
Didalam hati Desi juga mengatakan sesuatu," apakah sebaiknya aku katakan sekarang juga ya pada ayah dan ibu jika memang aku sudah punya pilihan sendiri?" batinnya ragu.
Sikap diam Desi membuat orang tuanya terutama ibunya semakin khawatir," jika kamu sakit sebaiknya istirahat saja. Ayah, biarkan Desi masuk dan istirahat kasihan. Kita sambung lagi lain waktu."
Aris melirik sinis ke arah Desi," hem...ya sana masuk! tapi ayah minta kamu pikirkan ya kata-kata ayah. Dan kali ini ayah tidak ingin menunggu lagi. Ayah beri waktu kamu satu Minggu, untuk berpikir!"
Mata Desi membola," ayah, tidak bisa seperti ini! sama saja ayah memaksakan kehendak kepadaku!"
Desi berlalu pergi dari hadapan Ayah Aris dan Bu Iris dengan mendengus kesal dan menghentakkan kakinya.
"Lihatlah Bu, hasil didikan ibu seperti itu! membangkang para orang tua, padahal aku yang lelaki dajst sama sekali tidak berani membangkang pada orang tua, dan terima saja bukan dulu aku di jodohkan denganmu?" oceh Ayah Aris.
Istrinya tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Padahal sudah jelas sekali jika dari pihak Hendrik saja belum jelas ada suatu persetujuan dengan niat Aris tersebut. Tetapi Aris sudah sangat yakin jika Hendrik akan bersedia menerima Desi untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Ayah, boleh ibu bicara?" tanya Bu Iris meminta izin.
"Kenapa harus minta izin? bukannya dari tadi saja sudah bicara panjang lebar bukan? ngomong saja!" ucapnya ketus.
Sebelum bicara Bu Iris terlebih dahulu menyiapkan hati, jika sewaktu-waktu apa yang ia katakan di tentang oleh suaminya yang sangat keras kepala tersebut.
"Ayah, apa nggak sebaiknya ayah bertanya dulu pada Nak Hendrik. Belum tentu juga ia akan mau jika kita jodohkan dengan anak kita. Ini saran saja dari ibu, dari pada nantinya ayah kecewa, Jika ada suatu keputusan yang tidak diinginkan dari pihak Nak Hendrik," ucap Ibu Iris dengan sangat hati-hati dalam berkata.
Aris memang keras kepala hingga ia sama sekali tidak mendengarkan saran dari istrinya," kamu seharusnya berpikiran positif bukan negatif seperti ini! kenapa nggak dukung keinginan suami sih? malah kamu dukung anakmu itu? sudahlah ayah tak ingin bicara lagi, yang ada darah tinggi ayah jadi kumat!"
Aris beranjak bangkit dan ia berlalu pergi dari hadapan istrinya.
__ADS_1
Bu Iris hanya bisa mengusap dada melihat tabiat suaminya, dia bergumam sendiri," untung saja aku sabar menghadapi dirimu Mas Aris. Aku sampai sekarang juga heran pada mendiang orang tuaku, kenapa menjodohkanku dengan lelaki yang keras kepala seperti Mas Aris?"
Sementara di kamar Desi semakin bingung," apakah aku harus menemui Mas Hendrik ya? atau aku bicarakan hal ini pada Tante Kayla? mungkin saja ia bisa bantu aku karena ia wanita yang bijaksana."
Selama ini memang Desi dekat dengan Kayla, walaupun hanya sebatas di ponsel. Tetapi ia sering sharing tentang hidupnya. Hingga esok harinya, Desi memutuskan untuk menemui Kayla di rumahnya, karena kebetulan hari libur hingga kantor pun tutup.
Tetapi pada saat dirinya akan pergi menemui Kayla, ponsel berdering yang ternyata panggilan telepon dari Raka.
📱"Pagi sayang, aku minta maaf ya untuk yang semalam. Bagaimana jika kita ketemu dan healing kemana saja yang kamu mau?"
