
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Desi, Pak Aris tidak ingin lagi mengatakan apa-apa. Walaupun didalam hatinya ada rasa kecewa karena keinginan dirinya di tolak mentah-mentah oleh anak semata wayangnya.
"Jika sudah seperti ini aku bisa apa? padahal aku ingin yang terbaik untuk Desi, tetapi malah tidak diterima olehnya," batin Pak Aris.
Sejak saat itu, Pak Aris tidak lagi mengajak Desi bercengkrama. Ia seolah kecewa dan kini malah bersikap acuh pada anaknya.
********
Berlalunya waktu cepat sekali, hingga tidak terasa sudah dua bulan Desi bekerja di kantor Raka. Semakin lama Raka semakin tidak bisa membendung rasa cintanya dan ia pun memutuskan untuk mengatakan sejujurnya pada Desi.
Hingga di suatu siang di sebuah cafe, di saat Raka mengajak Desi makan siang bersama, ia pun berinisiatif untuk mengatakan isi hatinya pada Desi.
"Desi, aa hal yang sudah lama ingin aku katakan padamu tetapi selalu aku menahannya. Dan saat ini aku sudah tidak bisa lagi menahannya untuk tidak mengatakan hal ini," ucap Raka mulai terlihat gugup dihadapan Desi.
"Memangnya apa yang ingin Den Raka katakan? apakah hal itu mengenai klien baru yang akan kita temui hari ini?" tanya Desi penasaran.
Raka tidak langsung menjawab, justru didalam hatinya berkata," maafkan aku ya Desi. Sebenarnya aku berbohong padamu dengan berpura-pura bahwa kita akan menemui seorang klien yang tidak ada di jadwalmu. Padahal aku hanya ingin mengungkapkan rasa cinta ini, karena aku tidak ingin kamu diambil orang," batinnya ada rasa sedikit bersalah.
Melihat sikap diamnya Raka, tentu saja membuat Desi heran," Den Raka, apakah anda sakit?"
Satu teguran tersebut membuat dirinya terhenyak kaget dari lamunannya," nggak kok Desi. Aku tidak sakit hanya saja apa yang akan aku katakan ini bukan tentang klien baru Perusahaanku melainkan tentang pribadi."
"Pribadi? maksudnya Den?" Desi memicingkan alisnya.
Raka mempersiapkan dirinya, ia menghela napas panjang. Lagi-lagi ia bergumam didalam hatinya," ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Padahal pasda saat di rumah aku sudah rencanakan hal ini secara matang. Tetapi begitu aku sudah ada waktu luang, lidahku terasa tercekat. Bismillahirrahmanirrahim, bantu aku ya Allah. Semoga kali ini aku berjodoh dengan Desi."
Setelah benar-benar siap, Raka pun berkata," begini Desi, aku ingin mengatakan perasaan diriku kepadamu, jika selama ini aku telah jatuh cinta padamu. Dan sudikah kiranya kamu menerima cintaku?"
__ADS_1
DEG!!!!!
Desi terhenyak kaget, ia sama sekali tidak menyangka jika dirinya mendapatkan pernyataan cinta dari bosnya sendiri. Ia tergagap seketika itu juga. Lidahnya kaku tak bisa digerakkan karena rasa ketidakpercayaan dirinya.
Melihat reaksi terkejut yang sangat jelas terpancar pada wajah Desi, membuat Raka merasa tidak enak hati," maafkan aku Desi, aku telah lancang. Tetapi aku tidak ingin membohongi diri sendiri. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, aku akan memberikan waktu satu Minggu untuk dirimu berpikir. Tetapi selama waktu satu Minggu itu, aku tidak ingin kamu cuek atau berubah sikap padaku. Seperti biasa saja ya, jangan terlalu dipikirkan."
Desi mencoba tersenyum, walaupun itu terlalu sulit karena menurut dirinya ini
hal yang sangat mengejutkan dan tidak terduga.
