
Nathalie Pov
Edinburgh Castle adalah benteng bersejarah yang mendominasi langit kota Edinburgh, Skotlandia. Benteng ini berdiri di atas bekas gunung berapi yang disebut Castle Rock. Arkeolog memperkirakan manusia telah menduduki tempat tersebut paling tidak semenjak Zaman Besi (abad ke-2), walaupun jenis permukiman saat itu masih belum jelas. Istana kerajaan telah berdiri paling tidak dari masa David I pada abad ke-12 dan terus menjadi kediaman kerajaan hingga Penyatuan Mahkota Inggris dan Skotlandia pada tahun 1603. Semenjak abad ke-15, peran residensial istana ini telah berkurang, dan pada abad ke-17 kastil ini digunakan sebagai barak militer. Kepentingannya sebagai warisan nasional Skotlandia diakui dari awal abad ke-19, dan berbagai program restorasi telah dilancarkan. Sebagai salah satu benteng terpenting Kerajaan Skotlandia, Istana Edinburgh terlibat dalam banyak konflik bersejarah dari Perang Kemerdekaan Skotlandia pada abad ke-14 hingga Pemberontakan Jakobit pada tahun 1745.
Satu minggu sudah aku berada disini. Tidak hanya untuk sekedar travelling melainkan untuk menjalankan tugas. Berkeliling eropa bersama rombongan travel dari Indonesia. Bertemu dengan orang-orang dari negara itu mengingatkanku pada seseorang juga pada keluarga besarku yang tinggal di Indonesia. Jujur aku sangat merindukan mereka.
Tujuh bulan sudah aku berkelana keliling dunia. Tepatnya semenjak kepulanganku dari Indonesia selepas perkawinan Camila. Aku telah memutuskan untuk memulai kehidupan baru. Bekerja sebagai seorang tour guide.
Dan pekerjaanku inilah yang telah membawaku mengunjungi tempat tempat wisata di seluruh dunia. Pekerjaan yang sangat menyenangkan bagiku meskipun kadang tak bisa dipungkiri jika rasa capeknya pun juga luar biasa.
Akan tetapi dengan pekerjaan yang kugeluti saat ini sedikit mampu menghiburku. Melupakan ku akan kejadian kejadian tempo hari.
Semoga jalan yang telah kuambil ini adalah jalan yang terbaik. Dan aku selalu berharap dengan apa yang kulakukan saat ini mampu membuatku menjauh dari seseorang.
Seorang lelaki lebih tepatnya. Lelaki yang telah banyak mempengaruhi hidupku. Daffi Juliandra, entah kenapa nama nya , bayangan wajahnya susah sekali aku hilangkan dari ingatanku. Padahal aku sudah bersikeras untuk menghapus memori tentang dirinya.
Bukan nya aku membenci Daffi, tidak sama sekali. Justru aku merasa sangat malu padanya. Aku merasa menjadi wanita yang tak ada harga nya , tak ada malunya bahkan....ah sudahlah . Aku merasa hina dengan semua yang telah aku perbuat dulu. Dan sial nya lagi kenapa aku harus menyeret Daffi dalam hidupku.
Kupejamkan mataku. Kilasan-kilasan masa lalu muncul kembali di ingatanku . Betapa aku yang patah hati melihat Kak Dirga yang menikah dengan saudara perempuanku, Camila Wijaya. Mungkin karena saat itu aku merasa begitu terobsesi dengan Kak Dirga hingga dengan tidak tahu malunya aku menyodorkan diriku untuk menggantikan posisi Camila. Dan parahnya lagi dengan terang terangan Kak Dirga menolak ku.
Aku sakit hati, sedih dan patah hati. Kesalahan terbesarku adalah kenapa aku harus melampiaskan nya pada alkohol. Aku mabuk dan Daffi dengan baik hatinya justru kupaksa untuk menemaniku minum. Daffi itu sebenarnya baik diluar dari sifat nya yang menyebalkan itu. Entahlah kenapa lelaki itu selama ini dengan begitu gencarnya menggodaku dan mengejar ngejarku meski dengan jelas aku tak suka dengan perbuatan nya. Daffi tetap saja tak patah semangat dan tetap berlaku baik terhadapku.
Hingga kejadian malam itulah yang membuatku lari dan semakin lari menjauh darinya. Daffi lelaki baik dan bertanggung jawab. Setelah kejadian itu Daffi terus mencariku menawarkan sebuah pertanggung jawaban yang aku tau begitu tulus dia lakukan.
Tapi aku tak bisa menerima kebaikan nya. Aku terlalu malu padanya. Semua karena salahku dan bukan kesalahan nya. Aku merasa tak pantas mendapat kebaikan nya. Oleh karena itu kuputuskan untuk menjauh darinya. Menghilang dari jangkauan nya . Bahkan dengan tega aku memblokir nomor telpon nya. Memutus akses nya agar tidak bisa menghubungi atau mencariku.
