
Ketakutan dan kecemasan Desi kini sudah tidak lagi dia rasakan. Dia sangat bersyukur karena pada akhirnya semua sudah terselesaikan, itupun bukan diri sendiri yang menyelesaikan melainkan Kayla.
"Desi, Maaf ya Tante ikut sedikit menasehatimu. Lain kali untuk hal penting seperti ini nggak boleh di rahasiakan, kamu harus jujur dengan orang tuamu. Yang repot diri sendiri bukan? segala sesuatu menjadi nggak tenang dan nggak nyaman karena ada yang kamu rahasiakan dari orang tuamu."
"Satu hal yang boleh kamu sembunyikan dari orang tua atau orang lain, justru jika kamu sudah menikah dan sedang ada permasalahan dengan suamimu. Sebaiknya cukup kamu dan suamimu yang tahu. Dan selesaikan dengan pikiran dingin tanpa ada amarah yang meluap."
Setelah sejenak Kayla memberikan sedikit nasehat, ia pun kembali diam.
"Bu Kayla, terima kasih atas kebaikan ibu. Jika tidak ada ibu, mungkin sampai detik ini kami selaku orang tua Desi tidak mengetahui akan hal ini,x ucap Ayah Aris.
"Sama-sama pak," jawab Kayla.
Selagi bercakap-cakap, ponsel Kayla berdering yang ternyata satu panggilan telepon dari Mickel.
"Maaf semuanya, saya ad telpon dari suami. Silahkan dilanjutkan saja percakapannya, saya permisi sebentar untuk mengangkat telpon."
Kayla melangkah ke teras halaman untuk mengangkat telpon karena tidak ingin menggangu pembicaraan keluarga Desi.
📱"Hallo Ka Mimie, ada apa?"
📱" Ya ampun, kok malah tanya ada apa? kamu dimana sih? masa iya aku bangun tidur sudah nggak ada? kamu dimana, dengan siapa dan sedang berbuat apa?"
📱"Ist sudah tua pakai nyanyi jelek banget . Maaf kak, sekarang ini aku sedang ada di rumah Desi. Nanti aku ceritakan dech kalau sudah sampai di rumah. Sebentar lagi aku akan pulang. Maaf ya kak, waktu aku mau pergi aku lihat Kak Mimie begitu nyenyak hingga aku tidak berani untuk membangunkan."
📱"Ya sudah nggak apa-apa, tapi kalau bisa lekas pulang karena aku tidak akan sarapan jika tidak istriku yang menyiapkan."
📱"Ist sudah tua tapi masih saja manja. Ok boss kuhhh."
__ADS_1
Setelah sejenak menerima telepon dari suaminya, Kayla masuk ke dalam rumah dan ia pun berpamitan pada semua yang ada di ruang tamu rumah Desi.
"Pak-Bu-Desi, saya pamit pulang karena suami sudah menunggu di rumah."
Pamit Kayla seraya tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Baiklah Bu Kayla, nitip salam saja buat Pak Mickel dan Nak Hendrik. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas bantuannya," ucap Ayah Aris.
"Raka-Vina," aku pamit dulu ya."
Vina dan Raka serentak mengucapkan kata hati-hati pada Kayla. Selepas Kayla pergi, Raka melanjutkan pembicaraannya. Ia ingin menuntaskan apa yang selama ini ada di dalam hatinya.
"Pak-bu, saya juga minta maaf Karena baru hari ini kemari. Seharusnya walaupun Desi melarang, saya tetap kemari." Raka merasa tidak enak, ia pun menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Nggak usah minta maaf Nak Raka, karena kamu nggak bersalah tetapi Desi yang bersalah. Desi, kamu juga belum minta maaf pada Tantenya Nak Raka. Bukankah kamu telah salah paham dengannya?" ucap Ayah Aris seraya menatap kearah Desi yang masih saja merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi.
Dengan rasa malu, Desi mengulurkan tangannya ke arah Vina.
