
" Rasya...! Darimana saja kamu?"
Lelaki berkulit putih itu menghentikan langkah menoleh sekilas pada rekan nya sambil mengedikkan bahu acuh tak acuh.
" Om Hendrawan mencarimu?"
" Om Hendra? Mencariku? Buat apa?"
" Mana aku tahu." Jawab Allan sambil berlalu meninggalkan Rasya.
Rasya, dia tadi sebenarnya sudah hampir saja berhasil menguntit Camila, tapi sayang sekali, ponsel nya yang tidak tahu diri itu berdering nyaring tiada henti. Rasya harus mengumpat berkali kali karena Allan, sahabatnya itu dengan kurang ajar nya menelpon dan menyuruh nya kembali ke Rumah Sakit. Dan saat itu juga, Rasya kehilangan jejak Camila.
Mau tak mau Rasya pun memutar balik mobil nya untuk kembali ke Rumah Sakit. Dengan segala kekecewaan karena tak berhasil mendapatkan informasi apapun tentang dokter cantik yang bernama Camila Wijaya.
Rasya cukup satu kali bertemu dan dia akan langsung terpesona pada pandangan pertama. Dokter muda berjilbab yang tak hanya cantik tapi juga anggun dimata Rasya. Membuat pria itu harus mengeluarkan kekuasaan nya untuk mencari tahu siapa sebenarnya dokter wanita yang kemarin dia tabrak hingga ponsel milik wanita itu harus meregang nyawa di atas parkiran Rumah Sakit.
Di dalam hati Raysa masih saja menggerutu, dengan berjalan gontai menuju dimana ruangan pemilik Rumah Sakit ini berada.
Dokter Hendrawan, yang tak lain adalah om nya. Lebih tepatnya adik dari almarhum papa nya. Dokter Hendrawan juga yang sudah memaksa nya agar kembali ke Indonesia dan menempatkan nya di Rumah Sakit.
Seharusnya Rasya harus mengucapkan banyak terimakasih, berkat paksaan om Hendra, pada akhirnya dia bisa berada disini dan berkenalan dengan Camila Wijaya.
Sesampai di depan ruangan Om Hedra, Rasya mengulurkan tangan mengetuk pintu berat coklat itu.
Tok... tok... tok....
Tiga kali ketukan dan dokter Hendrawan sudah mempersilahkan nya masuk.
Pintu itu terbuka, Rasya melongokkan kepala nya dan menemukan Om Hendra sedang duduk menekuri laptop di meja kerjanya.
" Sore Om" sapa Rasya yang kini telah melangkah masuk. Tak lupa ia tutup kembali pintu nya.
__ADS_1
Pria berusia enam puluh tahun itu mendongak. Kacamata yang bertengger di atas hidung nya sedikit melorot. Tatapan tajam pria berkepala sedikit botak itu tertuju pada keponakan nya.
" Ternyata kau rupanya. Kemana saja? Aku mencarimu sedari tadi."
" Maaf Om. Rasya tadi keluar sebentar. Ada sedikit urusan."
" Urusan?" kening keriput itu semakin mengkerut. Dia tak faham dengan keponakan nya yang dimata nya teramat slengekan. Padahal, Rasya, anak dari mendiang kakaknya ini adalah seorang dokter. Tapi tingkah laku nya tak mencerminkan jati diri seorang dokter.
Hendrawan menghela nafas, " duduklah," pintanya pada Rasya.
Rasya mengangguk, lalu duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangan Om Hendrawan.
" Ada apa Om mencariku?" tanya Rasya.
" Yang pasti, om ada hal yang ingin dibicarakan dengan mu."
Lelaki tua itu kini melepas kacamata nya, lalu menyimpan nya di atas meja. Berdiri dari duduk nya dengan sedikit susah payah. Maklumlah di usia tuanya ini, gangguan pinggang sering dirasakan nya.
" Rasya...! Tentunya kau tahu kenapa aku memaksamu untuk datang kembali ke Indonesia?"
Rasya hanya terdiam menatap om Hendrawan penuh tanya. " Memang nya ada apa Om. Aku pikir karena memang di Rumah Sakit ini kekurangan dokter. Oleh sebab itulah saat aku menawarkan Allan juga harus mengikuti ke Rumah Sakit ini dan Om menyetujui nya. Itu karena di Rumah Sakit ini memang kekurangan tenaga medis."
