
Dengan sangat terpaksa, Ayu melangkah menuju ke arah rumah tepatnya ke kamar. Alvin menyeringai sinis, ia sangat senang karena pada akhirnya perusahaan miliknya kembali," hahaha... padahal perusahaan itu adalah milik pribadiku bukan milik Almarhumah istriku. Gampang banget si Naya dan Ayu di tipu."
Alvin sama sekali tidak ada sadarnya, ia masih saja seperti yang dulu. Bertemu anak bukannya meminta maaf, malah ia bersikap biasa saja.
Tak berapa lama datanglah Ayu dengan membawa semua berkas penting perusahaan milik Alvin. Ia pun memberikan dengan kasar kepada Alvin," mah, ini sudah aku berikan kepadanya ya. Jadi aku minta kepada Mamah jangan pernah pergi meninggalkanku."
Ayu sama sekali tidak mengatakan apapun pada Alvin, dia justru menatap tajam kepadanya seperti kepada musuh bebuyutan. Setelah mendapatkan surat-surat perusahaannya, Alvin pun berlalu pergi tanpa pamit sama sekali baik kepada Naya maupun pada Ayu.
"Mah, lihat kan? dia sama sekali tidak mengatakan maaf pada kita. Atau ingin supaya aku tidak marah padanya. Tetapi sikapnya masih saja seperti dulu," ucap Ayu kesal.
Naya menyunggingkan senyumnya," nak, nggak usah memikirkannya lagi. Toh kita sudah biasa hidup tanpanya sejak dulu? dan kita bisa menjalaninya bukan? bahkan mamah mampu memberikan pendidikan padamu hingga mendapatkan gelar sarjana?"
"Iya, mah. Mamah sangat hebat, berjuang seorang diri tapi sanggup membesarkan dan membiayai semua kebutuhanku." Ayu memeluk erat Naya seraya air matanya tertumpah.
"Yang hebat itu kuasa Allah, justru mamah kadang merasa diri ini nggak pantas menerima semua anugerah dari Allah. Karena dosa mamah di masa lalu begitu besar. Tetapi Allah maha pengampun, jika tidak mana mungkin mamah bisa memberikan pendidikan untukmu. Makanya mamah nggak ingin kamu mengikuti jejak mamah yang tidak baik, Ayu."
"Mamah ingin kamu menjadi seorang wanita yang Solehah, dan jangan pernah sekalipun menjalin hubungan dengan suami orang."
Naya benar-benar sudah menyadari semua kesalahan dan dosanya dimasa lalu, dan ia tidak ingin Ayu juga melakukan hal yang sama.
"Ya Allah, tapi aku sudah melakukan hal yang sadis pada Mamahnya Raka. Tapi biarkanlah, itu menjadi rahasiaku saja dan tidak ada yang mengetahuinya. Karena semua bukti telah aku buang, hingga tidak ada lagi bukti kuat yang bisa menjeratku. Tapi aku janji tidak akan mengulangi kejahatan lagi, aku nggak ingin memgecawakan mamah lagi," batin Ayu ingin benar-benar berubah.
*******
Sejak saat itu, Raka sama sekali tidak berkomunikasi dengan Alvin. Walaupun sesekali Alvin selalu mencoba mendekati dirinya.
__ADS_1
"Raka, ada yang ingin papah bicarakan padamu, tolong luangkan waktumu sebentar saja," pinta Alvin.
"Maaf, pah. Aku sedang banyak urusan."
Namun pada saat Raka akan berlalu begitu saja, Alvin mencekal lengannya," Raka, Papah mohon padamu, sebentar saja."
Hingga pada akhirnya, Raka pun duduk walaupun sebenarnya sangat enggan. Bahkan pandang Raka entah kemana.
"Raka, Papah minta maaf ya. Tolong jangan seperti ini, bersikap dingin pada papah. Karena hanya kamu yang papah punya. Jika tetap saja kamu cuek, Papah akan sedih."
Raka tersenyum sinis," kan masih ada Ayu dan ibunya. Jangan mengatakan tidak punya siapa-siapa lagi. Aku tidak suka jika papah masih saja menolak Ayu."
