Angkasa Dirgantara

Angkasa Dirgantara
Bab 15 - Merindumu


__ADS_3

DIRGA POV


Sudah hampir dua bulan kami tinggal di London. Sejak mama jatuh


sakit dua bulan lalu, aku memutuskan untuk memboyong papa dan mama tinggal di


London menemani Danu sesuai dengan keinginan mama.


Dan terbukti sejak kami disini semakin hari kondisi mama semakin


membaik. Itu dikarenakan mama tidak lagi kepikiran tentang Danu. Setiap hari


mama bisa melihat Danu dan mengurus semua keperluan Danu. Mungkin itu adalah


kebahagian sendiri buat mama, bisa mencurahkan kasih sayangnya pada cucu satu


satu nya.


Melihat mama bahagia akupun turut bahagia. Mama dan papa adalah


segalanya bagiku. Apapun yang diinginkan mereka selagi aku mampu mewujudkan


pasti akan kulakukan. Hanya ini bukti pengabdian yang bisa kulakukan untuk


kedua orangtuaku.


Bahkan aku rela meninggalkan karir dan perusahaan ku di Indonesia.


Untung saja aku masih di kelilingi oleh orang-orang baik yang mau membantuku.


Aku patut bersyukur dan berterimakasih pada mereka terutama dua orang sahabatku


yang dengan tangan terbuka mau membantuku disaat aku sangat membutuhkan


bantuan.


Ferdy, karyawan sekaligus asisten pribadi yang telah bekerja


denganku lebih dari lima tahun. Dialah orang yang kupercaya mengelola


perusahaan selagi kutinggalkan. Dan dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya


Ferdy mampu menggantikan posisiku untuk sementara waktu.


Daffi, rekan sekaligus sahabat baik ku. Kita selama ini selalu


kompak sebagai seorang disc jokey. Dan semenjak


aku  berada di London dialah yang kupercaya untuk mengelola night


club milik kak Bumi yang selama ini diserahkan nya kepadaku. Meski


Daffi tidak berpengalaman mengurus sebuah bisnis, tapi aku patut memberi


acungan jempol padanya. Bukti nya dia mampu menghandel segalanya meskipun masih


dibawah pengawasanku. Yang pasti Daffi orang yang sangat berjasa hingga dia


dengan suka rela mau belajar memanage kelangsungan night club itu.


-------


Ini masih pagi tapi suara dering ponsel yang amat sangat berisik


mengganggu tidurku. Mataku memicing melihat siapa yang pagi-pagi buta sudah


mengusik tidur nyenyak ku.


" Ferdy " aku mengernyit melihat nama yang tertera di layar


ponsel ku. Pasti ada hal yang penting hingga masih pagi Ferdy sudah


menghubungiku.


" ya Fer ada apa. Kenapa pagi-pagi sekali sudah


menelepon." tanya ku padanya tanpa basa basi begitu aku menerima


panggilan telpon nya.


" Mana gue tau kalo disana masih pagi. Disini udah siang


bos. "

__ADS_1


" Ada apa Fer." aku mengulang pertanyaan ku.


" Bos, ada sedikit masalah. Perusahaan dari Riau itu maunya


bos sendiri yang turun tangan. Ga mau di handel yang lain. "


" Huft... Cari masalah lagi perempuan itu. " aku


membuang nafas kasar mengingat seorang wanita yang menjabat sebagai dirut di


salah satu perusahaan di Riau. Wanita yang dengan terang-terangan menawarkan


dirinya padaku.


" Iya bos. Tapi kalau sampai perusahaan itu mengundurkan


diri dari proyek bisa fatal bos. Kita bisa rugi besar. "


" Ya aku tau. "


" Jadi gimana bos. "


" Aku akan pulang. " hanya itu yang kuucapkan.


" Yakin bos mau pulang. Tapi memang hanya itu solusi satu


satu nya. Bu Vira hanya mau sama bos. "


" Besok aku ke Surabaya. Kuselesaikan dulu semua


masalah dengan perusahaan Vira "


" Sip thank you bos. "


Ferdy mengakhiri panggilan telpon nya. Kuletakan kembali ponsel


di atas nakas. Masalah yang hampir sama dan hanya aku yang harus turun tangan


langsung. Salah satu perusahaan rekananku yang berada di Riau akan selalu


seperti itu. Alvira Hidayat, sang direktur utama tidak akan berhenti berusaha


sampai aku mau menikah dengan nya. Perempuan itu tidak pernah pantang menyerah.


sedang kujalankan, mungkin aku lebih memilih untuk tidak bekerja sama dengan


nya.


