
Dengan langkah pasti, Usna keluar dari rumah kontrakan tersebut. Ia bahkan sama sekali tidak memikirkan Oddy. Tidak mencari keberadaan anaknya. Dari dulu hingga sekarang yang dipikirkan hanyalah dirinya sendiri.
Usna melangkah ie rumah kontrakan yang ada di sekitarnya. Ia benar-benar menyambangi para tetangga satu persatu dengan niat yang tidak baik.
Bahkan hampir setiap rumah tidak ada yang terlewatkan. Dengan percaya diri, ia meminta uang sewa kepada semua orang yang menghuni di kontrakan rumah mewah di sekitar tersebut dengan dalih dirinya di perintah oleh Kayla. Semua penghuni kontrakan percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Usna, hingga semua penghuni kontrakan memberikan uang sewa tersebut kepada Usna.
Saat itu juga Usna pergi ke sebuah mall dengan membawa banyak uang dari hasil menipu. Ia gunakan uang tersebut untuk berfoya-foya membeli apapun yang ia inginkan. Terlebih dahulu ia ke cafe untuk makan enak.
Jam satu siang, barulah Usna kembali ke rumah kontrakan dengan menenteng tas berisikan barang belanjaaan.
"Wahhh... lelah sekali tetapi puas karena bisa makan enak dan bisa berbelanja. Sayang uangnya terlalu sedikit jadi aku tidak bisa membeli tas branded sesuai keinginanku. Tapi nggak apa-apa, setidaknya aku puas karena sudah lama aku tidak berbelanja seperti ini sejak saat almarhum Mas Isal masuk rumah sakit," gumamnya.
Dia pun langsung mencoba semua pakaian yang baru saja ia beli dengan uang dari hasil menipu dan uang pemberian Mickel. Bahkan semua uang di habiskan dalam waktu itu juga.
Setelah itu dia tidur lagi hingga sore menjelang, bahkan ia lupa membuang tas tempat semua barang belanjaaannya. Semuanya masih tergeletak di atas meja. Hingga Oddy pulang sempat kaget, dan ia pun mengecek tas-tas tersebut.
"Astaghfirullah aladzim, apa yang telah ibu lakukan? pasti gila belanjanya kumat lagi. ya ampun ini nota pembelian sampai sebesar ini nominalnya? bukannya Om Mickel hanya memberikan uang sebesar tiga juta saja? ini kok total puluhan juta?"
Rasa penasaran Oddy semakin besar hingga ia pun bertekad untuk membangunkan Usna yang sedang tidur nyenyak.
"Bu, tolong bangun Bu!"
__ADS_1
Oddy sudah sangat kesal dan ingin menumpahkan emosinya.
"Aaahhh...ada apa sih? kalau mau makan tinggal makan, ibu sudah beli makanan. Buka saja tudung sajinya," ucap Usna dengan mata masih terpejam.
Oddy sejenak menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya, tetapi ia masih saja berusaha untuk membangunkan Usna.
"Bu, cepatlah bangun jangan tidur terus! ada hal yang ingin aku bicarakan dengan ibu."
Oddy terus aja menggoncang tubuh Usna supaya lekas bangun.
Hingga pada akhirnya Usna bangun dengan wajah murungnya," kenapa sih kamu keras kepala sekali? sudah tahu ibu sedang tidur dibangunin. Jika ingin bicara sesuatu apa tidak bisa menunggu Ibu bangun sendiri? ibu itu lelah capek dan baru saja tidur, pusing tahu nggak!"
Usna sama sekali tidak merasa dirinya bersalah pada Oddy," loh kok kamu menyalahkan ibu? kamu sudah dewasa dan sudah bisa mengurus diri sendiri. Masa iya ibu terus yang harus menyiapkan semuanya untukmu? kamu juga aneh, masa mau berangkat kerja minta uang pada ibu? memangnya ibu bekerja, seharusnya kamu yang memberi banyak uang pada ibu. Bukan malah sebaliknya, gimana sih? punya anak lelaki satu saja nggak berguna sama sekali."
Oddy yang kondisi badan cape dan lelah, apa lagi dia pulang juga dengan jalan kaki. Ia pun tidak bisa menahan rasa amarahnya dan terjadilah pertikaian sengit.
"Astaghfirullah aladzim, mau sampai kapan ibu seperti hah? apa ibu lupa, karena ulah ibu juga aku harus merelakan semua tabunganku yang aku kumpulkan dengan susah patah habis untuk membayar hutang ibu pada saudara-saudara. Juga mobil dan rumahku harus raib pula untuk membayar hutang ibu yang begitu banyak! Tobat Bu tobat! Ibu sudah ria seharusnya perbanyak amal kebajikan untuk bekal di akhirat nanti bukan malah seperti ini!"
"Sekarang aku ingin tahu darimana ibu dapatkan uang untuk membeli barang-barang belanjaan hingga puluhan juta. Sedangkan aku tahu jika Om Mickel memberi ibu hanya sebesar tiga juta rupiah?"
Usna lagi-lagi tidak juga sadar akan kesalahannya," kamu seharusnya nggak menyalahkan ibu. Jika kamu memberikan uang yang banyak pada ibu, pasti ibu tidak seperti ini. Untuk apa kamu meminta ibu untuk tobat? memangnya ibu ini seorang penjahat?'
__ADS_1
Oddy bingung harus bagaimana lagi menasehati Usna supaya ia benar-benar bertobat.
"Bu, jawab saja ibu mendapatkan uang dari mana? tolong jangan buat kesabaranku habis Bu!" bujuk Oddy yang saat ini sedang menahan untuk tidak marah pada ibunya.
Tetapi Usna sama sekali tidak memberi tahu darimana dirinya bisa berbelanja begitu banyak.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri jika sudah waktunya tanpa ibu memberi tahu padamu. Sudah nggak perlu marah-marah terus. Sana mandi dan terus makan. Ibu sudah membelikan makanan enak untukmu!"
Oddy hanya bisa mengusap dadanya dan ia terus saja beristigfar supaya bisa diberi kesabaran untuk menghadapi ibunya yang tamak dan gila belanja.
Pada saat dirinya akan melangkah mencari udara segar di teras halaman. Dirinya dikagetkan oleh adanya Mickel yang sedang duduk di ruang tamu.
"Om Mickel sudah lama, maaf aku nggak tahu ada om," sapa Oddy merasa tidak enak.
"Ya lumayan lama, bahkan om sempat mendengar perdebatanmu dengan ibumu. Sekarang om tidak perlu bertanya lagi padamu, karena perdebatanmu dengan ibumu sudah merupakan suatu jawaban dari rasa penasaran om dengan kebenaran cerita dari istri Om," ucap Mickel ketus, ia kesal karena Oddy tidak berkata jujur padanya.
Oddy duduk di samping Mickel sambil tertunduk," memangnya Tante Kayla mengatakan apa pada om?" tanya Oddy penasaran.
Mickel pun menceritakan semua yang di ceritakan Kayla kepada Oddy. Oddy terus saja tertunduk, ia malu dan juga cemas jika Mickel akan melakukan hal yang tidak diinginkan dirinya," om aku minta maaf, tolong jangan marah dan jangan pecat aku om, karena aku benar-benar butuh pekerjaan itu."
Mickel terus saja menatap kearah Oddy," siapa yang akan memecatmu? om kecewa saja kenapa waktu ibumu mengatakan kebohongan, kamu hanya diam saja? seharusnya kamu katakan ibumu berbohong. Dengan kamu menutupi kebohongan ibumu, sama saja kamu berbohong," ucap Mickel masih ketus.
__ADS_1