Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Terpuruk


__ADS_3

Tidak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan dari Hendrik. Semua anggota keluarga hanya terdiam membisu dengan pikirannya masing-masing. Hendrik pun merasa ada yang aneh pada keluarganya. Ia menatap satu persatu dari orang tuanya hingga adik-adiknya.


" Mah-Pah, kenapa kalian hanya diam saja tidak menjawab pertanyaanku?"


"Kirana-Sandy, tolong panggilkan Mey untuk segera datang kemari! aku ingin bertemu dengannya, masa iya aku sakit ia tidak ada di samping aku?"


Mereka sama sekali tidak merespon perkataan yang diucapkan oleh Hendrik barusan. Hingga Hendrik baru menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya dan Mey," astaghfirullah aladzim, kami kan alami kecelakaan. Aku baru ingat akan hal ini, apakah kondisi Mey baik-baik saja mah-pah-Sandy-Kirana?"


Mickel menyikut lengan Kayla memberi tanda supaya istrinya yang menjawab perkataan dari Hendrik.


"Mey saat ini....


"Sudah meninggal dunia bersama anakmu. Semua karena kesalahanmu yang mengemudikan mobil terlalu cepat! secara tidak sengaja kamu telah membunuh anak dan calon cucuku!"


Tiba-tiba saja ibu mertua Hendrik datang dan mengatakan banyak hal, hingga membuat Hendrik terperangah," mah-pah, apakah yang dikatakan ibu barusan benar? pantas saja kalian ditanya dari tadi tidak lekas menjawab juga."


Hendrik pun sangat terpukul mendengar kabar meninggalnya Mey, ia tak sadar melelehkan air matanya. Didalam hatinya merutuki diri sendiri," apa yang ibu katakan memang benar, semua salahku. Secara tidak langsung aku yang telah membunuh istri dan calon anakku sendiri."


Kayla menghampiri ibu Almarhumah Mey," Bu, kenapa ibu mengatakan hal ini disaat kondisi Hendrik berlum stabil?"

__ADS_1


"Lohhhh... kok sewot sih? aku mengatakan kebenaran, aku mengetahui keteledoran Hendrik juga dari beberapa orangnyae yang sempat melihat kejadian kecelakaan beruntun tersebut. Karena mobil Hendrik melaju dengan kecepatan yang sangat kencang. Jika Hendrik tidak mengemudikan secara kencang, pasti saat ini Mey dan calon cucuku masih hidup," sang ibu menitikkan airmata.


Kayla bisa merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh sang ibu," maaf.ya Bu, saya tidak sewot. Saya juga pasti akan mengatakan apa yang telah terjadi pada Mey, tetapi setelah kondisi Hendrik stabil. Ia baru saja sadar Bu, jadi belum saatnya untuk mendengar kabar buruk tersebut. Saya juga seorang ibu, saya juga bisa merasakan apa yang saat ini ibu rasakan. Memang sangat menyakitkan sekali, tetapi semua yang terjadi karena sudah takdir dari Ilahi jadi ibu seharusnya jangan menyalahkan Hendrik."


Sang ibu semakin emosi," apa yang kamu ucapkan tadi, sebuah takdir? ini bukan takdir, tapi kecerobohan Hendrik yang mengemudi terlalu cepat. Jika ia tidak mengebut pasti kejadiannya lain."


Terus saja sang ibu mengatakan banyak hal sampai Ksylay tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena sang ibu nyerocos terus bagai petasan. Hal ini sontak saja membuat Mickel harus turut bertindak. Ia pun menghampiri sang ibu seraya menangkupkan kedua tangannya di dada," bu, sudah cukup! tolong jangan terus menghakimi Hendrik, apa lagi kondisi Hendrik saat ini juga belum sepenuhnya pulih. Sebaiknya ibu segera pulang saja ya. Kami tidak akan lepas dari tanggung jawab, akan tetap memberikan nafkah kepada ibu dan ketiga adik Almarhumah Mey."


