
Kayla berusaha meyakinkan Mickel dengan segala perkataannya hingga akhirnya Mickel pun menyerah dan memberikan pekerjaan untuk, Vina.
Tetapi Mickel hanya memposisikan Vina di sebuah staf biasa. Karena Mickel tidak yakin dengan kinerja Vina. Ia hanya memenuhi kemaua dari Kayla, untuk menolong Vina.
"Terima kasih ya, Kak Mimi. Atas pengertiannya dan kebaikannya. Aku yakin kok kinerja Vina tidak akan mengecewakan."
Kayla memeluk hangat suaminya, dan mendapatkan balasan belaian lembut dari Mickel.
Sementara Vina gelisah menunggu Kayla dan Mickel yang tak juga keluar dari ruangan tersebut. Hingga beberapa detik kemudian, rasa gelisah Vina terjawab. Kayla dan Mickel nongol.
"Vina, aku akan memberikan pekerjaan sesuai dengan keinginan Kayla. Tetapi hanya sebagai staf biasa, apakah kamu mau? karena kebetulan di kantor iniywng sedang butuh tenaga tambahan yakni di bagian staf biasa."
Vina sumringah," nggak apa-apa Tuan Mickel. Walaupun di bagian staf biasa, itu sudah sangat bersyukur sekali karena anda bersedia bantu saya untuk bisa mendapatkan pekerjaan kembali."
Rasa bahagia kini terpancar di wajah Vina, dengan dirinya mendapatkan pekerjaan. Bisa membawa orang tuanya keluar dari rumah, Alvin.
Rasa syukur zvina tisda hentinya. Ia juga berkali-kali mengucap terima kasih kepada Kayla dan Mickel.
"Sebenarnya aku enggan, hanya saja aku tidak tega pada Kayla yang terus saja memohon padaku. Tetapi aku tidak akan begitu saja percaya pada Vina. Karena aku juga belum tahu kinerja dirinya seperti apa, dan juga aku akan meminta orang khusus untuk mengawasi gerak-geriknya."
"Aku harus lebih waspada dari segala kemungkinan buruk. Karena Vina adalah adik kandung dari, Alvin. Pria licik dan jahat. Aku tidak ingin ceroboh."
Mickel memang seorang pembisnis yang sangat jeli dan selalu menomor satukan kewaspadaan supaya tidak di tikam dari belakang. Dia akan lebih waspada lagi dengan hadirnya Vina di dalam kantornya.
"Kak, kalau begitu aku permisi pulang ya. Karena aku juga akan mengantarkan Vina."
__ADS_1
Mickel menyunggingkan senyuman termanisnya kepada istri yang sangat di kasihinya.
"Wah, kapan aku bisa memiliki seorang suami yang tampan dan baik serta begitu mengasihi seperti, Tuan Mickel ini ya? adanya aku tidak menikah karena bolak balik di kecewakan oleh lelaki. Hingga setua ini aku tidak menikah juga karena aku trauma di sakiti oleh para lelaki."
"Tetapi melihat keromantisan antara Mbak Kayla dan Tuan Mickel, membuat aku juga ingin memiliki suami yang pengertian juga."
Di dalam hati Vina terus saja memuji dan mengagumi pasangan suami istri yang ada di hadapan tersebut yang sudah tidak muda lagi.
Satu Jam Berlalu....
Kini Vina sudah ada di rumah Alvin dan mengatakan kabar bahagia tersebut pada, orang tuanya jika dirinya telah mendapatkan suatu pekerjaan.
"Ayah-ibu, Alhamdulillah usahaku tidak sia-sia. Karena pada akhirnya aku mendapatkan suatu pekerjaan, ya walaupun hanya di pekerjakan di staf biasa. Setidaknya ak tidak menganggur lagi."