'Baiklah Den Raka, aku juga harus berpikir dulu ya. Mohon maaf jika skt tidak bisa menjawabnya sekarang," ucap Desi.
Raka menyunggingkan senyumnya," iya nggak apa-apa Desi. Sekarang kita makan saja setelah itu kembali ke kantor."
Desi memicingkan alisnya," kenapa kembali ke kantor Den? apakah rekan barunya membatalkan pertemuan?"
"Ooohhh jadi seperti itu."
Satu kata yang terucap dari bibir Desi.
Sejenak mereka berdua tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi mereka fokus dengan hidangan yang ada di depan meja mereka.
"Setidaknya hatiku sedikit lega, karena Desi sudah mengetahui perasaan cintaku kepadanya. Walaupun aku juga masih penasaran dengan jawaban darinya," batin Raka agak tenang.
Beberapa menit kemudian...
Mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Tetapi setelah mendengar pernyataan cinta dari bosnya, Desi justru tidak fokus dalam bekerja.
__ADS_1
"Apakah aku tidak salah dengar dengan pernyataan cinta dari Den Raka ya? jika memang Den Raka benar-benar cinta padaku, apa yang menyebabkan dia mencintaiku ya? ah bodohnya aku, kenapa tadi aku tidak bertanya tentang ini secara langsung kepadanya?" gumamnya seraya menepuk jidatnya sendiri.
Tingkah Desi tersebut sempat membuat Raka tersenyum sendiri di dalam ruang kerjanya, karena diam-diam saat ini Raka sedang memantau aktivitas Desi lewat rekaman video CCTV di dalam laptopnya.
"Dasar gadis polos, tingkahnya menggemaskan sekali. Desi benar-benar jauh berbeda dengan sifat Kirana yang begitu bar-bar dan kasar. Desi lucu dan sangat polos, walaupun dia sebenarnya anak seorang pengusaha tidak mencerminkan dirinya itu seperti anak pengusaha. Tetapi Desi lebih mirip seperti gadis desa," gumamnya.
*******
Tak terasa sore menjelang....
Waktunya seluruh pekerja kantoran pulang ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Dedie dan Raka.
"Desi, aku antar kamu pulang ya?" saran Raka menghampiri Desi yang sedang melangkah cepat menuju ke pelataran kantor.
"Nggak usah Den Raka, terima kasih ya. Karena kebetulan aku membawa kendaraan sendiri, aku naik motor," tolak Desi secara halus.
"Oh ya sudah kalau begitu hati-hati dalam mengemudi dam jangan lupa siapkan jawaban dari pernyataanku tadi siang ya? aku beri kamu waktu satu Minggu tolong jangan di sia-siakan."
Raka menyunggingkan senyumnya seraya berlalu pergi dari hadapan Desi, ia langsung masuk ke dalam mobilnya dimana sang sopir sudah memarkirkan tepat di hadapan dirinya.
Desi membalas senyuman dari Raka sembari mengangguk perlahan. Ia terus menatap laju mobil yang di tumpangi oleh Raka," satu tugas rumah yang harus benar-benar aku pikirkan jangan sampai aku salah dalam bertindak atau memutuskan. Apakah sebaiknya aku juga cerita saja hal ini pada ayah dan ibu ya? aku sendiri juga bingung harus menjawab apa? karena aku sendiri juga tidak tahu rasaku ini ke Den Raka seperti apa?" gumamnya.
Desi gelisah dengan dirinya sendiri. Apa yang harus ia katakan pada Raka. Apakah ia akan menerima cintanya ataukah tidak?
Hingga sampai di rumah pun, Desi masih saja memikirkan pernyataan cinta Raka. Hal ini tenru saja membuat dirinya tidak bisa fokus melakukan apapun di rumah.
Sampai pada saat makan bersama orang tuanya, Desi malah lebih banyak bengong. Ia ragu jika ingin bercerita pada orang tuanya. Setelah kejadian waktu itu, dimana Pak Aris menginginkan Desi bersanding dengan Hendrik.
__ADS_1