Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Alvin Jalani Operasi


__ADS_3

Raka pun bingung, ia harus menghubungi siapa untuk bisa datang ke rumah sakit. Ingin minta tolong kepada Vina tak mungkin. Karena ia sudah berbuat tidak baik pada Vina dan orang tuanya.


"Sebenarnya hanya satu harapanku yakni ingin menghubungi Vina, tapi sepertinya itu tidak mungkin dech. Setelah apa yang aku perbuat dengannya. Tapi aku butuh dirinya atau ayah dan ibu untuk mengurusku."


Terus saja pikiran Alvin gelisah, dia benar-benar bingung harus berbuat apa untuk menyelesaikan permasalahannya tersebut.


******


Esok harinya, dokter kembali lagi menanyakan tentang kerabat atau saudara yang bisa di hubungi.


"Maaf, Tuan Alvin. Apakah sudah ada saudara yang bisa di hubungi? karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan tentang kondisi kesehatan anda," ucap sang dokter.


"Bicara saja secara langsung pada saya, dok. Karena kebetulan anak saya sedang tidak bisa di hubungi sama sekali,' ucap Alvin.


Hingga pada akhirnya, sang dokter mengatakannya pada Alvin. Jika Alvin harus di operasi karena ada masalah pada tulang ekornya akibat benturan yang keras.


"Tuan Alvin, sudah sesuai prosedur dari dokter. Jika anda ingin menjalani operasi, harus ada persetujuan dari pihak keluarga. Harus ada yang bertanggung jawab dengan memberikan bukti berupa tanda tangan."


Alvin kebingungan pada saat mendengar penjelasan dari dokter, ia mencoba untuk meminta supaya dirinya saja yang menanda tangani persetujuan tersebut, tetapi dokter tetap tidak mau.


"Coba anda hubungi lagi salah satu anggota keluarga anda. Karena anda tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Harus segera menjalani operasi secepatnya, jika ingin menjadi parah."


Alvin diam sejenak, kini dia mulai merasakan membutuhkan keluarga," jika aku tidak berselisih paham dengan Raka, pasti aku tidak semenderita ini. Jika aku tidak mengusir ayah, ibu, dan juga Vina. Pasti juga tidak sengsara seperti ini. Lantas aku harus bagaimana?"


"Bagaimana ingin, Tuan Alvin?" tegur dokter.


Alvin pun meminta tolong sekali lagi kepada salah satu perawat untuk menghubungi Raka. Dan kali ini sambungan telepon berhasil.

__ADS_1


📱" Selamat siang, dengan siap la ya?"


📱" Saya salah satu perawat di Rumah Sakit Persada. Saya ingin memberi tahu jika ayah anda saat ini sedang di rawat di rumah sakit ini."


Sejenak sang perawat menceritakan tentang kondisi Alvin yang saat ini harus secepatnya di operasi. Hingga pada akhirnya, Raka pun bersedia untuk segera datang ke rumah sakit tersebut. Bagaimana pun ia tidak tega mendengar kondisi Alvin yang sedang tak berdaya. Saat itu juga dia memesan tiket pesawat untuk segera terbang ke Indonesia.


Perjalanan lumayan lama, hingga tengah malam, Raka baru sampai di rumah sakit dan ia langsung menemui dokter jaga.


Esok paginya, segera di proses penanganan operasi untuk Alvin. Setelah Raka bersedia memberikan tanda tangan.


Raka sempat heran, bagaimana bisa Alvin mengalami cidera parah dan juga tidak ada asisten rumah tangga atsu tukang kebun yang menemani di rumah sakit.


"Heran, sebenarnya pada kemana ya? kok nggak ada security, sopir, tukang kebun, dan bibi?" gumam Raka.


Rasa penasarannya semakin tinggi, ia pun mencoba menelpon Mamang si tukang kebun.


📱" Halo Mang, ini aku Raka. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada, papah? kok diantara kalian tidak ada satupun yang menemani di rumah sakit?"


📱" Den Raka, sekali lagi kami minta maaf karena tiba-tiba berhenti bekerja di rumah, Tuan Alvin. Karena kami sudah tidak tahan juga menghadapi sikap, Tuan Alvin. Apa lagi jika berkata dia sangat menyakiti hati kami."


📱" Iya Mang, nggak apa-apa. Justru saya yang seharusnya minta maaf pada, Mamang dan Bibi. Padahal saya sudah berkali-kali menaseha Papah untuk selalu bersikap baik pada semua orang. Tapi sifat papah memang keras kepala sekali."


Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Alvin, kini Raka telah mengerti dan tidak penasaran lagi.


"Aku ingin sekali menasehati Papah, tetapi ia tidak bisa menerima masukan dariku, apa lagi dari orang lain. Lantas aku harus bagaimana? padahal aku tidak ingin punya papah yang semakin jauh melangkah dalam berbuat kejahatan."


"Jika saja Papah mau mengoreksi diri, pasti ak tidak akan kecewa padanya. Dan aku yakin hal ini juga tidak akan terjadi pada dirinya."

__ADS_1


"Oh ya, waktu itu aku dengar kabar jika Tante Vina beserta Oma dan Opa tinggal bersama dengan Papah. Lantas kemana mereka ya? seharusnya tadi aku bertanya juga pada, Mamang."


"Besok saja dech, aku bertanya pada Papah jika ia sudah selesai di operasi dan kondisi membaik."


Setelah menunggu begitu lamanya, hingga pada akhirnya keluar juga Alvin dari ruang operasi. tetapi untuk saat ini kondisinya belum sadarkan diri karena terpengaruh oleh obat bius.


"Dok, bagaimana kondisi papah saya?" tanya Raka penasaran.


"Alhamdulilah, operasinya berjalan dengan lancar. Tetapi kami juga tidak bisa memastikan apakah kelak pasien bisa berjalan kembali atau tidak. Kami melakukan operasi setidaknya supaya pasien bisa beralih posisi tidak hanya berbaring terus."


"Dari hasil pemeriksaan kami, diprediksi jika pasien mengalami kelumpuhan karena kelainan tulang belakang."


Raka sangat iba mendengar penjelasan dari dokter," apakah benar-benar tidak bisa di obati sama sekali, dok? supaya papah saya bisa berjalan lagi?"


Dokter tersenyum kecut," maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi memang sudah tidak bisa di obati, apa lagi sempat alami benturan terlalu keras."


Rasa kecewa benar-benar sedang melanda pada diri Raka. Dia sama sekali tidak menyangka jika Alvin akan alami hal seperti itu.


"Ya Allah, apakah ini suatu teguran dariMu? atas apa yang telah dulu di perbuat oleh Papah kepada dua mantan istrinya dan satu anaknya?"


*******


Esok paginya, Alvin pun sadarkan diri. Ia perlahan membuka matanya, dan tersenyum pada saat melihat ada Raka di sisinya," Raka, papah senang sekali. Pada akhirnya, kamu bersedia datang kemari untuk menjaga papah."


Raka hanya merespon dengan senyumnya, tanpa mengatakan apapun. Karena ia masih belum bisa menerima perbuatan Alvin di masa lalu.


"Raka, kenapa kamu diam saja? apakah kamu tidak ikhlas, jika ada di sini untuk menemani papah?" tegur Alvin.

__ADS_1


"Pah, nggak usah banyak bicara dulu. Yang terpenting Papah fokus dulu dengan kesehatan Papah," ucap Raka karena malas untuk bercengkrama dengan Alvin.


Karena ia yakin, pasti hanya akan membuat Raka emosi saja. Hingga ia meminta pada Alvin untuk tidak berkata dahulu.


__ADS_2