
Mickel benar-benar mengerahkan begitu banyak anak buahnya untuk menjaga rumah, Kayla. Dan beberapa orang yang ahli untuk selalu mengikuti kemanapun Kayla pergi, untuk menjaganya.
"Dengan begini aku tenang, aku yakin Kayla akan selalu aman."
******
Kayla sama sekali tidak mengerti dengan sikap, Alvin. Seharusnya dia yang dendam padanya karena telah dihianati," dasar orang aneh, kenapa setelah pisah malah kesannya ingin membuat hidupku tak tenang. Seharusnya aku yang tak terima dengan perselingkuhan dirinya dan Naya."
Tetapi Kayla sama sekali tidak gentar dengan, Alvin. Dia akan menghadapi Alvin setiap saat, jika mengganggu dirinya.
Hingga kini mereka berdua resmi berseteru satu sama lain.
Beberapa bulan kemudian....
Tak terasa sudah waktunya Naya untuk melahirkan, tetapi Alvin justru tidak ada di rumah.
"Aaaduhh.... perutku sudah mules sekali."
Naya segera menelpon Alvin, tetapi nomor ponselnya tidak aktif.
"Aaaduhh... bagaimana ini? di saat seperti ini, nomor ponsel Mas Alvin tidak aktif! sejak aku hamil, dia jarang ada di rumah. Tidak pernah menjadi suami siaga sama sekali. Pernikahan macam apa ini? aku harus menghadapi kehamilanku seorang sendiri seperti ini!"
"Adduuh....sakit sekali...aku harus minta tolong siapa? buat jalan saja aku sudah tak kuat rasanya."
Perlahan air matanya menetes, tiba-tiba yang teringat di otaknya adalah, Kayla. Dia pun mencoba menelpon, Kayla.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel, Kayla. Ia melihatnya, dan pada saat tahu siapa yang menelpon. Ia tidak mengangkatnya," huh, Naya? untuk apa sih tiba-tiba menelponku, dasar wanita aneh!"
Naya pun kesal, karena panggilan teleponnya ke nomor ponsel Kayla sama sekali tidak di angkat," haduhhhh...ini darurat, malah Kayla nggak mau mengangkatnya. Jik aku tidak sedang seperti ini, malas aku telpon Kayla. Ah, sebaiknya aku kirim chat pesan saja dech.
__ADS_1
[Kay, aku tahu kamu sudah tidak sudi berteman denganku atau bahkan kenal aku. Aku minta maaf untuk segala kesalahanku. Tapi aku mohon, bantuanmu kali ini saja. Tolong antar aku ke rumah sakit khusus bersalin, karena kebetulan di rumah tidak ada, Mas Alvin. Aku sedang kontraksi, Kay. Aku mohon belas kasihmu, please.]
Chat pesan tersebut langsung masuk ke nomor ponsel, Kayla. Ia pun lekas membacanya.
"Hem, dasar wanita tidak tahu malu! setelah apa yang pernah dia lakukan padaku, dengan beraninya minta tolong! tetapi kasihan juga jika aku biarkan Naya. Bagaimana pun, aku masih punya hati nurani."
Karena Kayla bukan orang yang kejam, hingga ia pun segera pergi ke rumah Naya. Hanya beberapa menit saja, mobil Kayla sudah sampai di pelataran rumah, Naya. Ia lekas masuk ke dalam rumah tersebut, karena kebetulan tidak di kunci.
Kayla begitu iba, pada saat melihat Naya sedang merintih menahan rasa sakit di perutnya. Ia segera menghampiri Naya, dan dengan sangat hati-hati Kayla memapah Naya melangkah menuju ke arah mobilnya.
Kayla sengaja diam, begitu pula dengan Naya. Mereka sama sekali tidak bertegur sapa satu sama lain. Kayla lekas melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit khusus bersalin yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah, Naya.
Segera Kayla meminta tolong salah satu perawat yang kebetulan sedang melintas untuk segera menolong Naya. Saat itu juga perawat tersebut, meraih kursi roda. Dan Naya lekas duduk di kursi roda. Air ketuban sudah pecah, dan itu tandanya Naya sudah akan melahirkan.
