Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Kena Musibah


__ADS_3

Sementara sesuatu terjadi pada Alvin, dimana saat itu dia terkena musibah. Setelah dia marah-marah pada tukang kebunnya.


"Pak, kalau kerja itu yang benar donk. Masa mau makan gaji buta sih! saya bayar bapak loh, tetapi kinerja bapak sangat mengecewakan sekali. Jika seperti ini saya rugi besar!"


Alvin terus saja mengomel di hadapan tukang kebunnya. Hanya karena masalah sepele, di mana si tukang kebun tidak memotong salsj satu ranting yang daunnya telah menguning dengan alasan ranting tersebut sangat kokoh tidak bisa di cabut atau di tarik dengan tangan. Tetapi harus menggunakan alat bantu.


"Maaf, Tuan. Ranting ini tidak bisa saya cabut, harus di buang dengan benda tajam seperti gergaji atau alat potong yang lain. Sedangkan Tuan melarang saya untuk memakai salah satu dari alat bantu tersebut."


Alvin malah tersenyum sinis," apa kamu belum paham dan belum mengerti juga? jika aku melarang karena itu akan membuat pohon rusak jika di gergaji!"


"Sudahlah, intinya kamu itu pemalas dan tidak punya kekuatan atau kamu itu terlalu lemah. Masa iya mencabut ranting itu hanya dengan menariknya saja kok nggak bisa sih?" ejek Alvin.


"Kamu lihat saja ya biar aku yang memberikan sebuah contoh."


Dengan sombongnya, Alvin ingin menunjukkan kepada tukang kebun tersebut bahwa dirinya mampu untuk menarik ranting tersebut. Tetapi pada saat dirinya menarik ranting tersebut, tidak juga patah rantingnya. Malah dirinya jatuh dan merasakan sakit di bagian tulang rusuknya.


"Aaaduhh...tolongin pak! kenapa malah diam saja sih?" oceh Alvin yang jatuh telentang dengan memegangi bagian atas pinggang.


Dia sama sekali tidak bisa bangun sendiri, karena setiap kali berusaha bangun, tulang di bagian punggung terasa sangat sakit.


Sang tukang kebun langsung membantunya untuk bangkit tetapi dia malah semakin merasa kesakitan, hingga membuat tukang kebun bingung bagaimana caranya untuk bisa membantu Alvin bangkit dari jatuhnya tersebut.


"Tuan, jika saya bantu anda untuk bangkit katanya sakit. Jika saya membiarkan anda tetap telentang di lantai dalam kondisi tersebut, anda marah-marah, lantas saya harus bagaimana?" si tukang kebun benar-benar bingung.


"Otakmu dipakai bodoh! cepat kamu telepon ke rumah sakit untuk meminta pihak rumah sakit datang kemari membawa ambulan!" perintah Alvin sembari terus meringis kesakitan.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan."


Si tukang kebun langsung berlari menuju ke dalam rumah, tepatnya di ruang tamu untuk menelepon ke rumah sakit dengan telepon rumah yang ada di ruang tamu tersebut.


"Dasar orang sombong, sudah mengalami kecelakaan saja masih bisa mengumpat mengatai diriku dengan kata-kata yang sangat kasar! semoga saja tidak bisa sembuh biar tahu rasa!" gumam tukang kebun masih sakit hati dengan kata-kata pedas dari Alvin.


Setelah ia berhasil menelpon pihak rumah sakit, ia sama sekali tidak mempedulikan kondisi Alvin. Justru pergi ke paviliun belakang untuk berkemas-kemas. Melihat rekan kerjanya gugup dan begitu terburu-buru berkemas-kemas, si bibi istrinya menanyakannya," pak, kenapa kamu mengemasi pakaian?"


"Cepatlah kamu kemasi pakaianmu! kita pergi dari rumah ini, karena aku sudah tidak sudi lagi bekerja dengan seorang majikan yang sangat sombong dan arogant! aku yakin di tempat lain masih banyak pekerjaan untuk kita yang majikannya tidak sombong dan bisa menghargai jerih payah pekerjaan kita."


