
" Bos Dirga....! " panggil Ferdy yang kini berdiri di ambang pintu ruang kerja Dirga yang terbuka.
Dirga memang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya setelah ia selesai makan siang bersama klien nya.
Dirga mendongak menatap Ferdy lalu menyuruh nya masuk. Ferdy pun kini duduk berhadapan dengan Dirga, meja kerja Dirga sebagai pemisah keduanya.
"Ada apa?"
" Eum... Bos ada acara tidak nanti malam?"
"Memang nya kenapa?" tanya Dirga balik.
"Kalau bos Dirga tak ada acara aku ingin mengundang Bos Dirga beserta keluarga."
Dirga tampak berpikir sejenak lalu menggeleng.
"Malam ini kami Free. Mila pun juga shif pagi hari ini, jadi sore sudah pulang. Memang ada acara apa hingga kau mengundang kami."
Ferdy tersenyum, membenarkan posisi duduk nya agar lebih nyaman karena dia akan bercerita banyak pada bos nya.
"Jadi begini bos, nanti malam akan ada acara pertunangan nya anak pertama Hana yang juga anak tiriku."
"Apa? Anaknya Hana?"
Ferdy mengangguk. "Iya, anak nya Hana."
"Memang nya anaknya Hana ada disini. Bukan nya di kampung?"
" Itulah Bos. Aku dan Hana juga belum lama tau jika ternyata anak pertama Hana bekerja didaerah sini."
"Sebentar. Aku gagal paham. Bagaimana mungkin kalian baru tahu?"
Ferdy tahu pasti Dirga juga heran. Sepertinya memang Ferdy harus bercerita pada Dirga.
"Jadi begini bos. Saat Hana dulu bekerja di tempat bos, anak pertamanya itu memang ada di kampung, tinggal bareng orangtua Hana. Tapi kemudian, keluarga mantan suami Hana, mengambil anak itu. Hana hanya mengalah, yang penting anak nya terurus dengan baik."
__ADS_1
Dirga terdiam sejenak. Dia baru tahu cerita mengenai anaknya Hana. Selama sepuluh tahun Hana bekerja dengan nya, babysitter nya itu memang sedikit tertutup akan masalah pribadinya. Yang Dirga tahu hanyalah Hana seorang janda dan mempunyai satu orang anak perempuan. Itu saja.
"Oleh sebab itulah bos. Saat aku dan Hana dulu menikah, anak nya Hana juga tidak datang karena dari keluarga mantan suami Hana melarangnya."
Oh, pantas saja. Dirga memang belum pernah melihat anak nya Hana itu seberapa besarnya dan bagaimana rupanya.
Lalu Ferdy melanjutkan cerita nya." Meskipun saat ini anak nya Hana sudah bekerja, akan tetapi dia tidak mau aku minta tinggal bersamaku juga Hana. Dia memilih untuk mengontrak rumah sendiri."
"Lalu, acara perutunangan nya diadakan dimana?" tanya Dirga penasaran.
" Di rumahku. Awalnya anak Hana menolak. Tapi aku memaksa nya. "
"Siapa calon suami anak nya Hana? "
"Entahlah bos. Aku juga tidak paham. Aku pun juga tau hanya dari cerita Hana saja. Kata Hana calon suami anaknya memang orang asli sini yang berprofesi sebagai seorang dosen. Dan itulah kenapa anak nya Hana bisa bekerja disini itu juga karena calon suaminya yang mencarikan tempat. "
" Seperti itu rupanya. Sedikit rumit memang. Tapi itulah namanya kehidupan. "
" Iya Bos. Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan dengan masa lalu Hana. Dan aku pun dengan lapang dada akan menerima kehadiran anak nya Hana. Akan tetapi mungkin dia sendiri yang belum ingin menerima kehadiranku."
"Kau yang sabar Fer."
"Nanti malam aku akan usahakan untuk hadir di acara itu."
" Terimakasih Bos."
****
Malam hari nya, Dirga yang sudah rapi begitupun Camila yang tampak anggun dan cantik. Dirga melingkar kan tangan nya di pinggang sang istri. Satu kecupan singgah di pipi.
