Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Ada Rasa


__ADS_3

Setelah sejenak bergumam didalam hatinya, Raka mulai berbicara," Desi, aku tidak akan memecat dirimu. Jadi tolong jangan ketakutan terus dan jangan menunduk terus seperti itu. Aku ada di hadapanmu bukan di bawah kakimu."


Desi tersipu malu, lantas ia menengadahkan kepalanya. Hal ini tentu saja membuat hati Raka semakin berbunga-bunga," nah seperti itu namanya sopan. Masa iya kamu sudah bekerja selama satu bulan disini kok masih canggung eh takut ya? memangnya aku ini buas ya? padai aku tidak punya taring loh," ucap Raka.


Diapun bertanya tentang kesulitan yang sedang di hadapi oleh Ayah Aris," Desi, bagaimana dengan permasalahan keuangan perusahaan ayahmu?"


"Alhamdulillah sudah teratasi Den Raka, semua berkat bantuan Bu Kayla, ibunya Mba Kirana," jawab Desi tersenyum.


Raka sempat terpengarah, didalam hatinya bergumam," dunia begitu sempitnya, sampai Desi saja bertemu dengan Tante Kayla dan Kirana."


Raka masih penasaran hingga ia bertanya lagi," bantuan seperti apa yang diberikan oleh Tante Kayla?"


Mendengar kata Tante, sontak saja Desi kaget," wahhh..jadi Den Raka kenal dengan Bu Kayla. Berarti Bu Kayla menikah dengan om nya Aden ya, hingga Aden memanggilnya Tante Kayla?"


Dengan polosnya, Desi berkata seperti itu.


"Bukan seperti itu Desi, Tante Kayla pernah menikah dengan Almarhum papahku sebelum almarhum papahku menikah dengan Almarhumah mamah," ucap Raka menjelaskan.


Desi hanya berhooh ria seraya kepalanya manggut-manggut. Dia pun tidak lupa menceritakan jika bantuan yang diberikan oleh Kayla berupa pinjaman dana sebesar empat milyar.


Didalam hati Raka merasa kecewa," yaa..aku terlambat dech. Padahal aku ingin mengambil hati ayahnya Desi dengan memberikan pinjaman padanya tanpa bunga. Eh malah terlambat, tetapi semoga saja rasa ini belum terlambat dan aku bisa lekas meluluhkan hati Desi."


Setelah mengetahui hal itu, sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan oleh Raka kepada Desi," syukurlah kalau begitu, aku turut lega. Niatnya jika belum ada yang membantu, aku yang akan membantumu meminjamkan uang empat milyar tersebut. Ya sudah kembalilah ke ruang kerjamu! Maaf ya aku telah mengganggu."


Desi menyunggingkan senyuman, dia pun bangkit dari duduknya berlalu pergi dari ruang kerja Raka menuju ke ruang kerjanya sendiri. Didalam hatinya merasa heran dengan sikap Raka yang begitu perhatian kepadanya," baru kali ini aku bertemu dengan seorang presiden direktur sekaligus manager perusahaan yang sangat perhatian dengan karyawatinya. Apakah memang Den Raka perhatian terhadap seluruh karyawan yang ada di sini, atau hanya padaku saja ya? kok kesannya aku seperti kepedean begini ya?"

__ADS_1


********


Sore menjelang....


Di saat semua berada di meja makan, Hendrik mengatakan sesuatu kepada keluarganya.


"Mah-pah, pada saat aku ke kantor Pak Aris, dia memberikan amplop coklat berisikan uang, katanya diberikan kepada Mamah untuk mengangsur hutangnya yang empat milyar. Nanti setelah makan aku akan berikan kepada Mamah. Apa mau diberikan kepada papah saja?" tanya Hendrik meminta saran.


Belum juga orang tua Hendrik berkata Kirana menyela," kenapa diberikannya uang cash, kenapa Kak Hendrik tidak meminta Pak Aris mentransfer saja ke nomor rekening mamah?"