Tapi sayangnya perusahaan milik Vira punya andil yang cukup


besar untuk kelangsungan pekerjaan proyek. Ditambah lagi orangtua Vira adalah


salah satu orang penting di Riau jadi lebih mempermulus jalan nya semua proyek


disana.


Aku bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi. Sudah tidak


bisa lagi memejamkan mata meski ini masih sangat pagi.


Saat keluar dari dalam kamar aroma harum masakan telah


menyambutku.


" Pagi ma." kukecup pipi mama yang kini sedang memasak


sarapan untuk kami.


" Tumben sudah bangun jam segini."


" Gara-gara Ferdy telpon jadi tak bisa tidur lagi."


Aku duduk di kursi pantry sambil menunggu mama menyelesaikan


masakan nya.


" Memang ada apa Ferdy nelpon pagi pagi." mama menoleh


ke arah ku.


" Ada sedikit masalah di kantor. " jawab ku singkat.


" Besok Dirga pulang ke Surabaya ma. " lanjutku.

__ADS_1


" Besok? Kenapa mendadak."


" Dirga harus segera menyelesaikan masalah proyek yang


tidak bisa di handel ferdy ma. "


" Berapa lama di Surabaya." tanya mama sedikit cemas.


" Belum tau ma. Tapi Dirga usahain untuk segera menyelesaikan


masalah pekerjaan agar Dirga bisa secepatnya balik kesini. "


" Semoga masalah nya cepet beres sayang. "


" Ehm... Ma. Apakah mama masih betah tinggal disini. Dan ga


ada rencana kembali ke Surabaya. " tanya ku hati-hati takut menyinggung


perasaan mama.


Mama menghentikan aktifitas nya dan menatapku lekat.


" Dirga, mama ga tega jika harus ninggalin Danu. "


" Tapi ma... Danu sudah besar. Sudah saatnya hidup mandiri.


Sampai kapan mama akan terus mengkhawatirkan Danu seolah Danu itu adalah anak


kecil. Mama bisa lihat sendiri kan. Danu disini baik-baik saja. Tidak seburuk


seperti yang mama bayangkan. "


" Iya mama tau sayang. Kasih waktu mama untuk disini


beberapa bulan lagi. Maafkan mama harus menyusahkanmu. "


" Ma... Jangan ngomong seperti itu. Dirga sayang mama dan


kebahagiaan mama adalah segalanya. " Kuhampiri mama dan kupeluk tubuhnya.


" Kapan kamu akan menikah. Mama akan sangat bahagia jika


kamu mau menikah sayang. Biar ada yang ngurus kamu. "


" Jadi mama sudah ga mau ngurus Dirga lagi. Begitu. "


kulepas pelukanku dan menatap mama.


" Bukan begitu sayang. Tapi usiamu itu sudah tak muda lagi.


Dan mama sudah ingin menggendong cucu dari kamu. Ayolah Dirga apalagi yang kamu


tunggu. Mama yakin Mila pasti mau menikah denganmu. "


" Kok jadi Mila sih ma."


" Ya siapa lagi kalau bukan Mila. Ah ngomong soal Mila mama


jadi pingin bertemu dengan gadis itu. "


Mama mengulas senyum dan aku bisa merasakan aura kebahagiaan


yang terpancar di wajah mama.


Karena omongan mama aku jadi kangen sama Mila. Apa kabar gadis


itu. Menahan rindu berbulan bulan rasanya sudah tak sabar aku ingin bertemu


dengan nya. Meskipun Nicko, orang kepercayaan ku masih sering memberikan info


seputar Mila rasanya masih kurang jika aku tak berhadapan langsung dengan nya.


Sejak aku tinggal di London memang aku sering meminta Nicko untuk mengawasi


Camila dan Nicko akan dengan senang hati membagi info seputar aktifitas Camila


yang berhasil dia amati.


Wajah cantiknya, senyum manisnya benar benar membuatku lupa


segalanya. Bahkan akupun melupakan perbedaan usia dan satu lagi. Aku juga


melupakan jika Danu keponakanku juga begitu menyukai Camila.

__ADS_1


Inilah cinta yang begitu rumit.


__ADS_2