" Cantik sekali.... " puji Dirga pada istri nya.
" Kan memang dari dulu cantik...." Mila tertawa.
Lalu keduanya bergandengan tangan keluar dari dalam kamar. Je sudah menunggu papa dan mama nya dengan duduk di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Pemuda itu tak kalah tampan nya dari sang papa. Mengetahui kedua orang tuanya keluar dari dalam kamar, Je segera beranjak berdiri. Menjulang di hadapan mereka berdua. Bahkan tinggi Je sudah melewati tinggi papa Dirga.
"Ayo kita berangkat," ajak Dirga.
Mereka bertiga memasuki mobil dengan Dirga sebagai sopir nya. Je tampak tenang duduk di bangku tengah. Pemuda itu sibuk memainkan ponsel nya. Sudah lama juga dia tak bertemu mbak Hana. Apalagi sekarang mbak Hana sudah memiliki anak perempuan. Yang membuat Je malas adalah anak perempuan mbak Hana yang masih berusia lima tahun itu, tiap kali melihatnya pasti akan merengek manja kepadanya.
Mobil Dirga memasuki halaman rumah Ferdy. Sudah ada beberapa mobil yang terparkir disana.
"Pa, apa acaranya sudah dimulai? Kelihatan nya sudah ramai begitu." tanya Camila.
"Jikalau sudah dimulai tidak masalah. Yang penting kita berdua datang. Ayo kita turun."
Mereka bertiga turun dari dalam mobil. Camila dengan tangan yang sudah melingkar di lengan Dirga sementara Je berjalan disisi mamanya. Mereka masuk ke dalam rumah Ferdy yang sudah tampak ramai. Mungkin saja kebanyakan dari tamu yang Ferdy undang adalah keluarga besar mereka.
Ferdy yang mengetahui kehadiran bos Dirga bersama keluarga nya tersenyum lebar lalu tergesa menghampiri mereka.
" Malam, Bos."
"Hai Fer. Hana mana?"
"Ayo bos. Masuklah dulu."
Ferdy mempersilahkan mereka masuk. Dan saat itulah Hana pun menyadari kehadiran Dirga sekeluarga.
Segera menghampiri mantan majikan nya dan mereka saling bersalaman. Bahkan kini Je sudah memeluk Hana, karena tentu saja Je rindu sekali dengan orang yang dulu menjadi pengasuh nya.
"Je, Aku rindu sekali padamu. Bagaimana mungkin kau sudah setinggi ini." Hana memukul dada Je, karena pemuda itu begitu tinggi menjulang. Bahkan tinggi Hana hanya sebatas bahu Je. Sudah berbulan- bulan mereka tidak bertemu karena kesibukan Hana hingga tak ada waktu untuk sekedar main ke rumah Camila.
" Mbak Hana kenapa tidak pernah lagi main ke rumah?"
" Maaf, karena Mbak Hana terlalu repot juga ngurusin cinta. Jadi nya belum ada waktu untuk main kesana. Jika kamu ada waktu, main - mainlah kesini. Pasti Cinta juga sangat senang bertemu kamu Je."
Je hanya nyengir. Cinta yang tak lain adalah anak Hana dan Ferdy, terlalu agresif jika bertemu dengan nya. Padahal usianya baru lima tahun, membuat Je selalu bertanya-tanya darimana bibit kecentilan dan keagresifan Cinta berasal.
" Bos, ayo silahkan duduk. Sebentar lagi acaranya akan dimulai." ucap Ferdy menyela perbincangan mereka.
__ADS_1
Dirga pun mengangguk setuju lalu membawa Mila untuk duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan. Je pun negikuti kedua orangtua nya. Tak lama seorang pelayan datang mengantarkan minuman untuk mereka.
Dirga menyesap minuman nya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Rumah Ferdy yang cukup luas ini didesain sedemikian rupa untuk acara pesta pertunangan. Seperti nya memang hanya keluarga dekat saja yang Ferdy undang karena Dirga tak mengenali tamu Ferdy yang sedang berada di rumah ini. Hingga seorang perempuan dengan kebaya berwarna peach keluar dari dalam, dengan Hana berada di sebelah nya.