Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Tetap Semangat


__ADS_3

Dengan semangat yang membara, Hendrik dan beberapa anak buahnya menyusuri salah satu hutan. Dan ia juga memerintahkan beberapa anak buahnya yang lain untuk menyusuri hutan yang lain yang dekat dengan pesisir laut dimana jatuhnya pesawat yang di tumpangi oleh Kirana dan Hendrik.


Dengan tekad dan keyakinan kuat jika dirinya akan segera menemukan Kirana dan Derry, Hendrik sama sekali tidak peduli dengan bahayanya hutan dimana banyak sekali binatang buas.


Hendrik tidak punya kemampuan bela diri, ia hanya bermodalkan Laras panjang dan juga bermodalkan nekad saja. Karena ia tidak ingin melihat kesedihan yang terus terpancar pada wajah Kayla. Apa lagi sejak beberapa hari terakhir, Kayla sering jatuh sakit karena memikirkan Kirana dan Derry yang tak juga di temukan.


Sementara saat ini Kayla sedang menghadiri acara wisuda Sandy dengan didampingi oleh Mickel.


"Mah, seharusnya mamah di rumah saja istirahat. Kondisi mamah belum pulih benar bukan?" tegur Sandy yang tidak tega melihat kondisi Kayla yang masih terlihat begitu lemas dan wajahnya terlihat sangat pucat.


Belum juga Kayla berkata, Mickel sudah berkata terlebih dahulu," Papah juga sudah meminta mamahmu untuk di rumah saja, biar Papah saja yang datang kemari tetapi mamahmu itu keras kepala."

__ADS_1


Kayla mencoba untuk tersenyum, walaupun sebenarnya didalam hatinya masihkah menyimpan rasa gelisah memikirkan Kirana," kalian nggak usah khawatir, toh di kampus ini hanya sebentar saja. Lagi pula mamah sudah membaik kok."


Didalam hati Sandy merasa iba pada Kayla," semua ini gara-gara Tante Dira! jika ia tidak terus-menerus meneror Mamah dengan datang ke rumah untuk terus menyalahkan Kak Kirana, pasti mamah tidak akan sampai drop seperti ini. Padahal apa yang menimpa Kak Derry itu murni sebuah kecelakaan atau musibah. Bahkan Kak Kirana juga turut mengalami musibah juga. Jika saja mamah atau Papah tidak melarangku, aku sudah omelin tuh Tante Dira habis-habisan!"


Terus saja Sandy bergumam didalam hatinya karena kesal pada Tante Dira. Sedangkan tanpa sepengetahuan keluarga Kayla, Dira dan Drajat hampir setiap hari dihasut oleh adik dan adik ipar dari Dira.


Mereka selalu saja mengatakan hal buruk tentang Kirana dan bahkan membujuk supaya Derry berpisah dengan Kirana jika suatu saat nanti berhasil diketemukan.


Kayla dan Mickel berada di kampus lumayan lama, tidak sesuai dengan perkiraan. Tiga jam lamanya mereka di kampus. Tetapi mereka tidak mengeluh malah bersyukur karena Sandy lulus dengan nilai yang terbaik. Dan banyak mendapatkan pujian dari para dosen dan dekan.


"Alhamdulillah, mamah pikir kamu akan lulus dengan nilai biasa saja. Ternyata nilaimu luar biasa. Mamah sangat bangga loh sama kamu, Sandy."

__ADS_1


Puji Kayla pada saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Kok mamah sampai berpikiran bahwa aku akan mendapatkan nilai biasa?" tanya Sandy murung.


"Karena kamu itu terlihat banyak bercanda seperti papahmu. Apalagi mamah sering loh dapet laporan dari dosen, kalau kamu itu mahasiswa terusil di kampus," ucap Kayla terkekeh.


Sandy terkikik tak bisa berkata, karena memang ia menyadari jika di kampus suka sekali usil dengan semua temannya. Baginya ada yang kurang jika sehari saja tidak usil dengan salah satu teman kelasnya.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kan mah," ucap Sandy terkikik lagi seraya melirik ke arah Mickel.


"Hem, Papah tahu kok. Kamu memang mirip Papah bukan hanya suka usilnya saja, tetapi kepintaran juga," Mickel menaik turunkan alisnya, melirik ke arah Kayla. Tentu saja Kayla mengejek dengan mencibirkan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2