
" Bos...! Pulang liburan kenapa muka nya kusut begitu?"
Ferdy si tukang kepo langsung angkat bicara begitu mendapati Bos Dirga masuk ke dalam ruang kerja dengan muka ditekuk. Ini masih seperti hari - hari sebelum nya dan seharusnya Ferdy paham. Hanya saja yang membuat Ferdy terheran, bukankah bos Dirga baru saja berlibur bersama keluarga tercinta, bisa bertemu kembali dengan dek Mila. Tapi hari ini raut muka Dirga tetap saja buruk seperti biasa nya.
" Memang nya begitu terlihat ya Fer?".
" iyalah. Kalau tidak terlihat aku tak mungkin komen, bos. Lagian hal apalagi yang membuat bos Dirga bermuka masam pagi - pagi seperti ini. Tidak dapat jatah dari istri? "
Ferdy menarik turunkan alisnya menggoda Dirga. Spontan bolpoin yang ada di atas meja Dirga sudah terlempar begitu saja. Siapa lagi pelakunya jika bukan Dirga. Untung saja dengan sigap Ferdy dapat menangkap nya.
" Weew...bos, galak amat. "
" Bisa diem nggak."
" Sorry Bos."
" aku lagi pusing."
" Pusing kenapa? Dek Mila hamil lagi bos."
Dirga sudah melotot.
" Sorry... Sorry... Bos...."
" Kau tahu, saat di Jakarta kemarin, aku bertemu dengan seorang dokter yang juga satu Rumah Sakit dengan Mila. Dan parahnya .... " Dirga menjeda kalimatnya. Karena tiap kali mengingat Rasya, emosi Dirga sudah langsung naik begitu saja.
" Argh.... Sial." tiba-tiba Dirga mengumpat membuat Ferdy terkaget - kaget dibuatnya.
" Bos... Bos... Sabar. Ayo cerita. Saya akan menjadi pendengar setia. "
" Namanya Rasya. Ya, dokter Rasya. Dan kau tahu bagaimana lelaki itu saat menatap Camila."
" Jangan bilang dokter itu menyukai dek Mila."
" Mungkin saja. Karena hanya dengan melihat caranya menatap Mila sudah membuatku jengah. "
" Wah kasus bos... "
" Dan hari ini, Mila sudah harus kembali bekerja. Itu artinya dia akan bertemu dengan si Rasya itu di Rumah Sakit. Hal itulah yang membuatku tak tenang. "
" Bos cemburu? "
__ADS_1
" Menurutmu? "
" Iya sih. Mana ada lelaki yang mau istrinya disukai lelaki lain. Jangankan sama si dokter itu tadi. Sama aku saja bos masih saja cemburu. "
" Ya itulah kamu, si Rasya sama saja. Mengagumi istri orang tanpa lihat-lihat suasana. "
Ferdy tergelak." Ya jangan salahkan aku bos. Mata ini tak bisa berbohong Jik sudah melihat wanita cantik dan bening kayak dek Mila. "
" Fer....! "
" Asiap bos. "
" Apa saja jadwal ku hari ini. "
" Sesi curhat nya sudah selesai bos? "
" Sudah. Curhat sama kamu itu tidak menemukan solusi, yang ada justru membuat kepalaku semakin pusing. "
" Itulah resiko karena Bos tidak mau berbagi."
" Ferdy... Sudah sebaiknya kamu keluar saja. Kepalaku semakin pusing mendengar ocehan mu. "
" Ya. "
Setelah Ferdy keluar dari ruang kerjanya, Dirga memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Apa iya dia terlalu berlebihan cemburu pada istri nya.
Tapi Dirga tidak mampu membohongi hati kecilnya jika dia tidak rela, Camila bertemu dengan Rasya. Apalagi tingkah laku Rasya yang Dirga sendiri sudah tahu seperti apa.
Saat mengetahui hari ini Camila sudah harus mulai bekerja, sungguh Dirga ingin sekali menarik istri nya agar tidak lagi berangkat ke Rumah Sakit itu. Tapi Dirga tak mampu melakukan nya. Terlebih hingga detik ini pun istri nya sama sekali tidak pernah bercerita mengenai dokter Rasya. Haruskah dia dulu yang memulai nya untuk bertanya pada Camila.