"Kay, aku mohon jangan pergi dulu ya. Dok, aku mohon izinkan temanku ini mendampingi proses melahirkanku ya?" pinta Naya memelas pada saat dia sudah ada di ruang untuk bersalin.
"Memangnya suami, nona dimana? kok nggak mendampingi?" tanya dokter.
Dokter pun mengizinkan Kayla untuk menemani proses melahirkan, Naya. Di dalam hati, Kayla di penuhi oleh pertanyaan," sebenarnya kemana, Alvin? masa iya istri sedang hamil besar kok malah tidak ada di rumah?"
Beberapa menit kemudian....
Oek... oek...oek...
Lahir juga bayi perempuan, tetapi bibirnya sumbing. Hal ini membuat Naya kecewa, bahkan dia menolak anaknya sendiri untuk latihan memberikan ASI.
"Nona, anda perlu latihan untuk menyusui bayi anda. Supaya tidak kaget. Dan juga ASI eksklusif itu sangat dibutuhkan untuk bayi yang baru lahir," ucap dokter.
"Dok, jangan paksa saya. Karena saya belum siap untuk menyusui. Tolong berikan susu sambung saja," ucap Naya.
Kayla yang melihat hal itu merasa iba pada bayi tersebut," Nay, kamu tak boleh seperti itu. Lihatlah anakmu sudah kehausan."
__ADS_1
"Heh, apa pedulimu. Dia itu anakku, mau kehausan atau kelaparan itu urusanku bukan urusanmu!" bentak Naya yang membuat Kayla geram.
"Oh.. seperti itu? tahu sifatmu belum berubah seperti ini, aku malas untuk menolongmu! sekarang urus saja dirimu sendiri, aku mau pulang! dan ingat ya, nggak usah minta tolong padaku lagi!"
Saat itu juga Kayla berlalu pergi dari ruang pasca bersalin. Dia sudah tidak ingin lagi berlama-lama di rumah sakit tersebut.
"Bukannya terima kasih, malah bersikap kasar padaku! dasar wanita tidak tahu terima kasih!" gerutu Kayla seraya melangkahkan kaki dengan cepat.
"Kay, tunggu Kay! sus, tolong kejar temanku untuk kemari," pinta Naya.
Perawat tersebut lekas berlari kecil mengejar Kayla, tetapi Kayla sudah tidak terlihat sama sekali.
"Maaf, Non. Teman anda sudah tidak terlihat sama sekali," ucap sang perawat.
"Oh ya sudah, tolong bawa bayi ini, sus. Kerena saya ingin menelpon suami dulu."
Perawat membawa bayi tersebut ke ruang khusus bayi. Sedangkan Naya mencoba menelpon Alvin lagi, tetapi tak juga di angkat. Hingga akhirnya Naya mengirimkan chat pesan pada, Alvin.
[Mas, kamu sedang ada dimana sih? disaat penting seperti ini, kamu tidak ada di sampingku! aku saat ini sedang ada di rumah sakit. Aku sudah melahirkan.]
Chat pesan tersebut juga tidak langsung di baca Alvin, padahal ponselnya saat ini sedang aktif. Ternyata Alvin sedang main kuda-kudaan bersama dengan pacarnya.
"Mas, sepertinya ada telpon dan chat pesan. Apa nggak sebaiknya di lihat dulu, siapa tahu itu penting," ucap wanita selingkuhannya.
"Biar saja, sayang. Apa nggak melihat, aku sedang merasakan kenikmatan. Kalau aku berhenti sejenak nanti rasa nikmat hilang."
Alvin sama sekali tidak peduli dengan ponselnya. Dia tetap saja memacu genjotannya semakin cepat dan matanya terpejam seolah begitu menikmati
percintaan tersebut.
Dia benar-benar sudah hilang akal, sama sekali tidak memikirkan nasib, Naya. Sementara Naya sangat kesal karena tak berhasil menghubungi Alvin.
__ADS_1
"Sudah dua hari, Mas Alvin tidak pulang ke rumah. Ponsel aktif tapi nggak mau merespon telpon atau chat pesan dariku!'