
Dengan langkah pasti, Kayla mengetuk pintu kontrakan yang ditempati oleh Usna dan Oddy. Terbukalah dan muncullah Usna, ia sama sekali tidak merasa bersalah kepada Kayla.
"Eh kamu Kayla, aku kira tamu siapa. Ganggu waktu tidurku saja, ada apa sih?" tanya Usna menatap tajam kearah Kayla.
"Kamu masih bisa bertanya ada apa dengan kedatangan diriku? heran sekali, ada ya watak picik culas sepertimu..
"Hey, datang-datang kok ngomong seperti ini? aku nggak terima, kamu mengatakan hal buruk kepadaku!" Usna memotong pembicaraan Kayla.
"Aku lebih tidak terima dengan kelancanganmu, yang meminta uang sewa kontrakan kepada semua penghuni kontrakan milikku. Cepat berikan uangnya padaku sekarang juga!" pinta KaYla ketus.
Namun Usna sama sekali tidak da rasa sungkan malu atau merasa tidak enak hati, ia bersikap biasa saja yang membuat Kayla semakin heran.
"Heh Kayla, seharusnya kamu berterima kasih dan bersyukur karena kamu tidak usah bersusah payah menagih uang kontrakan sendiri. Kamu nggak cape, karena sudah aku bantu dengan suka rela," ucap Usna dengan lantangnya.
Kayla pun sudah tidak bisa menahan rasa amarahnya," cepat berikan uangnya padaku dan nggak usah berbasa basi lagi, nggak usah banyak omong! Jia tidak akan aku laporkan kamu ke kantor polisi dengan tuduhan penipuan!" ancam KaYla dan ia lekas meraih ponselnya untuk segera menelpon aparat kepolisian.
Hal ini sontak saja membuat Usna ketakutan," stop! tolong jangan laporkan aku ke kantor polisi. Aku minta maaf karena kemarin aku butuh uang hingga aku tidak izin padamu terlebih dulu. Aku langsung meminta para penghuni kontrakan membayar kontrakan. Uangnya sudah habis aku belanjakan pakaian dan untuk aku makan di cafe langgananku pada waktu dulu aku masih bersama dengan Almarhum Mas Isal."
Kayla begitu marah dan ia tidak bisa mentolerir tindakan lancang Usna," aku tidak bisa memaafkan dirimu, dan aku akan meminta pertanggung jawaban darimu. Aku akan memberi tahu pada Oddy tentang perilaku burukmu ini!"
Setelah mengatakan hal itu, Kayla berlalu pergi begitu saja. Ia melangkah masuk kedalam mobilnya dan melakukannya ke kantor Mickel untuk membicarakan permasalahan tersebut pada Mickel dan Oddy.
Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Mickel, Kayla terus saja bergumam," heran sekali aku. Kok ada ya orang seperti Usna, bahkan setelah melakukan sebuah kesalahan, wajahnya biasa saja tanpa ada rasa menyesal apa lagi merasa bersalah. Astaghfirullah aladzim, kenapa aku jadi hilang kendali seperti ini ya Allah. Maafkan aku ya Allah, karena tidak bisa meredam emosiku ini."
__ADS_1
Tak berapa lama sampai juga di kantor Mickel. Dengan langkah pasti, Kayla menuju ke ruang kerja Mickel. Dan semua seperti serba kebetulan karena ada Oddy di ruang kerja Mickel.
"Oddy, kamu kembali ke ruang kerjamu terlebih dahulu ya," pinta Mickel, tetapi Kayla melarangnya.
"Jangan, duduk saja dan tetap disini! karena aku datang kemri selain untuk berbicara dengan Kak Mimie, aku juga ingin berbicara dengan Oddy. Ini sangat penting sekali," ucap Kayla tegas tanpa ada senyuman sama sekali.
Mickel dan Oddy menatap heran ke arah Kayla. Mickel pun bertanya," apakah ada masalah yang berhubungan denganku dan Oddy?" tanya Mickel penasaran.