***
Hari pertama bekerja setelah dua minggu lamanya tidak bertugas di Rumah Sakit ini membuat pekerjaan Camila menumpuk. Ditambah lagi setelah jam kerja nya usai, dia harus menghadiri acara pelantikan Rasya sebagai pimpinan Rumah Sakit yang baru.
Dan malam nya Camila sudah langsung pergi ke kampus tanpa ada waktu untuk pulang terlebih dahulu.
Parahnya lagi, saat Camila sudah selesai kuliah dan berniat pulang, mobil nya tidak bisa dia nyalakan. Rasanya ingin menangis saja. Kondisi juga sudah malam hampir jam sembilan. Camila masih berusaha tapi tetap saja mobil nya tak mau menyala.
Diambil ponsel dari dalam tas nya berniat untuk menghubungi suaminya. Tapi kesialan nya kali ini bertambah lagi. Ponsel nya mati. Astaga.
Mila lupa mencharger ponsel nya. Terakhir ia gunakan saat dia akan menghadiri acara pelantikan Rasya. Camila menelpon Dirga mengabarkan pada suaminya jika hari ini dia akan langsung pergi kuliah. Selama di Jakarta, Mila hanya menjalani kuliah via online saja.
__ADS_1
Camila menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Dengan mata terpejam dia berusaha mencari cara bagaimana caranya dia bisa pulang ke rumah. Seperti nya ia memang harus naik taxi saja.
Turun dari dalam mobil tak lupa membawa tas serta berkas - berkas miliknya yang perlu ia bawa. Dia tinggalkan saja mobil di area parkiran. Dengan sedikit terseok berjalan menuju gerbang keluar kampus untuk mencari taxi yang mangkal atau yang lewat.
Astaga! Sungguh Camila merutuki kesialan nya. Tiba di depan pintu gerbang yang tampak sepi karena hari memang sudah malam. Sedikit takut - takut Camila menoleh ke kanan dan kiri. Di pos security pun tumben - tumben nya tidak ada satpam yang berjaya karena pos tampak kosong.
Apa yang harus ia lakukan sekarang, taxi yang mangkal pun tidak terlihat.
Tin Tin Tin
Suara klakson sebuah mobil mengagetkan Camila dari kebimbangan nya. Mobil pajero sport berwarna putih berhenti di hadapan nya.
Mila mengernyit kan kening, sedikit takut semoga saja bukan lah orang jahat yang ingin mengganggu nya. Camila sudah mengambil ancang - ancang saat kaca mobil terbuka.
" Dokter Camila!"
Camila menatap intens seorang lelaki yang berada di balik kemudi mobil tersebut.
" Dokter Rasya...!"
Rasya turun dari dalam mobil, mengitari mobil dan berdiri tepat di hadapan Camila.
" Dokter Camila, malam - malam kenapa ada disini? "
Camila menghela nafas. Harus kah ia jujur saja jika mobil nya mogok.
" Mobil saya mogok di dalam. Mungkin karena lama tidak saya pakai."
" Owh begitu. Ya sudah begini saja, bagaimana kalau dokter Camila saya antar pulang. "
Oh tidak, tidak mungkin dia pulang bersama Rasya. Dunia akan jadi apa jika sampai suaminya tahu dia pulang bersama seorang pria. Belum lagi ponsel nya yang ternyata mati. Pasti suaminya saat ini juga sedang panik menunggu nya pulang.
" Dokter Camila...." kembali Rasya memanggil dokter cantik di hadapan nya karena Camila masih saja terdiam.
" Eum... Terimakasih tawaran nya. Tapi saya naik taxi saja."
" ini sudah malam, tidak baik perempuan naik taxi sendirian. Lagi pula... Sedari tadi saya tidak melihat ada taxi yang lewat barang satu pun disini."
Ya, Rasya benar. Camila pun tak melihat ada taxi yang lewat.
Tanpa menunggu persetujuan Camila, Rasya sudah membuka pintu mobil nya, mengulurkan tangan untuk meminta Camila masuk.
__ADS_1