
Sore menjelang di saat Mickel sudah bersantai barulah Kayla menghampirinya bersama dengan Sandy. Mickel merasa ada yang aneh dengan gelagat Kayla dan Sandy.
"Kalian kenapa murung dan seperti gelisah? apakah ada masalah?" tegur Mickel penasaran.
Sandy tidak berani berkata, ia meminta Kayla saja yang mengatakannya pada Mickel.
"Pah, memang sedang ada masalah dengan Sandy. Makanya Mamah mengajak papah untuk bercengkrama, karena mamah sama sekali tidak bisa memutuskan hal ini."
Kayla pun segera menceritakan semua permasalahan yang sedang terjadi pada diri Sandy. Sejenak Mickel terperangah, ia pun menatap tajam ke arah Sandy," ada-ada saja!"
"Iya, ada-ada saja."
Ucap Sandy seraya tertunduk lesu, karena ia khawatir Mickel akan marah padanya.
Mickel terus saja memperhatikan Sandy," kamu nggak usah tertunduk seperti itu, jika memang kamu nggak merasa berbuat salah ya nggak usah takut pada papah. Yok kita sekarang juga ke rumah Kombes Beno."
Sandy pun bisa bernapas lega," terima kasih ya pah. Aku memang sempat khawatir Papah akan marah padaku."
Saat itu juga Mickel dan Kayla mengajak Sandy ke rumah Kombes Beno. Pada saat mereka serentak keluar dari rumah, Kirana berlari mengejar," mah-pah-Sandy, kalian mau kemana kok aku nggak diajak?"
Serentak ketiganya menoleh ke arah Kirana. Mickel pun berkata," mau ke rumah Kombes Beno, Ayuk kalau mau ikut. Keponya nanti saja kalau sudah ada di dalam mobil."
Kirana sang antusias ia pun tersenyum sumringah karena telah diizinkan untuk ikut pergi.
Di dalam mobil barulah Kirana mulai bertanya banyak hal, dan Kayla yang menjelaskan pada Kirana.
"Ohhh jadi seperti itu, sepertinya kamu di jebak sama seseorang Sandy. Masa iya kamu nggak tahu siapa kira-kira orang yang telah menjebakmu?" ejek Kirana melirik sinis ke arah Sandy.
__ADS_1
Di dalam hatinya penuh dengan gumaman," punya kakak sama adik sifatnya sama-sama letoy tidak bisa bersikap tegas. Padahal keduanya sama-sama cowok, tapi payah! kalau aku yang alami hal tersebut sudah aku cari tahu sendiri siapa orang yang jahat tersebut dan aku hajar habis-habisan!"
Tak berapa lama, sampai juga mereka di pelataran rumah Kombes Beno. Kebetulan Kombes Beno sedang duduk bersantai di teras halaman bersama dengan istrinya.
"Wah, tumben nech kalian datang ke rumah," sapa Kombes Beno terkekeh.
Semua duduk di kursi yang ada di teras halaman. Dan Mickel mulai menceritakan apa yang sedang menjadi permasalahan dirinya.
Beno mengernyitkan keningnya," wah kenapa kemarin pada saat ditemukannya sabu-sabu tersebut, kamu nggak telpon saya Sandy? kan saya bisa langsung ke tempat kejadian perkara."
Sandy tersenyum kecut," maaf om, nggak terpikirkan sama sekali. Karena waktu itu aku benar-benar kaget dan panik, tiba-tiba kok di tas aku ada satu bungkus sabu-sabu."
Sejenak Beno ingat pada Vina mantan adik ipar Kayla yang waktu itu sempat melapor bersama dengan Raka. Beno pun menceritakannya pada Kayla dan keluarganya. Kayla sempat heran," ya ampun, kok malah jadi rumit sekali permasalahan Vina ya?"
