
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, akhirnya Alvin di izinkan untuk pulang ke rumah. Dan Raka juga menyewa satu perawat untuk merawat Alvin. Karena Raka belum mengatakan pada Alvin, jika ia sudah tidak bisa berjalan lagi di karenakan alami kelumpuhan.
Setelah sampai di rumah, di saat bersantai Raka mulai bertanya," Pah, aku sempat dengar kalau Tante Vina dan Oma-Opa sempat tinggal bersama dengan Papah. Sekarang mereka dimana?"
"Aaaduhh, aku harus ngomong apa ini ya? jika aku jujur bahwa aku yang mengusir mereka, pasti Raka akan marah lagi dan kabur lagi," batinnya mulai panik.
Raka semakin curiga melihat sikap diamnya Alvin," pah, kenapa diam saja sih? apakah ada yang papah sembunyikan dariku?"
Lagi-lagi Alvin hanya diam saja, ia tidak bisa mengatakan apa pun. Karena jika ia bohong pun, Raka akan menyelidiki kebenarannya. Jika ia jujur juga akan berdampak tidak baik untuknya.
"Pah, jawab dong? apakah aku perlu mencari tahu sendiri tentang hal ini?" Raka semakin penasaran.
Hingga akhirnya, Alvin memutuskan untuk berbohong pada Raka dengan mengatakan bahwa Vina dan Oma-Opa pergi sendiri ntah kemana karena tidak pamit sama sekali.
Raka memicingkan alisnya, ia meragukan perkataan Alvin," jangan bohong loh, pah! karena aku paling tidak suka di bohongi! kebohongan Papah yang dulu saja masih belum aku maafkan sepenuhnya. Jangan menambah kebohongan lagi."
"Masa kamu tidak percaya dengan perkataan dari Papah?" ucap Alvin.
"Karena Papah mengatakannya nggak secara langsung. Tetapi terlalu lama dalam berkata, seperti sedang berpikir terlebih dahulu untuk mencari sebuah alasan berbohong," ucap Raka menatap tajam ke arah Alvin yang terus saja menatap ke seluruh penjuru ruangan. Dia sama sekali tidak berani menatap ke arah Raka.
Hal ini tentu saja membuat Raka semakin ragu dan curiga pada Alvin," seseorang jika mengatakan hal bohong, ia pasti tidak berani menatap mata lawan bicaranya."
Alvin semakin salah tingkah karena Raka tidak berhenti dalam menatap dirinya tanpa berkedip," Raka, kamu kok menatap papah seperti menatap musuh sih? bagaimana caranya supaya kamu percaya pada papah?"
"Gampang banget, Pah. Nggak usah berbohong lagi, berkatalah yang jujur. Hanya itu saja kok, pasti aku percaya. Karena awal kebohongan kecil akan membuka ruang untuk suatu kebohongan besar. Aku hanya ingin punya seorang papah yang jujur," ucapnya serius.
__ADS_1
Alvin diam saja, di dalam hatinya mulai dilema, karena apa yang dia lakukan itu memang salah. Tetapi dia benar-benar takut untuk berkata jujur.
"Papah takut jika berkata jujur, kamu akan semakin menjauh dari papah dan membenci, Papah."
Raka pun sudah yakin, jika Alvin memang tidak mengatakan kebenaran," itu tergantung seperti apa kebohongan yang papah lakukan dan apakah Papah menyesalinya dan ada niat untuk berubah atau tidak?"
Hingga pada akhirnya, Alvin pun mengatakan pada Raka jika ia yang telah mengusir Vina dan Oma serta Opa. Mendengar kejujuran dari Alvin, membuat Raka tidak bisa mengerti dengan perbuatan Alvin.
"Astaghfirullah aladzim, Pah. Mereka itu keluarga papah, kenapa di usir? padahal di dunia ini masih banyak yang menginginkan memiliki keluarga, begitu pula denganku. Hidup seorang diri itu tidak enak, kesepian. Harta yang paling indah dan berharga itu keluarga."
