Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Menikah


__ADS_3

Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu oleh Hendrik dan Mey telah tiba, yakni hari pernikahan mereka. Rasa hati keduanya dag dig dug tak karuan sekali. Hal ini sangat terlihat hingga Mickel menasehati anak sulungnya," jangan gugup dan panik, semua pasti akan berjalan dengan lancar. Doa saja supaya rasa panik itu hilang."


"Ya pah, terima kasih. Entah kenapa aku seperti ini nggak karuan sekali pah. Padahal pernikahanku ini sengaja dibuat sederhana. Tetapi walaupun sederhana, aku masih merasa seperti ini saja. Aku pikir jika pernikahannya dibuat mewah aku baru merasakan gugup dan panik," ucap Hendrik tersipu malu.


Mickel terkekeh dan terus saja menasehati Hendrik. Baru kali ini Mickel bisa serius dan tidak bercanda sama sekali. Tidak seperti biasanya jika dia sedang berbicara di meja makan atau bersama dengan Kayla.


Suasana riuh oleh para tetangga dan kerabat dari dua belah pihak, serta para sahabat yang sedang menunggu acara ijab qobul dimulai. Tetapi pak penghulu belum datang juga, padahal kedua mempelai telah siap dari tadi.


Kayla segera menelpon pak penghulu untuk segera datang. Dan kebetulan kondisi jalanan macet, hingga pak penghulu mengatakan agak terlambat sampai di tujuan.


"Hendrik-Mey, sabar sebentar ya. Karena pak penghulu sudah sedang dalam perjalanan, hanya saja terhalang kemacetan," ucap Kayla memberi tahu.


Baik Hendrik maupun Mey hanya tersenyum saja, didalam hati keduanya saat ini sedang merasakan gelisah tak karuan sama sekali.


Sedangkan Mickel mulai menatap genit ke arah Kayla, dan tiba-tiba ia menghampiri istrinya dan berbisik," mah, kenapa wajahmu awet muda seperti ini sih? sudah punya tiga anak yang gede-gede tapi kok masih saja bisa membuat hatiku bergetar hebat. Aku jadi ingin honeymoon lagi denganmu."


Kayla tak merespon bisikan suaminya dengan kata-kata, tetapi ia merespon dengan satu cubitan pedas di pinggangnya yang membuat Mickel tersentak kaget.


"Aaauhhh..."


Sontak saja semua orang menatap kearah dirinya yang membuatnya sejenak wajahnya pias. Sementara Kayla berlalu pergi begitu saja, ia melangkah ke pelataran rumah untuk menunggu sang penghulu yang tak datang juga. Sesekali Kayla melihat jam tangannya.


Beberapa Detik Kemudian...


Akhirnya sang penghulu pun datang juga, Kayla pun kini merasa lega. Acara ijab qobul sudah bisa segera dimulai saat itu juga. Suasana mendadak hening, sunyi, tidak ada satu suara pun sama sekali. Semua fokus melihat dan mendengar acara pengucapan ikrar ijab qobul.


Hendrik menghela napas panjang supaya ia tidak gugup lagi dan benar-benar siap serta tidak salah dalam berucap. Alhasil ia bisa berbicara dengan lancar tanpa adanya kesalahan dalam berucap.


Semua lega dan mengucapkan Alhamdulillah, karena acara ijab qobul berjalan dengan lancar. Kini Hendrik dan Mey sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Setelah sejenak panik dan seperti horor, kini semua bisa berbicara bebas dan semua silih berganti memberikan ucapan selamat pada sang mempelai.


Acara pernikahan yang dilakukan secara sederhana tersebut sangat berkesan bagi sang mempelai karena acaranya tidak ada halangan dan segalanya berjalan sesuai dengan yang diinginkan.


*******


Malam menjelang...


Saatnya kedua mempelainya melakukan ritual malam pertama. Tetapi Hendrik diam seribu bahasa begitu pula dengan Mey. Keduanya ambigu duduk berdampingan, seperti orang yang salah tingkah. Saling senyum saling garuk-garuk kepala yang tak gatal.