Sang ibu naik pitam," sombong banget ya! aku datang kemari bukan untuk meminta uang, jangan mentang-mentang kalian ini kaya hingga sedikit-sedikit di sangkut pautkan dengan uang. Aku tidak butuh dengan uang kalian, tapi aku minta kembalikan anak dan calon cucuku!"


Melihat sang ibu sudah tidak bisa dikendalikan lagi, Kirana pun memencet bel yang ada di atas brankar tepatnya di atas kepala Hendrik. Datanglah satu dokter dan perawat.


"Sus tolong amankan si ibu itu. Karena dari tadi ia membuat ulah disini yang membuat kakak saya kondisi jadi buruk!" perintah Kirana.


Ucapan lantang sang ibu bahkan sempat terdengar oleh Hendrik. Membuatnya semakin merasa bersalah dengan apa yang menimpa pada diri Almarhumah Mey.


Dokter segera mengecek kondisi tubuh Hendrik. Dan mengatakan bahwa kondisi sudah baik-baik saja. Tetapi harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran sama sekali.


Setelah cukup lama dokter mengecek kondisi Hendrik, ia pun berpamitan untuk segera menangani pasien lainnya.

__ADS_1


Sementara Kayla menggelengkan kepalanya dan menghampiri Hendrik," astaghfirullah aladzim, Hendrik kamu nggak usah terpengaruh dengan apa yang barusan dikatakan oleh ibunya Almarhumah Mey ya?"


"Mah, apa yang ibu katakan semuanya itu benar. Aku yang seharusnya mati dan aku memang bersalah dalam ini. Aku yang telah melajukan mobil terlalu cepat, padahal Mey sudah mengingatkanku supaya pelan-pelan dan. Tetapi aku sudah tidak sabar lagi ingin cepat memberi tahu kabar gembira tentang hamilnya Mey. Aku tidak menyangka akan seperti ini mah."


Hendrik juga menceritakan bahkan dirinya juga sempat mendapatkan sebuah telpon pada saat sedang mengemudi. Mey juga memberi nasehat supaya menghentikan sejenak laju mobilnya untuk menerima telpon. Tetapi ia justru tetap melajukan mobilnya saja.


Awal mula kejadian kecelakaan beruntun tersebut sempat di ceritakan semua oleh Hendrik dengan air mata yang berderai.Ia menyesal karena tidak mendengarkan saran dari mendiang Mey.


Keluarga Hendrik juga merasakan kesedihan yang mendalam. Mereka juga bisa merasakan apa yang sedang Hendrik rasakan saat ini.


"Hendrik, sudahlah. Semua itu bukan murni kesalahan darimu, semua sudah ada yang mengaturnya. Jadi kamu tidak usah menyalahkan dirimu terus menerus seperti ini," nasehat Mickel.


"Iya Hendrik, Almarhumah Mey dan calon anakmu pasti akan turut sedih jika melihatmu seperti ini. Sekarang fokuslah dengan kesembuhanmu saja," nasehat Kayla.


Tetapi Hendrik sudah tidak mempunyai semangat untuk hidup karena ka sangat mencintai Mey, tetapi karena keteledoran dirinya hingga Mey harus pergi dari dunia ini untuk selamanya.


Setelah begitu lama berafa di rumah sakit, akhirnya Hendrik di izinkan untuk kembali ke rumah. Tetapi ia ingin datang ke makam Almarhumah Mey.


Hendrik ke makam ditemani oleh Mickel dan juga Kayla. Mereka belum mengizinkan Hendrik untuk pergi sendirian walaupun ditemani oleh sang sopir pribadi. Mereka masih ragu dengan kondisi psikis Hendrik yang masih terlihat buruk.

__ADS_1


Hendrik menangis histeris di makam istrinya," sayang, aku minta maaf. Semua ini karena kecerobohanku. Jika saja waktu itu aku menuruti kemauan dirimu, saat ini pasti kita masih bahagia. Semua ini salahku, aku yang telah membunuh dirimu dan calon anak kita!"


Hendrik terus saja memukul-mukul kepalanya sendiri, sontak saja Mickel langsung menahan tangan Hendrik," istighfar nak!"


__ADS_2