Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Rindu Sosok Ayah


__ADS_3

Hendrik memberikan nasehat pada Rindi," mbak Rindi, nggak usah memikirkan hal ini selama nanti perlombaan berlangsung. Satu hal yang mbak pikirkan yakni Airin. Fokus saj jalani perlombaannya supaya kita tidak membuat Airin kecewa."


"Untuk hari ini kita harus benar-benar kompak, karena perlombaan ini yang dinilai paling utama adalah kekompakan. Nggak usah canggung terhadap saya selama perlombaan ini. Saya bersedia datang juga demi Airin, karena saya sayang padanya dan nggak ingin melihat kesedihan di wajahnya."


Rindi begitu terharu, ia hanya bisa mengucapkan satu kata," terima kasih mas.'


Beberapa menit kemudian...


Perlombaan di mulai, Airin terlihat sangat bahagia karena kali ini ia merasa lengkap dengan adanya Hendrik. Ia merasa seperti bersama dengan kedua orang tuanya.


Perlombaan demi perlombaan berlangsung begitu meriah. Rindi pun berusaha untuk tidak canggung dengan adanya Hendrik di sampingnya. Begitu pula dengan Hendrik, ia juga berusaha tidak canggung pada Rindi.

__ADS_1


Moment tersebut benar-benar di gunakan oleh Rindi dan Hendrik untuk menyenangkan hati Airin.


Hingga tak terasa dua jam sudah perlombaan berlangsung. Dan akhirnya selesai juga. Yang dinilai bukan siapa yang lebih dulu selesai di dalam perlombaan tanpa mengindahkan kekompakan. Yang paling di utamakan di dalam perlombaan adalah kekompakan antara anak dan orang tuanya.


Dan hal ini di dapat oleh Airin. Ia begitu senang tanpa berhenti di dalam meloncak kegirangan," horeeee menang. .. terima kasih ibu-Kak Hendrik."


Baik Hendrik maupun Rindi merespon perkataan Airin hanya dengan senyuman saja. Mereka juga tidak menyangka jika mereka benar-benar menang.


Rindi terus saja menatap kearah Airin," ya Allah, aku baru kali ini melihat Airin sesenang ini. Sebelumnya is ceria tapi tidak seceria ini."


Beberapa Jam Kemudian...

__ADS_1


Hendrik sengaja mengajak Airin dan Rindi makan di sebuah cafe untuk merayakan kemenangan lomba tadi. Airin semakin bertambah bahagia, tetapi senyum itu seketika sirna. Ia murung, tatapan matanya menerawang ke jalanan.


Sifat Airin ini terlihat oleh Hendrik dari balik kemudinya, ia pun menegur," Kalau Airin cape, kakak antar pulang saja ya? makan di cafenya lain waktu saja."


Airin melirik ke arah Hendrik yang sedang mengemudi," bukan seperti itu kakak. Justru aku sedih karena waktu kebersamaan ini hanya saat ini saja. Esok kakak sudah tidak berperan jadi ayahku lagi."


Rindi mendengar perkataan Airin, ia pun menasehatinya," Airin nggak boleh seperti itu pada Kak Hendrik. Ia sudah sangat baik pada Airin. Hingga ia tidak ke kantor demi menuruti kemauanmu mengikuti acara perlombaan."


Airin hanya dan tertunduk, ia tidak berkata lagi. Dan setelah sampai di cafe pun dos merasa sedih. Ia ingin selalu merasakannya kebersamaan seperti itu.


Hendrik tidak ingin melihat kesedihan yang terpancar pada wajah Airin. Hingga ia pun berinisiatif mengatakan sesuatu," Airin jangan sedih lagi. Nanti kalau setiap hari Minggu kita jalan-jalan bersama ajak Ibu juga ya?"

__ADS_1


Mendadak Airin sumringah lagi," Kak Hendrik, nggak bohong kan? serius kan?"


Hendrik membelai surai hitam si kecil," serius lah, kapan sih Kakak pernah bohong pada Airin?"


__ADS_2