Dari balik pintu, Mickel sedang mengintip," ah Hendrik payah banget! kenapa sih dia nggak langsung sat set belah duren? iihhhh malah diam saja seperti itu? kapan mulainya kalau begini? ih polos tapi kok terlalu polos banget sih, masa iya nggak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan? cepat Hendrik terjang istrimu ayokk...."

__ADS_1


Gumaman Mickel keras sekali, ia tidak sadar jika dibelakang dirinya sudah berdiri Kayla dengan wajah garang dan dengan kedua tangannya di pinggang. Segera Kayla menghampiri Mickel dan menarik salah satu telinganya yang sontak saja membuat Mickel kaget dan mengaduh keras sekali," aaaddduhhhhhh....!!!!!"


Kayla menyeret paksa Mickel berlu dari depan pintu tersebut. Sedangkan di dalam kamar, Hendrik dan Mey sempat mendengar suara tersebut. Hingga mereka serentak melangkah ke arah pintu dan pada saat Hendrik membuka pintu, mereka tidak melihat ada orang sama sekali.


"Sayang, barusan kamu dengar suara mengaduh nggak di depan pintu ini?" tanya Hendrik seraya celingukan kesana kemari mencari seseorang tetapi tidak ada.


"Iya mas, aku dengar jelas sekali ada yang mengaduh di luar kamar ini. Tetapi kok nggak ada orangnya ya? ih mas kok jadi horor begini ya? jangan-jangan hotel ini... mas aku takut."


Tiba-tiba Mey memeluk Hendrik begitu saja, hingga membuat jantungnya berdegup kencang sekali.


Hendrik menenangkan Mey dan mengajaknya masuk, ia segera mengunci pintu kamarnya.


Sementara Kayla sedang mengomel pada Mickel," Kak Mimi sedang apa sih? kok seperti itu di depan kamar Hendrik? memalukan sekali tahu nggak? untung cuma aku yang melihat, jika ada orang lain yang melihatnya bagaimana coba?"


Mickel malah menatap genit ke arah Kayla seraya mendekat dengan pasti dan menangkap dagu Kayla," nggak akan mungkin orang lain melihat, hanya kamu dan aku saja yang melihat."


Kayla semakin kesal pada suaminya tersebut. Ia pun menepis tangan Mickel yang ada di dagunya," tidur gih, sudah tua saja masihkah bergaya seperti anak muda."


Mickel justru semakin menggoda Kayla," ini yang namanya tua-tua keladi sayang. Makin tua makin menjadi, menjadi bertambah cinta padamu."


Kayla benar-benar tidak habis pikir dengan sifat Mickel yang benar-benar mirip anak muda saja. Genitnya minta ampun dan nggak ketulungan.


Mey pun merebahkan tubuhnya membelakangi Hendrik. Didalam hatinya bergumam," masa iya Mas Hendrik sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan di malam pertama? padahal aku sudah tidak sabar ingin merasakan sesuatu yang seperti teman-teman aku katakan jika di malam pertama."


Hendrik pun perlahan mengusap bahu istrinya," sayang, jangan ngambek seperti ini dong. Tolong bersabar ya, karena aku juga belum berpengalaman sama sekali. Ini benar-benar pertama loh bagiku."


Hendrik perlahan menarik tubuh istrinya yang membelakangi dirinya. Kini posisi Mey telentang dan Hendrik menatapnya dari atasnya. Sejenak keduanya saling tatap satu sama lain.


Perlahan Hendrik mendekati bibir Mey dan mengecupnya. Ini pertama kali dia mencium bibir seorang wanita. Hendrik benar-benar polos dan belum pernah berpengalaman sama sekali.


Dalam hal ciumanpun ia masih kagok. Tetapi ia berusaha melakukan ciuman itu dengan Mey. Dan ia pun mulai beraksi seperti yang ada di film-film yang sempat ia lihat beberapa hari sebelum menikah.


