
Tak terasa satu tahun berlalu, kini Je sudah naik ke kelas sebelas. Dalam kurun waktu satu tahun itu, Je hanya mengagumi Bu Sofia dalam diam. Hanya sebatas mengagumi dan tidak berlebihan. Tingkah laku Je juga masih dalam tahap kewajaran. Hingga teman-teman nya pun tidak ada yang tahu atau curiga jika sebenarnya Je mengagumi Bu Sofia dalam diam nya.
Hanya Kenzo satu satunya orang yang tak bisa Je kelabuhi. Bahkan sepupu nya ini tak segan-segan menggoda nya dengan menyematkan nama Bu Sofia.
Dan gara-gara hal itu, pernah suatu ketika Kenzo keceplosan dan sanggup membuat mama ila murka pada Je.
Flasback
" Jadi benar, kamu menyukai gurumu itu Je?" cerca mama nya.
Je terdiam, tak berani menjawab mama nya yang sedang dalam kondisi diliputi amarah.
" Guru yang bernama Bu Sofia itu kan? Sebenarnya mama sudah curiga sejak dulu. Dan mama tahu jika kamu dan papa itu bersekongkol. "
Dirga yang mendengar nama nya disebut segera angkat bicara.
" Sayang ... kenapa aku dibawa - bawa."
" Itu karena papa tahu yang sebenar nya jika Je menyukai Bu Sofia. Tapi papa justru mendukung Je. Bukan nya melarang. Kau kan tahu Pa, anak kita masih kelas satu SMA. Haruskah dia menyukai guru nya sendiri. Astaga, Pa! Aku benar - benar tak tahu lagi harus berbuat apa. "
Setelah mengatakan itu, Mila meninggalkan Dirga, Je, dan Kenzo. Ketiga pria yang hari ini menjadi terdakwa.
Mila memilih masuk ke dalam kamar lalu memgunci pintunya. Dia butuh menenangkan diri sekarang. Bagaimana mungkin anak lelaki satu- satu nya yang ia banggakan sanggup berbuat hal demikian. Sebenarnya tidak ada yang salah dari sikap Je. Hanya saja Camila tak bisa menerima jika putra nya yang baru beranjak remaja harus menyukai wanita yang lebih tua dan parahnya lagi adalah guru nya sendiri.
Mila memijit pelipis nya. Pusing yang mendera membuatnya memilih tidur saja.
Dan sejak kejadian itu, Mila benar-benar mendiamkan anak dan suaminya. Tak lagi banyak bicara bahkan lebih sering menghindari mereka.
Gara - gara sikap mamanya, membuat dua pria itu kelimpungan. Dirga, lelaki itu mana bisa didiamkan istri nya seperti ini. Bahkan sampai berhari - hari lama nya. Bisa gila jika ia tidak segera merayu kembali istri nya.
"Sayang, Ayolah. Jangan seperti ini. Aku bisa gila jika kau terus saja mendiamkanku. Aku janji akan melakukan apapun asalkan kau mau memaafkanku."
__ADS_1
Dengan sengit Camila menatap Dirga.
" Aku akan memaafkanmu, Pa. Tapi dengan satu syarat. Pastikan Je tidak lagi menyukai guru nya itu. Dan kamu sebagai papa nya harus terus mengawasi Je. Aku tidak mau Je terjerumus semakin dalam pada cinta monyet nya itu. Je itu masih beranjak remaja, Pa. Mana mungkin dia harus menyukai gurunya seperti itu. Aku sungguh tak sanggup untuk mempercayainya. "
Dirga menghela nafas." Baiklah sayang. Aku akan menuruti semua permintaan mu. "
" Kamu harus membuktikan nya kepadaku, Pa. Jangan hanya omong kosong saja. Apalagi jika kamu sampai mendukung Je segala. Akan kupastikan papa puasa sampai tahun depan. "
" Apa? Yang benar saja? Sayang, jangan menyiksaku lebih lama lagi. Aku janji akan memastikan Je tak lagi menyukai Bu Sofia. "
" Aku pegang janjimu, Pa. "
Sementara itu, Je sudah kelabakan karena mamanya mendiamkan nya. Tentu Je merasa bersalah. Selain itu Je juga merasa kehilangan kasih sayang dari mama nya.
Di suatu malam, Je yang mendapati mama sedang menonton televisi, mendekati mama nya dengan ragu.
" Ma ... Je minta maaf. Je tahu jika sudah mengecewakan mama. Je janji tidak akan lagi mengejar - ngejar Bu Sofia. Asalkan mama janji untuk tidak lagi mendiamkanku seperti ini."
Dengan malas Mila menoleh dan menatap putra nya. Wajah Je yang tampak memelas membuat Mila tidak tega. Tapi dia sungguh kecewa pada putranya ini. Rasa kecewa nya hingga ke dasar hati yang paling dalam.