"Ya mereka saling melapor satu sama lain, malah sampai sekarang keduanya sama-sama tidak ada kata lagi. Entah akan dilanjutkan kasus mereka atau tidak? saya sengaja tak menegur kedua belah pihak. Biarlah terserah mereka, syukur tidak dilanjutkan heee."
Mickel tersenyum seraya menepuk bahu Beno," terima kasih sobat, kamu selalu membantu setiap permasalahan yang sedang aku hadapi. Aku minta maaf sering kali merepotkanmu."
Beno membalas senyuman dari Mickel," tak usah meminta maaf ataupun berterima kasih karena semua ini memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang aparat kepolisian."
Setelah cukup lama berada di rumah Kombes Beno, keluarga Mickel memutuskan untuk segera kembali ke rumah karena mereka tidak enak jika terlalu lama berada di rumah Kombes Beno.
Ada sedikit rasa lega di dalam diri orang tua Sandy, karena permasalahan anaknya akan segera dibantu mencari jalan penyelesaiannya oleh Kombes Beno.
"Alhamdulillah, Mamah yakin permasalahanmu akan segera terselesaikan. Kamu jangan terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan ya Sandy.'
"Iya Mah, aku juga merasa lega setelah menghadap kepada Om Beno."
__ADS_1
*******
Esok harinya, Sandy dan orang tuanya serta Kombes Beno menyambangi kampus. Para dosen dan dekan yang melihat kedatangan Kombes Beno langsung berwajah pias.
Mereka merasa ketakutan sekali," sudah di bilang untuk tidak melaporkan hal ini pada aparat kepolisian, ini malah melapor ke Komisaris Besar Beno."
Dekan bergumam di dalam hatinya. Ia tidak suka melihat kedatangan Sandy bersama dengan orang tuanya dan Kombes Beno.
"Pak Dekan, saya sudah menerima laporan dari Sandy. Yakni anak dari sahabat baik saya. Apakah di ruang kelas Sandy terdapat CCTV?" tanya Kombes Beno.
Pak Dekan bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Kombes Beno, ia malah mengatakan hal lain,"
padahal kami sedang menyelidiki ulang. Dan sengaja tidak melaporkan hal ini kepada aparat kepolisian, karena kami masih memandang orang tua Sandy."
Kombes Beno kesal," pak dekan, saya bertanya apa kok jawabnya apa? awal mula di ketahui jika di tas Sandy ada sebungkus sabu-sabu itu bagaimana? apakah memang di kampus ini sering adakan suatu penggeledahan?"
Dekan menjawab," tidak pernah ada acara rutin penggeledahan. Tetapi ada satu murid yang melapor bahwa di dalam tas Sandy terdapat sabu-sabu. Oh ya, di ruang kelas Sandy terpasang CCTV."
Kombes Beno menggelengkan kepalanya," seharusnya jika di dalam ruang kelas Sandy terpasang CCTV, permasalahan ini sudah pasti bisa terselesaikan dengan segera tanpa harus menunggu lama seperti ini."
"Pak Dekan, coba perlihatkan rekaman video CCTV di ruang kelas Sandy pada saat terjadinya peristiwa itu!'
Segera dekan membuka rekaman video CCTV dari sebuah laptop. Ia sendiri terhenyak kaget pada saat melihat seseorang memasukkan sabu-sabu tersebut ke tas Sandy.
Semua orang yang melihat hal itu juga sempat tersentak kaget," Rony?"
Dekan mengatakan kepada Kombes Beno bahwa yang melaporkan tentang adanya sabu-sabu di tas Sandy adalah Rony yang ternyata dia sendiri yang telah meletakkan sabu-sabu tersebut ke tas Sandy.
__ADS_1
"Nah loh, seharusnya anda dari awal mengecek rekaman video CCTV. Pasti permalasahan sudah selesai dari kemarin. Sekarang panggilan si pelaku untuk segera datang kemari, karena ku juga ingin tahu apa motif dari tindakan keji tersebut.