Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Sedikit Nasehat


__ADS_3

Kayla dan Mickel serta kedua adik Hendrik memutuskan untuk kembali ke rumah. Sebelum pulang, Kayla dan Mickel memberikan sedikit nasehat kepada keduanya.


"Hendrik, mamah percaya kamu pria yang hebat dan suami yang tanggung jawab. Selalulah seperti itu, dan jangan pernah ingat masa lalu yang kelam ya. Karena sekarang kamu sudah berkeluarga lagi jadi fokuslah dengan masa depan. Bukan berarti mamah memintamu melupakan semua tentang almarhumah Mey. Tetapi ingat yang baiknya saja, yang buruk dimana kejadian kecelakaan itu tak usah kamu ingat lagi ya?" pesan Kayla.


"Ya mah, pasti aku akan melakukan pesan mamah. Karena aku juga ingin benar-benar langgeng dengan Rindi dan juga aku tidak ingin hal serupa terjadi pada Rindi. Aku akan selalu waspada dan tidak ceroboh lagi dalam segala hal," ucap Hendrik meyakinkan Kayla.


"Nah sekarang Papah yang ingin menyampaikan sedikit keinginan ya Hendrik-Rindi. Jika bisa segera hadirkan adik untuk Airin," ucapnya.

__ADS_1


Hendrik dan Rindi sama-sama menghela napas panjang, mereka hanya menanggapi dengan senyuman keterpaksaan. Hal ini tentu saja membuat Mickel mengernyitkan alisnya," loh-loh-loh...kok expresi wajah kalian seperti itu?"


"Hust Papah, sudah nggak usah banyak kata lagi dech. Jika sudah waktunya mereka memiliki keturunan kembali pasti mereka akan segera punya anak," tegur Kayla.


Kayla juga berpesan pada Rindi," Rindi, mulai sekarang kamu harus membiasakan memanggil kami mamah dan papah ya. Jangan pernah sungkan lagi pada kami, karena kini kami sudah menjadi orang tuamu juga. Mamah nggak berpesan banyak padamu, karena Mamah sudah percaya jika kamu bibi bakal menjadi istri yang baik, setia, dan tanggung jawab."


Baik Hendrik dan Rindi sama-sama diem saja, mereka bingung hendak mengatakan apa. Terlebih Rindi, ia khawatir salah dalam berkata. Tiba-tiba Hendrik berkata," Rindi, sebelumnya aku minta maaf ya. Jika aku belum bis memberikan nafkah batin kepadamu karena....

__ADS_1


"Aku sudah tahu kok mas, jadi nggak usah terlalu di apa lagi dipermasalahkan. Kita yakin saja jika seiring berjalannya waktu pasti kita akan terbiasa. Dan aku yakin jika waktu itu telah tiba pasti kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Maaf ya mas, aku nggak bisa berkata-kata hhee... maklum aku nggak berpendidikan tinggi," ucap Rindi memotong pembicaraan Hendrik.


"Terima kasih Rindi, kamu sudah bisa mengerti aku. Tetapi kamu nggak usah khawatir ya. Aku akan bertanggung jawab penuh dengan dirimu dan Airin. Aku akan selalu memberikan segala yang kalian butuhkan. Aku akan memberikan nafkah lahir," ucap Hendrik.


"Mas Hendrik, seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih padamu. Karena selama ini begitu peduli dan bahkan sayang pada Airin. Hingga Mas rela menikah denganku walaupun tanpa ada ikatan cinta. Aku paham kok mas, semua ini demi Airin. Aku sangat bersyukur karena bisa melihat kebahagiaan di wajah Airin. Terima kasih sudah berse menjadi ayah sambung Airin, tanpa pernah aku memintanya."


Rindi menangkupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Tiba-tiba Hendrik menurunkan kedua tangan Rindi," kamu nggak perlu sungkan seperti ini. Oh ya, sekarang aku sudah menjadi suamimu. Jika ada hal yang penting dan aku tidak tahu, aku harap kamu jangan sungkan bercerita padaku ya?"


__ADS_2