
Dengan sangat terpaksa, Naya pulang dari rumah sakit seorang diri. Untung saja dia masih mempunyai simpanan uang atau tabungan, karena Alvin selalu saja memberikan jatah bulanan tepat waktu.
"Untuk masalah uang, Mas ALvin tidak pernah perhitungan. Tetapi untuk kasih sayang, selama kita menikah sifatnya menjadi berubah. Tidak seperti pada saat kita baru masih menjalani pacaran."
"Sampai pada saat aku melahirkan pun, tidak didampingi olehnya. Anak saja dokter yang mengadzaninya."
"Hingga detik ini tak ada kabar darinya, hingga aku bingung harus bagaimana? jika saja orang tuaku masih hidup aku tidak akan sesedih ini."
Selagi Naya terus saja menggerutu di dalam hatinya, terdengar suara daru mobil masuk pelataran rumah.
Tetapi Naya sengaja tidak menyambut kepulangan suaminya, karena ia masih kesal padanya.
"Kenapa sih, suami pulang kok tidak disambut sama sekali? loh. ternyata kamu sudah melahirkan, kok tidak memberitahuku?"
Alvin sempat terkejut pada saat melihat Naya perutnya sudah kempes. Sedangkan Naya sangat emosi," astaghfirullah aladzim, jadi sampai hari ini pun kamu nggak buka chat pesan aku beberapa hari yang lalu? di saat aku meminta tolong dirimu untuk mengantar aku ke rumah sakit?"
"Oh jadi kamu yang kirim chat pesan? aku sama sekali tidak buka ponsel karena sibuk," ucapnya dengan enteng.
"Sibuk katamu, mas? kamu pikir aku nggak tahu jika beberapa hari kamu justru nggak ada di kantor. Lantas kamu kemana?" tanya Naya kesal.
"Sudahlah, nggak usah di ributkan lagi. Yang penting kan kamu saat ini baik-baik saja bukan? bisa bayar biaya rumah sakit dari uang yang setiap bulan aku berikan. Lantas apa jenis kelamin anak kita?"
Alvin penasaran dengan anaknya, dan ia melangkah ke arah box bayi. Betapa terkejutnya dia pada saat melihat bibir bayinya yang sumbing.
"Kenapa bayi kita seperti itu bibirnya? ini pasti karena pada saat hamil, kamu nggak becus jaga kehamilanmu;" omel Alvin kesal.
__ADS_1
Naya tak terima dirinya di salahkan," seenaknya saja menyalahkan orang. Koreksi dirimu sendiri dulu, sebelum menyalahkanku. Apa pernah selama aku hamil, kamu menjadi suami siaga? tanya apa saja yang ski butuhkan selama aku hamil? nggak bukan? kamu justru jarang ada di rumah dengan alasan ini dan itu tak jelas. Selama ini aku selalu bertahan menghadapimu, karena adanya anak kita."
Alvin juga tak mau kalah," jadi orang itu nggak usah manja! tugas lelaki itu cari uang, dan aku sudah melaksanakan tugasku. Kamu kan bisa setiap bulan kontrol kandungan sendiri ke bidan atau rumah sakit. Toh ada uang dariku, jadi untuk apa di buat bingung?"
"Mas, kenapa sih kamu malah berubah seperti ini? padahal dulu di saat kita belum menikah, kamu selalu mengatakan banyak hal manis padaku. Tetapi semua tidak ada pembuktiannya sama sekali!" umpat Naya.
"Nggak ada pembuktian bagaimana? kamu jadi istri kok nggak bisa bersyukur sama sekali ya? jatah bulanan selalu aku berikan, jika kamu minta perhiasan atau barang-barang branded juga selalu aku berikan. Kamu pikir semua itu beli paket daun? kamu pikir aku nggak butuh kerja keras untuk mendapatkan semua itu? jadi istri kok terlalu menuntut seperti itu sih?"
"Sudah buat aku malu, dengan melahirkan anak cacat seperti itu. Suami cape, pulang bukannya di sambut dengan senyuman. Ini malah memancing emosi!"
