Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Season 2 - Chapter 53


__ADS_3

Selesai meeting tepat di jam makan siang. Seharusnya Dirga menemani klien nya pergi lunch, tapi panggilan telpon dari Hana membuatnya merasa dilema.


Hana mengatakan jika Je sudah pulang sejak setengah jam yang lalu dan Camila belum menjemput nya.


Sedikit berpikir dan Dirga menemukan solusi nya. Disenggolnya lengan Ferdy hingga membuat asisten nya itu menoleh kepadanya.


Dengan bahasa isyarat Ferdy bertanya , " ada apa bos"


Dirga mencondongkan kepalanya. Berbisik lirih di telinga Ferdy karena takut jika klien nya mendengar.


" Aku boleh minta tolong padamu. Jemput Je di sekolah."


Ferdy mengerutkan kening. Lalu Dirga kembali berucap, " Jika aku yang menjemput Je dan meninggalkan klie kita, rasanya juga tidak sopan. Jadi biar aku menemani mereka makan siang. Kau jemputlah Je di sekolah. Kasihan dia sudah menunggu setengah jam. "


Ferdy ingin protes tapi segera disela oleh Dirga. " Sekarang jangan banyak bertanya. Nanti aku akan ceritakan. Sekarang cepat berangkatlah. "


" Baiklah bos. " pada akhirnya Ferdy hanya mampu meng-iyakan saja.


Lalu dengan sopan Ferdy pamit undur diri pada klien mereka.


Dalam hati Ferdy bertanya - tanya, kenapa harus dirinya yang menjemput Je. Lalu kemana pergi nya Camila?


Apa ini ada hubungan nya dengan penampilan bos nya yang acak acakan tadi pagi. Sebenarnya tak hanya tadi pagi. Tapi sejak dua hari lalu. Hanya saja pagi ini yang terparah. Ferdy ini salah satu pengamat mode. Dia selalu kritis dengan penampilan bos Dirga. Ada yang tidak mengena sedikit saja, pasti Ferdy akan langsung memprotes nya.


Sesampai di mobil nya Ferdy baru ingat, dia tidak tahu dimana letak sekolah Je. Lalu dia menelpon bosnya.


" Bos... Sekolah Je dimana?" tanya nya tanpa rasa bersalah.


" Astaga Ferdy! Nanti aku whatsapp."


Panggilan telpon diputus sepihak oleh Dirga. Salah Dirga sendiri tidak memberitahu Ferdy dimana Je bersekolah.


Sembari mengobrol bersama klien nya Dirga menyempatkan mengetikkan alamat sekolah Je dan mengirimkan nya pada Ferdy.


Ferdy melajukan mobilnya menuju dimana alamat yang bos Dirga berikan. Dan alamat itu cukup jauh letak nya dari kantor. Bisa satu jam sendiri perjalanan nya.


Dan benar saja, setelah memakan waktu hampir satu jam lamanya Ferdy tiba juga di depan gerbang sekolah yang sudah terlihat sepi.


Ferdy turun dari dalam mobil berdiri di depan pagar. Tampak Je yang duduk di kursi taman bersama Mbak Hana.


" Om Ferdy....!" teriak Je lantang.

__ADS_1


Ferdy melambaikan tangan nya. Je dan mbak Hana menghampiri Ferdy.


" Hai Hana... Aku diminta bos Dirga menjemput kalian. Bos Dirga sedang ada pertemuan penting dengan klien."


Hana mengangguk lalu tersenyum. Mengikuti Ferdy menuju mobil. Hana sudah membuka pintu tengah tapi ucapan Ferdy membuat perempuan itu dengan terpaksa menutup nya kembali.


" Hana, aku bukan sopir. Jadi, kau duduklah di depan. "


Hana menurut karena tak mau berdebat dengan Ferdy. Awalnya Je Hana pangku tapi selanjutnya Je sudah melompat duduk di kursi tengah. Hingga Ferdy dan Hana berdua duduk di depan.


Tidak banyak obrolan yang Ferdy perbincangkan dengan Hana. Karena pada dasar nya Hana ini pendiam. Sementara Ferdy cerewet nya nggak ketulungan. Apa saja yang Ferdy bicarakan hanya disahut Hana seperlunya atau justru hanya ditanggapi oleh senyuman. Lama - lama Ferdy pun kehabisan kata - kata.


