Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 65 - Jadi, kita baikan?


__ADS_3

Camila PoV


" Mil elu Dari tadi napa diem aja."


" eh enggak kok... Aku enggak kenapa-kenapa kok Nad."


" yakin...?"


" eum... I'm fine.... Eh itu mungkin ya ruangan dokter Allan."


" kalau sesuai petunjuk sih harusnya iya... Ya udah yuk kita kesana saja."


Aku mengamit lengan Nadia.


" Dek Mila.....!!!! " seruan dari arah belakangku membuatku menoleh.


" Ferdy..... "


" dek Mila kok disini. " Ferdy mendekatiku.


Tadi ketemu Om Dirga dan sekarang Ferdy.


" Camila.... Silahkan masuk ruangan saya. " dokter Allan datang menoleh sekilas pada Ferdy sebelum masuk ke dalam ruangan nya.


" ehm Ferdy... Aku duluan ya. Yuk Nad." kutarik lengan Nadia masuk mengikuti dokter Allan.


" permisi dokter."


" oh silahkan masuk. Duduklah."


" terimakasih dokter. "


Aku dan Nadia duduk di hadapan dokter Allan.


" jadi... Mana tugas mu." dokter Allan menatapku sesaat setelah dia duduk di kursi kerjanya.


" ah ya... Sebentar dokter. "


Aku mengambil flashdisk yang ada di dalam tasku dan menyerahkan nya pada dokter Allan.


Dokter Allan membuka laptop , menancapkan Falshdisk milik ku.


Suasana hening, aku dan Nadia saling terdiam. Dokter Allan dengan serius meneliti hasil lemburan ku semalam. Kening nya sedikit berkerut, sebentar hilang lagi kerutan nya. Entahlah aku tadi tak sengaja memperhatikan nya.


Dokter Allan menjelaskan beberapa hal terkait tugas yang telah kukerjakan. Dan untung saja aku tak perlu merevisi nya lagi. Lega sudah perjuangan ku, begadang hingga subuh terbayar sudah dengan wajah puas.


" terimakasih dokter. Kalau begitu kami pamit dulu." aku dan Nadia berdiri.


Dokter Allan mengangguk dan kami keluar dari ruangan nya.


" akhirnya Nad.  Tadi sudah harap-harap cemas. Siapa juga yang mau mengulang mata kuliahnya." aku bergelayut manja di lengan Nadia.


" dek Mila....!!! " kembali aku mendengar seseorang memanggil namaku.


Aku mengernyit, Ferdy lagi. Ada apa dia sampai berlari begitu mengejarku. Sampai ngos ngosan segala. Apa ada hal penting yang akan dia sampaikan.

__ADS_1


" untung saja masih bisa ketemu dek Mila disini." Ferdy mengatur napas nya yang masih tersengal.


" ada apa?" tanyaku


" ikut saya sebentar. Plis..." Ferdy menangkupkan kedua tangan nya memohon padaku.


Aku menoleh pada Nadia, sahabatku itu mengedikan bahu.


" Nad, kamu ga papa kan ikut aku sebentar. " tanya ku pada Nadia dan sahabatku ini tersenyum.


" apa sih yang enggak buat lu Mil. Yuk gue temenin."


" thanks you Nad."


Aku mengikuti Ferdy berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan pasien. Yang ada di pikiranku saat ini hanya satu, Om Dirga. Karena tiap kali ada Ferdy pasti disitu ada Om Dirga.


Dan benar saja dugaan ku. Ferdy berhenti di depan sebuah ruangan. Mengetuk pintu dan membuka nya.


" dek Mila, silahkan masuk." ucap ferdy. aku mengangguk menarik tangan Nadia ikut masuk ke dalam ruangan.


Aku terpaku menatap seseorang yang duduk di atas brankar. Bersandar pada kepala ranjang.


" sayang kamu datang akhirnya.... Kemarilah......"


"Hei kenapa hanya diam disitu. Apa sayang tak merindukanku." dia kembali berkata setelah aku hanya berdiam diri.