Ia sengaja melihat film itu karena ia sama sekali belum berpengalaman dan supaya ia tidak mengecewakan Istrinya.


"Sayang, kok susah sekali ya? kenapa burungku nggak masuk-masuk juga ya?" bisik Hendrik membuat Mey terkikik geli.


Mey juga bingung harus bagaimana, ia juga pertama kalinya melakukan hal ini. Keduanya sama-sama belum berpengalaman tentang malam pertama.


Terus saja Hendrik berusaha berjuang untuk memasukkan burungnya ke dalam sangkar yang indah.


"BLESS!!!!""

__ADS_1


Akhirnya berhasil juga, tetapi Hendrik diem sejenak karena melihat Mey meringis kesakitan.


"Sayang, apakah aku keluarkan saja ya burungku? aku nggak tega melihatmu kesakitan seperti itu?" bisiknya.


Namun pada saat Hendrik akan mencabut burungnya, Mey melarangnya," jangan mas, masukinnya saja lama masa mau di cabut begitu saja? coba gerakkan dech pelan-pelan saja."


Setelah beberapa saat akhirnya mereka berhasil juga melakukan ritual malam pertama. Yang di gadang-gadang setiap pasangan pengantin baru.


Bahkan mereka sampai rela begadang hingga waktu subuh baru mereka benar-benar berhenti dan terlelap dalam tidur nyenyak karena kelelahan dan kecapean dalam medan pertempuran.


Hingga menjelang pukul delapan pagi mereka juga belum bangun.


"Sayang, Hendrik dan Mey belum bangun. Berarti mereka semalam sudah berhasil gol apa ya?" celoteh Mickel terkekeh.


Kayla hanya menanggapi perkataan Mickel dengan menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.


Mickel benar-benar suka sekali bercanda jika sedang bersama dengan Kayla. Kadang Kayla merasa heran, karena Mickel yang dulu nggak seperti itu.


Acara ijab qobul waktu itu diadakan bdi sebuah hotel supaya praktis menjamu tamu. Hingga semua anggota keluarga juga bermalam di hotel.


Hendrik dan Mey melewatkan waktu sarapan bersama karena mereka saat ini masih nyenyak tidur.


Hingga pukul sebelas siang keduanya baru bangun karena serentak cacing di dalam perut mereka berbunyi sudah meminta untuk diberi makan.


"Astaghfirullah aladzim, kita kesiangan mas. Sudah jam sebelas siang. Aduhhhhhh... bagaimana kita memberikan alasan?" Mey terlihat panik tetapi tidak dengan Hendrik, ia biasa saja.


"Nggak usah panik seperti itu sayang. Mereka pasti sudah paham kok. Karena mereka dulu juga pernah alami hal seperti kita, hhemmm aku ingin lagi yukk main lagi."


Tetapi Mey menolak dengan alasan masih lelah dan bagian sel*ngk*angan masih terasa sakit.


Keduanya memutuskan untuk mandi secara bergantian, tetapi pada saat Mey melangkah ke kamar mandi ia tidak bisa melangkah dengan benar karena rasa perih di bagian ***.


Hendrik pun mengangkat tubuh Mey dan mengabari ke kamar mandi. Setelah itu ia kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya hingga tidak sadar ia terlelap tidur kembali.


Dia baru terbangun pada saat Mey mengguncang tubuhnya untuk segera mandi. Dengan gontay, Hendrik melangkah ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, barulah mereka keluar dari kamar hotel dan. mencari seluruh anggota keluarga yang saat ini sedang duduk bersantai di lobi hotel.


Mulailah Mickel menggoda Hendrik dan Mey hingga wajah keduanya tersipu malu dan terlihat pias.


Sejenak semua keluarga bercengkerama hingga makan siang, barulah mereka makan bersama begitu pula dengan Hendrik dan Mey yang sudah menahan lapar dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2