Bibi segera mengemasi pakaiannya juga, ia tripikal seorang istri yang selalu patuh terhadap segala perkataan suaminya, tanpa pernah bertanya macam-macam.


"Bi- bibi!" teriak Alvin dari pelataran rumah.


Kembali lagi bibi tidak bisa membantah permintaan suaminya, ia pun berusaha untuk tidak mendengarkan panggilan dari Alvin dan melanjutkan mengemasi pakaiannya.


"Bi-bibi! pak! aduhhhhh... kemana sih mereka ini? masa iya tidak dengar dengan panggilanku?" oceh Alvin.


"Si Bapak benar-benar telpon pihak rumah sakit nggak sih ya? kok tidak juga muncul ambulance. Aku nggak mau kehujanan di pelataran rumahku sendiri. Tetapi ini sudah mulai turun gerimis," ocehnya seraya menengadahkan kepalanya menatap langit yang sudah terlihat begitu gelap dan juga terdengar bunyi petir menyambar-nyambar.


Sepasang suami istri yang bekerja di rumah tersebut, telah selesai berkemas. Mereka segera melangkah pergi dan menghadap kepada Alvin yang tak berdaya tergolek lemah di lantai pelataran rumahnya sendiri.


"Kalian mau kemana, kok bawa koper segala?" Alvin menatap heran ke arah suami istri tersebut.


"Kami ingin pergi dari rumah ini. Dan mencari pekerjaan di tempat lain,z ucap si bapak lantang.

__ADS_1


"Kamu tersinggung dengan pertanyaan saya barusan? jika kamu ingin pergi nggak usah ajak bibi. Sama pergi sendiri saja," usir Alvin.


"Maaf, tidak bisa. Di sini saya yang berhak mengatur dan memerintah istri saya. Jadi dia akan tetap ikut dengan saya. Yuk, Bu. Kami permisi. Oh ya, jangan khawatir, sebentar lagi ambulance pasti datang,' ucapnya seraya melangkah pergi dari hadapan Alvin sembari terus menggandeng tangan bibi.


Si bibi merasa iba melihat kondisi Alvin," pak, apa nggak sebaiknya kita bantu Tuan Alvin untuk berteduh, karena sebentar lagi akan hujan lebat."


Karena rasa sakit hati si bapak sudah teramat sangat. Karena ini bukan pertama kalinya Alvin menghina dirinya. Melainkan sudah berkali-kali, hingga ia berkeras hati untuk mengajak pergi istrinya saat itu juga.


"Tuan, saya minta maaf ya," ucap si bibi.


Pada saat keduanya pergi, beberapa menit kemudian hujan besar turun. Alvin pun basah kuyup, karena ia sama sekali tidak bisa berteduh.


Menit berikutnya, di saat Alvin sudah basah kuyup, barulah ambulance datang dan memberikan pertolongan pada Alvin dengan mengangkat tubuhnya di bawa masuk ke dalam ambulance. Saat itu juga Alvin dibawa ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan medis.


"Maaf, Tuan. Apakah ada keluarga yang bisa di hubungi?" tanya sang dokter.


"Memangnya luka saya serius ya, dok? "


"Serius atau tidaknya, harus ada yang menjaga anda, Tuan. Masa iya anda tidak punya keluarga untuk di hubungi? misal anak atau adik," ucap sang dokter.


"Untuk kondisi anda, belum kami temukan suatu penyakit yang serius. Hanya saja tulsng punggung anda perlu di cek lebih lanjut," ucap sang dokter.


Saat itu juga, Alvin meminta tolong salah satu perawat untuk menelpon nomor ponsel Raka, guna memberi kabar jika dirinya saat ini ada di rumah sakit.


Tetapi pada saat di hubungi nomor ponsel Raka tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2