Vina menyambutnya dengan sangat baik," nggak apa-apa Desi. Makanya nggak usah lagi ada rahasia-rahasiaan jadi nggak sampai salah paham. Jika kalian berpacaran terang-terangan pasti satu sama lain sudah mengenal keluarga masing-masing. Ingat saja nasehzt yang barusan diberikan oleh Mbak Kayla."
Desi tersenyum malu," baiklah Tante Vina. Ini akan aku jadikan sebagai suatu pembelajaran untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi."
Kini Raka dan orang tua Desi membicarakan tentang hubunganmta dengan Desi yang akan menuju jenjang serius. Orang tua Desi menyambut baik dan dengan tangan terbuka.
Semua tidak sesuai dengan pemikiran Desi yang sempat mengira jika dirinya jujur tentang hubungan dirinya dengan Raka, orang tuanya tidak akan setuju terutama Ayah Aris.
Raka menginginkan jika hubungan dirinya dengan Desi cepat diresmikan. Ia tidak ingin berpacaran terlalu lama. Tentu saja ini disambut baik oleh orang tua Desi. Karena memang mereka menginginkan hal yang serupa sejak lama.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Nak Raka sepemikiran dengan kami. Kami sangat senang dengan keputusan Nak Raka untuk menikahi anak kami," ucap Ayah Aris sangat antusias.
Ternyata hanya dalam waktu sekejap saja, Raka mampu mengambil hati Ayah Aris. Hanya dalam sekejap mata, Ayah Aris dan Raka begitu akrab bagai seorang sahabat baik yang sedang melepas rasa kangen karena sudah sekian lama tidak bertemu.
Karena sudah terlalu lama berada di rumah Desi, Raka dan Vina memutuskan untuk kembali ke rumah.
Beberapa menit kemudian...
Pada saat Desi akan melangkah meninggalkan ruang tamu, Ayah Aris menahannya," tunggu Desi, duduk dulu karena Ayah masih ingin bicara padamu!"
Jantung Desi begitu berdegup kencang, ia merasa panik ayahnya akan marah padanya. Dengan sangat enggan Desi duduk kembali.
"Desi, jujur saja Ayah sebenarnya kecewa padu karena kamu lebih percaya pada orang lain dari pada dengan kami orang tuamu sendiri,' ucap Ayah Aris seraya menghela napas panjang.
Desi memicingkan alisnya," ayah apa maksud ayah?" tanyanya heran.
"Masih saja kamu nggak merasa akan apa yang kamu lakukan secara terang-terangan? masa iya ayah perlu menjelaskan secara detail apa yang telah kamu perbuat? baiklah, ayah akan jelaskan sekarang juga."
"Kenapa kamu bercerita tentang permasalahan pribadimu kepada Bu Kayla? kenapa tidak kamu ceritakan pada ayah atau setidaknya kamu bisa bicara pada ibumu jika memang kamu merasa Ayah tidak pantas untuk menjadi teman bicaramu. Ayah merasa malu mendengar perkataan Bu Kayla."
Ayah Aris mendengus kesal, dan napasnya menderu, hidungnya kembang kempis. Sementara Desi hanya diam saja tidak berinisiatif meminta maaf. Hingga Bu Iris yang terpaksa menengahi," Desi, minta maaf pada ayahmu!"
Pada saat Desi akan berucap, Ayah Aris menyela,' percuma! aku tidak butuh permintaan maaf yang tidak tulus dari dalam hati. Jika memang Desi sadar akan kesalahannya, setidaknya ia berinisiatif meminta maaf sendiri, bukan ibu yang mengajari dirinya. Sudahlah aku tak butuh permintaan maaf! hanya saja aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Ingat dan camkan ini baik-baik Desi, jika kamu masih menganggap kami orang tuamu!"
Setelah mengatakan hal itu, Ayah Aris berlalu pergi dari hadapan Bu Iris dan Desi. Kini Desi membisu, di dalam hatinya merutuki diri sendiri," berapa bodohnya aku, apa yang ayah katakan memang benar. Setidaknya aku bercerita pada ibu bukan pada Bu Kayla."
"Bu, aku minta maaf ya."
__ADS_1
Ucap Desi dengan penyesalannya.