"Ya Tante, kok aku jadi deg-degan seperti ini. Apakah secara tidak sengaja aku melakukan suatu kesalahan?" tanya Oddy penasaran juga.
"Kamu tidak bermasalah, tetapi ibumu yang sudah berulah dan membuat suatu masalah," ucap Kayla.
Dia pun menceritakan kepada Mickel dan Oddy apa yang telah dilakukan oleh Usna. Sontak saja Oddy merasa malu," astaghfirullah aladzim, ibu!"
Mickel mencoba menenangkan keduanya," sayang, kamu jangan menyalahkan hal ini pada Oddy karena ia pasti tidak tahu dengan apa yang telah diperbuat oleh Usna. Mari kita cari solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini."
Kayla sama sekali tidak menyalahkan Oddy atas apa yang telah di perbuat oleh Usna," aku disini tidak menyalahkan Oddy. Bukankah Oddy juga perlu tahu dengan apa yang telah dilakukan oleh Usna? dan aku ingin Oddy membantu menyelesaikan permasalahan ini."
"Baiklah Tante, aku akan bayar uang yang telah di gunakan oleh Ibu. Tetapi aku tidak bisa membayar cash. Karena ku benar-benar tidak punya uang lagi. Paling aku bisa mengangsur setiap aku mendapatkan gaji dari Om Mickel," ucap Oddy.
Kayla tidak ingin membahas permasalahan tersebut di kantor. Ia mengajak Mickel dan Oddy untuk segera kekontrakan.
"Sebaiknya kita ke kontrakan dan bicarakan hal ini dengan ibumu juga. Karena aku tidak ingin kamu yang bertanggung jawab untuk kesalahan yang diperbuat oleh ibumu. Aku ingin ibumu yang bertanggung jawab. Jangan bertanya apapun, sekarang juga kita ke rumah kontrakan Usna."
__ADS_1
Saat itu juga mereka pergi ke rumah kontrakan yang saat ini ditempati oleh Usna dan Oddy. Sesampainya di rumah kontrakan tersebut, Usna heran," kenapa kalian pulang, bukannya sedang bekerja?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Usna, justru Oddy mengalihkan pertanyaan Usna," diam Bu! nggak usah banyak tanya, sekarang ibu duduk!"
"Duduklah Mbak Usna, karena kami ingin berbicara padsmu!" perintah Mickel.
Saat itu juga Usna duduk, tanpa sepatah kata lagi.
"Mbak Usna, katakan pada Oddy apa yang telah mbak perbuat!" perintah Kayla.
"Astagaaaa... jadi kamu masih mempermasalahkan hal itu? aku kan sudah minta maaf, dan aku yakin Oddy akan mengganti semua uangmu yang telah aku pergunakan untuk ke mall," ucap Usna.
Tetapi Kayla tidak mau Oddy yang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh Usna.
"Jangan lempar batu sembunyi tangan Mbak Usna. Kamu yang berbuat ya kamu yang harus bertanggung jawab. Aku ingin kamu yang tanggung jawab," ucap Kayla tegas.
'Bagaimana aku bisa mengembalikan uangmu sedangkan yang bekerja kan Oddy bukan aku. Aku sama sekali tidak punya uang atau pekerjaan," ucap Usna.
"Aku akan menghitung semua kerugiannya, yakni satu juta lima ratus kali dua puluh. Total uang yang di pakai oleh Mbak Usna sebesar tiga puluh juta. Dan Mbak harus bekerja di rumahku menjadi asisten rumah tangga tanpa dibayar selama sepuluh bulan," ucap Kayla.
"Tidak mau, masa iya aku harus bekerja jadi asisten rumah tangga!" tolak Usna.
Kayla tersenyum," baiklah Mba Usna, jika tidak mau...
__ADS_1
"Nah begitu Kayla berbaik hatilah sedikit pada seorang janda," ucap Usna sumringah memotong perkataan Kayla.
"Mba Usna, apakah sudah menjadi kebiasaan memotong perkataan orang? aku belum selesai berkata loh. Jika tidak mau aku akan bawa permasalahan ingin ke jalur hukum!" ucap Kayla sangat kesal.