Raka ingin sekali marah kembali, tetapi dia tak tega pada saat melihat kondisi Alvin. Bagaimana pun, Alvin itu ayahnya. Walaupun memang banyak berbuat kesalahan selama ini.
"Pah, aku mohon bertaubat dan mohon maaf bukan hanya pada Allah, tetapi pada keluarga papah terutama Oma dan Opa. Minta maaf dengan hati yang tulus,
Alvin diam, tertunduk lesu. Di dalam hatinya seolah sedang memikirkan sesuatu. Ada rasa gengsi, ada rasa perlu untuk meminta maaf.
"Pah, kenapa malah cuma diam seperti itu? apakah papah keberatan untuk meminta maaf pada keluarga papah? padahal aku cuma minta satu hal saja."
"Seharusnya justru Papah minta maaf pada Ayu dan yang lain juga. Karena apa yang menimpa papah saat ini bisa jadi sebuah teguran dari Allah, atas perbuatan buruk papah selama ini."
"Aku minta maaf, jika kesannya aku ini adalah anak yang sok menggurui, mengajari papah."
"Tidak hanya orang tua yang boleh menasehati jika seorang anak berbuat salah dan dosa. Tetapi seorang anak juga boleh memberikan teguran pada orang tuanya."
"Selama ini Papah selalu menganggap aku ini terlalu dan sok suci, karena sering kali menasehati papah."
__ADS_1
"Karena aku ingin memiliki seorang papah yang bisa untuk aku jadikan panutan dalam perbuatan baik."
"Tolong, Pah. Koreksi diri, renungkan semua yang aku katakan barusan, jangan dengan pikiran amarah dulu. Tapi dengan pikiran dingin, sehingga papah bisa ambil dari segi positifnya."
Raka sangat menyayangi Alvin, karena hanya dia satu-satunya orang tua yang di milikinya. Karena ia tidak ingin Alvin selamanya hidup dengan segala kejahatan. Raka sudah tidak peduli lagi jika nantinya Alvin akan marah lagi.
Sesuai permintaan Raka, saat ini Alvin memang sedang diam saja. Dia sedang merenung dengan segala yang di katakan anaknya barusan.
"Aku memang banyak sekali berbuat kesalahan dan dosa. Dari awal, aku menyakiti Kayla. Kemudian aku menelantarkan Naya dan Ayu. Dan terakhir pada adik dan orang tuaku sendiri."
"Aku selalu hidup dengan kesombongan, dengan segala kemunafikan. Jika pada dasarnya aku juga kerap kali merasakan kesepian yang mendalam. Kesepian hidup seorang diri."
"Anakku memang benar dengan segala yang ia katakan barusan. Aku sudah mulai menyadari akan kesalahan dan dosaku."
Setelah sejenak merenung, dia pun menghampiri Raka yang saat ini sedang berdiri membelakangi tubuhnya. Dengan duduk di kursi roda, Alvin menghampiri anaknya, dan menyentuh pergelangan tangannya.
"Raka, Papah minta maaf ya. Selama ini Papah memang banyak kesalahan dan dosa bukan hanya pada satu orang."
"Papah juga minta maaf, karena terlalu egois dan hanya mementingkan diri papah sendiri."
Raka menolak ke arah Alvin, ia pun duduk di teras hingga ia berhadapan dengan Alvin," apakah papah serius, atau hanya ingin menyenangkan hatiku saja? yang aku butuhkan, ketulusan Papah menyadari kesalahan. Jangan seperti yang sudah berlalu, dimana papah mengatakan bersalah tetapi mengulanginua dengan berbuat kesalahan yang lain."
Alvin menghela napas panjang," nggak Raka. Kali ini papah benar-benar menyadari kesalahan dan dosa papah. Tetapi papah ragu, jika Tante serta Oma dan Opa mau memberikan pintu maaf. Juga Naya dan Ayu. Papah nggak yakin, Raka."
Raka pun kembali menasehati Alvin. Bahwa tak perlu takut berlayar hanya karena melihat ombak. Tetapi harus punya tekad yang tulus untuk berubah menjadi lebih baik.
__ADS_1