Lelaki itu tersenyum menatapku. Tidak mungkin kalau aku tidak merindukan nya. Tapi..... Bukan nya dia akan menceraikan ku. Buat apa juga sekarang dia bermanis manis didepanku. Aku masih terpaku menatapnya. Ada perban di kaki kanan dan di dahi.


" apa yang terjadi dengan Om Dirga. Kenapa..... Kenapa bisa ada disini." tanya ku penasaran.


" Kemarilah." Om Dirga menepuk nepuk kasur di sebelah nya.


Aku pun perlahan melangkah mendekati nya. Berdiri di samping ranjang. Om Dirga meraih tanganku. Tangan hangat nya menggenggam jemariku.


" aku rindu sekali padamu. Maafkan atas semua kesalahan ku."


Aku masih diam membisu.


" aku tahu telah banyak salah padamu. Maafkan atas semua ucapan serta perlakuanku. Jujur tak ada niat sedikitpun aku ingin berpisah darimu. Hanya saja keadaan yang telah memaksaku untuk memilih....... Tapi sudahlah. Semua sudah berlalu. Dan aku sudah yakin jika tak akan pernah bisa melepaskanmu. Kumohon maafkan aku. "


Aku tergagap tak tahu harus bicara apalagi. Om Dirga meremas tanganku. Kuberanikan diri menatap kejujuran di matanya. Dan aku dapat melihat itu. Sebenarnya aku pun juga tidak ingin berpisah dengan nya.


" sayang... Maafkan aku plis... Kita bisa mulai semuanya dari awal." Om Dirga masih berusaha merayuku.


" kemana saja sebulan ini. Kenapa Om Dirga tak pernah menghubungi ku sama sekali, kalau memang apa yang semua om Dirga bilang itu benar adanya. Jika memang kata perceraian itu omong kosong belaka, kenapa baru sekarang Om Dirga bicara padaku. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai semuanya. "


" sebulan ini aku.... Salahkan Ferdy tu.... Kenapa aku bisa diasingkan sebulan ini. Ah seharusnya tiga bulan. Tapi aku sudah tak bisa menahan rinduku padamu. Maka dari itu aku kabur.... "


" its... No.... No... No.. Bos... Kenapa jadi aku sih.... Ah ga seru nih bos.... Mana ada aku yang ngirim bos ke jakarta. Bos sendiri yang mau kan? Jangan percaya dek Mila.... Bukan aku pelakunya. Suer. " Ferdy mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.


Melihat mereka berdua refleks membuatku tertawa.


" oh... Jadi selama sebulan ini Om Dirga ada di Jakarta. Lalu.... Kenapa ga menelepon atau setidaknya kasih kabar ke aku. "


" kalau saja aku tau sayang menunggu telpon dariku pasti dari dulu aku sudah menelponmu sejak hari pertama aku menginjak kan kaki di Jakarta. Jadi selama ini sayang beneran merindukan ku. "

__ADS_1


" ehem.... Panas bos.....eh ini temen dek Mila dari tadi berdiri saja disini. Ayo duduk. " Ferdy berjalan menuju sofa diikuti Nadia.


Aku tau pasti Nadia bingung dengan drama yang dia lihat ini. Aku memang harus memberitahu Nadia. Bagaimanapun juga Nadia itu sahabatku dan dia melihat serta mendengar semua interaksiku dengan Om Dirga.


" jadi... Sayang sudah memaafkanku. Kita baikan? Aku janji tak akan lagi mengucap kata cerai. Maafkan aku sayang "


Bagaimana bisa aku tak memaafkan nya jika seperti ini. Aku mengangguk. Om Dirga sudah tersenyum lebar.


" makasih sayang....." diciumnya jemariku berkali kali.


" cie.. Cie... Yang baikan. Kita dicuekin. " kembali Ferdy menggoda kami.


" eh... Tunggu.... Tadi Om Dirga bilang kan sebulan ini ada di Jakarta. Tapi kok bisa jadi seperti ini bagaimana ceritanya. Om Dirga kecelakaan?"