📱"Pagi juga Mas Raka, Maaf saja pagi ini aku nggak bisa pergi, karena...
Sejenak Desi bingung, dan menghentikan perkataannya. Ia tidak mungkin bicara pada Raka tentang ayahnya.
📱"Sayang, ada apa? apakah ada masalah di rumahmu?"
📱"Nggak ada apa-apa mas, aku hanya butuh istirahat saja, aku sedang kurang sehat kepalaku sakit. Maaf ya mas, aku sedang tidak ingin keluar hari ini."
📱"Bagaimana kalau aku ke rumahmu dan kita ke dokter saja ya?"
📱"Nggak usah mas, nanti juga sembuh kok. Aku sudah minum obat kok."
📱"Oh ya sudah, kalau begitu."
Dengan rasa kecewa Raka menutup panggilan telepon tersebut. Begitu pula dengan Desi," maafkan aku ya Mas Raka, sudah berbohong padamu."
__ADS_1
Sementara Tak saat ini sedang sedih dan kecewa, padahal ia sudah siap untuk pergi. Raka murung di teras halaman, hal ini tentu saja menarik perhatian dari Vina yang kebetulan sedang melintas. Ia pun berinisiatif untuk menghampiri ponakannya tersebut," Raka, ada apa?"
Satu tepukan di bahu mengagetkan lamunannya," astaghfirullah aladzim, Tante Vina! bikin kaget saja dech."
Seketika Raka mengusap dadanya.
Vina menjatuhkan pantatnya di kursi samping Raka duduk," begitu saja kaget, makanya nggak usah melamun. Pagi-pagi sudah melamun, oh ya kapan pacarmu di kenalin sama Tante dan Oma-Opa?"
Raka diam, di dalam hatinya ingin sekali bercerita pada Vina tapi ia malu. Tidak cerita, ia juga saat ini sedang di rundung bingung.
"Raka, kenapa diam? jika ada masalah sebaiknya kamu ceritakan saja pada Tante. Tak usah kamu pendam sendiri setiap masalahmu. Tante ini kan sama saja seperti orang tuamu, masa kamu nggak percaya dengan Tante sih?" ucap Vina yang mulai curiga.
Akhirnya Raka menceritakan tentang Desi, bagaimana dirinya jalin hubungan secara backstreet.
Vina pun menasehati Raka panjang lebar.
"Raka, hubungan backstreet itu tidak baik. Mendengar cerita darimu, sepertinya ada hal yang disembunyikan oleh Desi hingga ia tidak berani jujur pada orang tuanya. Jika kamu berdiam diri seperti ini, semua tidak akan terselesaikan."
"Menurut Tante, kamu harus bergerak menyelidiki sendiri sebenarnya apa yang membuat Desi enggan berkata jujur pada orang tuanya tentang hubungan kalian berdua."
Mendengar saran dari Vina, tidak lantas membuat Raka setuju," tapi jika ternyata Desi mengetahui bahwa aku telah menyelidiki dirinya bagaimana Tante? misal dia menjadi marah padaku?" tanya Raka ragu.
"Astaghfirullah aladzim, Raka! kamu ini anak lelaki kok kesannya malah tunduk sekali pada wanita? yang terpenting niatmu itu positif, jadi untuk apa kamu takut jika Desi tahu? apa kamu ingin selamanya jalin hubungan tidak ada kejelasan seperti itu? bukannya kamu ingin serius dengan Desi? jika ia kamu harus bergerak selangkah lebih maju dari Desi. Jangan seperti ini, masa iya ponakan seorang Vina kok gini sih?" goda Vina terkekeh.
Tak tersipu malu," hehehe iya juga ya Tante. Lantas apa yang harus aku lakukan, hem.. langkah awal penyelidikan aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Vina mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di kening," sepertinya Tante perlu asupan makanan dulu biar bisa berpikir jernih. Bagaimana kalau kita mencari sarapan di luar. Ada cafe baru tuh, yang bukanya pagi," Vina menaik turunkan alisnya.
Raka melirik sinis," hem.. kebiasaan begini malak dulu!"