" Hana...."


" Ya,"


" Kenapa kalian tidak dijemput dek Mila saja. Kenapa harus bos Dirga."


" Kalau itu, seperti nya ibu sedang sakit. Jadi tidak bisa kemana - mana."


" Oalah. Pantas saja."


" Pantas saja kenapa Mas Ferdy?"


Hana hanya menanggapi dengan senyuman. Di benak Hana terkadang ingin tertawa. Ferdy ini humoris. Setiap kata yang terlontar dari mulutnya lebih banyak membuat Hana ingin tertawa. Apalagi Ferdy ini type type lelaki yang banyak ngomong alias cerewet sama seperti perempuan. Hana capek sendiri menanggapi dan dia lebih memilih senyum saja.


Akhirnya mereka tiba juga di rumah. Je sudah kegirangan karena dia merasa capek. Lama menunggu kedatangan Ferdy tadi. Ada satu jam Je harus sabar menunggu datangnya jemputan.


" Makasih om Ferdy." ucap Je sedikit cadel.


" Terimakasih Mas Ferdy. Nggak mau mampir dulu?" kali ini Hana yang mengucapkan terimakasih pada asisten bos Dirga.


" Lain kali saja aku mampir. Sekarang aku harus segera kembali ke kantor. Salam buat dek Mila. "


Hana mengangguk lau turun dari dalam mobil. Membuka pintu tengah dan mengeluarkan Je dari dalam nya.


Mereka berdua menunggu hingga mobil Ferdy keluar dari halaman, barulah kedua nya masuk ke dalam rumah.


Di saat itulah mereka berpapasan dengan Camila yang seperti nya baru saja keluar dari dalam kamar.


" Mama...!" Teriak Je.

__ADS_1


Camila tersenyum lalu berjalan cepat menghampiri Je. Mengangkat tubuh anak nya lalu menciumi pipi Je. Hana masih berdiri disitu dengan menentang tas sekolah Je.


" Kalian tadi pulang dengan siapa?" tanya Camila.


"Je dijemput om Ferdy."


" Oh ya."


Camila seperti tak percaya, lalu menatap Hana.


" Beneran mbak tadi Ferdy yang jemput?"


" Benar, Bu."


" Sekarang Ferdy nya mana? Nggak ditawari makan siang dulu."


" Saya sudah menawari untuk masuk. Tapi orangnya tidak mau. Katanya mau langsung kembali ke kantor."


" Kok tumben Ferdy yang jemput. Apa papa Dirga sibuk? " Camila mulai merasa bersalah.


" Kata Ferdy tadi Pak Dirga sedang ada klien. "


" Owh... "


Camila membawa Je masuk.


" Sayang lapar tidak? "


Je mengangguk.


" Ya sudah, ayo ganti baju setelah itu kita makan. "


Je sudah kegirangan. Beberapa hari mama nya tidak memperhatikan nya.


" Mama sudah sembuh? " tanya Je tiba - tiba.


Camila yang merasa tidak sakit hanya tersenyum. Ternyata putra nya ini mengira dirinya sakit. Memang beberapa hari ini Camila merasakan malas luar biasa. Hingga dia mengabaikan Je.


Tak hanya Je yang ia abaikan. Papa Dirga juga. Bahkan di siang hari seperti ini Camila baru saja turun dari atas ranjang. Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi. Hanya saja untuk turun dari atas ranjang dia merasa malas. Yang ada masih dengan bergelung di bawah selimut, dia memainkan ponsel nya. Bermain instagram, menonton yutub dan berkirim chat bersama teman - teman nya. Camila bahkan melupakan kewajiban nya menjemput Je.


Merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi. Suasana hatinya memang serasa tidak baik. Bahkan dia yang sedang banyak tugas pun enggan mengerjakan nya. Yang Camila inginkan hanya satu. Bermalas malasan. Itu saja.

__ADS_1


Camila sendiri merasa heran, dia tidak sedang sakit saat ini. Dia juga seharusnya sehat sehat saja. Karena makan pun masih bisa. Hanya saja suasana hatinya yang mendadak memburuk dengan sendirinya.


__ADS_2