Aku tau jika tindakanku itu telah melukai Daffi. Tapi hanya inilah jalan yang terbaik. Aku tidak mau menyeret Daffi semakin dalam pada hidupku. Daffi lelaki yang baik tapi aku belum bisa memberikan cintaku padanya dan aku tidak ingin memberi harapan palsu padanya. Daffi berhak menemukan kebahagian nya sendiri dan dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku dan yang mampu mencintainya dengan tulus. Aku menganggap apa yang telah terjadi antara aku dan Daffi hanyalah sebuah kesalahan semata. Kesalahan satu malam yang biarlah aku sendiri yang akan menanggungnya.
******
Satu nama yang kuingat saat ini. Camila. Aku kangen padanya. Kuambil ponselku dari saku celana. Mencari kontak Camila. Mendial nomornya lewat aplikasi video call melalui whatsapp.
Wajah Camila terpampang jelas di layar ponselku . Aku tersenyum lebar. Kangen banget pada nya.
" hai....Mila.....miss you...." kulambaikan tanganku padanya.
__ADS_1
" Nath......." wajah Camila berkaca kaca
" kemana aja kamu. Kenapa baru selarang menghubungiku. " ucapnya lagi.
" eum...maaf jika aku baru bisa menghubungimu. Aku lagi di scotland sekarang. "
" apa ? Hei kenapa kamu bisa ada disana ? Keliling eropa ?"
Aku mengangguk.
" aku jadi tour guide sekarang. "
" oh ya kah ? Kok bisa ?"
" ya bisalah.... eum...ini aku lagi bawa rombongan dari Indonesia. Kapan kapan kita bisa kesini kalau kamu mau. "
" kamu enak bener bisa keliling dunia sekarang . "
Aku hanya nyengir
" apa kabarmu Mil.."
" bunda, Kak Ken, Kak Danisha apa mereka semua sehat. Aku kangen masakan bunda." Tanyaku bersemangat.
" alhamdulillah mereka semua sehat."
" syukurlah kalau begitu. Eh kalau kak Dirga. Dia baik baik juga kan..... kudoakan ya Mil semoga kalian berdua selalu berbahagia. Jika kulihat kak Dirga itu memang cinta sama kamu. Yah meskipun alasan dia menikahimu karena mama nya. Tapi aku yakin sekali jika sebenarnya dia memang asli suka sama kamu Mil. "
Kulihat raut muka Camila berubah sendu.
" Mil... kamu kenapa.... Are you okay.... " tanya ku khawatir.
" aku mau cerai sama Om Dirga. "
__ADS_1
" what? Cerai? Hei jangan becanda. "
" aku ga becanda Nath. "
" terus..... Gimana bisa tiba-tiba mau cerai. "
" Om Dirga yang mau nyeraiin aku."
" kok bisa?" tanya ku penasaran.
Aku menyimak dengan serius apa yang Mila ceritakan. Entah kenapa aku jadi merasa geram dengan mereka berdua Om dan keponakan sama saja tak punya hati.
" Sialan memang si Danu. Jadi intinya semua karena Danu kan ?. "
Aku tak habis pikir dengan teman masa kecilku itu. Kenapa sampai tega mau memisahkan Om Dirga dan camila. Secinta cinta nya Danu pada Mila tak sepatutnya dia seperti itu. Harusnya Danu mengalah toh di dunia ini masih banyak juga wanita yang bisa dia cintai.
" aku harus bicara sama Danu." ucapku.
" buat apa Nath."
" seenggaknya buat nyadarin dia jika Cinta itu tak bisa dipaksakan. Harusnya dia sadar siapa kamu siapa Kak Dirga. Dan kak Dirga pun enggak seharusnya dengan mudah mau nyerain kamu dan nyerahin dirimu ke Danu. Memang tidak punya otak semua."
" sabar Nath. Toh aku juga sudah bicara sama Danu. Aku tak mungkin bisa bersama dengan nya sekalipun Om Dirga lebih milih pisah sama aku. "
" terus Danu bilang apa."
" entah Nath aku tak tahu aku pusing memikirkan jalan hidupku. Seharusnya dulu aku tak pernah mau menerima Om Dirga jika tau begini jadinya. "
" Mila yang sabar ya. Semua pasti ada jalan keluarnya. Ntar kubantu bicara sama Danu. "
" thanks you Nath.... Eh Nath sudah dulu ya aku tutup telpon nya. Masih di kampus ini. Nanti kita sambung lagi. Oke. "
" ops kamu masih di kampus? Okay okay..... Ya sudah salam buat bunda sama kakak Ken dan kak Danisha... Love you Mil.... "
" Love you too Nath....."
__ADS_1
Aku tersenyum menyimpan kembali ponsel ku.
Teringat kembali pada Danu sepertinya memang aku harus bicara pada nya. Kasian Mila masak iya masih muda sudah mau jadi janda..