"Lantas, papah harus bagaimana? perusahaan sudah dikembalikan lagi ke papah oleh Ayu," ucapnya riang.
"Aku sedang tidak menanyakan tentang perusahaan Papah,tetapi aku mengharapkan mempunyai papah yang jujur dan tidak jahat."
"Papah nggak usah berpura-pura seperti itu, aku sedang berbicara tentang Ayu dan ibunya. Papah memang tidak jahat kepadaku, tetapi tidak jujur. Papah jahat kepada, Ayu dan Ibunya."
"Kenapa setelah bertemu dengan Ayu, Papah tidak mau mengakuinya sebagai anak? ini yang tidak aku suka dari papah."
"Jika papah mengharapkan aku bersikap seperti disediakala, tolong berubahlh demi aku."
"Aku ingin papah minta maaf pada Ayu dan ibunya. Dan jangan menolak Ayu lagi seperti dulu. Aku akan bersikap seperti sediakala kepada papah, seolah tidak pernah terjadi hal yang membuatku sakit hati dan kecewa kepada, papah."
Mendengar permintaan dari Raka, Alvin sejenak diam saja. Dia sangat malas dan gengsi untuk meminta maaf kepada Ayu dan Ibunya.
__ADS_1
"Jika memang aku sudah berniat meminta maaf, pasti sudah aku lakukan waktu itu. Tetapi aku sama sekali tidak ingin meminta maaf pada mereka. Aku merasa apa yang aku lakukan tidak pernah salah. Jadi untuk apa pula aku minta maaf pada, mereka?" batin Alvin menolak mentah-mentah keinginan dari Raka.
"Aku tahu, papah tidak mau bukan menuruti permintaanku? ok nggak apa-apa, tapi jangan harap jika aku akan tetap acuh. Karena aku paling benci jika mengetahui seorang ayah menelantarkan anak kandungnya."
"Tidak ada alasan apa pun untuk seorang ayah membenarkan diri sendiri meninggalkan anaknya tanpa memberinya nafkah."
"Seharusnya Papah justru iba, dan pada saat itu memberikan biaya operasi untuk mengoperasi bibir sumbing Ayu. Bukan malah lari dari tanggung jawab. Dia tidak salah jika benci dan dendam padamu, Pah."
"Karena memang sudah sepantasnya paph mendapatkanya, atas apa yang telah papah tanam di masa lalu, itulah yang Papah tuai."
"Aku saja yang tidak mengalami sendiri apa yang di alami oleh Ayu, bisa merasakan betapa sakit. Bukan hanya setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun lamanya, mereka hidup tanpa nafkah darimu, Pah."
Alvin merasa heran, karena Raka terus saja ceramah," Raka, kenapa kamu kesannya itu membela Ayu dan ibunya? dan terus memojokkan Papah?"
"Kamu nggak tahu kebenaran tentang masa lalu papah itu seperti apa. Langsung saja kamu percaya dengan segala yang di katakan oleh, Ayu.".
Raka pun menghela napas panjang," aku memang tidak mengetahui sendiri kejadian masa lalu Papah dan Ayu. Tetapi aku kan sempat melihat dan mendengar sendiri semua perkataan papah di rekaman video CCTV."
"Aku heran, seharusnya di usia Papah yang sudah tidak muda. Harus banyak berbuat baik. Eh malah ingin menikah dengan daun muda," ejek Raka.
"Raka, papah ini cuma tua umurnya. Tapi kamu nggak sadar, wajah papah awet muda. Dan papah ini masih normal. Ya wajar jika ingin menikah lagi," ucap Alvin.
"Astaghfirullah aladzim, Pah-pah. Ternyata memang sudah sifat dan karakter papah seperti itu, jadi susah di beri nasehat."
Alvin naik pitam," seharusnya yang menasehati itu papah ke kamu! bukan malah kamu yang menasehati papah!"
__ADS_1
Raka pun memutuskan pergi dari hadapan Alvin.