, bahkan Camila sampai tak menyadari akan kehadiran Allan. Perempuan itu terus saja berjalan dengan mulut komat komit seolah sedang mengumpat. Dan Allan yang mengetahui hal itu langsung yakin jika telah terjadi sesuatu antara Camila dengan Rasya.
" Memang apa yang telah kulakukan?" tanya nya tanpa merasa bersalah.
" Aku tadi melihat Camila keluar dari ruangan ini."
" Lalu? Kalau aku membicarakan masalah pekerjaan memang nya kenapa?"
" Aku tak yakin kau membicarakan masalah pekerjaan."
" hei Allan, kau yakin sekali? "
" Ya, Camila tidak akan memasang wajah kekesalan jika kau tak membuat masalah. "
" Allan...Allan...perhatian sekali kau pada Camila. "
" Aku itu perhatian padamu Rasya. Berapa kali aku ingatkan, jangan lagi mengganggu istri orang. "
" Allan, kau memang sahabatku. Tapi kau jangan terus saja mencampuri urusan pribadiku. "
" Terserah saja kau Rasya. Aku sudah mengingatkan mu berkali kali."
Allan beranjak berdiri dan keluar dari ruangan Rasya. Susah sekali menyadarkan sahabatnya itu. Entah harus dengan cara apa lagi dia akan melakukan tindakan. Sungguh Allan sangatlah tidak senang dengan apa yang telah diperbuat Rasya. Bagaimana mungkin Rasya masih saja ngotot untuk menjadi perusak Rumah Tangga Camila dan Dirga. Semoga saja Rasya segera diberikan kesadaran. Begitulah doa Allan dalam hati.
Sementara itu, Camila sungguh kalut. Dia tak menyangka dengan semua tingkah laku Rasya yang seberani itu. Hingga masuk ke dalam ruangan, mood nya sangat memburuk. Suster yang bertugas dengan nya sampai terbengong-bengong.
" Dokter, anda baik - baik saja?"
Camila menggeleng. " Sepertinya saya sedang tidak baik - baik saja suster."
" Ada apa dokter, mungkin saya boleh tahu karena tadi sebelum anda ke ruangan dokter Rasya, anda masih baik - baik saja."
Rasanya tidak mungkin Camila bercerita hal yang sebenarnya. Bagaimana pun juga nama nya jadi taruhan. Seandainya ada yang mengetahui tentang perasaan dokter Rasya kepadanya, Camila harus bagaimana? Haruskah dia resign saja.
" eum, saya ada sedikit masalah dengan dokter Rasya. Ya ada kesalahpahaman gitu deh sus."
__ADS_1
" Owh begitu."
" Ya sudah sus, eum apa masih ada pasien lagi."
" tidak ada dokter. Hari ini tumben pasien poli umum tidak seberapa banyak."
" Syukurlah berarti hari ini banyak orang yang diberikan nikmat sehat. "
" Iya dokter. "
***
Dirga selesai meeting sekitar jam dua siang. Dari tempat ia meeting, Dirga langsung memberi instruksi pada Ferdy untuk membawa mobil nya menuju Rumah Sakit. Dia tidak ingin keduluan si Rasya sialan itu.
" Bos entar kenalin aku sama si Rasya ya...."
" Buat apa? Mau kamu pacarin."
" Sialan si bos. Masak iya aku disuruh main pedang pedangan."
" siapa tau aja kan kamu tertarik."
" Mending kalau bos mau ngenalin aku sama suster - suster cantik. Akan sangat berterimakasih bos.... "
" Kau ini, sudah jangan banyak bicara. Buruan, nanti keburu telat. "
Mobil membelah padatnya jalanan yang beruntung nya tak seberapa macet. Hingga tiga puluh menit berlalu mobil memasuki area parkiran Rumah Sakit. Mobil terparkir dengan sempurna. Baik Dirga dan Ferdy sama sama keluar dari dalam mobil. Sekalipun kali ini Dirga sudah tak serapi tadi pagi, jas nya sudah ia tanggalkan, kemeja yang lengan nya sudah di gulung asal hingga batas siku, rambutnya sedikit acak acakan tapi tak mengurangi kadar ketampanan nya. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit. Dirga meraih ponsel nya, menelpon istri nya memberitahu Camila jika ia sudah berada di Rumah Sakit.
