Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 75 - Jaghad Raya Semesta


__ADS_3

Dirga POV


Kebahagiaan telah melingkupi keluarga kecilku dengan kehadiran baby Je. Anak lelaki yang kuberi nama Jaghad Raya Semesta, bayi yang sangat tampan mirip sepertiku. Perjuangan Camila dalam melahirkan Je sungguh sangat luar biasa. Tak dapat dibandingkan dengan apapun karena nyawalah taruhan nya. Melihat dengan langsung bagaimana Je dilahirkan, bahkan mampu membuatku tak sanggup berkata apapun. Rasa syukur yang begitu besar untuk semua kebahagiaan yang Tuhan berikan.


Tiga hari Camila harus dirawat di Rumah Sakit, bersama baby Je tentunya. Mama juga Bunda banyak membantu kami yang notabene adalah orangtua baru yang masih perlu banyak belajar mengurus seorang bayi.


Dan kulihat Camila pun antusias belajar sedikit demi sedikit cara merawat seorang bayi meski kutahu istriku itu masih sangat kesulitan. Ditambah mental nya yang belum pulih sepenuhnya setelah mengalami sedikit trauma saat melahirkan Je. Mungkin karena rasa sakit yang dia rasakan waktu itu, mampu membuatnya ketakutan hingga berkali kali bilang bahwa dia tak ingin lagi punya anak.


Di usia ke tujuh hari Je, kami mengadakan acara tasyakuran sekaligus aqiqah untuk Je. Dengan mengundang keluarga serta para kerabat terdekat juga para tetangga. Ungkapan rasa syukur kami yang tak terhingga untuk kehadiran baby Je.


--------


Karena Mila setelah ini masih ada tugas intership, jadi aku sudah mulai mencari seorang baby sitter yang nantinya akan membantu menjaga dan merawat Je. Sebenarnya masih ada mama juga di rumah yang akan ikut mengawasi Je tapi karena usia mama yang sudah tidak muda lagi serta riwayat kesehatan mama yang tidak bisa dibilang baik baik saja, jadi aku tidak ingin mama kecapean jika harus ikut merawat dan mengasuh Je seorang diri.


" sayang, menurutmu bagaimana suster nya Je." tanya ku pada Mila.


Hari ini adalah hari pertama baby sitter yang telah kuambil dari salah satu agency, mulai bekerja mengasuh Je. Seorang perempuan muda yang usia nya mungkin hanya selisih beberapa tahun diatas Mila. Memang aku benar-benar mencari seseorang yang sudah berpengalaman dalam mengasuh bayi. Aku tidak ingin mendapatkan orang yang sembarangan. Akupun Berani membayar gaji tinggi demi Je. Asalkan Je mendapat pengasuhan dan perawatan yang terbaik.


Memang tak dapat dipungkiri jika pengasuhan dari kedua orang tua nya lah yang terbaik dari yang paling baik. Akan tetapi kesibukan kami berdua sebagai orang tua yang mengharuskan mengambil keputusan yang sangat berat, karena harus menyerahkan pengasuhan Je pada seorang baby sitter.


" belum tau lah om. Kan baru satu hari juga mbak nya bekerja. Tapi aku berharap semoga Je mendapat pengasuh yang tepat."


" akupun juga berharap begitu."


Suara tangis Je mengalihkan perhatian kami. Je baru berusia dua minggu dan selama ini pula kami berdua banyak belajar pada mama juga Bunda.


Bunda juga akan sering berkunjung kerumah ini. Membawakan beberapa makanan bergizi untuk Mila. Pasca melahirkan memang Mila harus banyak makan sayur, buah serta makanan gizi seimbang lain nya agar kondisi nya pulih dan Asi nya lancar.


