
Dua hari berlalu. Keputusan Camila tetap bulat yaitu resign dari Rumah Sakit. Mendapat pertanyaan dari beberapa rekan nya pasal resign nya yang tiba tiba, dokter Camila hanya mengatakan jika dia ingin menghabiskan waktu bersama anak nya.
" Dokter, kenapa Tiba tiba dokter Mila resign. Sedih aku tuh dokter. Tidak ada lagi teman bergosip."ucapan suster eni.
" kan masih banyak yang lain nya sus. Yang bisa suster ajak diskusi juga bergosip. "
"Tapi ngga senyaman dengan dokter Camila. Memang dokter Camila kenapa resign?"
" Suami yang minta sus. Anak anak kasihan kurang kasih sayang mamanya karena mamanya terus saja sibuk bekerja."
Camila mulai membereskan barang barang pribadi nya dan ia masukan ke dalam kardus. Tadi ia sudah menemui dokter Rasya untuk memberikan jawaban bahwa keputusan nya telah bulat. Dokter Rasya tidak bisa berbuat banyak selain merelakan kepergian dokter Camila dari Rumah sakit nya.
Disaat Camila sedang sibuk menata barang nya pintu ruang kerjanya diketuk. Wanita itu menoleh kebelakang.
" Dokter Allan..."
Dokter Allan tersenyum lalu masuk ke dalam ruang praktik Camila dan duduk di salah satu kursi yang ada disana.
" Jadi kau benar resign dokter Camila."
Camila menghentikan aktifitas nya lalu menatap dokter Allan intens.
" Iya, dokter Allan tahu darimana"
" Berita resign nya dokter Camila bukanlah rahasia lagi."
" oh ya, sebegitu cepat nya gosip beredar.
" jadi kenapa anda resign ".
Camila hanya menghela nafas
" karena saya ingin fokus pada anak. "
" Tidak karena Rasya kan? "
" Mungkin salah satu satunya alasan ya itu dokter. Tapi yang terpenting saat ini saya ingin fokus dalam merawat anak."
" semoga keputusan yang telah dokter Mila ambil adalah yang terbaik. "
" terimakasih dokter Allan. "
****
Dirga membawa beberapa Barang barang milik istrinya dan dimasukkan ke dalam mobil
Tak lupa Camila pun juga berpamitan pada rekan rekan nya karena mulai besok dia sudah tidak lagi ke rumah sakit.
" Sayang, bagaimana perasaan mu kali ini? "
Mendapat pertanyaan seperti itu Camila berusaha merilekskan diri. "sepertinya lega Pa."
" Baguslah. Semoga keputusan ini adalah yang terbaik."
"Ya papa benar."
__ADS_1
" Bagaimana dokter Rasya. Apa sempat menghalangi mu dan merayu untuk tidak jadi resign. "
Camila menggeleng. Kalau tadi dokter Rasya sudah pasrah dan menandatangani surat pengunduran diri nya.
" Dokter Rasya sama sekali tidak mempersulit ku. Ya, dia sepertinya sudah menyerah."
Dirga tersenyum tangan nya terulur mengelus pucuk kepala Camila.
****
Hari pertama Camila tidak bekerja. Dari pagi dia sudah disibukan dengan membuat menu sarapan untuk anak dan suaminya. Biasanya jika di jam segini dia akan terburu buru karena takut telat tapi sekarang Camila benar benar menikmati hidup yang sesungguhnya nya.
Camila terjengit kaget kedua lengan kekar suaminya sudah berada di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
" Wow masak apa....."
" hanya sandwich papa."
" Je mana?"
" masih mandi dengan mbak hana."
" Ya sudah sana papa tunggu saja di meja makan. Bentar lagi selesai."
" baiklah." diberikan satu kecupan di pipi Camila. Lalu dia menurut dengan apa yang istri nya minta.
Mereka makan dengan diselingi obrolan obrolan seputar Je yang semakin hari semakin pintar saja.
Lalu mengenai rencana yang ingin memasukkan je ke sebuah play Group. Mungkin kemarin kemarin Mila belum setuju jika Je masuk ke dalam play Group tapi setelah dihitung hitung lagi usia Je sdh empat tahun dan sudah waktu nya Je mengenyam bangku sekolah.