" Bos, bilangin dek Mila, aku mau dikenalin dengan satu perawat yang cantik cantik itu."
" Bilang sendiri saja sama orang nya."
" baiklah."
Ferdy dengan antusias mengikuti langkah Dirga. Dan disaat yang tepat, dia berpapasan dengan dokter Rasya yang sedang berjalan dengan beberapa orang suster. Seperti nya sedang visit pasien.
Dirga malas sekali hanya sekedar menyapa Rasya, tapi ternyata Rasya sendiri yang justru menyapa nya.
" Pak Dirga...." panggilan yang terlontar dari mulut Rasya.
" Sore dokter Rasya." dengan terpaksa Dirga pun mengulas senyum lalu berhenti sebentar.
Ferdy, dia langsung paham begitu Dirga mengucap nama dokter Rasya. Ternyata ini orang yang membuat bosnya tampak kacau akhir - akhir ini. Ganteng juga, tak kalah ganteng dari bos Dirga. Dan yang Dirga pernah cerita, dia adalah pewaris Rumah Sakit ini. Paket komplit, tampan dan juga mapan.
" Pak Dirga kok disini?"
__ADS_1
" Owh, itu saya mau jemput istri saya. Kebetulan mobil nya belum selesai di servis."
" owh begitu. "
" Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu dokter Rasya. "
Rasya mencoba memaksakan seulas senyum. Dirga sudah menarik Ferdy meninggalkan Rasya. Jarak beberapa meter, Ferdy si tukang kepo sudah menarik - narik ujung kemeja dirga
" Bos.... Jadi itu tadi yang bernama Dokter Rasya? "
" Ya "
" Ganteng juga, tak kalah ganteng dari bos Dirga. Mana masih muda dia lagi."
" Jangan ngebandingin aku dengan dia. Apalagi bawa - bawa umur segala."
" aduh bos.. Gitu aja ngambek."
Dirga tak mau lagi mendengar ocehan yang keluar dari mulut Ferdy. Hanya menyakitkan hatinya saja. Kadang asisten nya itu suka bicara ceplas ceplos tanpa di rem.
Tiba di depan ruangan Camila, Dirga mengetuk pintu nya. Lalu dibuka dan sedikit melongokkan kepala.
Camila mendongak, " Pa, masuklah sebentar lagi aku selesai."
Dirga masuk disusul oleh Ferdy.
" Sus, ini berkas - berkas laporan untuk hari ini sudah saya tanda tangani semua ya."
" Baik Dokter."
" Duduklah dulu Pa."
Dirga dan Ferdy melempar senyum pada suster.
" Ferdy, jangan tebar pesona, suster eni sudah bersuami."
" Dek Mila ini... Mengganggu rencanaku saja. Carikan yang masih single satu saja untuk ku. "
" Banyak kok Mas yang masih single. Tinggal pilih mau yang seperti apa?" celetuk suster eni, salah satu suster yang biasa menemani Camila.
" Yang seperti dokter Mila ada nggak? "
" Ferdy....! " Dirga sudah menggeram.
Camila dan suster Eni hanya tertawa. Baru kali ini suster eni bertemu langsung dengan suami dokter Mila setelah satu tahun terakhir ini mereka bekerja bersama.
__ADS_1
" Suster jangan keget ya, mereka ya seperti itulah kalau sudah bersama. Susah buat akur nya."
Suster eni hanya tertawa. Padahal dia tidak tahu siapa lelaki yang bersama suami dokter Camila karena dia belum berkenalan.