Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 66 - Istri Saya


__ADS_3

Camila Pov


Tiba di rumah, Bunda masih berada di resto. Tadi aku sudah kirim chat via whatsapp jika akan pulang telat. Naik ke lantai atas menuju kamarku berada, ingin mandi karena badanku sudah sangat lengket.


Baru juga keluar dari kamar mandi ponsel ku sudah berbunyi. Kulongokkan kepala melihat siapa si penelpon. Senyumku terbit, seperti orang yang sedang jatuh cinta saja. Melihat Om Dirga yang menelepon hati serasa berbunga bunga. Padahal sebulan ini aku sungguh kesal padanya. Begitu mudah mengucap kata cerai. Mau aku tak memaafkan nya tapi tak bisa. Belum lagi melihat kondisinya yang seperti itu, aku tak tega. Tubuhnya penuh luka ditambah kaki nya yang mungkin patah tulang membuatnya tak boleh berjalan sementara. Bagiku yang penting Om Dirga tahu dan mau mengakui kesalahan nya serta berjanji tidak akan mengulangi nya lagi . Aku sudah cukup lega.


" sayang, sudah sampai rumah." tanya Om Dirga begitu panggilan telpon nya kuangkat.


" sudah. Ada apa Om."


" ga papa. Kangen ku belum terobati."


" salah sendiri...."


" iya aku memang salah..... Aku bener bener menyesal telah melukai hatimu."


" sudahlah Om... Semua sudah terjadi tak mungkin diulang kembali. Tapi kuharap jangan pernah ada lagi terucap kata cerai . Itu sama saja Om Dirga menalakku "


" aku menyesal sayang. Maafkan aku. Aku janji tak akan mengulangi nya lagi. "


" heem aku tau itu. "


" ya sudah sayang istirahat ya. good night. "


" good night. Bye "


Kuletakkan kembali ponsel di atas nakas. Aku turun ke lantai bawah ingin makan malam dan kebetulan nya lagi ternyata Bunda sudah datang.


" makan sayang "


" iya bunda. Kak Ken belum datang bun. "


" masih di resto sama Danisha. "


" owh. Bunda.. Ada yang mau Mila omongin sama Bunda."


" apa itu."


Aku duduk di atas kursi ruang makan. Bunda duduk disebelahku. Sambil menikmati makan malam aku dan Bunda ngobrol banyak. Aku sudah menceritakan tentang pertemuanku dengan Om Dirga sore tadi di Rumah sakit.

__ADS_1


" jadi, Mila sudah memaafkan Dirga. " tanya Bunda. Aku mengangguk.


" Bunda ikut senang. Memang sudah sepantasnya Mila memaafkan Dirga. Bagaimanapun Dirga masih suami Mila. Mungkin Dirga khilaf waktu itu atau bisa jadi karena dia bingung menentukan pilihan. Kalian berdua itu sedang diuji seberapa kuat kalian bisa menghadapi masalah Rumah Tangga kalian. Ingat lah semua masalah pasti ada jalan keluarnya. "


" iya Bun. "


--------


Pagi ini aku menjalani aktifitas ku jauh lebih baik. Dengan wajah berseri dan tanpa ada beban pikiran. Masalah tugas kampus sudah selesai kukerjakan dan masalah dengan Om Dirga pun sudah clear.


Seusai pulang kuliah nanti aku sudah janji pada Om Dirga untuk mengunjungi nya di Rumah Sakit. Semoga dia lekas sembuh dan bisa segera pulang ke rumah. Eh, ngomong tentang rumah, aku jadi kepikiran sama mama dan papa Om Dirga. Sudah lama aku tak menemui mereka. Apakah mereka sehat? Aku harus mengagendakan untuk mengunjungi kedua mertuaku itu. Merasa bersalah karena selama aku bermasalah dengan om Dirga tak sekalipun aku menemui mereka berdua. Bahkan mama pun juga tak pernah menelepon ku lagi setelah terakhir kali nya menelepon ku untuk meminta maaf atas perlakuan Om Dirga padaku.


------


Menyusuri koridor Rumah Sakit menuju dimana Om Dirga dirawat. Saat membuka pintu kulihat Om Dirga yang tertidur seorang diri. Melihatnya seperti ini membuatku sedih, selama berada di rumah sakit tak ada keluarga yang menemani. Hanya ada Ferdy yang setia menunggu dan menemani nya.


Kutarik kursi mendekat di sisi ranjang. Mengamati nya lebih dekat. Perban di kepala sudah tidak ada, mungkin sudah di lepas tadi pagi. Beberapa bagian wajahnya tampak memar.


Kuulurkan tanganku menyentuh rambutnya membelainya perlahan. Kadang aku sendiri juga tak bisa percaya jika secepat ini jatuh cinta padanya. Segala perhatian nya, kasih sayang nya mampu meruntuhkan segala ego dan juga hatiku yang dulu tertutup untuknya.