"Apa mau aku talak kamu saat ini juga supaya kamu bebas sana di luaran sana. Dan bawa juga anakmu yang cacat itu!"
Naya mulai panik pada saat Alvin mengatakan kata talak," mas, kok jadi bicara soal perpisahan? aku nggak mau ya pisah sama kamu sampai kapan pun."
"Jika kamu nggak ingin pisah dariku, ya sudag nggak usah banyak ngeluh atau menuntut macam-macam padaku. Yeng terpenting aku sudah menjadi suami yang tanggung jawab dengan memberikan uang yang banyak padamu."
"Mas, aku minta maaf ya. Tolong jangan mengatakan kata-kata pisah lagi. Karena aku benar-benar cinta padamu, makanya aku rela merebutmu dari, Kayla."
Alvin bukannya luluh dan meredam amarahnya, dia malah semakin bertambah marah," bisa nggak, jangan mengatakan nama Kayla di depanku! aku nggak sudi dengar nama itu lagi, paham!"
Naya sempat tersentak kaget pada saat mendapatkan bentakan dari, Alvin.
"Astaghfirullah aladzim, kenapa Mas Alvin jadi berubah arogant seperti ini sih? padahal mas Alvin yang sempat aku kenal dulu adalah pria yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Makanya aku iri pada saat melihatnya bersama, Kayla."
Naya pun menyingkir dari hadapan Alvin. Karena dia tak ingin bertengkar lagi dengannya.
__ADS_1
Situasi berbeda di rumah Kayla. Dimana Mickel sering menyambangi rumahnya.
"Tuan Mickel, sudah berapa kali aku mengatakan. Supaya anda jangan terlalu sering ke rumah," ucap Kayla kesal.
"Kay, aku juga sudah berapa kali mengatakan jika aku tak suka kalau kamu terus saja memanggilku, Tuan. Apa kamu benar-benar tidak mengingatku?" ucapnya sedih.
"Apa sih yang Tuan maksud? aku nggak mengerti dengan kata-kata, Tuan?"
"Kay, aku minta tolong jangan panggil aku Tuan lagi. Ya Allah, kenapa kamu sama sekali nggak ingat padaku ya? kalau begitu ikutlah denganku ke suatu tempat. Mungkin saja bisa membuatmu ingat padaku, Kay."
Perkataan Mickel membuat Kayla semakin bingung. Hingga dia pun menuruti saja kemauan Mickel. Karena dia juga penasaran, Mickel akan mengajaknya kemana.
Saat itu juga, Kayla mengikuti langkah kaki Mickel ke arah mobilnya. Dan setelah keduanya berada di dalam mobil, Mickel meminta sang sopir ke sebuah telaga sunyi di suatu desa.
"Telahya sunyi? sepertinya aku pernah mendengarnya?" ucap Kayla secara tiba-tiba.
"Apakah kamu sudah ingat, Kay? jika kamu ingat teldh sunyi pasti kamu akan ingat aku," ucap Mickel dengan sangat sumringah.
"Nggak, aku sama sekali nggak ingat apa pun. Hanya saja aku pernah mendengar kata-kata telsga sunyi itu tak asing di telingaku. Tetapi aku lupa, mendengar dimana. Jujur saja pada saat kecil aku pernah alami kecelakaan yang membuat ingatan masa laluku hilang begitu saja."
Mickel baru paham, kenapa Kayla tidak ingat dirinya sama sekali," astaghfirullah aladzim, jadi kamu pernah alami kecelakaan? pantas saja kamu nggak ingat padaku, Kay. Padahal selama bertahun-tahun aku mencari keberadaanmu."
Kayla mengernyitkan alisnya," mencariku? apakah kamu ini ada hubungannya denganku di masa lalu?"
"Iya, Kay. Semoga saja jika kita sudah sampai di telaga, kamu akan ingat semua masa lalumu, masa kecil kita berdua."
__ADS_1
Kayla semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh, Mickel.