Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Di Rawat Inap


__ADS_3

Setelah sampai di pelataran rumah Rindi, Hendrik segera berlari ke arah rumah karena kebetulan di teras halaman sudah menunggu ibu mertua Rindi.


Dia pun mengajak Hendrik ke kamar Airin yang saat ini masih saja meracau memanggil nama Hendrik.


Kayla ikut pula menyusul Hendrik menuju ke kamar Airin. Hanya saja ia berdiri di ambang pintu kamar.


"Airin, ini Kak Hendrik. Ya ampunnnnn Rindi, panas banget tubuhnya. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja!" tanpa menunggu persetujuan dari Rindi, tiba-tiba Hendrik sudah menggendong tubuh Airin.


"Mah, tolong mamah yang memegang kemudi ya!' pinta Hendrik sambil membawa Airin yang ada di dalam gendongannya menuju ke mobil.


Kayla hanya mengangguk pelan dan ia pun menuntun Rindi untuk ikut serta ke rumah sakit.


"Bu, aku pergi dulu ya..Apa ibu mau ikut?" tanya Rindi menatap ke ihu mertuanya.


"Nggak usah Rindi, biar ibu di rumah saja jaga rumah. Jadi kalau kamu butuh apa-apa nanti ibu bisa siapkan. Kalian yang hati-hati ya," pesannya seraya mengusap bahu Rindi beberapa kali.


Hendrik di dalam mobil memangku Airin yang sudah tidak meracau lagi tetapi matanya terpejam. Sesekali Kayla melirik dari kaca spion, di dalam hatinya bergumam," ya Allah, jika memang adanya Airin untuk mempersatukan Hendrik dan Rindi. Satukanlah mereka ya Allah. Aku akan sangat merestui mereka berdua. Melihat kepanikan pada diri Hendrik, itu membuktikan bahwa ia sangat mengasihi Airin."


Tak berapa lama, sampai juga mobil yang dikemudikan Kayla tepat di depan pelataran rumah sakit. Segera Hendrik keluar dari mobil sembari terus menggendong Airin.


Pada saat ia akan masuk ke dalam rumah sakit, ia sempat bertemu dengan seorang perawat.


"Sus, tolong saya. Anak ini demam tinggi!" ucap Hendrik.


'Mari ikut saya, mas!'


Sang perawat melangkah cepat menuju ke arah ruang penanganan pasien untuk segera di periksa.

__ADS_1


"Tolong baringkan anaknya di ranjang terlebih dahulu, saya akan memanggil dokter!" pinta sang perawat pada Hendrik.


Dengan sangat perlahan, Hendrik membaringkan tubuh mungil Airin di sebuah brankar yang sudah tersedia. Sang perawat memencet tombol yang ada di atas dinding tepatnya di atas brankar dimana Airin dibaringkan.


Datanglah dokter dengan tergesa-gesa, sang perawat meminta Hendrik keluar dari ruangan. Hanya Rindi saja yang di izinkan menemani Airin selamaia di periksa oleh dokter.


Dengan sangat seksama dokter memeriksa Airin, sedangkan Hendrik menatap khawatir dari kaca yang ada di luar ruangan tersebut.


"Hendrik, nggak usah khawatir. Airin pasti baik-baik saja. Kita kan sudah membawanya kemari."


Hibur Kayla seraya mengusap bahu anak sulungnya tersebut.


"Amin, semoga saja ya mah. Karena aku sudah sangat menyayangi Airin seperti anakku sendiri. Dan aku nggak ingin kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya,' ucap Hendrik dengan mata terus saja menatap ke arah Airin yang sedang diperiksa oleh dokter.


Dokter meminta pada Rindi untuk merawat inap Airin selama satu hari, supaya demamnya segera turun dan juga menetralisir tubuh Airin dengan cairan infus.


Dokter mengatakan banyak hal pada Rindi tentang kondisi Airin. Rindi sedikit lega karena tidak ada yang serius dalam penyakit Airin.


