Derit Ranjang Temanku

Derit Ranjang Temanku
Ambil Jalan Tengah


__ADS_3

Semua duduk di teras halaman, karena Airin tidak bersedia masuk ke dalam rumah tersebut. Ibu mertua segera masuk untuk membuatkan minuman dan cemilan.


Rasa berdebar Rindi semakin terasa pada saat Airin menatap heran ke arah dirinya tanpa berkedip dan tiba-tiba berkata," wajah Tante tak asing lagi buatku, dan Tante sering datang di setiap mimpi aku."


"Kenapa bisa seperti itu ya mah?" Airin beralih menatap kearah Kayla.


"Memangnya bagaimana mimpimu itu?" tanya Mickel sengaja mengulur waktu, karena baru datang tidak mungkin jika Kayla mengatakan kejujuran tentang siapa itu Rindi.


"Tante itu selalu saja bermain denganku pah. Dan selalu saja memintaku untuk memanggil dirinya ibu. Kadang aku juga heran jika terbangun dari tidur. Aku heran pah, karena aku jarang mimpiin Mamah Kayla. Tapi kok mimpinya Tante itu."


Kembali lagi Airin menatap ke arah Rindi.


"Nak, bukannya nggak apa-apa kan? jika Tante itu adalah Ibumu?"


Perkataan dari Kayla malah membuat Airin sedih," mamah kok ngomong seperti itu sih? aku ini kan anak Mamah Kayla dan Papah Mickel."


Rindi langsung memeluk Kayla, hal ini membuat Kayla dilema. Ia melirik kearah Mickel seolah meminta saran apa yang harus ia katakan saat ini. Mickel juga merasa bingung, ia hanya mengangkat bahunya saja, yang menandakan dia juga tidak tahu harus bagaimana?


"Ya Allah, tolong bantu aku untuk memberikan pengertian pada Airin. Bantu aku juga supaya dalam menyampaikan benar hingga bisa diterima oleh Airin," doa Kayla didalam hatinya.


Sejenak semua hening, membuat Rindi tidak kerasan," mah-pah, ayok kita pulang. Untuk apa berlama-lama di rumah ini."


Pada saat Airin merengek, datanglah Ibu mertua dengan membawa nampan berisi minuman dan juga beberapa toples cemilan.

__ADS_1


"Airin jangan pulang dulu,ini ada cemilan kesukaan Airin."


Sejenak Airin melihat kearah beberapa toples, dan ia sempat terperangah.


"Kok nenek tahu cemilan kesukaanku? kok aku juga seperti pernah bertemu nenek ya?" Airin menajamkan penglihatannya menatap kearah neneknya sendiri.


Tiba-tiba Airin merasa takut dan memeluk Kayla. Ingatannya agak sedikit terbuka pada saat dirinya dibuang oleh si nenek begitu saja.


"Airin nggak perlu takut ya. Itu memang nenek Airin, dan itu memang ibu kandung Airin. Dulu pa...


"Nggak mah! aku kan sudah punya mamah dan papah. Masa iya ibuku dua dan ayahku satu begitu?" protes Airin memotong perkataan Kayla.


"Airin lupa ya, kan mamah sudah pernah mengatakan supaya Airin jangan pernah memotong pembicaraan orang. Disamping tidak sopan, juga Airin jadi salah penafsiran kan? salah mengartikan dan akhirnya salah paham."


"Maaf ya mah."


Airin memeluk Kayla terus hingga terpaksa Kayla memangkunya.


Kayla dan Mickel perlahan memberikan pengertian pada Airin, jika Rindi memang ibu kandung Airin Yeng terpisah dua tahun lalu. Sedangkan wanita paruh baya yang ada di samping Rindi memang nenek Airin dimana telah berpisah dengan Airin satu tahun yang lalu.


Terus saja Kayla dan Mickel bergantian memberikan pengertian pada Airin secara perlahan-lahan. Hingga Airin merespon," pantas saja Airin selalu mimpi ibu Rindi karena ia ibu kandung Airin. Tetapi Airin nggak mau tinggal dengan Ibu Rindi, Airin ingin selalu tinggal bersama Mamah Kayla dan Papah Mickel."


Pernyataan Airin membuat air mata Rindi sudah tidak bisa di tahan lagi. Ka sangat sedih karena anak kandungnya justru lebih sayang pada orang lain daripada kepada dirinya.

__ADS_1


Kayla bisa merasakan kesedihan yang saat ini sedang dirasakan oleh Rindi. Ia pun mencaro cara yang tepat supaya tidak menyakiti Airin atau pun Rindi.


"Sebaiknya begini saja, Rindi dan ibu tinggal di rumah kami saja, toh rumah kami luas dan masih banyak kamar kosong."


"Maaf ya Rindi, aku hanya mengambil jalan tengah dimana tidak menyakiti kedua belah pihak."


"Karena jika Airin dipaksa tinggal disini pasti dampak tidak baik. Dan jika Rindi tidak mendekati Airin, malah bisa membuat Airin semakin jauh saj terhadap Rindi."


Mickel juga setuju dengan jalan tengah yang dipilih oleh Kayla. Tidak menyakiti hati siapapun.


Jika Rindi bersedia tinggal di rumah Kayla, secara dia bisa adaptasi dengan Airin.


Rindi juga tidak langsung memutuskan, tetapi ia meminta persetujuan terlebih dahulu pada ibu mertuanya.


"Nak, jalani saja saran dari Non Kayla. Ini juga sangat mendukung sra tersebut, dan pastinya kamu akan mudah untuk bisa mendapatkan hati Airin."


Hingga saat itu juga Rindi dan ibu mertuanya berkemas karena mereka akan tinggal di rumah Mickel untuk bisa meluluhkan hati Airin.


"Alhamdulillah, pada akhirnya aku bisa membuat suatu ide dimana tidak menyakiti salah satu pihak, baik pihak Rindi maupun pihak Airin.


Rindi juga berjanji akan sabar dalam menghadapi Airin yang saat ini belum bisa ia gapai karena selama ini dirinya berpisah cukup lama dengan Airin.


Tetapi Rindi masih bisa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bisa bersama Airin.

__ADS_1


__ADS_2