Bersyukurnya lagi karena ternyata Mila pun antusias memberikan Asi pada Je. Aku tak menyangka jika Mila berubah menjadi keibuan. Mengingat bagaimana saat kami menikah dulu, Mila yang masih sangat labil karena usianya yang masih sangat muda. Seiring perkembangan waktu sepertinya Mila semakin menuju kedewasaan nya. Ditambah dengan kehadiran Je, sifat keibuan nya muncul dengan sendirinya. Aku sangat bangga padanya dan rasa cinta ku pada nya semakin bertambah setiap detik nya.


------

__ADS_1


Beberapa minggu kemudian,


Genap satu bulan sudah usia Je. Dan hari ini pula Mila akan mulai intership di sebuah rumah sakit. Bisa dipastikan jika setelah ini, hari-hari Mila akan kembali disibukan dengan dunia kedokteran nya.


Tapi aku akan selalu mendukungnya meskipun sudah ada baby Je diantara kita. Bukan nya Mila lebih mementingkan karir, tapi cita-cita yang telah Mila inginkan sejak dulu tak akan mungkin dia kubur begitu saja.


Akupun tak keberatan dengan semua aktifitas yang dijalani Mila. Asalkan Mila masih bisa membagi perhatian nya buatku juga buat Je, tak jadi masalah.


Ponsel Mila yang ada di atas nakas berdering. Istriku sedang membetulkan kerudungnya. Sementara baby Je sudah diambil oleh baby sitternya. Mungkin sedang mencari angin di teras depan.


" sayang ponsel nya bunyi."


" ah iya. Sebentar."


Kuambil ponsel itu dan menyerahkan nya pada Mila. Sepertinya Nathalie lah yang sedang menelepon karena tak sengaja tadi aku melihat layar ponsel Mila.


" hai Mila sayang......"


" Nath" suara Mila yang tercekat karena mungkin istriku ini begitu merindukan saudara nya.


Sudah lama memang Nath tak pernah lagi datang ke Surabaya. Sempat beberapa kali Mila cerita jika dia sangat merindukan saudara nya itu.


" Mil... I miss u."


" I miss you too nath. Kapan kamu datang. Kamu enggak ingin apa lihat keponakan mu yang lucu."


" pingin banget Mil. Lusa aku ke Surabaya. Tak sabar rasanya liat baby mu."


" beneran?"


" iya. Aku rindu kalian semua. Rindu masakan bunda. "

__ADS_1


" maka nya pulang Nath... "


" sampai ketemu lusa beb.... "


" iya. Take care Nath. "


Kuambil kembali ponsel dari tangan Mila dan menyimpan nya di atas nakas.


" Nath bilang apa tadi. " tanyaku.


Mila tersenyum lebar. Jelas sekali kebahagiaan di wajahnya.


" lusa mau ke Surabaya katanya. Aku rindu sekali sama Nath. Sudah lama rasanya tak melihat nya."


Tiba-tiba Mila memeluk ku. Dengan senang hati aku membalas pelukan nya.


" om...."


" hmm.."


" semoga Nath segera menemukan kebahagian nya. Aku takut jika sebenarnya Nath sengaja menjauh dari kak Daffi. Dan dia menjadi trauma hingga tak mau lagi menjalin hubungan dengan lelaki manapun."


" sayang tidak boleh berkata begitu. Kita sebagai saudara harus mendoakan yang baik baik untuk Nath juga Daffi tentunya. "


Camila mendongak menatapku lalu tersenyum. Tangan nya terulur mengusap jambang yang tumbuh di sekitar rahangku. Dia ini memang suka sekali seperti itu. Kutangkap tangan nya dan membawanya ke depan bibirku. Mengecupnya dalam.


" om....terimakasih karena telah memberi kebahagiaan untuk ku."


" hei.... itu sudah menjadi tanggungjawabku untuk membahagiakan mu juga Je."


Camila kembali memeluk ku dengan erat. Aku pun kembali mendekap nya. Jikalau tidak ingat ini masih pagi dan kami harus menjalani aktifitas, mungkin aku tak akan rela melepas Mila dari pelukan ku.

__ADS_1


__ADS_2