Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Keberanian Kirana


__ADS_3

Sejak Raka mengenal Kirana, ia mencoba mendekatinya lewat telpon. Ia mencoba menelponnya, tetapi tidak di angkat. Dan bahkan berkali-kali, ia mengirimkan chat pesan pada nomor ponsel, Kirana. Juga nggak di balas dan nggak di buka sama sekali.


Hingga di suatu hari, pada saat Raka mengajar di kelas Kirana lagi. Doa memanggil Kirana untuk maju di depan kelas. Kirana merasa heran, padahal ia tidak melakukan kesalahan sama sekali.


"Kirana, cepat maju kedepan!"


Dengan sangat malas, Kirana melangkah ke depan," ini dosen lama-lama ngajak gelut aku apa ya? belagu banget dech. Sepertinya ingin buat masalah denganku!"


Kirana menatap sinis ke arah Raka, tetapi Rama malas tersenyum. Di dalam hatinya mengatakan sesuatu," walaupun kamu marah, tetap terlihat cantik."


"Kirana, kamu baca ini! tapi cukup di dalam hati saja!"


Raka memberikan secarik kertas kepada Kirana.


Bukan Kirana namanya kalau tidak bersikap usil dan iseng. Dia malah membacanya dengan lantang," Kirana, kenapa kamu nggak mau angkat telpon dariku? Kirana, kenapa juga beberapa chat pesan dariku sama sekali tidak kamu buka?"


"Hahahaha.... ternyata Pak Dosen tampan ini naksir Kirana."

__ADS_1


"Aahhhh kita di buat patah hati dech."


"Aah .. nggak adil, Pak Dosen tampan. Seharusnya memilih diantara kami yang selalu memperhatikan anda. Malah pilih Kirana yang super duper cuek bebek!"


Raut wajah Raka berubah merah, dia begitu malu karena ulah Kirana.


"Sialan, kenapa Kirana berbuat seberani ini sih? aku bahkan tidak menyangka sama sekali!" batin Raka.


Dia tidak bisa berkata apapun, dia pun mencari cara untuk menutupi rasa malunya karena ulah, Kirana.


"Pak dosen, jika memang isinya bukan seperti yang Kirana katakan. Cuba tunjukkan pada kami, kepo juga nech kami semua!"


Namun Rama sama sekali tidak menghiraukan permintaan dari salah satu mahasiswinya.


"Sudah-sudah! cepat kerjakan tugas kalian!"


"Pak, jika saya di hukum. Lantas bagaimana dengan tugas saya?" ucap Kirana.

__ADS_1


"Khusus untuk kamu, kerjakan tugasnya di rumah tetapi lima kali lipat! sementara kamu tetap aku hukum, hingga mata pelajaranku usai!"


Kirana sangat kesal, karena ia sama sekali tidak bersalah apapun. Tetapi kok di hukum. Hingga ia pun mengancam Raka.


"Baiklah, jika anda akan bersikap seperti ini. Saya akan laporkan perbuatan anda kepada dekan. Karena saya tidak bersalah apapun. Saya membaca isi di kertas itu sesuai tulisan. Kenapa malah saya di hukum? pasti anda tidak akan berani melawan Dekan, jika ia meminta kertas itu bukan? dan jika selama mengetahui saya nggak bersalah, ansa yang bisa di pecat dari kampus ini!" Kirana tersenyum sinis.


Di kelas tersebut, yang berani menantang dosen hanya Kirana saja. Dia berani menantang' dosen, jika dosen itu bertindak salah.


Raka diam saja, tetapi di dalam hati cemas juga. Jika Kirana benar-benar melapor pada Dekan. Hingga ia kalah, dan mempersilahkan Kirana untuk duduk.


"Hey gadis, jangan merasa menang ya? aku melakukan ini karena merasa iba pada mu," ucap Raka


"Iba apa takut?" gumam Kirana masih sempat di dengar Raka.


"Heh, berhenti! apa yang tadi kamu katakan hah?"


"Saya nggak mengatakan apapun. Anda saja yang terlalu berhalusinasi."

__ADS_1


__ADS_2