Untuk kesekian kali Hendra menghela nafas. Kali ini sedikit berat. Keponakan nya ini ternyata sama sekali tidak peka dengan apa yang ia inginkan.
" Rasya... Kau adalah satu satu nya dalam keluarga kita yang mewarisi ilmu kesehatan yang telah lama disandang oleh keluarga kita. Tentunya kau tau jika Rumah Sakit ini kelak akan jatuh ke tangan mu."
Ucapan Om nya yang menurut Rasya ambigu, membuatnya harus berpikir keras.
" Maksud Om. "
" Aku memaksamu agar kembali ke Indonesia, dan bertugas di Rumah Sakit milik keluarga kita, tak lain karena Rumaah Sakit ini akan Om serah terimakan kepadamu. "
__ADS_1
" Kenapa harus begitu. Rasya nggak mau."
Pria itu menggeleng tanda tak setuju dengan semua yang diminta oleh Om Hendra. Rasya keberatan jika harus diwarisi Rumah Sakit yang tak bisa dibilang kecil. Selama ini Rasya sangat minim pengetahuan tentang Manajemen Rumah Sakit. Karena dia tidak suka berpikir terlalu keras dalam dunia bisnis. Oleh karena itulah kenapa selama ini Rasya lebih memilih menetap di Singapore, dan menjadi seorang dokter di salah satu Rumah Sakit yang ada disana. Itu karena Rasya tidak tertarik dengan bisnis keluarga nya yang berada di Indonesia, yaitu Rumah Sakit ini. Rumah Sakit yang sudah berpuluh puluh tahun diurus oleh Hendrawan. Bahkan mendiang papa Rasya pun juga tak mau ikut campur dalam urusan manajemen Rumah Sakit milik keluarga mereka. Dan lebih memilih untuk menjadi dosen di salah satu universitas di Singapura.
" Rasya... Mau atau tidak mau, Suka atau tidak suka, Rumah Sakit ini tetap akan jatuh ke tanganmu. Siapa lagi yang bisa om andalkan selain kamu. Tidak ada kan?"
Rasya terdiam. Kali ini dia merasa kalah. Pasalnya dalam silsilah keluarga, Opa dan Oma Rasya hanya memiliki dua orang anak laki laki yaitu almarhum papanya dan Om Hendra. Sementara Om Hendra hingga di usia senjanya, tak memiliki anak. Karena setelah istri om Hendra meninggal, beliau memutuskan untuk tidak menikah lagi. Padahal waktu itu mereka belum dikaruniai seorang anak.
Dan selama ini, di Indonesia Om Hendra hanya tinggal dengan kakak perempuan Rasya yang bernama Jacklyn. Kak Jacy lah yang telah mengurus om Hendra selama ini. Akan tetapi karena kak Jacy tidak ada basic di dunia kesehatan, sudah dapat dipastikan kakak perempuan Rasya itu juga tak akan mau dibebani tugas tentang Rumah Sakit ini.
" Om... Jadi, Rasya tak ada pilihan menolak?" Rasya masih berusaha memastikan sekalipun dia sendiri tahu bahwa inilah keputusan final Om Hedra.
Hendrawan menggelengkan kepalanya.
" Tidak ada pilihan lain, Rasya."
" Tapi aku keberatan Om. Aku tak tahu menahu tentang bisnis. Apalagi tentang managemen Rumah Sakit."
" Kau bisa belajar."
" Aku sudah capek belajar."
" Jika seperti itu kau bisa mencari partner."
Rasya berpikir sejenak." Partner... jika Allan bagaimana menurut Om? "
" Itu kalau Allan mau. Dan om tidak yakin jika sahabatmu itu mau menjadi partnermu. Allan itu warga negara Singapura. Dan suatu ketika paati dia akan kembali ke negara asalnya. "
Rasya mengangguk paham, apa yang dikatan Om Hendra benar adanya. Lantas, siapa yang bisa dia jadikan partner dalam hal ini.
" Carilah istri, dan kau bisa menjadikan nya partner sejati. " Celetuk Om Hendra sukses membuat Rasya membelalakkan matanya.
__ADS_1