Setelah dokter memeriksa Airin, dan perawat memasang selang infus, dokter berlalu pergi. Sedangkan sang perawat mendorong brankar tersebut ke ruangan khusus perawatan.


Hendrik dan Kayla mengikuti langkah kaki perawat yang mendorong brankar berisikan Airin. Hendrik belum berani bertanya pada Rindi, ia menunggu waktu yang tepat.


Setelah sampai di ruang perawatan pasien, dan sebelum perawat pergi, Ia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Rindi. Setelah Rindi mengganguk tanda mengerti, barulah perawat tersebut pergi dari ruang rawat Airin.


"Bagaimana kondisi Airin?" tanya Hendrik menghampiri Rindi. Ia sedari tadi sudah tidak sabar ingin bertanya tentang hal ini.


"Alhamdulillah nggak apa-apa mas, hanya saja Airin kelelahan. Dan dokter menyarankan di rawat inap selama satu hari. Memang Minggu terakhir, banyak sekali kegiatan di sekolahnya. Hingga Airin harus pulang akhir. Biasanya tidak sampai sore hari, gara-gara banyak kegiatan hingga Airin pulang selalu sore."

__ADS_1


"Airin juga sedikit keras kepala, jika sore hari ia susah sekali diminta untuk mandi lebih awal. Ia lebih suka mandi menjelang azdan magrib. Kalau sudah di rumah, makannya juga susah sekali. Yang dinomor satukan jajan."


Mendengar kondisi Airin tidak ada yang serius, Hendrik pun sangat lega," Alhamdulillah, syukurlah hanya kelelahan. Nanti aku yang akan menasehati Airin supaya menurut."


"Mah, aku antar mamah pulang ya. Setelah itu nanti aku kemari lagi untuk menemani Rindi menjaga Airin," ucap Hendrik.


"Ya sudah nggak apa-apa, besok biar mamah yang handle kantor dulu ya? kamu fokus dengan Airin saja dulu. Mamah khawatir Airin meracau mencari dirimu lagi," saran Kayla.


Hendrik mengangguk perlahan dengan satu kata," iya mah, terima kasih ya."


Kayla menghampiri Rindi," kamu nggak usah khawatir ya, Airin kan sudah ditangani pasti kondisinya saat ini lebih baik. Maafkan saya nggak bisa berlama-lama, khawatir Papahnya Hendrik mencari-cari. Lekas sembuh untuk Airin, nanti Hendrik pasti menantimu."


Setelah Kayla berpamitan pada Rindi, ia lekas melangkah keluar dari ruang rawat tersebut. Hendrik juga berpesan pada Rindi, jika Airin terjaga dan mencari dirinya, bilang saja jika dirinya saat ini mengantarkan Kayla.


"Bu Kayla, terima kasih untuk semuanya dan mohon maaf sudah merepotkan."


'Mas Hendrik, kamu juga hati-hati dalam mengemudi."


Kayla dan Hendrik sama-sama tersenyum dan mengangguk perlahan menatap ke arah Rindi. Mereka segera ke luar ruang rawat tersebut.


Tiba-tiba mata Rindi berkaca-kaca," lagi-lagi aku berhutang budi pada keluarga Bu Kayla. Entah kapan aku bisa membalas semua budi baiknya pada keluarga kecilku," gumam Rindi.


Karena masih terasa lelah dan mengantuk, Rindi pun memejamkan matanya dengan posisi duduk dan kepalanya bertumpu pada tangan dimana tangan bertumpu pada tepi ranjang. Saat itu juga Rindi tidur nyenyak.


Sementara beberapa menit perjalanan, mobil yang dikemudikan oleh Hendrik sudah sampai di pelataran rumah.


Baik Hendrik maupun Kayla turun dari mobilnyae tersebut. Hendrik sengaja melangkah ke kamar untuk mengambil ponselnya dan dompet. Setelah itu ia berpamitan pada Kayla," mah, aku kembali ke rumah sakit ya? nggak tega meninggalkan Rindi sendiri menjaga Airin."

__ADS_1


__ADS_2