Hendrik menepuk jidatnya sendiri," astaghfirullah aladzim, apa yang kamu katakan memang benar Kirana. Kenapa aku juga tidak terpikirkan sampai ke situ ya?"


Baik Mickel maupun Kayla terkekeh melihat reaksi Hendrik.


"Sudahlah tak apa-apa, lain waktu saja kamu minta kepada Pak Aris untuk ditransfer ke nomor rekening mamah," ucap Kayla.


Tetapi baik Hendrik maupun Kirana tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh Kayla. Mereka lebih menyukai jika seluruh hutang Pak Aris terlebih dahulu masuk ke dalam rekening Kayla, barulah jika benar-benar sudah lunas diberikan kepada masing-masing.


"Terlalu ribet jika harus mengikuti saran yang Mamah berikan. Menurut kami alangkah baiknya seluruh uang, masuk ke rekening Mamah saja. Seperti pada saat kita akan memberikannya kepada Pak Aris. Bukannya dikumpulkan di dalam rekening mamah


terlebih dahulu?" saran Hendrik.


Mickel tersenyum ke arah Hendrik, seraya mengacungkan kedua ibu jari," josssss... Papah sangat setuju dengan saranmu Hendrik."


Hingga keputusan sudah bulat jika semua angsuran hutang pak Aris masuk ke dalam nomor rekening Kayla.

__ADS_1


Sementara di rumah Pak Aris, saat ini dirinya ingin bercengkrama dengan Desi.


"Desi, bagaimana dengan tempat kerjamu? sepertinya kamu kerasan, apa nggak ingin bekerja di kantor ayah saja untuk membantu ayah saja?" Pak Aris sedang menyelidik.


"Ya Desi, apakah nggak sebaiknya kamu mendengarkan saran dari Ayah," ucap Bu Iris.


Entah kenapa Desi enggan untuk risgn dari kantor Raka," aku belum siap untuk bekerja di kantor ayah."


Pak Aris merasa heran dengan Desi, ia bahkan merasakan jika ada sesuatu didalam diri Desi," kenapa kamu nggak mau? apakah ada sesuatu yang membuatmu berat risgn dari tempat kerjamu itu?"


Desi sendiri nggak tahu dengan apa yang sedang ia rasakan. Kenapa juga ia keberatan untuk risgn dari kantor Raka," aku sendiri juga nggak tahu ayah, aku merasa sudah nyaman bekerja di sana."


Sejenak Pak Aris teringat tentang apa yang ingin ia katakan dengan Desi.


"Desi, ayah ingin sekali kamu punya pendamping hidup. Kamu sudah tahu dengan Bu Kayla kan? berarti kamu juga sudah mengenal dengan Hendrik, anak sulung Bu Kayla. Bagaimana jika kamu pendekatan dengan dirinya? jika kamu bekerja di kantor ayah, kamu bisa setiap saat bertemu dengan Hendrik. Karena ayah bekerja sama dengannya. Ia baik dan tidak banyak kata," ucap Pak Aris.


Desi sangat tidak suka dengan saran ayahnya," kenapa juga ayah belum berubah? ingin menjodohkan aku lagi? apakah ayah sudah lupa dengan janji ayah untuk tidak menjodohkanku lagi?"


Desi begitu kesal, karena ia sana sekali tidak tertarik dengan Hendrik. Walaupun ia juga mengenal Hendrik.


Desi diam, wajahnya di tekuk dan mendadak ia berubah murung. Hal ini membuat Ibu Iris iba," ayah, tidak seharusnya ayah bersikap seperti waktu itu. Biarkan saja anak kita memilih jalan hidupnya sendiri."


Nasehat Ibu Iris untuk Pak Aris.


Pak Aris diam sejenak, dia merasa jika apa yang telah ia sarankan pada Desi kali ini tidak salah.

__ADS_1


"Aku rasa apa yang aku sarankan untuk Desi sangat bagus. Kenapa Desi dan istriku tidak setuju ya? padahal Hendrik sangat baik tidak seperti Tuan Endy," batin Pak Aris terus saja protes.


__ADS_2