Mila menghela nafas lalu berkata." Mama akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat. Jangan lagi kau menaruh hati apalagi sampai mengejar- ngejar Bu Sofia."
" Je paham, Ma. Dan Je minta maaf. Je janji tidak akan lagi menyukai Bu Sofia."
Je akui ia menang salah. Tak seharusnya dia mengagumi Bu Sofia.
Apalagi sampai membututi atau menjadi stalker Bu Sofia.
Seperti yang Je pernah lakukan waktu itu. Saat ia mengikuti Bu Sofia yang sedang menaiki mobil grab, karena Bu Sofia akan mengambil mobil di bengkel. Dan parahnya Bu Sofia mengetahui jika Je membututi nya.
Je sangat malu luar biasa karena ketahuan oleh guru nya itu. Dan sejak saat itu juga karena janji Je pada mama nya, pemuda itu berusaha untuk bersikap biasa saja pada Bu Sofia. Seolah seperti dia tak memiliki rasa apapun pada gurunya itu. Padahal dalam hati, Je mengatakan jika masih mengagumi Bu Sofia.
__ADS_1
Flasback end.
***
Saat ini di kelas sebelas , Bu Sofia masih saja menjadi guru matematika. Karena memang tugas Bu Sofia adalah mengajar satu mata pelajaran yaitu Matematika, untuk kelas sepuluh dan sebelas.
Je merutuki dirinya sendiri. Dia pikir saat kelas sebelas, dirinya tak lagi diajar oleh Bu Sofia, sehingga niatnya untuk tak lagi menjadi pengagum rahasia Bu Sofia gagal sudah.
Bagaimana mungkin Je mengenyahkan begitu saja perasaan suka nya, jika setiap kali dia masih saja melihat dan berinteraksi dengan Bu Sofia. Apalagi setiap melihat Bu Sofia yang berdiri di depan kelas sedang menjelaskan pelajaran, sungguh perhatian Je hanya tersedot pada Bu Sofia seorang.
Je merasa bersalah pada mama nya karena dia tak bisa menepati janjinya pada sang mama. Sekalipun Je sudah berhenti menjadi stalker Bu Sofia, tetapi rasa kagum nya pada perempuan itu tak bisa Je hilangkan begitu saja. Padahal Je sudah berjanji pada mama nya untuk tak lagi menyukai Bu Sofia.
Huft, Je menghela nafas hingga panggilan namanya membuat pemuda itu mendongak. Menatap guru perempuan yang kini juga sedang menatapnya dalam.
" Jaghad." sekali lagi Bu Sofia memanggil nama Je.
" Ya, bu."
" Ayo kamu maju ke depan. Kerjakan soal yang tadi rumus nya sudah ibu ajarkan."
Matilah aku! rutuk Je dalam hati. Sedari tadi dia tak memperhatikan saat Bu Sofia menjelaskan, karena Je sibuk dengan pemikiran nya sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi dia tetap harus maju kedepan. Karena dia tetap harus menjafi lelaki gentle. Salah atau benar apa yang akan ia kerjakan nanti urusan belakangan. Yang terpenting dia harus menurut dengan apa yang ibu gurunya perintahkan.
Dengan mantap Je maju ke depan kelas diikuti oleh tatapan beberapa pasang mata. Tubuh Je yang menjulang karena ia adalah salah satu pemain basket andalan sekolah, ditambah wajahnya yang tampan mampu membuat perempuan terpana, tak terkecui Bu Sofia.
Je ini beda dari murid nya yang lain. Tidak pernah slengekan. Tidak banyak bicara akan tetapi nilai- nilai nya selu fantastis dan memuaskan, membuat Sofia berdecak kagum pada sosok yang kini sedang serius mengerjakan soal yg tadi ia berikan.
Sofia menatap Je yang sedang serius menuliskan rumus dan angka di papan tulis. Cara yang Je buat untuk menyelesaikan soal sebenarnya tak sedetail seperti yang tadi ia ajarkan. Tapi apa yang Je kerjakan itu pada dasar nya sama dengan rumus yang Sofia ajarkan . Dan ini dalam versi singkatnya. Hasil akhirnya pun sebenarnya sama.
Setelah Je selesai mengerjakan tugas nya, pemuda itu menatap Sofia, tetap dengan muka tanpa ekspresi ya Je berkata. " Sudah selesai Bu. Silahkan anda cek lagi."
__ADS_1
Je berlalu kembali ke tempat duduk nya.
Sofia menghela nafas. Lalu dia mulai menjelaskan kepada seluruh murid nya jika apa yang Je kerjakan ini sebenarnya tidak ada yang salah. Memang benar seperti itu. Hanya saja yang Je pakai adalah cara pintas. Dan Sofia tetap menginginkan agar murid-murid nya mengerjakan soal itu sesuai dengan cara dan rumus yang ada, dan yang tadi ia jelaskan.