Vina tidak tinggal diam, justru diapun membalas ejekan Alvin," Alhamdulillah aku bangga, karena setidaknya walaupun aku bekerja di staf biasa, aku masih bisa menghormati oran tua dan tidak sombong sepertimu, mas. Dulu kamu tidak seperti ini, sekarang malah bertambah parah. Semakin tua bukannya semakin memperbaiki amalan dan ibadah, tetapi malah semakin parah!"
Alvin sangat murka mendengar ejekan dari Vina, hingga ia pun mengusir Vina dan orang tuanya saat itu juga," kurang ajar kamu ya! cepat kamu kemasi semua pakaianmu dan juga ajak serta ayah dan ibu! aku tidak ingin melihat kalian ad di rumahku lagi!"
Bu Riris yang mendengar perkataan kasar Alvin, sudah tidak bisa mentolerir. Ia pun ikut marah juga," Alvin, selama ini ibu diam dan berusaha menahan rasa amarah. Tetapi kali ini tidak lagi, dan ibu pastikan suatu saat nanti kamu akan menyesali segala hal yang pernah kamu katakan pada kami!".
"Dan pada saat kamu menyesal, kami sudah tidak bisa memberikan pintu maaf padamu. Lihatlah Alvin, dunia itu berputar dan tidak selamanya kamu ada di atas. Suatu saat nanti posisimu bertukar dengan Vina!"
"Seorang anak yang memuliakan orang tua, pasti kelak kehidupannya akan bahagia. Dan Allah akan membuka ladang rezeki untuk Vina. Sedangkan kehancuran akan segera di dapat olehmu!"
Ayah Sugeng begitu khawatir dengan segala yang telah di katakan oleh istrinya yang sedang dalam kondisi marah," Bu, istighfar. Jangan mengatakan hal buruk untuk Alvin, karena bagaimana pun dia anak kita. Tolong cabut lagi kata-kata burukmu untuk Alvin."
__ADS_1
Bu Riris sama sekali tidak menghiraukan permintaan dari suaminya.. Justru ia berlalu pergi untuk segera berkemas dan ikut Vina. Ayah Sugeng mengikuti langkah kaki istrinya untuk segera berkemas pula, walaupun dia sangat keberatan jika keluar dari rumah Alvin, karena ia merasa belum berhasil menyadarkan Alvin untuk segera bertobat.
Beberapa menit kemudian....
Vina pergi bersama orang tuanya dari rumah Alvin.
"Vin, kita akan tinggal dimana jika keluar dari rumah Alvin?" tanya Ayah Sugeng begitu khawatir.
Padahal Vina sudah siap dengan sebuah tempat tinggal yakni rumah yang tidak begitu besar milik dari Kayla. Bahkan tanpa ada rasa sungkan, Kayla juga memberikan sedikit uang untuk Vina.
Vina menjelaskan pada orang tuanya untuk tidak khawatir mengenai tempat tinggal karena ia sudah siapkan untuk itu.
"Ayah-ibu, kita tidak akan kehujanan atau kepanasan kok. Dan kita juga tidak perlu membayar uang sewa untuk rumah yang akan kita tempati. Hanya di minta untuk benar-benar merawat rumah dengan baik."
"Karena ada orang baik yang memberikan kita tumpangan dengan mengizinkan kita untuk tinggal di salah satu rumahnya dan juga memberikanku pekerjaan."
Orang tua Vina menjadi penasaran dengan orang yang berjasa tersebut. Mereka pun menanyakan kepada Vina siapakah orang tersebut, karena mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada sang penolong.
Dengan sangat antusias, Vina mengatakan bahwa sang penolong tersebut adalah Kayla. Sontak saja orang tua Vina terperangah.
"Vina, kamu sedang tidak berbohong bukan?" Ayah Sugeng ragu.
"Iya, Vina. Mana mungkin Kayla bersedia menolong kita, karena dia kan pernah di kecewakan oleh, Alvin," Bu Riris juga tidak percaya dengan apa yang telah di katakan oleh Vina.
Tetapi Vina meyakinkan kepada orang tuanya jika di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Jika Allah sudah berkehendak apa pun akan terjadi.
__ADS_1