Tanganku sudah beralih menyusuri pipi hingga rahangnya yang masih ditumbuhi jambang. Aku terkesiap karena Om Dirga  tiba-tiba menangkap tanganku, dikecupnya sekilas sebelum tatapan nya tertuju padaku.


" I miss you."


" kapan Om Dirga boleh pulang. Masih lama kah?" tanyaku


" kenapa? Sudah merindukan ku juga."


Wajahku sudah merona hanya karena godaan yang sebenarnya biasa-biasa saja.


Pintu ruangan diketuk, aku menoleh dan tak berselang lama seorang suster melongokkan kepala.


" permisi.....selamat sore Pak Dirga." sapa ramah suster yang kini sudah masuk ke dalam ruang perawatan Om Dirga. Diikuti oleh seorang dokter yang juga ikut masuk ke dalam.


" dokter Allan !!" ucapku terkejut.


" Camila..... Ada disini buat apa?" tanya dokter Allan yang tak kalah terkejut nya denganku.


Sebenarnya aku tak perlu terkejut karena kemarin pun aku juga sudah melihat dokter Allan dengan om Dirga, saat tak sengaja kami berpapasan di koridor Rumah sakit. Yang kutahu dari ceritanya kemarin, Om Dirga baru menjalani CT scan.

__ADS_1


" Dia istri saya dok." ucapan Om Dirga mau tak mau membuatku menatap nya.


" istri.? Camila istri Pak Dirga? Ah yang benar..... Pak Dirga memang sudah menikah?"


Dokter Allan sudah berdiri disamping ranjang. Suster yang bersamanya mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Om Dirga.


" saya sudah menikah dokter dan Camila ini istri saya. "


" waow... Saya sungguh tak menyangka. Mahasiswa saya istri pasien saya." dokter Allan terkekeh.


" Mahasiswa? Dokter Allan seorang dosen?"


"dosen pengganti lebih tepatnya."


" iya.... Dokter Allan ini dosen saya untuk satu semester kedepan." ucapku membenarkan pernyataan dokter Allan.


Dokter Allan mulai memeriksa Om Dirga. Kemudian membuka hasil CT scan yang kemarin dilakukan. Memberikan penjelasan panjang lebar pada Om Dirga.


Aku dapat bernafas lega karena dari penjelasan yang diberikan dokter Allan, tak ada luka serius hanya cidera ringan pada kakinya saja dan tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa segera pulih.


" beneran saya tak menyangka loh jika Camila ini sudah menikah.... Terlebih saya sempat punya pikiran yang...... Ah entahlah mungkin salah saya yang menyimpulkan sesuatu dari apa yang saya lihat..... Ehm itu.... Yang saya bilang Sister complex. Maafkan saya ya Camila.... "


Om Dirga mengerutkan kening akupun juga tak paham dengan ucapan dokter Allan. Aku dan Om Dirga saling pandang sebelum aku teringat sesuatu. Danu..... Ah iya... Pasti soal di taman waktu itu.


" ah yang waktu itu... Ga papa dokter.... Lagi pun dokter juga tak salah apa-apa. Ehm yang dokter lihat pas di taman kampus itu sebenarnya saya sedang bersama..... Keponakan dia." aku menunjuk Om Dirga.


" keponakan? Keponakan Pak Dirga?"


Sepertinya Om Dirga mulai paham dengan arah pembicaraan kami. Buktinya dia mengangguk saja.


" dokter jangan berpikir yang macam-macam ya.... Saya tak ada hubungan apapun juga dengan nya. Hanya saja.... Ya begitulah dokter.... Agak ribet memang..... " aku tertawa sumbang.


" okelah kalau begitu. Saya permisi dulu. Pak Dirga jika kondisi bapak terus membaik dan luka nya sudah mengering mungkin dua hari lagi Pak Dirga sudah boleh pulang. "


" oh baik Dokter. Terimakasih. "


Selepas kepergian dokter Allan dan suster, Om Dirga menatapku. Aku tau pasti dia ingin bertanya masalah ucapan dokter Allan tadi.


" yang dimaksud dokter Allan tadi tentang Danu...... " Om Dirga menggantung ucapannya. Aku paham arah pembicaraan nya kemana.

__ADS_1


Tanpa mengurangi ataupun menambahi, aku menceritakan semua tentang pertemuan ku dengan Danu kala itu. Tentang Danu yang menemuiku di kampus dan tentang pembicaraanku dengan Danu. Bahkan mengenai dokter Allan yang memergoki ku dan mungkin saja mendengar ucapan Danu kala itu hingga dokter Allan salah paham. Dikira nya aku ini memang menjalin hubungan dengan keponakan ku sendiri karena Danu yang berkata  " I Love You Aunty."


__ADS_2