" Pa, aku nanti bawa Je jalan jalan boleh tidak?"
" Ke mall."
" Ya nggak papa sih."
" Yeay.... Je nanti kita jalan jalan ya."
Balita itu sudah tersenyum sumringah.
Siapa juga yang tidak suka jika diajak jalan jalan.
Dirga sudah menyelesaikan sarapan nya. Dia menggendong tubuh Je lalu dicium pipi gembil balitanya.
" Papa Kerja dulu ya.... " pamit nya pada sang anak.
Je manggut manggut.
" Mama...."
" Mama sudah tidak lagi bekerja sayang. Jadi mama akan menemani Je seharian di rumah. Je seneng tidak ditemani mama."
" Iya Je seneng."
" Sayang aku berangkat dulu. Hati hati di rumah. "
__ADS_1
Lalu Dirga mencium pipi Camila.
" Dada papa...."
Mobil Dirga meninggalkan pelataran parkir rumah nya. Camila kembali masuk dengan menggandeng tangan Je.
" Je, ayo habiskan sarapan mu. " didudukan kembali balita itu di atas chair seat. Lalu mulai menikmati makanan yang memang belum habis.
****
Siang hari nya Camila benar benar membawa Je jalan jalan ke sebuah mall. Mereka tidak hanya berdua tapi ada mbak hana juga.
Karena aktif nya Je sampai sampai Mila kewalahan mengejar putra nya itu yang sudah berlarian ke sana kemari.
" Je jangan lari lari nanti kamu jatuh." teriak Canila.
Tapi Je masih saja berlarian. Seolah mall ini adalah kepunyaan nya sendiri
Mbak Hana sudah berlari mengejar Je lalu dengan sigap menangkap tubuh mungil itu.
Mereka tertawa tawa. Hingga tanpa sadar Camila menabrak tubuh seseorang. Hingga tubuhnya oleh kesamping.
" aduh maafkan saya...."
Dan tatapan mereka bertemu. Dokter Rasya berada disini juga.
" Hei dokter Camila.... Wah senang sekali bertemu anda disini."
Camila menelan saliva nya kenapa juga di tempat seperti ini dirinya harus bertemu dengan Dokter Rasya.
" Dokter Camila mau kemana lagi ini? Bagaimana kalau saya traktir anda makan."
Pandangan Rasya terarah pada Je," Hai ganteng..... Ikut om dokter beli es krim yuk."
Je menatap mamanya.
" Maaf dokter Rasya. Tapi kami sudah mau pulang. Terimakasih atas penawaran anda. "
" Astaga dokter Mila, bahkan saya hanya ingin mentraktir makan saja anda tolak. Itung itung sebagai farewel party nya Dokter Camila. Yang belum sempat dilaksanakan."
Camila menggaruk tengkuknya.
" Tapi benar dokter kami tidak bisa. Mungkin lain kali. Kita bisa makan bersama. Ya sudah dokter Rasya kami permisi dulu. "
" Ayo... "
Camila sudah menarik lengan Mbak Hana sementara Je sedang berada dalam gendongan mbak Hana.
" Bu, itu tadi siapa? Kok seperti nya ibu ketakutan. "
" Orang saiko mbak. Aku juga heran kok bisa bisa nya di tempat ini pun ketemu dengan dokter Rasya. Apa iya dokter Rasya itu tersebar dimana mana."
Mbak Hana hanya terkikik.
" Kita mau kemana sekarang? "
__ADS_1
" Makan dulu setelah itu langsung pulang ya mbak. Aku takut jika dokter Rasya buntutin kita. Lelaki itu tidak bisa diprediksi kelakuan nya. Kadang kadang membuat ku geleng geleng kepala dengan tingkah gilanya. Entahlah kenapa aku dulu kok bisa bertemu dengan seseorang yang seperti itu. Bener bener mengerikan. "
Mbak Hana hanya mendengarkan gerutuan Camila tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Entah kenapa sampai majikan nya ini mengata ngatai seseorang hingga sebegitu nya. Mungkin karena orang tadi sudah keterlaluan. Ah sudah lah. Mbak Hana hanya menurut saja pada Camila.