Om Dirga mengangguk. Dan mengalirlah cerita dari mulutnya yang awal dia memutuskan pergi ke Jakarta hingga pada akhirnya mengalami kecelakaan saat pulang ke surabaya. Bahkan mengenai pembicaraanku dan Danu tempo hari, ternyata Om Dirga juga tahu. Dia tahu yang aku tak akan bisa menerima Danu lebih dari seorang sahabat. Iya.... Aku memang lebih memilih bergelar aunty nya Danu ketimbang menjadi kekasih Danu.


Aku jadi malu ternyata Om Dirga mengetahui jika aku yang sebenarnya juga sudah mulai mencintai nya. Tapi tak sekalipun aku pernah mengatakan nya. Aku pikir dengan keintiman yang sudah terjalin diantara kami, sudah membuktikan jika aku sudah menerima Om Dirga seutuhnya dalam hidupku. Tapi nyatanya perbuatan tanpa pengakuan tak berarti apa-apa. Mungkin memang lelaki itu kurang peka. Tapi ya sudahlah yang penting hubunganku dengan Om Dirga mulai membaik sekarang.


Aku harus bicara pada Bunda dan Kak Ken mengenai hal ini. Yang aku sudah memaafkan Om Dirga dan kita berdua sudah baikan. Karena Bunda juga kak Kenah orang yang selama sebulan ini telah kujadikan tempat pelampiasan kekesalanku pada Om Dirga. Mereka akhirnya tau masalahku dengan Om Dirga setelah aku menceritakan nya dari awal hingga kehadiran Danu.


Bunda masih bisa menerima dan mencoba memberikan ku semangat agar aku bisa menjalani semuanya. Lain hal nya dengan Kak Ken yang begitu marah pada Om Dirga. Bahkan kak ken sempat ingin mencari Om Dirga, untung saja aku berhasil menahan nya dan mengatakan pada kakak ku itu jika semua pasti baik-baik saja.


" Om aku pulang ya.... Sudah hampir malam. Kasian Nadia. Sedari tadi sudah nemenin aku." pamit ku padanya setelah selesai dengan pembicaraan mengenai kita berdua.


" ga mau nginap disini nemenin aku.."


" kan ada Ferdy. Besok aku kesini lagi. Okay...."


Meski cemberut tak ayal mengangguk juga. membiarkan aku pulang. Tidak enak sama Nadia harus pulang telat. Seharusnya dia sudah pulang sejak siang tadi. Tapi berhubung aku memintanya menemaniku menemui dokter Allan alhasil hingga jam segini dia masih berada disini bersamaku.


" gila lu Mil.... Gue ga nyangka ternyata lu udah merid. Kenapa enggak pernah bilang sih." Nadia sudah menodongku dengan pertanyaan nya sesaat setelah kami keluar dari kamar rawat inap Om Dirga.


Aku hanya bisa nyengir. " maaf.... Bukan nya tak ingin memberitahu statusku sebenarnya. Hanya saja kurasa memang tidak perlu ada yang tahu jika aku sudah menikah."


" tapi gue salut sama elu Mil. Sudah punya suami ganteng, baik tajir lagi... " ucapan Nadia membuatku terkekeh.


" ga segitu nya juga kali Nad. "


" by the way... Kenapa elu manggil suami dengan sebutan Om sih. Heran gue. "


" ya habis nya dia udah tua gitu.... "


" tua...? Tua apa nya. Segitu mah ga tua. Tua itu kalo seusia Pak Rusli. " aku tergelak. Pak Rusli adalah salah satu dosen kita yang usianya mungkin sudah setengah abad.


" taulah Nad.... Lidahku ini udah terbiasa dengan panggilan Om. Susah diganti. "


" elu bisa aja...... Kalau ada satu yang kayak suami elu, gue mau dong atu. "


" idih..... Yakin lu mo nikah? ."


" hehehe... Enggak sekarang juga keles....."


" yuk ah.. Pulang keburu malam. Btw thanks ya Nad udah nemenin aku seharian ini. "


" sama-sama. Ada baiknya juga gue nemenin elu. Jadi tau kan yang ternyata elu udah merid." Nadia terkikik.

__ADS_1


" kalau udah tau jangan nyebar gosip di kampus. "


" I know lahhh...... "


__ADS_2