
Sejak saat itu, Hendrik menepati janjinya. Setiap hari Minggu, ia mengajak Airin dan Rindi jalan-jalan ke taman atau ke tempat bermain yang ada di pusat perbelanjaan. Hal ini membuat ada rasa tak enak hati pada diri Rindi.
"Mas Hendrik, maafkan Airin. Gara-gara Airin, Mas Hendrik harus di repotkan dengan setiap Minggu seperti ini."
Rindi tertunduk seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Hendrik tidak ingin permintaan maaf Rindi di lihat oleh Airin hingga Airin menjadi sedih," sudahlah tak perlu bersikap formal seperti ini. Nanti malah Airin melihat dan kesannya aku telah menyakitimu ataupun sebaliknya. Kita disini demi Airin. Bukankah kamu ingin Airin bahagia? nggak usah terlalu formal."
Setelah mengatakan hal itu, Hendrik menghampiri Airin dan ia pun bermain bersama dengannya. Sementara Rindi hanya terpaku saja di tempat sambil menatap kearah Hendrik dan Airin," kasihan juga Airin, ia merindukan sosok seorang ayah. Tapi takdir berkata lain. Aku juga bingung bagaimana caranya menghentikan hal ini? jika mereka terus-menerus sering bareng, pasti tidak baik juga karena akan saling ketergantungan satu sama lain."
Rindi serba salah, ia juga tidak enak jika melarang Hendrik untuk tidak menemui Airin karena bagaimana pun ia memandang kebaikan Kayla dan Kirana. Hingga ia membiarkan Hendrik sering menjemput Airin dan bahkan sering juga di waktu jam istirahat sekolah, Hendrik datang.
__ADS_1
Mereka terus saja bermain hingga tak terasa waktu menjelang siang. Hendrik mengajak Airin dan Rindi makan di cafe dekat dengan tempat bermain tersebut yang terletak di dalam sebuah pusat perbelanjaan.
Pada saat mereka akan duduk, seseorang memanggil nama Hendrik," Kak Hendrik!"
Sontak saja Hendrik dan Rindi serta Airin menatap kearah sumber suara. Airin langsung berlari ke arah sumber suara," Kak Kirana?"
Kirana menyambut Airin dengan pelukan hangat. Dan ia pun meminta Hendrik dan Rindi serta Airin untuk makan di meja yang sama. Kebetulan saat ini Kirana dan Derry ada di cafe tersebut.
Tetapi Derry sama sekali tidak merasa keberatan," nggak usah seperti itu Kak Hendrik. Aku nggak apa-apa kok."
Kirana juga turut berkata," justru Derry yang telah memberi tahu aku dengan menunjuk ke arah kalian. Sudahlah Kak Hendrik-Mbak Rindu, yuk duduk saja. Derry nggak akan marah kok."
__ADS_1
Hingga pada akhirnya Hendrik pun menuruti kemauan Kirana. Ia mengajak Rindi dan Airin duduk di satu meja yang sama dengan Kirana.
Mereka segera memesan makanan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Tanpa sepengetahuan Hendrik, Kirana mengabadikan momen kebersamaan tersebut dalam kamera ponselnya berupa rekaman video.
Dan saat itu juga ia mengirimkan chat berupa rekaman video tersebut pada Kayla.
[Mah, sepertinya Kak Hendrik sudah bisa membuka hatinya untuk Mbak Rindie. Mereka saat ini bersama.]
Kirana membaca chat pesan tersebut tanpa lupa membuka rekaman videonya.
"Alhamdulillah, semoga saja apa yang di katakan oleh Kirana benar adanya. Bukan karena Hendrik memang suka dengan anak kecil. Aku juga berharap hal yang sama, supaya Hendrik bersedia membuka hatinya untuk wanita lain. Aku juga tidak mempermasalahkan dengan status janda Rindi, yang terpenting Rindi itu wanita yang baik," gumamnya di dalam hati.
__ADS_1